LOGINKeesokan paginya, suasana kantor Baskara Group terasa mencekam sejak jam pertama. Rinjani melangkah masuk ke ruangannya, namun langkahnya terhenti di depan meja Maya.
Maya tidak ada di sana. Kursinya kosong, namun tasnya masih tersampir. Yang mengerikan adalah, di atas meja Maya terdapat sebuah vas berisi mawar yang sudah mati dan hangus terbakar, dengan sebuah amplop hitam terselip di antaranya."Maya? Maya!" panggil Rinjani panik.Ia segera berlari ke ruangannya sendiri, namun saat ia membuka pintu, jantungnya serasa berhenti berdetak.Di kursi kebesaran Elian, Adrian duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. Di depannya, di atas meja kerja, Maya duduk bersimpuh di lantai dengan mulut yang diplester dan tangan terikat. Wajah Maya basah oleh air mata, matanya membelalak ketakutan saat melihat Rinjani."Selamat pagi, Rinjani. Aku suka dekorasi ruangan ini, sangat... maskulin. Persis seperti Elian yang kaku," sapa Adrian dengan nada yaBoy tidak ingin membuang waktu. Malam itu juga, ia menemui Kombes Darmono di sebuah sudut gelap parkiran kepolisian. Tanpa banyak bicara, Boy menyerahkan sebuah flashdisk merah menyala."Semua ada di situ, Pak. Video dia di RSJ, aliran dana suap wartawan, sampai transaksi akun siluman. Leo sudah menguncinya agar tidak bisa dihapus dari jarak jauh," bisik Boy.Darmono menerima benda itu dengan tangan gemetar karena emosi. "Keluargaku sudah cukup menderita karena beritanya. Besok, aku sendiri yang akan memimpin penjemputannya."Keesokan Harinya...Gedung Baskara Group tampak tenang di pagi hari yang cerah. Di ruangan eksekutifnya yang mewah, Dian sedang duduk santai di kursi kebesaran Elian. Seorang perias kuku profesional sedang berlutut di depannya, dengan telaten mengoleskan cat kuku warna merah darah yang elegan pada jemari Dian."Pelan-pelan, ya. Aku ingin warna ini terlihat sempurna saat aku memberikan pidato di depan dewan komis
Malam harinya, di sebuah kafe terpencil dengan lampu remang-remang dan iringan musik jazz, Boy sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berpenampilan nyentrik. Rambutnya dicat ungu pastel, mengenakan kemeja sutra motif bunga-bunga yang mencolok, dan kacamata bulat bertengger di hidungnya. Di depannya terhampar laptop dengan layar penuh kode-kode yang hanya bisa dipahami olehnya. Ini adalah Leo, sahabat sekaligus ahli peretas andalan Boy."Gila ya dia, Mas Boy! Baru juga bentar dia 'kerja' di kantornya Elian, udah ngeluarin uang segini banyak," Leo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyesap mocktail warna-warni di tangannya. Suaranya sedikit kemayu namun penuh dengan antusiasme yang jenaka. "Lihat deh! Ini daftar pengeluaran untuk 'perbaikan sistem keamanan' yang diajukan Dian. Angkanya itu lho, fantastis! Padahal yang diganti cuma mouse sama keyboard doang kali!"Boy menyeringai. "Lo ada bukti lain nggak, Say? Yang lebih 'nampol' gitu."Leo memu
"Duh, Nenek Lampir... lo ngapain sih? Sok-sokan jadi Ratu di gedung ini," buka Boy dengan nada bicara yang tajam. "Tuh, Pak Polisi dibuat semarah itu sama lo. Lo tuh ya, dari zaman bapak gue masih jadi supir keluarga lo sampai sekarang gue jadi lulusan ternama, otak lo isinya kotoran semua. Nggak berubah. Wajar sih, tempat lo emang cocoknya di bawah mulu, kayak tikus selokan."Dian perlahan mendongak, matanya menyipit tajam. Senyum palsunya hilang seketika. "Boy, ngapain kamu di sini? Berani-beraninya kamu masuk tanpa izin ke ruangan pribadi saya.""Nggak, gue cuma mau mampir sebentar. Mau bilang kalau gue udah tahu semuanya," jawab Boy sambil berjalan mendekat, menatap monitor-monitor di meja Dian. "Gue tahu, Dian. Lo yang bebasin Adrian dari RSJ. Lo yang kasih dia celah buat masuk ke kantor ini. Jangan pikir karena lo mainnya halus, nggak ada jejak yang tertinggal.""Banci seperti mu, bisa apa hah?" gumam Dian dengan suara yang sangat rendah namun berbisa. "Kamu kira kamu siapa
Suasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional yang masih memajang wajah Darmono.Dian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang lentur. Ponsel di atas meja bergetar berulang kali, menampilkan nama Darmono. Dian hanya meliriknya lewat sudut mata, membiarkannya mati, lalu bergetar lagi."Hahaha! Bagus... menggila lah kalian," gumam Dian dengan tawa kecil yang terdengar sangat merdu namun berbisa. Ia sangat menikmati pemandangan Darmono yang sedang dikuliti media. "Aku suka kekacauan ini. Rasanya jauh lebih menghibur daripada menonton drama di televisi."Dian menegakkan duduknya, menatap layar monitor yang menampilkan potongan berita tentang Elian."Apa aku perl
Sudah tiga hari Darmono tidak bisa membedakan mana siang dan mana malam. Kantornya terkepung, ponselnya panas karena panggilan yang tak henti-henti, dan kini, ketenangannya benar-benar direnggut hingga ke depan pintu rumah pribadinya.Pagi itu, saat Darmono mencoba keluar untuk sekadar menghirup udara segar, puluhan lampu flash kamera langsung menyambar wajahnya seperti petir. Barisan wartawan dari berbagai media—mulai dari televisi nasional hingga akun gosip underground—sudah memasang pagar betis di depan gerbang rumahnya."Komisaris Darmono! Apa benar ada aliran dana dari Keluarga Baskara sehingga Anda membebaskan seorang pembunuh?!" teriak seorang wartawan pria sambil menyodorkan mikrofon melewati celah pagar."Pak Darmono! Kenapa Elian Baskara dibawa ke tempat tidur mewah di Pusat Rehabilitasi, sementara rakyat kecil yang mencuri ayam langsung masuk sel pesing? Di mana letak keadilan?!" sahut wartawan lain dengan nada menghakimi.Darmono h
Rinjani hanya bisa mematung di atas kursi rodanya, menatap kosong ke arah pintu lorong rumah sakit tempat Elian baru saja digiring oleh dua petugas berpakaian sipil. Ia tidak menangis lagi—air matanya sudah kering—yang tersisa hanyalah kepasrahan yang menyesakkan dada. Ia tahu, meskipun Elian menyelamatkannya, hukum tetaplah hukum, dan tangan suaminya kini benar-benar telah ternoda darah. Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan interogasi yang remang dengan aroma kopi pahit dan asap rokok yang tertinggal, Kombes Darmono duduk berseberangan dengan Elian. Lampu neon di atas mereka berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang gelisah di wajah Elian yang masih tercoreng sisa mesiu dan darah Adrian.Darmono melepaskan topinya, menghela napas berat sambil melemparkan map berisi foto-foto tempat kejadian perkara ke atas meja besi."Elian, kasusmu ini bukan sekadar pertikaian keluarga biasa. Ini pembunuhan di markas besar perusahaan rahasia. Skalanya terlalu besar, dan media sudah mulai m







