Beranda / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 2 - Angkasa Yang Runtuh

Share

Bab 2 - Angkasa Yang Runtuh

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2025-12-11 12:34:28

Satu bulan berlalu dalam rutinitas yang membeku. Rinjani tetap menjadi bayangan patuh, sementara Elian semakin mengunci diri dalam dunianya yang terisolasi. Pagi itu, aroma kopi dan roti panggang yang biasanya menenangkan, mendadak terasa hambar. Rinjani sedang menyiram bunga di teras saat ponsel Elian berdering nyaring di ruang tengah.

​"Ya, saya Elian Baskara."

​Hening sejenak. Rinjani yang melihat dari balik kaca jendela menyadari tubuh Elian mendadak kaku. Bulu kuduk pria itu berdiri saat suara di seberang sana, seorang petugas kepolisian, berbisik dengan nada penuh duka tentang kecelakaan pesawat pribadi rute Singapura-Jakarta.

​Gelas kopi di tangan Elian terlepas, hancur berkeping-keping di lantai marmer, sama seperti sisa harapannya. Rinjani bergegas masuk dan menemukan Elian mematung di tengah genangan kopi. Wajahnya putih pasi, matanya memancarkan kengerian yang bahkan lebih dalam daripada saat kematian Kirana dulu. Ini adalah kehancuran ganda.

​"Tuan Elian! Ada apa?" seru Rinjani cemas.

​Elian menjatuhkan ponselnya, bibirnya bergetar saat berbisik lirih, "Mama dan Papa kecelakaan pesawat saat perjalanan pulang."

​Tanpa membuang waktu, Elian melesat menuju rumah sakit, menolak dampingan siapa pun. "Tugasmu di rumah! Jaga tempat ini!" bentaknya dengan suara parau sebelum menghilang bersama mobilnya.

Rinjani terdiam, hatinya sakit menyadari bahwa meski ia menyandang status istri, ia tetap bukan tempat bersandar bagi Elian.

​Sore itu, di pemakaman yang penuh isak tangis kolega, Elian berdiri tegak seperti patung es di samping tanah pemakaman. Ia tidak menangis, bahkan tidak berkedip. Ia membiarkan orang lain mengurus formalitas tanah dan doa. Di sebelahnya, Rinjani berdiri dengan pakaian hitam sederhana. Ia menangis diam-diam, bukan hanya karena kehilangan mertua yang baik, tapi karena melihat kesepian Elian yang begitu absolut.

​Malam harinya, rumah Baskara kembali sunyi setelah para pelayat pulang. Elian duduk di sofa, kaku dan menolak menyentuh apa pun. Rinjani mendekat dengan nampan berisi semangkuk bubur hangat.

​"Tuan Elian, Tuan belum makan sejak pagi. Tolong, isi tenaga Tuan..." bisik Rinjani lirih.

​Elian menoleh, tatapannya menusuk tajam. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Rinjani. Juga tidak butuh makananmu." Suaranya rendah namun mematikan.

"Sandiwara ini sudah selesai. Mereka yang memaksaku menikahimu sudah tiada. Aku sudah memenuhi kewajibanku pada mereka."

​Ia berdiri, memangkas jarak hingga Rinjani terpojok.

"Kamu bisa tetap di sini sebagai Nyonya Elian Baskara hanya dalam nama, tapi jangan pernah bertingkah seperti istri sungguhan. Dan yang paling penting, jangan pernah mencoba menggantikan siapa pun di rumah ini."

​Kalimat itu adalah pengusiran paling kejam dari hati Elian. Rinjani mundur selangkah, menelan luka yang begitu dalam, lalu mengangguk pelan. Elian berbalik menuju ruang kerjanya yang gelap, mengunci pintu dan membiarkan dirinya hancur sendirian di balik kegelapan.

​Keesokan paginya, kelelahan emosional menyelimuti seluruh rumah. Elian tidak keluar dari ruang kerjanya semalam. Rinjani yang hanya tidur beberapa jam segera menyiapkan sarapan. Ia melihat mangkuk sup jahe yang ia letakkan semalam sudah kosong, namun Elian sudah kembali duduk di sofa ruang tengah, membaca koran dengan aura tak tersentuh.

​Rinjani melangkah ke taman belakang yang tenang untuk mencari kekuatan. Ia menghubungi Neneknya di desa. "Assalamu'alaikum, Nenek. Apa kabar?" tanyanya sesenyum mungkin, meski suaranya bergetar.

​"Wa'alaikumussalam, Nak. Nenek baik, hanya punggung ini makin sakit. Bagaimana kabar suamimu?" suara hangat Nenek terdengar di seberang sana.

​Rinjani melirik ke arah Elian. "Dia masih sangat berduka, Nek."

​Baru saja Rinjani hendak melanjutkan, sebuah tangan besar yang dingin menyambar ponselnya. Rinjani tersentak, takut jika Elian akan meluapkan amarahnya pada sang Nenek. Namun, Elian justru mendekatkan ponsel itu ke telinganya dengan suara yang tak terduga tenang.

​"Halo, Nek," sapa Elian dengan nada menantu yang sopan.

​"Halo, Elian. Maaf Nenek tidak bisa ke sana karena kaki Nenek sedikit sulit digerakkan," ucap Nenek cemas.

​"Tidak apa, Nek. Fokus saja pada kesehatan. Apa obat yang saya kirimkan sudah sampai?" tanya Elian.

​Rinjani terpaku. Elian mengirimkan obat untuk Neneknya secara diam-diam? Padahal pria itu tidak pernah mengungkit hal tersebut.

​"Sudah, Nak. Rasanya pahit sekali seperti jamu desa," kekeh Nenek.

​"Itu bagus untuk kesehatan. Jaga diri, Nek. Assalamu'alaikum," Elian menutup telepon dan menyerahkannya kembali pada Rinjani tanpa ekspresi.

​Setelah mengakhiri percakapan singkat dengan Neneknya yang memuji kebaikan Elian, Rinjani mendekati suaminya di ruang tengah. "Tuan Elian... terima kasih. Untuk obat dan perhatian Tuan pada Nenek."

​Elian melipat korannya dengan sekali sentak, menatap Rinjani dengan mata tajam yang menghakimi.

"Jangan salah paham, Rinjani. Itu bukan perhatian. Itu bagian dari kontrak agar kamu tidak punya alasan untuk menggangguku."

​Ia berdiri, kembali memasang topeng arogansinya.

"Aku hanya memainkan peranku dengan baik. Jangan berpikir karena aku membelikan obat, batas di antara kita sudah hilang."

​Rinjani mengangguk perlahan. Kehangatan singkat itu lenyap dalam sekejap, digantikan rasa sakit yang mulai akrab.

"Baik, Tuan Elian. Saya mengerti."

​Rinjani memegang ponselnya erat. Ia tahu ia tak bisa menembus benteng Elian sekarang, namun percakapan tadi memberinya harapan tipis. Di balik topeng monster itu, masih ada sedikit cahaya manusiawi yang tersisa, meski Elian berusaha keras untuk memadamkannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 281 - Terima kasih, Sayang.

    Malam harinya, kediaman utama keluarga Baskara yang tadinya riuh rendah kini telah senyap. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram di sudut-sudut ruangan. Di dalam kamar utama yang hangat, Elian masih duduk di kursi goyang kayu, mendekap salah satu anak kembar Saka di dadanya. Tangan kecil bocah itu mencengkeram erat kemeja Elian, sementara Elian terus menepuk-nepuk pelan punggung sang cucu dengan ritme konstan, menidurkannya dengan penuh kasih sayang.Rinjani membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, nyaris tanpa suara. Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu, terpaku menatap pemandangan indah di hadapannya. Ada binar kebahagiaan dan kedamaian yang begitu tulus di wajah suaminya—pemandangan yang dulu sempat ia pikir tidak akan pernah bisa ia saksikan lagi.Rinjani melangkah mendekat, lalu berbisik lirih, "Capek, Sayang?"Elian mendongak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Meskipun badannya terasa kaku dan lelah luar biasa pascaoperasi besar

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 280 - Keluarga

    Dua tahun telah berlalu sejak malam mencekam yang hampir merenggut fondasi terbesar keluarga Baskara. Kini, suasana di kediaman utama tidak lagi sepi dan menegangkan, melainkan dipenuhi riuh rendah tawa dan langkah-langkah kecil yang menggemaskan. "Lagi-lagi Mami nggak didengar, ya?!" bentak Lana—yang kini sudah berubah menjadi wanita karier mandiri—kepada putra kecilnya yang super aktif. Lana yang sudah rapi mengenakan setelan kantor modisnya terpaksa harus berlari ke sana kemari di atas high heels-nya, mencoba menangkap sang anak demi mendapatkan sebuah pelukan sebelum berangkat kerja. Namun, bocah lelaki itu lagi-lagi menghindar sambil tertawa cekikikan, sengaja membuat maminya gemas. "Pa... Ma... Lihat anak ini, nakal banget," rengek Lana manja, kembali memunculkan sifat aslinya jika sudah di depan orang tuanya. Elian Baskara yang duduk di sofa panjang hanya tertawa renyah. Wajahnya kini jauh lebih segar, meski gurat-gurat lelah pasca sakit masih tersisa sedikit. Dengan gemas,

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 279 - Lilin kehidupan yang redup

    "Aku janji, Pa..." bisik Eran, menatap lurus ke dalam mata Elian dengan keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Lana, menuntunnya untuk duduk bersama di atas panggung pelaminan yang megah bak singgasana raja.Pesta terus berjalan. Alunan musik romantis mengudara, dansa pertama pengantin baru yang memukau, hingga sesi foto dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Tak terasa, Elian melewati semua prosesi melelahkan itu begitu saja. Luapan rasa bahagia dan haru melihat putri bungsunya telah sah menjadi seorang istri seolah menjadi obat bius alami, mengubur rasa sakit yang membakar paru-parunya untuk sementara waktu.Di sudut area VIP, Antonio melangkah mendekati Elian. Di samping pria paruh baya itu, Karin ikut tersenyum lega melihat momen sakral tersebut berlalu tanpa ada air mata kesedihan."Kamu hebat, Elian," ujar Antonio, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan tatapan penuh rasa hormat. Sebagai sesama pria tangguh, Antonio tahu berapa besar harga yan

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 278 - Senyuman (palsu) di Pelaminan

    Alunan musik klasik bergema megah di dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi bak istana dongeng. Ribuan lampu kristal berkilauan, memantulkan kemewahan yang sempurna. Di tengah karpet merah yang membentang menuju panggung pelaminan, Elian Baskara berdiri dengan gagah, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya."Selamat buat pernikahan kamu, Sayang. Lihat, cantiknya putri Papa hari ini," bisik Elian, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Lana.Tangan Elian yang terasa sedingin es menggandeng erat jemari putrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pucat, kontras dengan kemegahan di sekelilingnya. Namun, ia mati-matian memaksakan sebuah senyuman hangat di bibirnya, menyembunyikan getaran ringan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa sakit yang membakar paru-parunya.Di sudut barisan depan, Saka berdiri menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Pemandangan hari ini seketika melempar ingatan Saka ke

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 277 - Waktu

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 276 - Secercah Harapan

    "Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status