Mag-log in"Bukan urusan lo," desis Saka dingin, menepis tangan Amara. Saka mengabaikan pekikan protes Amara. Dengan tubuh pincang, langkah gontai, dan napas yang masih tersengal, ia memaksakan kakinya berjalan membelah kerumunan. Targetnya hanya satu, Karin. "Karin..." sapa Saka. Karin spontan menoleh. "Kamu... udah baikan?" tanyanya tanpa dosa.Saka berdiri tepat di depan Karin. Ia membiarkan dirinya terlihat lemah dan babak belur di hadapan gadis itu, namun matanya yang bengkak dengan jelas memancarkan kilat tidak suka. Saka benci melihat Karin dijadikan tontonan menarik oleh serigala-serigala kampus saat ini.Saka menoleh ke sekelilingnya dengan tatapan mengintimidasi. "Kalian semua bubar! Urus tuh si Gio!" perintah Saka tegas, menggunakan sisa-sisa otoritasnya sebagai pangeran kampus."HUUUUUUUUUU!!!" Semua mahasiswa kompak bersorak mencemooh Saka yang dianggap merusak suasana. Namun, karena tidak mau berurusan dengan Saka yang sedang dalam mode singa terluka, mereka akhirnya bubar. Tubu
"Bawa Saka dari sini, Amara," ujar Karin, tanpa mengalihkan pandangannya dari Gio."Kamu siapa berani nyuruh-nyuruh aku, hah?!" bentak Amara kesal. Dengan air mata yang masih mengalir, cewek itu mencoba memapah tubuh Saka ya. Namun, boro-boro berhasil membuat Saka berdiri, Amara yang memakai high heels justru oleng dan hampir ikut terjatuh. Saka sendiri yang setengah sadar tetap keras kepala dan tidak mau beranjak."Lihat, kan?! Ini semua karena ulah kamu! Sekarang malah ngatur-ngatur!" gumam Amara lagi, menatap tajam Karin sambil terus menarik-narik lengan Saka yang berat.Karin menghela napas panjang, menepuk dahinya pelan. "Ya ampun, nih anak... mau evakuasi korban atau mau fashion show sih? Menye-menye banget," gumam Karin kesal.Melihat Amara yang sama sekali tidak bertenaga dan malah membuat situasi makin hancur, Karin akhirnya kehilangan kesabaran. Tanpa babibu, Karin melangkah mendekat. Ia menyenggol bahu Amara hingga cewek itu tergeser mundur.Sebelum Saka sempat memprotes, K
BUG! BUG!Dua hantaman keras berturut-turut mendarat telak di rahang dan tulang rusuk Saka. Untuk kesekian kalinya, Saka gagal mengelak maupun membalas serangan kilat dari Gio.Cowok itu terhuyung mundur, tangan kirinya bergerak menyeka darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Gila... nih anak cupu-cupu tapi teknik bela dirinya gila juga! batin Saka mengumpat. Pergerakan Gio sama sekali tidak mencerminkan anak perpus yang lemah; setiap serangannya terukur, efisien, dan sangat cepat.Gio berdiri dengan angkuh, sedikit pun napasnya tidak memburu. Ia menatap Saka yang mulai kepayahan dengan pandangan merendahkan. "Cuma segitu kemampuan lo? Pangeran kampus baru dipukul beberapa kali aja lututnya udah gemetar," ejek Gio, sengaja memancing emosi penonton di sekitar parkiran.Saka tidak menjawab. Ia mencoba fokus, mengatur napasnya yang mulai kacau, dan membaca pergerakan lawan. Begitu Gio kembali menerjang maju dengan sebuah pukulan lurus, Saka merunduk cepat memanfa
Sepulang dari kelas siang itu, area parkir luar kampus tampak cukup ramai. Namun, perhatian Saka langsung terkunci pada dua orang yang tengah berdebat sengit di dekat tiang koridor. Itu Karin dan Gio. Gio tampak mencengkeram pergelangan tangan Karin dengan kasar, menariknya paksa."Gio, lepas! Aku nggak bakal lupa ya apa yang kamu omongin semalam! kamu udah bikin malu, tahu nggak?!" bentak Karin, berusaha menghempaskan tangan Gio."Malu? Karin, gue sama sekali nggak bikin lo malu, ya! Taruhan semalam itu cuma bercanda!" kilas Gio, wajahnya tidak merasa bersalah sedikit pun."Aku bilang lepas!" teriak Karin frustrasi.Saka yang saat itu sedang berjalan bersisian dengan Amara langsung menghentikan langkah, instingnya mendesak untuk segera melangkah ke sana. Namun, Amara dengan cepat menahan lengan Saka, mencengkeramnya erat."Udah, nggak usah kesana. Itu bukan urusan kamu lagi, Saka," ketus Amara, ego terusik melihat Saka yang begitu reaktif jika menyangkut Karin.Saka menoleh, menatap
"Ya ampun, apa-apaan ini?! Ini beneran aku?! Aku minta orang-orang sorak buat nyium? Astaga Karin, harga dirimu jatuh ke inti bumi!" batin Karin histeris di pojok koridor kampus.Di layar ponselnya, video berdurasi 15 detik yang dikirim ke grup angkatan kampus itu terputar berulang-ulang. Di sana terlihat jelas bagaimana Karin dengan sangat santai mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, mencolek hidung cowok itu dengan jahil, lalu berteriak lantang ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang kesurupan."Rasanya nggak pengen masuk kelas. Pinjam mantel tembus pandang Doraemon bisa nggak sih sekarang? Biar bisa lenyap tanpa diketahui siapa pun," gumam Karin, matanya sudah berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa.Pantas saja sejak melewati gerbang kampus tadi, pandangan semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh. Beberapa mahasiswa yang biasanya cuek setengah mati, mendadak menyapanya dengan sok akrab. Bahkan, tadi ada mahasiswi yang terang-terangan m
Kenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si
"Duh, El! Rasanya pengen banget gue sewa tukang santet paling mumpuni se-Asia Tenggara, biar paman lo itu bisulan sebadan-badan! Kesal banget gue, masa karya seni gue dianggap kayak tumpukan koran bekas. Minimal kasih dia gatal-gatal yang nggak sembuh tujuh turunan deh, biar dia nggak sempat mik
Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. "Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan."Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea
"Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg







