Share

Bab 62 -

Author: Pipin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-07 10:37:21

Sesampainya di lobi apartemen, Maya masih menyunggingkan senyuman kecil. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena mendengar ocehan tidak masuk akal dari pria di sampingnya ini.

​"Mau langsung pulang, Mas?" tanya Maya sambil membetulkan letak tasnya.

​"Kenapa? Lo mau ngajak gue nginep? Duh, jangan macem-macem ya, May. Gini-gini gue masih sanggup bikin Maya Junior kalau lo nekat. Nggak usah aneh-aneh deh pikiran lo!" ucap Boy yang jemarinya sudah menari lincah di atas layar pon
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 227 -

    Beberapa bulan kemudian, dinamika kampus mulai terasa semakin sibuk. Lana melangkah masuk ke sebuah kafe di dekat kampus dengan wajah yang ditekuk habis-habis. Matanya langsung menangkap sosok familiar di sudut ruangan.​"Sonya!" teriak Lana, suaranya sukses membuat beberapa pengunjung menoleh.​Sonya yang tengah menikmati minumannya sedikit tersentak. "Lana..."​Tanpa menunggu izin, Lana langsung mengempaskan dirinya di kursi samping Sonya. Ia sedang dalam fase "BT akut". Eran baru saja menolaknya lagi—kali ini lebih tegas, lebih logis, dan itu yang membuatnya semakin kesal. Lana butuh asupan gula dosis tinggi untuk melampiaskan emosinya.​"Kamu ada masalah? Wajahmu sudah seperti benang kusut," tanya Sonya heran.​Lana mengembuskan napas kasar, lalu menirukan gaya bicara Eran dengan nada mengejek. "'Gue harus fokus kuliah, bukan pacaran! Kita bisa jumpa tiap hari di kampus, satu jurusan, satu kelas, kenapa juga harus pacaran?'... Begitu katanya, Son! Dia terus saja menggantung hubung

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 226

    "Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.​Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."​Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat.​"Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.​Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.​Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 225

    "Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. ​"Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya.​"Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.​Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam."​"Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?​"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.​Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 224 - Nembak gue?

    Setelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. ​"Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. ​"Cari siapa, Tuan Putri?" ​Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. ​"Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. ​"Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. ​"Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. ​Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" ​"Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." ​Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 223 - Seperti Gula

    Seminggu berlalu. Eran akhirnya berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Baskara. Ia terpaksa menerima tawaran itu, bukan karena ia tunduk pada kekuasaan Elian, melainkan karena realita hidup menghantamnya dengan keras. Belasan lamaran kerja paruh waktu yang ia sebar selama seminggu ini berakhir nihil; sebagian menolak karena status rehabilitasinya, sebagian lagi bahkan tidak memberinya kesempatan bicara. ​Demi bisa tetap kuliah pagi dan menyambung hidup, ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.​Di dalam ruang kerja yang luas dan aromanya tercium seperti kemewahan yang mengintimidasi, Eran duduk berhadapan langsung dengan pria yang menjadi alasan ayahnya di penjara.​"Siang, Pak Elian," sapa Eran. Suaranya rendah, tanpa nada berlebihan. "Saya tidak menyangka, orang sepenting Anda punya waktu luang untuk mewawancarai langsung orang seperti saya." ​Ucapannya sopan, namun ada sindiran tipis yang tersirat di sana. Ia tahu betul, untuk posisi Office Boy, seharusnya Elian

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 222 - Hari kepulangan Eran

    Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari kebebasan Eran. Sebelum menjemput pria itu, Lana menyeret sahabat masa kecilnya, Arka, ke sebuah mal mewah.Arka kuliah di kampus kelas atas jurusan Manajemen, sementara Lana dan Eran satu kampus di jurusan yang sama—Manajemen Bisnis.​"Lana, please! Kita sudah keliling tiga lantai hanya untuk mencari satu benda mekanik ini!" Arka memprotes sambil membenahi tatanan rambutnya di pantulan kaca etalase. "Bisa nggak kita ke store parfum aja? Bau mal ini terlalu 'biasa' buat hidung gue hari ini."​"Diem deh, Ka! Ini penting. Eran itu punya ambisi besar. Dia nggak mau cuma jadi orang biasa, dia mau sukses. Dan kamera ini... ini alat dia buat melihat dunia dari sudut pandang beda," sahut Lana sambil menunjuk sebuah kamera profesional seri terbaru.​Arka mendekat, matanya menyipit kritis melihat harga yang tertera. "Lo mau beli barang seharga gaji manajer tingkat menengah untuk seorang cowok yang baru keluar rehab? Seriously, Lana? Lo

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 100 - Uang & cinta

    Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. ​"Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan.​"Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 94 -

    "Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."​Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 90 - Teman Masa lalu

    "Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.​Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.​Beg

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 87 -

    Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status