Masuk"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"
Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.
Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?
Namun, Freya sadar siapa lawannya. Dani dan keluarganya memiliki jaringan koneksi yang sangat luas, yang mampu menghanguskan karier kedokterannya hanya dalam waktu semalam.
Jika pernikahan itu tetap terlaksana dan berakhir dengan fitnah keji yang direncanakan Dani, masa depan Freya tamat. Belum lagi, ia harus merelakan kesuciannya direnggut oleh pengkhianat itu di malam pertama nanti.
"A-aku mau, Paman," ucap Freya dengan suara parau.
Jawaban itu disambut senyum dingin sang Naga Emas yang tampak puas. "Aku tahu kamu wanita baik-baik, tapi mulai sekarang, kamu harus belajar menjadi wanita nakal seperti yang aku inginkan."
Mata Freya membulat sempurna. Ia belum sempat mencerna maksud kata-kata itu ketika tiba-tiba seorang wanita berpakaian minim dengan riasan tebal masuk ke ruangan dan duduk tepat di samping Diego.
Tanpa mempedulikan keberadaan Freya, wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Diego dan mereka mulai berciuman dengan sangat panas.
Freya membeku, jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan menjijikkan yang berlangsung lebih dari lima menit tepat di depan matanya.
Perut Freya bergejolak hebat. Tak tahan lagi, ia bangkit dan berlari ke luar ruangan menuju toilet.
Hoek!
Freya memuntahkan seluruh isi perut. Bayangan ciuman tadi terus melekat di benaknya, membuat seluruh bulu kuduk meremang karena jijik.
Pertentangan batin kembali berkecamuk. Bagaimana mungkin ia, yang dididik dengan moral keras, bisa melakukan hal seperti itu dengan pria yang bukan suaminya?
Tidak!
Tok! Tok! Tok!
"Nona ... Tuan Diego meminta Anda kembali ke ruang makan." Suara anak buah Diego terdengar di balik pintu.
"I-iya .... " Freya segera membasuh wajah dan bibirnya. Menatap pantulan diri di cermin. Tidak, ia tidak akan menyerah pada keadaan.
Sambil menahan tangis, Freya memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah terang yang tajam.
'Aku akan membalasmu, Dani!' batinnya menguatkan diri. Setiap kali hatinya menciut, ia teringat pengkhianatan dan permainan kotor Dani.
Freya menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekadnya. "Aku bisa ... aku akan menaklukkan Paman Diego dengan caraku sendiri!" bisiknya penuh keyakinan.
Saat pintu dibuka, Freya melangkah ke luar dengan anggun dan penuh percaya diri. Ia bukan lagi Freya yang rapuh, kali ini ia siap menghadapi nafsu liar sang Naga Emas.
Freya kembali duduk di hadapan Diego. Wanita tadi sudah tidak ada, dan Diego tampak sedang merapikan kimono-nya yang sedikit berantakan.
"Sudah siap melakukannya?" tanya Diego dengan tatapan sensual yang mengintimidasi.
Freya tersenyum kecil. "Sebelum Paman mendapatkan kepuasan yang Paman inginkan, ada satu hal yang harus Paman lakukan agar aku percaya Paman benar-benar akan membantuku."
Diego tertawa, suara tawanya memenuhi ruangan VVIP itu.
Namun, Freya tidak gentar sedikit pun. Ia tetap pada pendiriannya. "Aku masih perawan," lanjutnya tanpa rasa malu.
Tawa Diego terhenti seketika. Ruangan menjadi senyap. Ia menatap Freya lebih dalam, seolah mencari kebohongan di sana. "Dani tidak pernah menyentuhmu?"
Freya menggeleng tegas. "Paman adalah orang pertama yang akan melakukannya. Karena itu, aku butuh bukti nyata bahwa Paman akan menghancurkan keponakan Paman sendiri."
Diego berdecak pelan sambil tersenyum tipis. Ternyata Freya bukan wanita sembarangan.
Label wanita baik-baik itu memang nyata, dan kini ia melihat sesuatu yang berbeda, sebuah aura dominan yang selama ini terpendam mulai bangkit.
Freya terlihat semakin cantik dan menggairahkan, memicu rasa penasaran Diego hingga ke puncaknya.
"Baik, apa yang kamu inginkan?" tanya Diego serius.
Freya bangkit dari duduknya, melangkah mendekat hingga tepat di samping Diego, lalu berbisik pelan di telinganya, "Aku ingin Paman membuat posisi Dani di perusahaan benar-benar terancam."
Diego tersenyum lebar. Baginya, itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan.
***
Tepat pada jam makan siang, Freya sengaja menyisihkan waktu di sela kesibukannya sebagai Dokter.
Dengan langkah anggun yang memancarkan aura berbeda dari biasanya, ia mendatangi gedung tempat Dani bekerja sambil membawa kotak bekal makan siang sebagai kedok yang sempurna.
Niatnya hanya satu, ingin menyaksikan langsung apa yang dilakukan oleh Diego.
Apa mungkin sang Naga benar-benar mengabulkan keinginannya hanya demi kepuasan ranjang?
Deg!
Pemandangan yang menyambutnya membuat dunia Freya seketika terasa jauh lebih cerah.
Ia melihat Dani berjalan tergesa-gesa dengan raut wajah kebingungan sekaligus panik, melangkah cepat menuju ruang kerja Diego.
Freya yang berdiri di posisi tidak terlihat segera mengekor dari belakang. Ia bersembunyi di balik celah pintu, menguping pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam sana dengan jantung yang berdebar.
"Paman, aku berani bersumpah! Semua data keuangan dan keuntungan perusahaan ini sudah kupastikan kebenarannya. Semuanya jelas, tidak ada kerugian sama sekali. Aku juga tidak pernah menyentuh sepeser pun uang perusahaan demi kepentingan pribadiku!"
Suara Dani terdengar parau, gemetar seolah ia sedang menahan tangis karena tekanan yang luar biasa.
Mendengar nada putus asa itu, Freya hampir saja meledakkan tawa di balik pintu.
'Ini baru awal, Dani!' batinnya penuh dendam.
"Data yang kuterima sama sekali tidak cocok dengan laporan yang kau berikan. Bagaimana mungkin aku bisa percaya begitu saja dengan kata-katamu?" Suara Diego terdengar menggelegar. "Jangan karena aku ini Pamanmu, dan kau bekerja di perusahaanku, kau pikir kau bisa berbuat semaumu!"
"A-aku berani bersumpah, Paman ... aku tidak melakukan itu. Paman harus percaya padaku, tidak mungkin aku sebodoh itu menghancurkan nama baikku sendiri. Paman tahu itu, 'kan?" Dani memelas, suaranya semakin menciut.
Diego berdiri dari kursi kebesarannya sambil mengibas kasar jas hitam yang dikenakan.
"Aku sendiri yang akan menyelidiki kasus penggelapan dana ini. Jika penyelidikanku membuktikan kau terlibat, kau harus segera mengundurkan diri dan mengganti seluruh kerugian perusahaan tanpa terkecuali! Paham!"
Dani terdiam membeku, wajahnya pucat pasi seputih kertas. Ia benar-benar belum siap kehilangan jabatannya sebelum mampu mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri.
Meskipun orang tuanya kaya raya, mereka hanyalah pemilik restoran dan pabrik berskala menengah. Mereka tidak memiliki kerajaan bisnis raksasa seperti Diego__sang Raja Bisnis yang disegani di seluruh negeri.
Selama ini, Dani selalu mencuri ilmu dari pamannya agar bisa sesukses itu.
Namun, kesalahan fatal yang dituduhkan padanya kali ini benar-benar mengancam posisinya sebagai Direktur Utama sekaligus Direktur Keuangan.
Kehancuran yang selama ini tidak pernah ia bayangkan, kini mulai tampak jelas di depan mata.
"Keluar dari ruanganku!" tegas Diego.
"Tapi Paman, aku ... aku belum selesai .... "
Diego menatap dingin. "Keluar!"
Dani menarik napas panjang, "Baik Paman." Ia melangkah gontai mendekati pintu dan membukanya.
"Hah! Dasar sok tahu! Lihat apa yang sudah kamu lakukan tadi? Kita semua hampir saja ketahuan!"Pria bertubuh kecil terus menggerutu sepanjang perjalanan. Tak henti-hentinya menyudutkan Troy yang dianggap terlalu berani mengambil resiko besar yang bisa membongkar identitas mereka.Pria bertato di samping mengangguk setuju. Menatap sinis ke arah Troy melalui kaca spion tengah."Untung saja aksi nekatmu tadi tidak terendus oleh pengawal Diego Foster. Andai saja sampai terbongkar .... "Troy yang sejak tadi menyandarkan tubuh dengan santai di jok belakang mendadak bereaksi.Memajukan tubuh ke depan, Troy lalu mencengkeram erat kerah kemeja pria bertato itu dari belakang."Kita lihat saja nanti! Kalian berdua akan tahu apa yang sebenarnya sudah aku lakukan!" desis Troy dingin dan tajam.Kedua pria itu mendadak bisu, saling melempar pandang penuh ketakutan sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke jalan raya.Aura yang dipancarkan Troy sukses membungkam mereka seketika. Sejak pertama k
Troy semakin mendekat. Pria berkacamata yang mengenakan kaos oblong lusuh itu melangkah santai menghampiri mobil Yenzing dengan raut wajah ramah."Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Troy, berpura-pura menjadi warga lokal yang berniat baik.Dari penampilannya, Troy memang terlihat sangat ramah dan kalem, jauh dari kesan penjahat atau anggota komplotan berbahaya.Namun, entah mengapa Zhue yang duduk di kursi belakang menatap pria itu dengan penuh rasa curiga dan kewaspadaan tinggi.Jemari Zhue mengepal pelan, matanya menyipit sinis memperhatikan setiap gerak-gerik Troy.Sementara di samping, Freya tampak sangat cemas karena perjalanan mereka menuju mansion tertunda cukup lama."Yenzing, bagaimana? Apa kita bisa secepatnya pulang sekarang? Apa mobil ini mengalami kerusakan yang serius?" tanya Freya dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.Yenzing menoleh sedikit, memutar kepala pelan. "Sepertinya tidak ada masalah besar pada mesin mobil ini, Nona. Tapi kita harus menunggu k
Mengikuti peringatan dari sang kekasih, Yenzing tetap bergeming di tempat duduknya.Matanya terus memperhatikan pergerakan mobil di belakang mereka melalui kaca spion tengah dengan sangat waspada.Tak lama kemudian, mobil pengawal pribadi yang sejak tadi mengekor di belakang ikut menepi dan memberhentikan kendaraan mereka.Para pengawal bertubuh tegap itu bergegas turun dengan siaga."Ada apa ini?" seru salah satu pengawal dengan suara lantang seraya menatap tajam mobil tua ringkih yang baru saja menabrak bagian belakang mobil Yenzing."Keluar! Cepat keluar sekarang juga!" teriak anak buah Diego dengan emosi meluap.Namun, laki-laki yang duduk di balik kemudi mobil tua itu hanya membeku, terlihat ketakutan setengah mati di dalam kabin.Tiga orang anak buah Diego langsung mengitari dan mengepung mobil tua tersebut dari berbagai sisi, sementara tiga pengawal lain melangkah cepat untuk memeriksa keadaan penumpang di dalam mobil Yenzing."Anda tidak apa-apa, Nyonya Freya?" tanya sala
"Kak," panggil Zhue pelan.Freya menoleh, tersenyum manis, dan langsung melepas pelukan hangat Diego.Ia berdiri, mengacuhkan suaminya begitu saja dan berjalan mendekati Zhue dengan langkah cepat.Melihat sikap dingin istrinya, Diego hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah. Dalam hati, timbul kekhawatiran wanita itu akan membencinya lagi sama seperti saat Freya kehilangan ingatan dulu."Ada apa, Zhue?" tanya Freya lembut pada gadis muda itu."Aku ingin pulang ke mansion sekarang, Kak. Apa Kak Freya tetap akan di sini, atau ....""Aku ikut bersamamu pulang!" potong Freya cepat.Zhue menyunggingkan senyum lega. "Kalau begitu, ayo kita pulang bersama, Kak.""Hm," angguk Freya mantap.Mendengar istrinya akan pergi meninggalkan rumah sakit, Diego langsung melangkah tergesa-gesa menghampiri. "Baby, kamu ingin pulang? Sekarang?"Freya memutar tubuh, menatap tajam ke manik mata sang suami. "Ya, aku pulang sekarang. Aku tahu kamu tidak bisa ikut pulang ke mansion. Jadi, urus saja
Laura melirik sinis ke arah Freya yang kini duduk santai di atas sofa. Seolah tak ada orang lain di kamar VIP itu.Sementara, Diego tampak fokus mengusap dada Jegar untuk menenangkan balita yang tangisannya mulai mereda tersebut."Saya akan mengusahakan kesembuhan Jegar, asal dia mau dirawat intensif di rumah sakit ini sampai kondisinya benar-benar stabil," ujar Laura penuh perhatian pada Diego."Ya, lakukan apa saja yang terbaik untuk Jegar. Berapapun biayanya, aku yang akan menanggung semuanya," balas Diego."Kalau masalah biaya, pihak rumah sakit sama sekali tidak khawatir karena yang kami rawat adalah putra dari Tuan Diego Foster. Anda tenang saja, segala fasilitas terbaik yang dibutuhkan Jegar pasti akan disanggupi oleh kami."Diego mengangguk pelan. Lalu tatapan matanya beralih pada Freya.Di depannya, Laura terus memutar otak mencari topik perbincangan agar bisa lebih lama berduaan dengan Diego di kamar rawat itu, meski ia harus menahan rasa risih melihat keberadaan Freya.
Jemari lentik Freya bergerak lincah di atas layar ponsel, membalas pesan masuk dari Thomas.Freya [Hai, Thomas. Kabarku baik-baik saja. Aku sengaja menghubungimu karena ingin meminta bantuanmu untuk memeriksa kondisi anak dari temanku. Jujur, aku sangat meragukan vonis Dokter di sini yang menurutku terlalu berlebihan dan janggal. Tapi sayangnya, suamiku langsung percaya begitu saja pada vonis tersebut]Thomas [Oke, aku akan membantumu. Bisa kamu beritahu gejalanya lebih spesifik? Tolong kirimkan juga dokumen rekam medis, riwayat pasien, dan rekaman video kondisi fisik anak itu, agar aku bisa mempelajarinya lebih dulu sebelum melakukan pemeriksaan langsung]Freya [Baik, akan aku kirim secepatnya. Tapi ngomong-ngomong, apa kamu tidak keberatan datang langsung ke Atalia? Bukannya kamu sedang di Lebanon?]Thomas [Kebetulan, sudah beberapa minggu ini aku ada di Atalia. Tepatnya bertugas di rumah sakit baru milik keluarga Fox. Aku diminta langsung oleh direksi keluarganya untuk membantu
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat







