Share

Bab 74

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-11 15:01:04

"Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.

​Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membiarkanmu tenang begitu saja di sini."

​"Kamu percaya padaku, bukan?" Elian menghentikan aktivitasnya, menatap Rinjani dengan sorot mata yang berusaha tetap kokoh.

​Rinjani menghela napas. Ia tahu Elian
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 247 - Ya, aku suka kamu!

    "Bukan urusan lo," desis Saka dingin, menepis tangan Amara. Saka mengabaikan pekikan protes Amara. Dengan tubuh pincang, langkah gontai, dan napas yang masih tersengal, ia memaksakan kakinya berjalan membelah kerumunan. Targetnya hanya satu, Karin. "Karin..." sapa Saka. Karin spontan menoleh. "Kamu... udah baikan?" tanyanya tanpa dosa.Saka berdiri tepat di depan Karin. Ia membiarkan dirinya terlihat lemah dan babak belur di hadapan gadis itu, namun matanya yang bengkak dengan jelas memancarkan kilat tidak suka. Saka benci melihat Karin dijadikan tontonan menarik oleh serigala-serigala kampus saat ini.Saka menoleh ke sekelilingnya dengan tatapan mengintimidasi. "Kalian semua bubar! Urus tuh si Gio!" perintah Saka tegas, menggunakan sisa-sisa otoritasnya sebagai pangeran kampus."HUUUUUUUUUU!!!" Semua mahasiswa kompak bersorak mencemooh Saka yang dianggap merusak suasana. Namun, karena tidak mau berurusan dengan Saka yang sedang dalam mode singa terluka, mereka akhirnya bubar. Tubu

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 246 - Saitama Kampus

    "Bawa Saka dari sini, Amara," ujar Karin, tanpa mengalihkan pandangannya dari Gio."Kamu siapa berani nyuruh-nyuruh aku, hah?!" bentak Amara kesal. Dengan air mata yang masih mengalir, cewek itu mencoba memapah tubuh Saka ya. Namun, boro-boro berhasil membuat Saka berdiri, Amara yang memakai high heels justru oleng dan hampir ikut terjatuh. Saka sendiri yang setengah sadar tetap keras kepala dan tidak mau beranjak."Lihat, kan?! Ini semua karena ulah kamu! Sekarang malah ngatur-ngatur!" gumam Amara lagi, menatap tajam Karin sambil terus menarik-narik lengan Saka yang berat.Karin menghela napas panjang, menepuk dahinya pelan. "Ya ampun, nih anak... mau evakuasi korban atau mau fashion show sih? Menye-menye banget," gumam Karin kesal.Melihat Amara yang sama sekali tidak bertenaga dan malah membuat situasi makin hancur, Karin akhirnya kehilangan kesabaran. Tanpa babibu, Karin melangkah mendekat. Ia menyenggol bahu Amara hingga cewek itu tergeser mundur.Sebelum Saka sempat memprotes, K

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 245 - Duel tak seimbang

    BUG! BUG!Dua hantaman keras berturut-turut mendarat telak di rahang dan tulang rusuk Saka. Untuk kesekian kalinya, Saka gagal mengelak maupun membalas serangan kilat dari Gio.Cowok itu terhuyung mundur, tangan kirinya bergerak menyeka darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Gila... nih anak cupu-cupu tapi teknik bela dirinya gila juga! batin Saka mengumpat. Pergerakan Gio sama sekali tidak mencerminkan anak perpus yang lemah; setiap serangannya terukur, efisien, dan sangat cepat.Gio berdiri dengan angkuh, sedikit pun napasnya tidak memburu. Ia menatap Saka yang mulai kepayahan dengan pandangan merendahkan. "Cuma segitu kemampuan lo? Pangeran kampus baru dipukul beberapa kali aja lututnya udah gemetar," ejek Gio, sengaja memancing emosi penonton di sekitar parkiran.Saka tidak menjawab. Ia mencoba fokus, mengatur napasnya yang mulai kacau, dan membaca pergerakan lawan. Begitu Gio kembali menerjang maju dengan sebuah pukulan lurus, Saka merunduk cepat memanfa

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 244 - Dibalik topeng Gio

    Sepulang dari kelas siang itu, area parkir luar kampus tampak cukup ramai. Namun, perhatian Saka langsung terkunci pada dua orang yang tengah berdebat sengit di dekat tiang koridor. Itu Karin dan Gio. Gio tampak mencengkeram pergelangan tangan Karin dengan kasar, menariknya paksa."Gio, lepas! Aku nggak bakal lupa ya apa yang kamu omongin semalam! kamu udah bikin malu, tahu nggak?!" bentak Karin, berusaha menghempaskan tangan Gio."Malu? Karin, gue sama sekali nggak bikin lo malu, ya! Taruhan semalam itu cuma bercanda!" kilas Gio, wajahnya tidak merasa bersalah sedikit pun."Aku bilang lepas!" teriak Karin frustrasi.Saka yang saat itu sedang berjalan bersisian dengan Amara langsung menghentikan langkah, instingnya mendesak untuk segera melangkah ke sana. Namun, Amara dengan cepat menahan lengan Saka, mencengkeramnya erat."Udah, nggak usah kesana. Itu bukan urusan kamu lagi, Saka," ketus Amara, ego terusik melihat Saka yang begitu reaktif jika menyangkut Karin.Saka menoleh, menatap

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 243 - Grup "Panas"

    "Ya ampun, apa-apaan ini?! Ini beneran aku?! Aku minta orang-orang sorak buat nyium? Astaga Karin, harga dirimu jatuh ke inti bumi!" batin Karin histeris di pojok koridor kampus.Di layar ponselnya, video berdurasi 15 detik yang dikirim ke grup angkatan kampus itu terputar berulang-ulang. Di sana terlihat jelas bagaimana Karin dengan sangat santai mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, mencolek hidung cowok itu dengan jahil, lalu berteriak lantang ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang kesurupan."Rasanya nggak pengen masuk kelas. Pinjam mantel tembus pandang Doraemon bisa nggak sih sekarang? Biar bisa lenyap tanpa diketahui siapa pun," gumam Karin, matanya sudah berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa.Pantas saja sejak melewati gerbang kampus tadi, pandangan semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh. Beberapa mahasiswa yang biasanya cuek setengah mati, mendadak menyapanya dengan sok akrab. Bahkan, tadi ada mahasiswi yang terang-terangan m

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 241 -Tidak akan kuat, gadis kecil

    Kenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 126 - Bagaimana Kalau Tuan menjadi saingan putra sendiri?

    Abil memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. ​Ponsel di dasbor terhubung ke speaker mobil, tersambung ke panggilan Maya yang baru diangkat setelah puluhan kali mencoba.​"Ngapain sih kamu nelpon terus mas? Aku kan udah bilang mau pergi!" suara Maya terdengar ketus da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 120 - Sebuah Harapan

    "Aku akan memenjarakan pria itu, aku janji."​Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Elian sebelum ia melangkah pergi. ​Boy, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata dan selalu punya selera humor pedas untuk mencairkan suasana, kini hanya bisa berdiri mematung. Pria kemayu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 102 - Putus Asa

    Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku.​"Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah.​"Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 105 - Selamat Menempuh hidup baru, May!

    Suasana di masjid itu begitu kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Maya. Dekorasi bunga melati dan mawar putih premium menghiasi setiap sudut ruangan.Di kursi pesakitan—begitulah Maya menyebut kursi pengantin itu—ia duduk dengan kebaya putih yang sangat cantik, namun wajahnya tertutup kain

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status