INICIAR SESIÓNSesampainya di ruangan Maya, Boy disambut oleh suara ketukan papan ketik yang terdengar lebih seperti dentuman genderang perang. Maya tidak menoleh sedikit pun, wajahnya kaku, menunjukkan level kekesalan yang sudah mencapai ambang batas.
"Ada apa, Mas Boy? Enggak ada kerjaan lain apa selain ke sini?" tanya Maya dengan nada dingin yang bisa membekukan air laut. Maya benar-benar murka karena Boy menghilang tanpa kabar kemarin, meninggalkannya menunggu seperti patung di kafe sementara Boy asyik berlibur dengan Elian dan Rinjani.Boy yang awalnya masuk dengan gaya catwalk, langsung mengerem mendadak. Bahunya menciut."Eh... lo marah, May?""Menurut Mas gimana?" tantang Maya sambil membanting folder dokumen ke meja. BRAK! Ia menatap Boy tajam."Duh, May... itu mata udah kayak mau keluar dari celahnya. Gue kan takut diplototin gitu. Gue kan udah kirim pesan permintaan maaf semalam," ucap Boy dengan suara yang mulai melengking panik, tangannya s"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya dan berlalu tanpa perasaan.Maya berdiri mematung di tengah lobi, merasakan tatapan orang-orang kantor yang mulai berbisik. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memutar tumit dan berjalan cepat menuju lift. Begitu sampai di ruangan sekretaris yang sepi karena jam istirahat belum berakhir, pertahanannya runtuh total. Maya jatuh terduduk di kursinya, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan di atas meja. Ia menangis sejadi-jadinya, isakan yang menyesakkan dada hingga bahunya terguncang hebat. Semua pengakuan cintanya, semua harapannya, hancur lebur hanya dalam hitungan menit oleh lisan sang ibu dan kepasrahan Boy yang menyakitkan.Di tengah isakannya, ponsel yang tergeletak d
Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. "Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. Langkahnya mencegat Boy tepat di lobi luar.Boy berhenti, namun ia tidak menoleh. Kacamata hitam menutupi matanya yang lelah karena lembur dan kurang tidur. "Gimana pertemuan lo? Lancar? Apa lo bakal langsung tunangan?" tanya Boy, nadanya datar, tanpa embel-embel ceria seperti biasanya."Mas, aku suka sama Mas!" seru Maya akhirnya, pecah sudah pertahanannya. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang kantor yang berlalu-lalang.Boy perlahan membuka kacamatanya, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo bilang suka sama gue, tapi jalan sama cowok lain di depan mata gue. Maksud lo apa, May? Lo mau pamer kalau lo laku?""Karena Mas nggak bisa kasih apa yang aku mau! Mas nggak pernah
"May, jadi kita ketemuan?" tanya Abil di seberang telepon. Suaranya terdengar penuh harap, namun Maya hanya bisa menatap aspal di depan lobi kantor dengan pandangan kosong."Aku pikir lagi ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus diberesin," ucap Maya pelan. Ia segera menutup sambungan telepon itu bahkan sebelum Abil sempat membalas."May, kamu ada masalah?Maya tersentak. Ia menoleh dan mendapati Elian sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tampak lebih tenang setelah rapat panjangnya, namun sorot matanya yang tajam tetap bisa menangkap kegelisahan sang sekretaris. Maya diam sejenak, meremas pelan ponsel di tangannya. Ia menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tipe tawa yang digunakan seseorang untuk menutupi rasa sesak."Gini Pak, sebenarnya..." Maya menjeda kalimatnya, menatap ujung sepatunya sendiri. "Sebenarnya saya sedikit berharap pada Mas Boy. Tapi gimana ya, Pak Elian kan tahu sendiri... dia lebih tertarik pada cowok beroto
Sesampainya di ruangan Maya, Boy disambut oleh suara ketukan papan ketik yang terdengar lebih seperti dentuman genderang perang. Maya tidak menoleh sedikit pun, wajahnya kaku, menunjukkan level kekesalan yang sudah mencapai ambang batas."Ada apa, Mas Boy? Enggak ada kerjaan lain apa selain ke sini?" tanya Maya dengan nada dingin yang bisa membekukan air laut. Maya benar-benar murka karena Boy menghilang tanpa kabar kemarin, meninggalkannya menunggu seperti patung di kafe sementara Boy asyik berlibur dengan Elian dan Rinjani.Boy yang awalnya masuk dengan gaya catwalk, langsung mengerem mendadak. Bahunya menciut. "Eh... lo marah, May?""Menurut Mas gimana?" tantang Maya sambil membanting folder dokumen ke meja. BRAK! Ia menatap Boy tajam."Duh, May... itu mata udah kayak mau keluar dari celahnya. Gue kan takut diplototin gitu. Gue kan udah kirim pesan permintaan maaf semalam," ucap Boy dengan suara yang mulai melengking panik, tangannya s
"Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membiarkanmu tenang begitu saja di sini.""Kamu percaya padaku, bukan?" Elian menghentikan aktivitasnya, menatap Rinjani dengan sorot mata yang berusaha tetap kokoh.Rinjani menghela napas. Ia tahu Elian sedang memasang dinding pertahanannya lagi. Ia menoleh ke arah pintu. "Boy, kamu tunggu di luar sebentar ya. Aku ada urusan sebentar dengan Elian."Boy yang mengerti kode tersebut hanya mengangguk dan mengedipkan sebelah mata sebelum menutup pintu rapat-rapat. Begitu suasana menjadi sunyi, Rinjani berjalan mendekat dan duduk di sisi meja, tepat di samping Elian."Kamu tidak perlu pura-pura baik-baik saja di depan kami, apalagi di depanku," bisik Rinjani sambil meraih tangan Elian yang terasa d
Ketegangan di lantai eksekutif Baskara Group pagi itu bisa dirasakan bahkan oleh staf paling junior sekalipun. Lorong yang biasanya sibuk, kini sunyi mencekam. Semua mata tertuju pada pintu ruangan Direktur Utama yang terbuka lebar.Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, langkah kakinya berdentum mantap di atas lantai marmer. Di belakangnya, Boy berjalan dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan, sementara Rinjani mendampingi dengan raut wajah yang tenang namun waspada.Namun, langkah Elian terhenti tepat di tengah ruangan. Di sana, di balik meja kebesaran yang seharusnya miliknya, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata setajam silet. Hendra Baskara.Hendra tidak berdiri. Ia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, menyesap cerutu mahal yang aromanya memenuhi ruangan."Oh, kau sudah kembali, Elian?" Hendra membuka suara, nadanya rendah namun sarat dengan penghinaan. "Aku dengar kau sedang sibuk...







