INICIAR SESIÓN"Ayo kita ke ranjang saja!" kekeh Clea dan Misya.Kedua wanita itu terlihat tak sabaran. Dengan kompak mereka mendorong tubuh ZingZing yang sudah setengah polos ke atas ranjang.ZingZing terbaring dengan posisi telentang. Memperlihatkan pusakanya yang sudah berdiri tegak."Ugh! Sangat menggoda," senyum Clea dengan tatapan mesum."Biar aku duluan," serobot Misya tak sabaran. Ia segera naik ke atas ranjang dan menurunkan kepalanya sambil memegang rambutnya yang terurai."Elmuhhmm!"Sentuhan hangat dan basah yang mendadak melingkupi kejantanannya membuat lutut ZingZing lemas seketika.Pemuda asal pulau terpencil itu mencengkeram erat seprai ranjang sutra merah di bawahnya, matanya terpejam rapat dengan kepala mendongak ke belakang menahan gelombang sensasi asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidup."Ah ... ugh ... Nona ... s-sabar ...." desah ZingZing terbata-bata, suaranya parau dan bergetar hebat di antara desing napas yang memburu.Misya bergerak semakin terampil, memainkan li
"Ayo jangan lama-lama berpikirnya. Aku sudah basah."Wanita berambut pirang itu melingkarkan jemarinya yang berhias kuku lentik ke dada bidang ZingZing, memberikan sentuhan lembut yang langsung membuat sekujur tubuh pemuda itu merinding hebat."Kalau kamu belum terbiasa dengan tempat seperti ini, tenang saja ... aku akan mengajarimu perlahan-lahan," tambah wanita berambut hitam di sebelah kanannya dengan suara manja yang berbisik tepat di dekat telinga ZingZing, meniupkan hawa hangat yang membuat akal sehat pemuda pulau itu nyaris melayang.Jantung ZingZing benar-benar sudah tidak baik-baik saja malam ini. Detaknya bergemuruh kencang seolah ingin menerobos keluar dari rongga dada."Kenapa?" tawa dua wanita melihat wajah ZingZing pucat pasi seperti melihat hantu."S-saya, saya hanya belum terbiasa.""Duh, itu sebabnya aku dan temanku ada di sini. Kami akan membuatmu terbiasa Tampan."Keringat dingin bercucuran semakin deras membasahi pelipis dan tengkuk pemuda itu.Selama belasan tah
Suasana di dalam ruang rawat VIP perlahan kembali hening setelah kepergian Diego dan Freya.Yoss melirik sekilas ke arah ZingZing yang masih berdiri termangu menatap pintu, sebelum akhirnya ia berpamitan untuk mengurus beberapa urusan logistik rumah sakit.Tak lama berselang, Ruth melangkah masuk ke dalam kamar. Pria berpenampilan tegas itu menghampiri ZingZing yang tampak bosan dan kebingungan di sudut ruangan.Sebagai bagian dari kesepakatan Diego untuk membawa pemuda itu ke kota, Ruth diberi tugas khusus untuk meninjau adaptasi ZingZing di dunia luar."Heh, anak pulau," panggil Ruth dengan nada datar khasnya. "Jangan berdiri terus di situ seperti patung selamat datang. Ikut aku keluar."ZingZing mengerutkan keningnya bingung. "Mau ke mana?""Tuan Diego menyuruhku membuatmu terbiasa dengan kehidupan kota. Kalau kamu terus-menerus di sini, kamu hanya akan jadi penonton setia di rumah sakit," jawab Ruth sambil melangkah keluar, memberi isyarat agar ZingZing mengekor."Iya tapi kit
"Baby, ada kabar bahagia untukmu."Di sudut ruang VIP Diego menghubungi sang istri sambil menatap ke arah Zhue yang tertidur pulas."Kabar baik apa Paman? Apa Zhue dan Yenzing sudah ditemukan?" tanya Freya. Suaranya terdengar gemetar. "Katakan Paman!""Ya, Zhue sudah ditemukan, tapi Yenzing belum. Saat ini Zhue berada di rumah sakit dalam keadaan baik-baik saja setelah mendapat penanganan dari dokter. Kemungkinan Yenzing juga bisa ditemukan dalam keadaan hidup.""Ya Tuhan, syukurlah," ucap Freya. "Apa aku boleh ke sana Paman?""Ya, tentu saja. Kamu akan dijemput supir. Kamu tunggu saja di sana ya.""Baik Paman, terima kasih."Keduanya mengakhiri pembicaraan di dalam telepon.Tak berapa lama pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari luar. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Freya, dengan ekspresi wajah yang masih menyisakan kekhawatiran mendalam dan mata sembab, langsung menerobos masuk ke dalam kamar rawat.Setelah melihat adiknya terbaring lemah di atas ranjang, pertahanan Frey
"Jangan terpancing! Jangan dengarkan omongan dia. Dia hanya ingin menjebakmu. Orang-orang kota hanya bisa menghina dan merendahkan orang pesisir seperti kita!" cegah Gama panik, memukul bahu anaknya. "Dia hanya ingin menipu kita!""Ayah ... tapi ...." ZingZing tampak bimbang luar biasa. Keinginan terpendamnya sejak kecil untuk melihat dunia luar mendadak mendesak naik ke permukaan. "Di pulau ini kita miskin, Ayah ... kalau aku ikut dengan Tuan ini, aku bisa mengubah hidup kita ....""ZingZing!" bentak Gama marah besar. "Kamu bukan anak yang bodoh! Kamu pasti tahu apa yang mereka inginkan! Mereka hanya akan menipumu. Jangan terpancing!""Tapi Ayah .... ""Cukup!" Suara bariton Diego menggelegar menghentikan perdebatan ayah dan anak itu.Diego menatap Gama dengan dingin. "Bagaimana, Tua Bangka? Uang ini milikmu, dan anakmu ikut denganku ke kota untuk memulai hidup baru. Atau ... kalau kalian menolak, dan aku ratakan pulau ini malam ini juga bersama seluruh penduduknya?""Tuan Diego F
"Tidak ada di sekitar sini. Kita sudah melewatinya dua kali dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Yenzing," ujar Ruth nyaris putus asa.Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika Diego, Ruth, dan Yoss kembali menyusuri garis pantai pulau terpencil itu dengan langkah penuh kewaspadaan.Setelah berjam-jam menyisir area sekitar hutan dan perkampungan nelayan semalaman tanpa hasil untuk mencari keberadaan Yenzing, Diego mengambil keputusan tegas.Mencari Yenzing di tengah pulau yang luas ini bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, dan keselamatan Zhue yang sedang sakit serta terancam oleh obsesi keluarga Gama harus diprioritaskan lebih dulu."Kita tidak bisa terus-menerus membuang waktu dengan cara kucing-kucingan seperti ini, Tuan," bisik Yoss saat mereka berjalan di balik semak-semak lebat menuju rumah panggung Gama. "Warga desa mulai curiga pada gerak-gerik kita."Diego menghentikan langkah, menatap lurus ke arah rumah panggung kayu di hadapan mereka dengan tatapan dingin."Aku tah
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me







