Share

Bab 62 -

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 10:37:21

Sesampainya di lobi apartemen, Maya masih menyunggingkan senyuman kecil. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena mendengar ocehan tidak masuk akal dari pria di sampingnya ini.

​"Mau langsung pulang, Mas?" tanya Maya sambil membetulkan letak tasnya.

​"Kenapa? Lo mau ngajak gue nginep? Duh, jangan macem-macem ya, May. Gini-gini gue masih sanggup bikin Maya Junior kalau lo nekat. Nggak usah aneh-aneh deh pikiran lo!" ucap Boy yang jemarinya sudah menari lincah di atas layar pon
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 234 - Saran mantan preman

    Jonathan meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Lalu berkata. "Dari restoran, nyari angin. Kamu kenapa? Tumben mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika gitu?" Tanyanya santai. Melihat ekspresi tak biasa putrinya, Jonathan ikut duduk di sofa sebelah Karin. Merasa tidak bisa memendamnya sendiri, Karin akhirnya menceritakan semua kejadian di mal tadi tanpa ada yang dikurangi. Tentang Saka yang marah, dan tentang bagaimana dia membawa Gio ke tengah-tengah kencan mereka. Jonathan mendengarkan dengan saksama sambil manggut-manggut. "Jadi... pemuda yang namanya Saka itu marah besar?" "Ya gitu," Karin bersedekap, mencoba membela diri. "Tapi Yah, kalau aku mau bicara atau akrab sama siapa aja kan bebas. Lagian Saka itu bukan siapa-siapanya aku. Udah ditolak berkali-kali tapi masih ngeyel, makanya akhirnya aku kasih jurus jitu pakai Gio biar dia kapok." Jonathan terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keras kepal

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 233 - Ucapan selamat tinggal

    "Apaan sih lo, cupu. Sana pergi, nggak usah ikut campur," usir Saka ketus. Matanya menatap Gio dengan kilatan permusuhan. Enak saja cowok asing ini datang-datang langsung merusak suasana dan melabelinya sebagai penguntit. "Apaan sih, Saka! Kamu aja yang pergi kalau nggak suka. Gio, ayo gabung duduk di sini," potong Karin cepat. Suaranya terdengar tegas, membela Gio tanpa ragu sedikit pun. Gio tersenyum tipis, tampak dengan senang hati menarik kursi kosong di sebelah Karin lalu duduk. Setelah memesan minuman pada pelayan yang lewat, Gio kembali memfokuskan perhatiannya pada Karin. Sesekali ia melemparkan senyum hangat yang langsung dibalas dengan anggukan ramah oleh gadis itu. Dalam waktu singkat, obrolan santai dan mengalir langsung tercipta di antara keduanya. Mereka membahas soal buku, lingkungan kompleks rumah baru mereka, hingga dosen-dosen di kampus. Semuanya terasa begitu nyambung. Pemandangan itu berbanding terbalik 180 derajat saat Karin bersamanya. Bersama Gio, Karin terl

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 232 - Mengusir Benalu

    "Ah, akhirnya hari ini datang juga," batin Saka, sesekali mencuri pandang pada gadis incarannya yang berjalan dengan langkah santun namun tegas di sampingnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang ia rasakan hanya pada Karin. Saka berdeham kecil, mencoba memecah keheningan. "Makasih ya, lo akhirnya mau menerima ajakan jalan gue hari ini."Karin hanya mendesah singkat, wajahnya tetap sedatar papan tulis. Setelah puluhan kali menolak ajakan cowok itu, ia akhirnya menyerah juga hari ini. Bagaimana bisa dia membiarkan pemuda di depannya ini terus-menerus mengganggu ketenangannya di kampus? Mulai dari membuntutinya di koridor, sampai sengaja mengintipnya dari balik jendela perpustakaan saat dia sedang belajar.Karin kadang heran, apakah Saka ini terlalu banyak waktu kosong atau memang tidak punya kerjaan? Padahal mereka satu angkatan di semester lima, dan tugas kuliah harusnya sudah menumpuk setinggi gunung. Tapi nyatanya, Saka tetap saja jadi co

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 231 - Selera Arka

    "Lana..." panggil sebuah suara yang sangat familier.Lana menoleh dan langsung mendapati sosok jangkung kakaknya berdiri di sana."Kak Saka! Kemana aja sih, kok nggak ada kabar?" ujar Lana sembari melangkah mendekati cowok itu.Saka tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia justru menatap Lana dengan pandangan menyelidik. "Kamu beneran jadian sama Eran?" Tanyanya, Jauh dan sibuk, bukan berarti dia tidak info tentang kedekatan Eran dan Lana."Jadian? Ya ampun, Kak, mana mungkin! Yang ada gue ditolak mentah-mentah," gumam Lana lesu.Pertemuan tidak sengaja di salah satu toko baju mal pada hari Sabtu itu mendadak jadi tempat curhat colongan. Lana mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Ia menatap plastik belanjaan kosong di tangan kakaknya. "Eh, telat mikir kan jadinya. Lagian Kak Saka ngapain di sini? Tumben amat ke bagian baju cewek?""Nungguin seseorang," jawab Saka santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.Lana langsung menaikkan sebelah alisnya

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 230 - Lampu "kuning"

    "Astaga... Bisa nggak sih, nih anak nggak balas cuma pakai 'Ya' doang?!" gerutu Lana kesal, menatap layar ponselnya pagi itu dengan mata mendelik.Lana menghitung jumlah baris pesannya yang sudah seperti cerpen akuntansi, menceritakan keluh kesahnya kemarin dengan sangat detail. Sementara balasan Eran di paling bawah cuma berupa satu kata keramat: *Ya.* Itu pun tanpa titik, tanpa kapital, singkat, padat, dan sukses memicu darah tinggi pagi-pagi.Kekesalan Lana semakin memuncak saat pemilik nomor tersebut tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan langsung mengambil tempat di kursi kosong tepat di sampingnya. Eran meletakkan tas ransel bututnya, lalu menyandarkan punggung dengan wajah super lelah. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat lebih tegas dari biasanya. Parahnya, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan sama sekali tidak membahas soal pesan itu.Lana menoleh, menyipitkan mata dengan tangan bersedekap. "Eran, lo bener-bener ya. Gue *chat* panjang lebar dari ujung Sabang samp

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 229 - Ayah

    Sepulang dari kantor, Eran menghentikan motor bututnya di seberang jalan, mengedarkan pandangan ke arah gerbang besi rumah tahanan itu. Sudah setahun berlalu sejak ayahnya, Hasan, mendekam di balik jeruji besi ini.​"Aku bisa. Aku pasti bisa," bisik Eran meyakinkan dirinya sendiri.​Setiap kali Eran mengajukan permohonan kunjungan, Hasan selalu menolak untuk menemuinya. Namun hari ini, entah karena mukjizat apa, pintu itu akhirnya terbuka. Biar bagaimanapun, seburuk dan sekejam apa pun perlakuan pria itu dulu di masa lalu—dengan makian dan pukulan yang membekas di tubuh Eran—Hasan adalah satu-satunya darah daging yang Eran punya di dunia ini.​Setelah melewati birokrasi dan pemeriksaan ketat, Eran duduk di ruang kunjungan, menunggu dengan cemas di balik pembatas kaca. Hingga akhirnya, pintu sel dalam terbuka. Sosok pria tua dengan seragam tahanan oranye melangkah keluar. Gurat wajah Hasan terlihat jauh lebih tua, rambutnya memutih, namun tatapan matanya yang tajam dan sarat akan keben

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 74

    "Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.​Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 73 - Dua Raja di Satu Singgasana

    ​Ketegangan di lantai eksekutif Baskara Group pagi itu bisa dirasakan bahkan oleh staf paling junior sekalipun. Lorong yang biasanya sibuk, kini sunyi mencekam. Semua mata tertuju pada pintu ruangan Direktur Utama yang terbuka lebar.​Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, la

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 71 -

    Elian duduk di kursi kayu rotan, menatap taman kecil di depannya yang sedang disirami oleh Rinjani dari kejauhan. Wajahnya kini lebih segar, guratan ketegangan yang biasanya mengunci rahangnya mulai memudar. Di hadapannya, Dokter Aris, psikiater kepercayaannya, menutup catatan medis dengan senyum s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 76 - Dunia yang RETAK

    "May, jadi kita ketemuan?" tanya Abil di seberang telepon. Suaranya terdengar penuh harap, namun Maya hanya bisa menatap aspal di depan lobi kantor dengan pandangan kosong.​"Aku pikir lagi ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus diberesin," ucap Maya pelan. Ia segera menutup sa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status