Share

3. Menerima

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 10:39:05

"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"

​Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.

Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?

​Namun, Freya sadar siapa lawannya. Dani dan keluarganya memiliki jaringan koneksi yang sangat luas, yang mampu menghanguskan karier kedokterannya hanya dalam waktu semalam.

Jika pernikahan itu tetap terlaksana dan berakhir dengan fitnah keji yang direncanakan Dani, masa depan Freya tamat. Belum lagi, ia harus merelakan kesuciannya direnggut oleh pengkhianat itu di malam pertama nanti.

​"A-aku mau, Paman," ucap Freya dengan suara parau.

​Jawaban itu disambut senyum dingin sang Naga Emas yang tampak puas. "Aku tahu kamu wanita baik-baik, tapi mulai sekarang, kamu harus belajar menjadi wanita nakal seperti yang aku inginkan."

​Mata Freya membulat sempurna. Ia belum sempat mencerna maksud kata-kata itu ketika tiba-tiba seorang wanita berpakaian minim dengan riasan tebal masuk ke ruangan dan duduk tepat di samping Diego.

​Tanpa mempedulikan keberadaan Freya, wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Diego dan mereka mulai berciuman dengan sangat panas.

Freya membeku, jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan menjijikkan yang berlangsung lebih dari lima menit tepat di depan matanya.

​Perut Freya bergejolak hebat. Tak tahan lagi, ia bangkit dan berlari ke luar ruangan menuju toilet.

​Hoek!

​Freya memuntahkan seluruh isi perut. Bayangan ciuman tadi terus melekat di benaknya, membuat seluruh bulu kuduk meremang karena jijik.

Pertentangan batin kembali berkecamuk. Bagaimana mungkin ia, yang dididik dengan moral keras, bisa melakukan hal seperti itu dengan pria yang bukan suaminya?

Tidak!

​Tok! Tok! Tok!

​"Nona ... Tuan Diego meminta Anda kembali ke ruang makan." Suara anak buah Diego terdengar di balik pintu.

​"I-iya .... " Freya segera membasuh wajah dan bibirnya. Menatap pantulan diri di cermin. Tidak, ia tidak akan menyerah pada keadaan.

​Sambil menahan tangis, Freya memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah terang yang tajam.

'Aku akan membalasmu, Dani!' batinnya menguatkan diri. Setiap kali hatinya menciut, ia teringat pengkhianatan dan permainan kotor Dani.

​Freya menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekadnya. "Aku bisa ... aku akan menaklukkan Paman Diego dengan caraku sendiri!" bisiknya penuh keyakinan.

​Saat pintu dibuka, Freya melangkah ke luar dengan anggun dan penuh percaya diri. Ia bukan lagi Freya yang rapuh, kali ini ia siap menghadapi nafsu liar sang Naga Emas.

​Freya kembali duduk di hadapan Diego. Wanita tadi sudah tidak ada, dan Diego tampak sedang merapikan kimono-nya yang sedikit berantakan.

​"Sudah siap melakukannya?" tanya Diego dengan tatapan sensual yang mengintimidasi.

​Freya tersenyum kecil. "Sebelum Paman mendapatkan kepuasan yang Paman inginkan, ada satu hal yang harus Paman lakukan agar aku percaya Paman benar-benar akan membantuku."

​Diego tertawa, suara tawanya memenuhi ruangan VVIP itu.

Namun, Freya tidak gentar sedikit pun. Ia tetap pada pendiriannya. "Aku masih perawan," lanjutnya tanpa rasa malu.

​Tawa Diego terhenti seketika. Ruangan menjadi senyap. Ia menatap Freya lebih dalam, seolah mencari kebohongan di sana. "Dani tidak pernah menyentuhmu?"

​Freya menggeleng tegas. "Paman adalah orang pertama yang akan melakukannya. Karena itu, aku butuh bukti nyata bahwa Paman akan menghancurkan keponakan Paman sendiri."

​Diego berdecak pelan sambil tersenyum tipis. Ternyata Freya bukan wanita sembarangan.

Label wanita baik-baik itu memang nyata, dan kini ia melihat sesuatu yang berbeda, sebuah aura dominan yang selama ini terpendam mulai bangkit.

Freya terlihat semakin cantik dan menggairahkan, memicu rasa penasaran Diego hingga ke puncaknya.

​"Baik, apa yang kamu inginkan?" tanya Diego serius.

​Freya bangkit dari duduknya, melangkah mendekat hingga tepat di samping Diego, lalu berbisik pelan di telinganya, "Aku ingin Paman membuat posisi Dani di perusahaan benar-benar terancam."

​Diego tersenyum lebar. Baginya, itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan.

***

Tepat pada jam makan siang, Freya sengaja menyisihkan waktu di sela kesibukannya sebagai Dokter.

Dengan langkah anggun yang memancarkan aura berbeda dari biasanya, ia mendatangi gedung tempat Dani bekerja sambil membawa kotak bekal makan siang sebagai kedok yang sempurna.

​Niatnya hanya satu, ingin menyaksikan langsung apa yang dilakukan oleh Diego.

Apa mungkin sang Naga benar-benar mengabulkan keinginannya hanya demi kepuasan ranjang?

Deg!

​Pemandangan yang menyambutnya membuat dunia Freya seketika terasa jauh lebih cerah.

Ia melihat Dani berjalan tergesa-gesa dengan raut wajah kebingungan sekaligus panik, melangkah cepat menuju ruang kerja Diego.

​Freya yang berdiri di posisi tidak terlihat segera mengekor dari belakang. Ia bersembunyi di balik celah pintu, menguping pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam sana dengan jantung yang berdebar.

​"Paman, aku berani bersumpah! Semua data keuangan dan keuntungan perusahaan ini sudah kupastikan kebenarannya. Semuanya jelas, tidak ada kerugian sama sekali. Aku juga tidak pernah menyentuh sepeser pun uang perusahaan demi kepentingan pribadiku!"

​Suara Dani terdengar parau, gemetar seolah ia sedang menahan tangis karena tekanan yang luar biasa.

Mendengar nada putus asa itu, Freya hampir saja meledakkan tawa di balik pintu.

​'Ini baru awal, Dani!' batinnya penuh dendam.

​"Data yang kuterima sama sekali tidak cocok dengan laporan yang kau berikan. Bagaimana mungkin aku bisa percaya begitu saja dengan kata-katamu?" Suara Diego terdengar menggelegar. "Jangan karena aku ini Pamanmu, dan kau bekerja di perusahaanku, kau pikir kau bisa berbuat semaumu!"

​"A-aku berani bersumpah, Paman ... aku tidak melakukan itu. Paman harus percaya padaku, tidak mungkin aku sebodoh itu menghancurkan nama baikku sendiri. Paman tahu itu, 'kan?" Dani memelas, suaranya semakin menciut.

​Diego berdiri dari kursi kebesarannya sambil mengibas kasar jas hitam yang dikenakan.

"Aku sendiri yang akan menyelidiki kasus penggelapan dana ini. Jika penyelidikanku membuktikan kau terlibat, kau harus segera mengundurkan diri dan mengganti seluruh kerugian perusahaan tanpa terkecuali! Paham!"

​Dani terdiam membeku, wajahnya pucat pasi seputih kertas. Ia benar-benar belum siap kehilangan jabatannya sebelum mampu mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri.

​Meskipun orang tuanya kaya raya, mereka hanyalah pemilik restoran dan pabrik berskala menengah. Mereka tidak memiliki kerajaan bisnis raksasa seperti Diego__sang Raja Bisnis yang disegani di seluruh negeri.

Selama ini, Dani selalu mencuri ilmu dari pamannya agar bisa sesukses itu.

​Namun, kesalahan fatal yang dituduhkan padanya kali ini benar-benar mengancam posisinya sebagai Direktur Utama sekaligus Direktur Keuangan.

Kehancuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan, kini mulai tampak jelas di depan mata.

"Keluar dari ruanganku!" tegas Diego. 

"Tapi Paman, aku ... aku belum selesai .... "

Diego menatap dingin. "Keluar!" 

Dani menarik napas panjang, "Baik Paman." Ia melangkah gontai mendekati pintu dan membukanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Mutmainah
menarik...pingin liat sebucin apa Diego sang Penguasa kepada Freya sang kesayangan penguasa
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Danny....kau. menggelapkan uang. perusahaan. Diego Danny, ....nyawamu. diujung. tanduk Diego. sudah. memenuhi. puermintaanmu , Freya Persiapkan. dirimu, memenuhi. janjimu, Freya
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Diego......kau. sedang. membuat. perjanjian dengan Freya.....dia. wanita. cerdas Dan. Freya. tahu apa. yg. diinginkannya Freya. juga ingin sesuatu. yg. menguntungkan. dirinya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   145. Hukuman Mati

    ​"Mobil Tuan Diego mengalami kecelakaan hebat, Pak. Mobilnya meledak dan hangus terbakar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim evakuasi tidak bisa menyelamatkan korban yang terpanggang di dalam mobil."​Mendengar informasi mengejutkan itu, seluruh tubuh Santoso mendadak lemas seketika."Tidak mungkin!" ucap Santoso lirih. Tubuhnya terhuyung lemas ke belakang.​"Kamu kenapa, Pi?" tanya Tiara panik sambil buru-buru memegangi lengan suaminya yang nyaris ambruk. "Dani kenapa, Pi? Apa yang terjadi pada anak kita?"​Di ujung sambungan telepon, anak buah Santoso masih terus memberikan laporan lengkap. Tanpa membuang waktu, Tiara merebut ponsel tersebut dari genggaman suaminya.​"Halo? Ada apa sebenarnya? Di mana Dani sekarang? Apa yang terjadi padanya? Cepat katakan!" tanya Tiara dengan nada tinggi.​"Pak Dani saat ini ada di mansion Tuan Diego, Nyonya. Keadaannya baik-baik saja. Tadi Pak Dani menyelinap masuk ke mansion untuk menemui Nona Freya. Tapi, Pak Dani melakukan sesuatu yang membaha

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   144. Belum Juga Datang

    ​"Dani pasti sebentar lagi akan naik ke atas panggung. Saat ini dia sedang bersiap-siap di ruang tunggu. Mungkin dia terlalu gugup menghadapi pesta sebesar ini sampai-sampai belum berani memunculkan diri," tutur Tiara mencoba memberi alasan pada para tamu penting suaminya.Pesta penyambutan Dani yang digelar sangat mewah mendadak diselimuti ketegangan.Para tamu undangan mulai saling berbisik, menanyakan keberadaan Dani yang tak kunjung dipanggil naik ke atas panggung.​Santoso terlihat mondar-mandir di belakang panggung dengan wajah gelisah sambil terus memanggil nomor ponsel Dani.Sementara Tiara berjuang keras menyunggingkan senyum di depan para tamu untuk menutupi situasi abnormal yang sedang terjadi.​Pasangan suami-istri__pemilik perusahaan tambang ternama yang diajak bicara oleh Tiara hanya mengangguk-angguk pelan menerima penjelasan tersebut.​"Lalu, bagaimana dengan calon istrinya? Apa dia hadir di sini juga malam ini?" tanya teman arisan Tiara yang bergaun mewah.​"Oh, kalau

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   143. Ledakan Dahsyat

    ​"TIDAK MUNGKIN! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN, DANI?" Freya berteriak histeris dengan isakan hebat. Seluruh persendian tubuhnya seketika lemas mendengar kegilaan mantan tunangannya itu.​Dengan sigap, Bibi Ziang dan para pelayan memegangi tubuh Freya yang nyaris ambruk.Sementara itu, para pengawal tanpa aba-aba langsung meringkus dan mengamankan Dani.​Dani diseret paksa menuju gudang belakang oleh para pengawal, tetapi tidak ada sedikit pun perlawanan darinya. Pria itu justru tertawa puas menyaksikan Freya yang menangis histeris.​"Aku tidak rela melihat kamu menikah dengan pria selain aku, Freya! Kalau kamu tidak bisa aku miliki, maka tidak boleh ada pria lain yang memilikimu! Kamu hanya milik Dani!" teriak Dani gila. "Bom itu akan meledak dalam waktu sepuluh menit! Kamu tidak akan bisa menyelamatkannya! Aku pastikan dia mati, dan kamu tetap sendiri sama sepertiku!"​Freya terduduk lemas di atas lantai teras. "Paman ... tidak mungkin!" Ia mendongak menatap Bibi Ziang penuh kepanikan

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   142. Masih Cinta?

    ​"Dani ...."​Semua orang terkejut saat mendengar Freya menyebut nama laki-laki itu sambil menyunggingkan senyuman tipis.​Pun dengan Dani yang langsung tertawa haru sambil terus menatap Freya penuh harap. "Freya! Kamu mengingatku? Apa kamu mau menjadi Istriku? Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi, Sayang!"​Freya melangkah menghampiri Dani. Melihat pemandangan itu, Bibi Ziang menghela napas panjang dipenuhi rasa kecewa. Ia memutar tubuh, malas menyaksikan adegan penyerahan diri tersebut.​Sementara para pelayan dan pengawal lain hanya diam membisu sambil menundukkan kepala mereka.​"Sayang ... kamu benar-benar mengingat aku, kan? Semua kenangan indah yang pernah kita lewati berdua?" tanya Dani lirih dengan suara bergetar.​PLAK!​Suara tamparan keras dan nyaring seketika membelah keheningan teras.Orang-orang refleks menoleh ke asal suara, tak terkecuali Bibi Ziang yang menghentikan langkah kaki dan buru-buru berbalik ke belakang.​Mata Bibi Ziang membulat sempurna saat melihat

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   141. Kejutan Konyol

    "Nona, Anda harus tetap berhati-hati membuka kotak itu," ucap Bibi Ziang memperingatkan."Hmm, aku tahu Bi," senyum Freya, membayangkan kejutan indah dari Diego di dalam sana.​Namun, belum sempat Freya menyentuh paket besar itu, tiba-tiba terlihat gerakan aneh dari dalam kotak."Ada yang bergerak! Apa isi paket itu?" panik pelayan.​"Menjauh, Nona!" teriak pengawal sigap sambil melangkah maju dan langsung menodongkan moncong senjata tepat ke arah kotak tersebut.​Dengan gerakan refleks, Bibi Ziang dan pelayan lain menarik cepat lengan Freya, membawanya mundur menjauhi kotak misterius itu.Ceklek!Suara senjata api yang siap memuntahkan peluru.​"Jangan tembak! Tolong jangan tembak!"​Semua orang di teras tercengang saat mendengar jeritan panik dari dalam kotak. Suara itu terasa sangat tidak asing di telinga Freya.​"Tolong jangan tembak! Ini aku ... Dani!" Pria itu perlahan berdiri dan memunculkan tubuhnya ke hadapan semua orang dari dalam kotak raksasa tersebut."Pak Dani?" Pengawal

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   140. Paket Raksasa

    ​Baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celana, suara notifikasi pesan berbunyi. Dani merogoh kembali sakunya, mengeluarkan benda pipih itu, lalu melihat kiriman video dari nomor tak dikenal.​Kedua mata Dani membulat sempurna saat menyaksikan isi video tersebut, yang memperlihatkan Nadia dan seorang pria asing tengah masuk ke dalam kamar hotel.​"Brengsek! Jadi selama ini dia berselingkuh di belakangku?" Dani mencengkeram erat ponsel di tangan dengan tatapan nyalang penuh amarah. "Sejak kapan dia berani bermain api?"​Belum habis rasa terkejutnya, ia kembali menerima pesan susulan yang berisi penjelasan lengkap mengenai pengkhianatan Nadia.​Dani tercengang, tidak menyangka wanita yang selama ini ia banggakan ternyata serendah itu. "Nadia sudah memiliki suami, bahkan sebelum mengenalku? Jadi selama ini aku sudah ditipu habis-habisan olehnya? Dia yang berselingkuh denganku di belakang suaminya?"​Kenyataan pahit itu menghantam Dani begitu telak, membuat dadanya mendadak terasa sesa

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   1. Meminta Bantuan

    "Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... "​"Aku akan membantumu, dengan satu syarat."​Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   7. Ciuman Panas

    "Pakai gaun malammu!"​Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size.​"Emm, Paman ... sebaiknya kita me

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   6. Paman yang Mengerikan

    "Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   5. Haruskah?

    Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu.​"Nona, kami dat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status