로그인Beberapa hari kemudian, suasana di koridor kampus terasa sangat berbeda bagi Karin. Langkah kakinya melambat saat dari kejauhan, ia melihat kerumunan mahasiswa, khususnya mahasiswi, yang tampak heboh di dekat area loker. Di pusat kerumunan itu, berdiri Saka. Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan terakhir, Saka kembali menjadi sosok yang dulu selalu dibicarakan orang-orang di kampus ternama ini. Cowok populer, tampan, dan ramah yang selalu dikerubungi cewek-cewek cantik. Saka tampak tertawa lepas meladeni candaan seorang mahasiswi modis di sebelahnya, bahkan dengan santai membantu membawakan beberapa buku milik cewek lain. Tidak ada lagi Saka yang berdiri sendirian untuknya dengan tampang bodoh, dan tidak ada lagi cowok nekat yang rela mengabaikan harga dirinya demi menunggu balasan pesan teks dari seorang gadis cuek. Saka yang sekarang adalah pangeran kampus yang kembali ke takhtanya. Karin menghentikan langkahnya tepat di jalur yang a
Jonathan meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Lalu berkata. "Dari restoran, nyari angin. Kamu kenapa? Tumben mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika gitu?" Tanyanya santai. Melihat ekspresi tak biasa putrinya, Jonathan ikut duduk di sofa sebelah Karin. Merasa tidak bisa memendamnya sendiri, Karin akhirnya menceritakan semua kejadian di mal tadi tanpa ada yang dikurangi. Tentang Saka yang marah, dan tentang bagaimana dia membawa Gio ke tengah-tengah kencan mereka. Jonathan mendengarkan dengan saksama sambil manggut-manggut. "Jadi... pemuda yang namanya Saka itu marah besar?" "Ya gitu," Karin bersedekap, mencoba membela diri. "Tapi Yah, kalau aku mau bicara atau akrab sama siapa aja kan bebas. Lagian Saka itu bukan siapa-siapanya aku. Udah ditolak berkali-kali tapi masih ngeyel, makanya akhirnya aku kasih jurus jitu pakai Gio biar dia kapok." Jonathan terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keras kepal
"Apaan sih lo, cupu. Sana pergi, nggak usah ikut campur," usir Saka ketus. Matanya menatap Gio dengan kilatan permusuhan. Enak saja cowok asing ini datang-datang langsung merusak suasana dan melabelinya sebagai penguntit. "Apaan sih, Saka! Kamu aja yang pergi kalau nggak suka. Gio, ayo gabung duduk di sini," potong Karin cepat. Suaranya terdengar tegas, membela Gio tanpa ragu sedikit pun. Gio tersenyum tipis, tampak dengan senang hati menarik kursi kosong di sebelah Karin lalu duduk. Setelah memesan minuman pada pelayan yang lewat, Gio kembali memfokuskan perhatiannya pada Karin. Sesekali ia melemparkan senyum hangat yang langsung dibalas dengan anggukan ramah oleh gadis itu. Dalam waktu singkat, obrolan santai dan mengalir langsung tercipta di antara keduanya. Mereka membahas soal buku, lingkungan kompleks rumah baru mereka, hingga dosen-dosen di kampus. Semuanya terasa begitu nyambung. Pemandangan itu berbanding terbalik 180 derajat saat Karin bersamanya. Bersama Gio, Karin terl
"Ah, akhirnya hari ini datang juga," batin Saka, sesekali mencuri pandang pada gadis incarannya yang berjalan dengan langkah santun namun tegas di sampingnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang ia rasakan hanya pada Karin. Saka berdeham kecil, mencoba memecah keheningan. "Makasih ya, lo akhirnya mau menerima ajakan jalan gue hari ini."Karin hanya mendesah singkat, wajahnya tetap sedatar papan tulis. Setelah puluhan kali menolak ajakan cowok itu, ia akhirnya menyerah juga hari ini. Bagaimana bisa dia membiarkan pemuda di depannya ini terus-menerus mengganggu ketenangannya di kampus? Mulai dari membuntutinya di koridor, sampai sengaja mengintipnya dari balik jendela perpustakaan saat dia sedang belajar.Karin kadang heran, apakah Saka ini terlalu banyak waktu kosong atau memang tidak punya kerjaan? Padahal mereka satu angkatan di semester lima, dan tugas kuliah harusnya sudah menumpuk setinggi gunung. Tapi nyatanya, Saka tetap saja jadi co
"Lana..." panggil sebuah suara yang sangat familier.Lana menoleh dan langsung mendapati sosok jangkung kakaknya berdiri di sana."Kak Saka! Kemana aja sih, kok nggak ada kabar?" ujar Lana sembari melangkah mendekati cowok itu.Saka tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia justru menatap Lana dengan pandangan menyelidik. "Kamu beneran jadian sama Eran?" Tanyanya, Jauh dan sibuk, bukan berarti dia tidak info tentang kedekatan Eran dan Lana."Jadian? Ya ampun, Kak, mana mungkin! Yang ada gue ditolak mentah-mentah," gumam Lana lesu.Pertemuan tidak sengaja di salah satu toko baju mal pada hari Sabtu itu mendadak jadi tempat curhat colongan. Lana mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Ia menatap plastik belanjaan kosong di tangan kakaknya. "Eh, telat mikir kan jadinya. Lagian Kak Saka ngapain di sini? Tumben amat ke bagian baju cewek?""Nungguin seseorang," jawab Saka santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.Lana langsung menaikkan sebelah alisnya
"Astaga... Bisa nggak sih, nih anak nggak balas cuma pakai 'Ya' doang?!" gerutu Lana kesal, menatap layar ponselnya pagi itu dengan mata mendelik.Lana menghitung jumlah baris pesannya yang sudah seperti cerpen akuntansi, menceritakan keluh kesahnya kemarin dengan sangat detail. Sementara balasan Eran di paling bawah cuma berupa satu kata keramat: *Ya.* Itu pun tanpa titik, tanpa kapital, singkat, padat, dan sukses memicu darah tinggi pagi-pagi.Kekesalan Lana semakin memuncak saat pemilik nomor tersebut tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan langsung mengambil tempat di kursi kosong tepat di sampingnya. Eran meletakkan tas ransel bututnya, lalu menyandarkan punggung dengan wajah super lelah. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat lebih tegas dari biasanya. Parahnya, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan sama sekali tidak membahas soal pesan itu.Lana menoleh, menyipitkan mata dengan tangan bersedekap. "Eran, lo bener-bener ya. Gue *chat* panjang lebar dari ujung Sabang samp
"Pagi, Sayang..." sapa Elian lembut. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan agar tidak mengejutkan Rinjani yang masih menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.Elian datang membawa segelas susu khusus kehamilan yang masih mengepulkan uap tipis. Rinjani terlihat sangat pucat; morning sickness di
Retaknya hubungan mereka di parkiran sekolah ternyata bukan akhir, melainkan awal dari neraka bagi Elian. Adrian tidak menghilang; ia justru menjadi bayangan yang semakin pekat. Adrian tahu persis titik lemah Elian, rasa bersalah dan tekanan besar dari ayahnya untuk menjadi sempurna.Ad
Sel tahanan itu seharusnya menjadi tempat yang mengerikan bagi siapa pun, tapi bagi Elian Baskara, ini adalah tempat paling aman di dunia. Bukan aman dari gangguan orang lain, tapi aman bagi orang lain agar tidak terjangkau olehnya.Pintu sel berdenting keras. Kepala Kepolisian, Komisar
Rinjani meraih botol obat di atas nakas dengan jari-jari yang kaku karena ketakutan. Ia menuangkan air ke gelas, berusaha tidak memedulikan denting gemetar kaca yang beradu."Minum, Elian. Tolong... ini akan membuatmu sedikit lebih tenang," pinta Rinjani.Sudah jam sebelas mala







