LOGIN"Pakai gaun malammu!"
Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.
Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size.
"Emm, Paman ... sebaiknya kita melakukan pemanasan dulu." Freya berusaha mengulur waktu, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Lagipula, wine milikmu saja belum habis. Jangan buru-buru Paman."
Diego tidak menyahut. Ia hanya menatap Freya dengan sorot mata tajam yang membuat siapapun kehilangan nyalinya.
Seketika itu, ekspresi Freya berubah. Ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang Naga.
Sambil menarik napas dalam, Freya berusaha memaksakan diri untuk terlihat anggun dan berani, meski hatinya bergejolak hebat.
Dengan langkah kaki yang masih terasa sedikit bergetar, Freya mulai melangkah pelan mendekati Diego.
"Maksudku, aku ingin Paman menikmati setiap detik di dalam kamar mewah ini bersa .... " Kalimat itu terputus saat tangan Diego bergerak secepat kilat, menarik paksa lengannya hingga tubuh Freya terhuyung dan jatuh tepat ke dalam pelukan hangat pria itu.
Freya memejamkan mata sesaat. Jantungnya berdentum begitu keras, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Perlahan, wajah Diego mendekat. Freya bisa merasakan embusan napas pria matang itu menyapu kulit mulus pipinya, mengirim sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Aku tidak suka bermain-main. Lakukan dengan serius, buat aku benar-benar menginginkanmu!" desis Diego tepat di depan bibir Freya.
Dokter cantik itu mengangguk pelan. Ia membuka mata, mencoba memberanikan diri menatap Diego dari jarak yang begitu intim.
Harus ia akui, meski usia pria ini jauh di atas Dani, ketampanan Diego berada di level yang berbeda. Guratan kedewasaan di wajahnya justru membuat sosok sang Naga Emas terlihat jauh lebih memikat sekaligus berbahaya.
"Kita mulai dengan berciuman?" tanya Freya pelan, menyembunyikan perasaan gugupnya.
Selama menjalin asmara dengan Dani, hanya sebatas ciuman pengalaman yang ia miliki. Itupun hanya kecupan biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan gairah panas pasangan dewasa pada umumnya.
Mendengar tawaran itu, senyum dingin kembali terukir di wajah Diego. "Sepanas apa ciumanmu, umm?"
Freya menelan ludah susah payah. Jujur saja, ia sendiri merasa ragu apakah ciumannya mampu memberikan kepuasan bagi pria sekelas Diego.
Jika ia harus melakukan ciuman sepanas wanita yang berada di restoran Jepang waktu itu, rasanya mustahil.
Namun, ia teringat peringatan Diego ... pria ini tidak suka bermain-main. Ia harus memberikan sesuatu yang lebih jika ingin rencananya berjalan mulus.
"Karena aku seorang Dokter, aku bisa melakukan sesuatu yang membuat Paman bergairah, bukan hanya dari ciuman saja," ucap Freya, memberanikan diri melepas rengkuhan tangan Diego di pinggang, lalu berdiri tegak.
Ia mengalungkan kedua tangan di leher kokoh Diego, mengunci tatapan mereka dalam jarak yang sangat intim.
Diego tersenyum tipis, tertarik dengan tantangan kecil itu. "Lakukan!" perintahnya.
Tanpa menunggu lagi, Freya menarik tengkuk Diego, memperpendek jarak yang tersisa hingga bibir mereka bertemu.
Awalnya terasa ragu, namun saat Diego mulai membalas dengan lumatan yang menuntut, Freya seolah terseret ke dalam pusaran gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ciuman itu semakin panas. Diego memimpin dengan dominasi penuh, menyesap dan mengabsen setiap jengkal rongga mulut Freya dengan tempo yang kian memburu.
Suara peraduan saliva yang terdengar halus dan deru napas yang bersahutan mulai memenuhi sunyinya kamar mewah itu.
Tangan Freya yang semula hanya melingkar di leher Diego, perlahan mulai meremas rambut pria itu, mencari pegangan karena lututnya mendadak lemas.
Diego mendesah di sela ciuman mereka, tanda gairahnya mulai tersulut hebat.
Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Diego merengkuh pinggang Freya dengan posesif, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, dan membawanya menuju ranjang king size.
"Uughhh!"
Dengan satu gerakan halus, Diego mendorong tubuh Freya hingga terhempas ke atas kasur empuk.
Tubuh tinggi besarnya mengungkung tubuh mungil Freya, menatap dengan mata yang penuh hasrat berbahaya.
"Ciumanmu itu ... membuatku menginginkan lebih," bisik Diego dengan suara berat, sebelum kembali menyerang leher jenjang wanita itu dengan kecupan panas.
Freya mencengkeram sprei kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Ehm ... Paman, berikan aku waktu sebentar untuk berganti pakaian," rintih Freya di sela napas yang mulai tersengal.
Diego sama sekali tidak menanggapi. Pria itu seolah tenggelam dalam gairah yang mulai membakar logikanya.
Alih-alih melepaskan, tangan kekar Diego perlahan mulai menyelinap masuk ke balik pakaian yang masih melekat di tubuh Freya.
Sentuhan kulit yang hangat itu menjalar, membelai lembut perut rata Freya dengan gerakan yang sangat posesif.
Freya terkesiap, tubuhnya menegang saat merasakan ujung jemari Diego bergerak liar di atas kulitnya, menciptakan sensasi aneh yang membuat akal sehatnya kian meredup.
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita melakukan pemanasan dulu." Freya berusaha mengulur waktu, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Lagipula, wine milikmu saja belum habis. Jangan buru-buru Paman."Diego tidak menyahut. Ia hanya menatap Freya dengan sorot mata tajam yang membuat siapapun kehilangan nyalinya.Seketika itu, ekspresi Freya berubah. Ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang Naga.Sambil menarik napas dalam, Freya berusaha memaksakan diri untuk terlihat anggun dan berani, meski hatinya bergejolak hebat.Dengan langkah kaki yang masih terasa sedikit bergetar, Freya mulai melangkah pelan mendekati Diego."Maksudku, aku ingin Paman menikmati setiap detik di dalam kamar mewah ini bersa .... " Kalimat itu ter
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat Diego.Pria matang itu menatap tajam, seolah Freya adalah mangsa yang akan mengenyangkan perutnya malam ini."Aku senang kamu menepati janjimu." Diego kemudian duduk sambil menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Freya untuk duduk juga.Mata Freya tertambat pada makanan mewah yang tersaji di atas meja. Makanan yang bahkan tidak pernah dipesan Dani saat mereka masih menjalin kasih.Tanpa sadar, Freya tersenyum kecil. Rasa lapar mulai mencekik lambungnya, yang memang belum diisi sejak pagi tadi."Apa kamu suka dengan drama yang aku suguhkan tadi?" tanya Diego, memecah keheningan.Freya termangu, matanya membulat menatap Diego yang hanya melempar senyum dingin.Otaknya berputar cepat men
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami datang untuk menjemput Anda," ucap salah satu dari mereka.Mendengar itu, kedua mata Freya membulat sempurna. "Menjemput?" ulangnya, memastikan tidak salah dengar. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh kedua pria di depan."Silakan masuk ke dalam mobil, Nona Freya. Mari kami antar," lanjut pria itu sembari membukakan pintu belakang mobil.Freya langsung menggeleng cepat, refleks mundur satu langkah. Tatapan matanya beralih pada mobil hitam miliknya yang terparkir tak jauh di samping mobil mewah itu."Aku bawa mobil sendiri. Aku bisa pulang sendiri," ucap Freya dengan suara yang sedikit bergetar.Ia tahu betul kedua orang ini adalah orang suruhan Diego. Pria matang itu be
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yang tidak beres, Dani mempercepat langkah untuk mengejar wanita itu.Namun, gerakan kakinya terhenti secara kasar saat sekretaris pribadinya menghampiri dengan wajah tegang."Pak Dani, tolong tinjau lagi beberapa dokumen penting yang dibutuhkan hari ini. Ada beberapa dokumen revisi dari audit internal yang membutuhkan tanda tangan Anda segera.""Hmm, bawa ke mejaku!" sahut Dani datar.Sambil melangkah cepat menuju ruang kerja, Dani merogoh saku jasnya.Dengan tangan gemetar Dani mencari nama selingkuhannya di daftar kontak. Begitu sambungan terhubung, ia tak memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menyapa."Nad! Kamu di mana?" tanya Dani tanpa basa-basi. Tidak seperti biasanya, suaranya n
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar siapa lawannya. Dani dan keluarganya memiliki jaringan koneksi yang sangat luas, yang mampu menghanguskan karier kedokterannya hanya dalam waktu semalam.Jika pernikahan itu tetap terlaksana dan berakhir dengan fitnah keji yang direncanakan Dani, masa depan Freya tamat. Belum lagi, ia harus merelakan kesuciannya direnggut oleh pengkhianat itu di malam pertama nanti."A-aku mau, Paman," ucap Freya dengan suara parau.Jawaban itu disambut senyum dingin sang Naga Emas yang tampak puas. "Aku tahu kamu wanita baik-baik, tapi mulai sekarang, kamu harus belajar menjadi wanita nakal seperti yang aku inginkan."Mata Freya membulat sempurna. Ia belum sempat mencerna maksud kata-kata itu ketika tiba-
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada jalan lain. Jika ia ingin meruntuhkan pria yang telah mengkhianatinya, ia harus menerima tawaran Diego.Meski itu artinya ia harus menyerahkan kesucian yang selama ini dijaga pada Diego__pria yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun.Napas Freya terasa kian memburu setiap kali bayangan Nadia dan senyum palsu Dani melintas di benaknya.Kring!Tiba-tiba, ponsel yang berada di atas dasbor mobil berdering nyaring. Satu panggilan dari Dani. Freya hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin, lalu mengabaikannya.Tak lama kemudian, satu pesan masuk.[Sayang, maaf soal janji makan malam nanti. Aku ada meeting mendadak dan kemungkinan harus lembur sampai tengah malam]Freya menyunggingkan senyum







