Share

7. Ciuman Panas

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2026-05-27 12:37:10

"Pakai gaun malammu!"

​Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.

Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size.

​"Emm, Paman ... sebaiknya kita melakukan pemanasan dulu." Freya berusaha mengulur waktu, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Lagipula, wine milikmu saja belum habis. Jangan buru-buru Paman."

​Diego tidak menyahut. Ia hanya menatap Freya dengan sorot mata tajam yang membuat siapapun kehilangan nyalinya.

​Seketika itu, ekspresi Freya berubah. Ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang Naga.

Sambil menarik napas dalam, Freya berusaha memaksakan diri untuk terlihat anggun dan berani, meski hatinya bergejolak hebat.

​Dengan langkah kaki yang masih terasa sedikit bergetar, Freya mulai melangkah pelan mendekati Diego.

"Maksudku, aku ingin Paman menikmati setiap detik di dalam kamar mewah ini bersa .... " Kalimat itu terputus saat tangan Diego bergerak secepat kilat, menarik paksa lengannya hingga tubuh Freya terhuyung dan jatuh tepat ke dalam pelukan hangat pria itu.

​Freya memejamkan mata sesaat. Jantungnya berdentum begitu keras, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.

​Perlahan, wajah Diego mendekat. Freya bisa merasakan embusan napas pria matang itu menyapu kulit mulus pipinya, mengirim sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.

​"Aku tidak suka bermain-main. Lakukan dengan serius, buat aku benar-benar menginginkanmu!" desis Diego tepat di depan bibir Freya.

​Dokter cantik itu mengangguk pelan. Ia membuka mata, mencoba memberanikan diri menatap Diego dari jarak yang begitu intim.

​Harus ia akui, meski usia pria ini jauh di atas Dani, ketampanan Diego berada di level yang berbeda. Guratan kedewasaan di wajahnya justru membuat sosok sang Naga Emas terlihat jauh lebih memikat sekaligus berbahaya.

"Kita mulai dengan berciuman?" tanya Freya pelan, menyembunyikan perasaan gugupnya.

​Selama menjalin asmara dengan Dani, hanya sebatas ciuman pengalaman yang ia miliki. Itupun hanya kecupan biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan gairah panas pasangan dewasa pada umumnya.

​Mendengar tawaran itu, senyum dingin kembali terukir di wajah Diego. "Sepanas apa ciumanmu, umm?"

​Freya menelan ludah susah payah. Jujur saja, ia sendiri merasa ragu apakah ciumannya mampu memberikan kepuasan bagi pria sekelas Diego.

Jika ia harus melakukan ciuman sepanas wanita yang berada di restoran Jepang waktu itu, rasanya mustahil.

​Namun, ia teringat peringatan Diego ... pria ini tidak suka bermain-main. Ia harus memberikan sesuatu yang lebih jika ingin rencananya berjalan mulus.

​"Karena aku seorang Dokter, aku bisa melakukan sesuatu yang membuat Paman bergairah, bukan hanya dari ciuman saja," ucap Freya, memberanikan diri melepas rengkuhan tangan Diego di pinggang, lalu berdiri tegak.

​Ia mengalungkan kedua tangan di leher kokoh Diego, mengunci tatapan mereka dalam jarak yang sangat intim.

​Diego tersenyum tipis, tertarik dengan tantangan kecil itu. "Lakukan!" perintahnya.

Tanpa menunggu lagi, Freya menarik tengkuk Diego, memperpendek jarak yang tersisa hingga bibir mereka bertemu.

Awalnya terasa ragu, namun saat Diego mulai membalas dengan lumatan yang menuntut, Freya seolah terseret ke dalam pusaran gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Ciuman itu semakin panas. Diego memimpin dengan dominasi penuh, menyesap dan mengabsen setiap jengkal rongga mulut Freya dengan tempo yang kian memburu.

Suara peraduan saliva yang terdengar halus dan deru napas yang bersahutan mulai memenuhi sunyinya kamar mewah itu.

Tangan Freya yang semula hanya melingkar di leher Diego, perlahan mulai meremas rambut pria itu, mencari pegangan karena lututnya mendadak lemas.

​Diego mendesah di sela ciuman mereka, tanda gairahnya mulai tersulut hebat.

Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Diego merengkuh pinggang Freya dengan posesif, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, dan membawanya menuju ranjang king size.

"Uughhh!"

​Dengan satu gerakan halus, Diego mendorong tubuh Freya hingga terhempas ke atas kasur empuk.

Tubuh tinggi besarnya mengungkung tubuh mungil Freya, menatap dengan mata yang penuh hasrat berbahaya.

​"Ciumanmu itu ... membuatku menginginkan lebih," bisik Diego dengan suara berat, sebelum kembali menyerang leher jenjang wanita itu dengan kecupan panas.

​Freya mencengkeram sprei kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Ehm ... Paman, berikan aku waktu sebentar untuk berganti pakaian," rintih Freya di sela napas yang mulai tersengal.

Diego sama sekali tidak menanggapi. Pria itu seolah tenggelam dalam gairah yang mulai membakar logikanya.

Alih-alih melepaskan, tangan kekar Diego perlahan mulai menyelinap masuk ke balik pakaian yang masih melekat di tubuh Freya.

​Sentuhan kulit yang hangat itu menjalar, membelai lembut perut rata Freya dengan gerakan yang sangat posesif.

Freya terkesiap, tubuhnya menegang saat merasakan ujung jemari Diego bergerak liar di atas kulitnya, menciptakan sensasi aneh yang membuat akal sehatnya kian meredup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   114. Didatangi sang Kakak

    ​Malam penuh gairah berakhir. Pagi harinya, dua orang pelayan datang mengantar makanan hangat ke kamar tidur utama.Tok! Tok! Tok!​Mendengar ketukan di pintu, Freya membuka perlahan lalu berbicara dengan pelayan tersebut. "Tuan kalian masih tidur. Biar aku saja yang membawa makanannya ke dalam. Dia ...."Freya menoleh sesaat ke arah ranjang sambil mengulum senyum. "Dia sedang tidak berpakaian."​Dua orang pelayan yang berdiri di depannya saling melempar pandang, lalu segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyuman mereka.​"Baik, Nona. Ini makanannya," ucap salah satu pelayan sambil menyerahkan meja dorong berisi makanan, yang langsung diterima dan dibawa masuk oleh Freya.​Setelah menutup pintu rapat, Freya terdiam di tempatnya. Mengingat kembali ucapan spontan barusan. "Apa aku ... pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya?" Freya menyentuh bibi

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   113. Tidur Berdua

    ​Setelah pergulatan panas di dalam kamar mandi selesai, Diego membawa Freya yang memakai handuk kimono putih, kembali ke kamar tidur dan membaringkannya dengan lembut di atas ranjang.​"Kamu mau ke mana?" tanya Freya saat melihat Diego memunguti pakaian dan mulai memakainya satu per satu.​"Sudah malam, kamu harus beristirahat," jawab Diego tenang.​Freya mendengus sebal, menatap Diego dengan sorot mata jengkel. "Setelah apa yang kita lakukan di kamar mandi tadi, sekarang kamu mau meninggalkanku sendirian di sini begitu saja?"​Diego menaikkan kedua alis tebalnya, menatap wanita itu dengan heran. "Bukannya kamu tidak suka melihat keberadaanku di dalam kamar ini?"​"Kamu pikir aku ini wanita kesepian yang membutuhkan kehadiranmu hanya untuk memuaskan nafsu saja? Lalu, setelah kamu selesai mendapatkan apa yang kamu mau, kamu pergi? Begitu?" cecar Freya ketus.​

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   112. Sama-sama Menginginkannya

    ​Diego tidak bersuara. Pria itu langsung menurunkan tubuhnya ke dalam air dan bergerak mendekati Freya.​"Kamu gila, ya? Masuk ke kamar mandiku tanpa pakaian seperti ini? Dasar pria dingin mesum!" pekik Freya panik sembari memejamkan kedua matanya rapat-rapat.​Tanpa memberi aba-aba, Diego langsung merengkuh tengkuk Freya. Memangkas jarak di antara mereka dan mengecup lembut bibir merah alami wanitanya.​"Euhm! Lepaskan aku!" Freya mencoba mendorong dada bidang Diego, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding. "Kurang ajar! Kamu berani menyentuhku seperti ini di tempat sempit begini?"​Bukannya menyudahi, Diego justru membuat ciuman itu menjadi semakin dalam. Melumat habis bibir Freya hingga perlahan pertahanan Freya mulai runtuh.​Meski akalnya terus menolak dan tangannya masih berusaha mendorong tubuh kekar Diego, entah mengapa tubuh Freya justru memberikan reaksi yang berbeda.Sentuhan itu terasa familier dan ia mulai menikmati.​Tanpa sadar, Freya berhenti melawan. Membiarkan Di

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   111. Gejolak Gairah

    ​"Tuan Diego masuk ke dalam kamar Nona Freya," bisik seorang pelayan bertubuh gempal pada pelayan lain yang berdiri di sampingnya.​"Ya, aku melihatnya sendiri tadi. Aku harap Nona tidak mengamuk lagi di dalam sana."​Pelayan bertubuh gempal itu menggeleng-gelengkan kepala. "Tuan nekat sekali, ya. Kenapa Tuan tidak bisa bersabar sebentar saja sampai ingatan Nona Freya kembali pulih?"​Pelayan satunya menyahut dengan senyum kecil. "Namanya juga laki-laki. Kalau sudah menginginkan sesuatu, mana bisa bersabar? Semua laki-laki itu hampir sama, mereka selalu ingin mendapatkan apa yang mereka mau detik itu juga. Mungkin kata 'sabar' hanya dikhususkan untuk kaum wanita saja."​Pelayan bertubuh gempal manggut-manggut setuju. "Ya, aku sependapat denganmu."​Saat keduanya sedang asyik membicarakan sang majikan, tiba-tiba Bibi Ziang menghampiri mereka dari belakang.Sontak kedua pelayan itu langsung bungkam, merapatkan mulut mereka karena terkejut setengah mati.​"Jangan sampai Tuan mendengar ka

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   110. Tidak Bisa Menerimanya

    ​"Nona Freya masih menolak untuk keluar dari kamarnya, Tuan," lapor Bibi Ziang pada Diego yang tengah duduk di balik meja kerjanya.​Diego menghela napas pendek, pandangannya tertuju pada tumpukan berkas. "Biarkan saja dia menenangkan diri di dalam kamarnya, Bi."​"Oh ya Tuan, tadi saya dengar dari pelayan lain kalau Tuan baru saja kembali dari rumah sakit. Apa Tuan sudah mendapatkan rekomendasi Dokter saraf terbaik untuk Nona?"​Diego mengangguk pelan, menyandarkan punggung ke kursi. "Sudah. Tapi bukan Dokter di negara ini."​Kedua mata Bibi Ziang membulat. "Jadi ... Tuan berencana membawa Nona ke luar negeri?"​"Hmm. Aku akan membawanya ke Amerika Serikat dalam minggu ini," jawab Diego mantap. "Di sana ada Dokter spesialis saraf terbaik yang akan menangani Freya secara intensif. Kebetulan, dia baru saja mengembangkan alat medis canggih untuk memulihkan memori manusia yang hilang akibat trauma. Sudah banyak pasien yang mencobanya dan berhasil. Bahkan beberapa lansia yang menderita de

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   109. Seperti Anjing

    ​"Aku bukan Istrimu!" balas Freya tajam. "Minta saja pelayanan ranjang pada wanita lain! Jangan pernah berharap aku mau melayanimu!"​Diego membulatkan kedua mata lebar, terkejut bukan main. Seingatnya, ia belum mengatakan kalau mereka memang tidak pernah menikah. Meski ia sempat berencana untuk menjelaskan semuanya pada Freya nanti.​"Kamu pikir aku bodoh? Aku sudah mengetahui semuanya, meskipun bukan dari mulutmu sendiri!" lanjut Freya dengan tatapan nyalang ke arah Diego. "Kita belum pernah menikah, dan kamu juga belum pernah menikah dengan wanita mana pun!"​Diego menghela napas berat. Menundukkan kepala dalam-dalam sambil meletakkan sendok di tangannya ke atas piring.Suasana di ruang makan itu mendadak panas!​"Kalau kamu masih bersikeras menyembunyikan kebenaran tentang siapa aku, siapa keluargaku, dan siapa ayah dari bayi yang aku kandung ini ... aku bersumpah akan mencari tahunya sendiri!" Freya berdiri dari kursi dengan napas memburu.​Diego langsung menegakkan kepala, menat

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   4. Awal Dari Kehancuran

    Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift.​"Nadia?" gumamnya tak percaya.​Mencurigai ada sesuatu yan

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   1. Meminta Bantuan

    "Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... "​"Aku akan membantumu, dengan satu syarat."​Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   3. Menerima

    "Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"​Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?​Namun, Freya sadar s

  • Dekapan Hangat Paman Kekasihku   2. Syarat

    [Aku menerima tawaran itu]​Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.​Tidak ada ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status