ログイン"Ah, akhirnya hari ini datang juga," batin Saka, sesekali mencuri pandang pada gadis incarannya yang berjalan dengan langkah santun namun tegas di sampingnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang ia rasakan hanya pada Karin. Saka berdeham kecil, mencoba memecah keheningan. "Makasih ya, lo akhirnya mau menerima ajakan jalan gue hari ini."Karin hanya mendesah singkat, wajahnya tetap sedatar papan tulis. Setelah puluhan kali menolak ajakan cowok itu, ia akhirnya menyerah juga hari ini. Bagaimana bisa dia membiarkan pemuda di depannya ini terus-menerus mengganggu ketenangannya di kampus? Mulai dari membuntutinya di koridor, sampai sengaja mengintipnya dari balik jendela perpustakaan saat dia sedang belajar.Karin kadang heran, apakah Saka ini terlalu banyak waktu kosong atau memang tidak punya kerjaan? Padahal mereka satu angkatan di semester lima, dan tugas kuliah harusnya sudah menumpuk setinggi gunung. Tapi nyatanya, Saka tetap saja jadi co
"Lana..." panggil sebuah suara yang sangat familier.Lana menoleh dan langsung mendapati sosok jangkung kakaknya berdiri di sana."Kak Saka! Kemana aja sih, kok nggak ada kabar?" ujar Lana sembari melangkah mendekati cowok itu.Saka tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia justru menatap Lana dengan pandangan menyelidik. "Kamu beneran jadian sama Eran?" Tanyanya, Jauh dan sibuk, bukan berarti dia tidak info tentang kedekatan Eran dan Lana."Jadian? Ya ampun, Kak, mana mungkin! Yang ada gue ditolak mentah-mentah," gumam Lana lesu.Pertemuan tidak sengaja di salah satu toko baju mal pada hari Sabtu itu mendadak jadi tempat curhat colongan. Lana mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Ia menatap plastik belanjaan kosong di tangan kakaknya. "Eh, telat mikir kan jadinya. Lagian Kak Saka ngapain di sini? Tumben amat ke bagian baju cewek?""Nungguin seseorang," jawab Saka santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.Lana langsung menaikkan sebelah alisnya
"Astaga... Bisa nggak sih, nih anak nggak balas cuma pakai 'Ya' doang?!" gerutu Lana kesal, menatap layar ponselnya pagi itu dengan mata mendelik.Lana menghitung jumlah baris pesannya yang sudah seperti cerpen akuntansi, menceritakan keluh kesahnya kemarin dengan sangat detail. Sementara balasan Eran di paling bawah cuma berupa satu kata keramat: *Ya.* Itu pun tanpa titik, tanpa kapital, singkat, padat, dan sukses memicu darah tinggi pagi-pagi.Kekesalan Lana semakin memuncak saat pemilik nomor tersebut tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan langsung mengambil tempat di kursi kosong tepat di sampingnya. Eran meletakkan tas ransel bututnya, lalu menyandarkan punggung dengan wajah super lelah. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat lebih tegas dari biasanya. Parahnya, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan sama sekali tidak membahas soal pesan itu.Lana menoleh, menyipitkan mata dengan tangan bersedekap. "Eran, lo bener-bener ya. Gue *chat* panjang lebar dari ujung Sabang samp
Sepulang dari kantor, Eran menghentikan motor bututnya di seberang jalan, mengedarkan pandangan ke arah gerbang besi rumah tahanan itu. Sudah setahun berlalu sejak ayahnya, Hasan, mendekam di balik jeruji besi ini."Aku bisa. Aku pasti bisa," bisik Eran meyakinkan dirinya sendiri.Setiap kali Eran mengajukan permohonan kunjungan, Hasan selalu menolak untuk menemuinya. Namun hari ini, entah karena mukjizat apa, pintu itu akhirnya terbuka. Biar bagaimanapun, seburuk dan sekejam apa pun perlakuan pria itu dulu di masa lalu—dengan makian dan pukulan yang membekas di tubuh Eran—Hasan adalah satu-satunya darah daging yang Eran punya di dunia ini.Setelah melewati birokrasi dan pemeriksaan ketat, Eran duduk di ruang kunjungan, menunggu dengan cemas di balik pembatas kaca. Hingga akhirnya, pintu sel dalam terbuka. Sosok pria tua dengan seragam tahanan oranye melangkah keluar. Gurat wajah Hasan terlihat jauh lebih tua, rambutnya memutih, namun tatapan matanya yang tajam dan sarat akan keben
Sepulang dari kampus, Lana tidak langsung pulang ke rumah. Gadis itu justru mengarahkan mobilnya menuju kantor pusat Baskara Group. Jelas sekali, tujuan utamanya sore ini adalah menemui sang Office Boy paruh waktu yang merangkap sebagai pria incarannya.Eran.Lana melangkah keluar dari lift di lantai dasar, matanya langsung menyapu area lobi yang luas dan mengkilap. Kosong. Hanya ada beberapa resepsionis dan satpam yang menyapanya dengan hormat. Lana mendengus kesal, lalu naik ke lantai berikutnya."Di mana sih, tuh anak? Kenapa nggak kelihatan ya dari tadi?" gumam Lana dengan wajah merengut, celingukan ke kanan dan ke kiri sembari memegang tali tasnya erat-erat.Ia berjalan menyusuri koridor kaca dengan langkah menghentak. Rasa kesalnya pada Bagas di kafe tadi mendadak menguap, berganti dengan rasa rindu bercampur gemas karena pesannya sejak siang hanya dibalas Eran dengan satu huruf: "Y"."Kenapa juga punya Papa harus punya gedung setinggi dan sekeren ini sih? Lantainya banyak
Beberapa bulan kemudian, dinamika kampus mulai terasa semakin sibuk. Lana melangkah masuk ke sebuah kafe di dekat kampus dengan wajah yang ditekuk habis-habis. Matanya langsung menangkap sosok familiar di sudut ruangan."Sonya!" teriak Lana, suaranya sukses membuat beberapa pengunjung menoleh.Sonya yang tengah menikmati minumannya sedikit tersentak. "Lana..."Tanpa menunggu izin, Lana langsung mengempaskan dirinya di kursi samping Sonya. Ia sedang dalam fase "BT akut". Eran baru saja menolaknya lagi—kali ini lebih tegas, lebih logis, dan itu yang membuatnya semakin kesal. Lana butuh asupan gula dosis tinggi untuk melampiaskan emosinya."Kamu ada masalah? Wajahmu sudah seperti benang kusut," tanya Sonya heran.Lana mengembuskan napas kasar, lalu menirukan gaya bicara Eran dengan nada mengejek. "'Gue harus fokus kuliah, bukan pacaran! Kita bisa jumpa tiap hari di kampus, satu jurusan, satu kelas, kenapa juga harus pacaran?'... Begitu katanya, Son! Dia terus saja menggantung hubung
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg
Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi
"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da
"Papa, Mama... ngapain ke sini?" tanya Maya yang baru balik dari kantin membelikan Elian kopi. Bu Santi melipat tangan di dada, menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang memastikan Maya tidak terluka. "Tadi Papa dan Mama kira kamu sedang bersama Boy. Makanya kami ke sini.







