Share

Mulai Berteman

Author: Eng_
last update Huling Na-update: 2025-10-03 14:33:32

Koridor sekolah siang itu cukup ramai, suara langkah kaki bercampur dengan obrolan siswa yang baru selesai jam pelajaran. Sky baru aja keluar dari kelas, tapi perhatiannya terhenti saat melihat Lyra di ujung lorong.

Gadis itu sedang berjuang keras membawa tumpukan buku tebal sampai setinggi dada. Jalannya pelan, sesekali miring, seolah kapan saja buku-buku itu bisa jatuh berantakan.

Refleks, Sky melangkah cepat. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung mengambil sebagian buku dari tangan Lyra.

“Thank you,” ucap Lyra otomatis. Ia tersenyum lega. Tapi begitu begitu menoleh dan menyadari siapa yang menolongnya, ekspresinya langsung berubah. “Eh… gue kira temen sekelas gue.” Suaranya terdengar gugup, matanya bahkan sempat membelalak kecil.

Sky tersenyum tipis, tak menanggapi. Ia menyeimbangkan buku di tangannya lalu mulai jalan.

“Siniin, gue bisa kok sendiri,” protes Lyra, buru-buru menyamakan langkah.

Sky tetap melangkah santai. “Santai aja.”

Lyra akhirnya menyerah, meski wajahnya jelas-jelas
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Penyesalan

    Ramon menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah Sky. Belum sempat mesin benar-benar mati, Reya sudah membuka pintu dan masuk. Gerakannya cepat, nyaris kasar. Pintu tertutup dengan bunyi yang terlalu keras untuk sebuah kebetulan.Ramon menoleh sekilas. Reya duduk tegak, menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, rahangnya kaku.“What’s wrong?” tanya Ramon akhirnya, pelan. “You look a mess … what happened?"Mobil mulai melaju. Jalanan siang itu ramai, tapi di dalam mobil terasa sunyi.“Apa Sky dapat masalah di sekolah?”“Iya.”Nada Reya datar. Terlalu datar.Ramon mengerutkan kening. “Masalah apa?”Reya menarik napas pendek. Tatapannya tetap lurus ke depan.“Dia mukulin temannya sampai masuk rumah sakit.”Ramon refleks menginjak rem sedikit. “What?!”Ia menoleh cepat. “Tha’s impossible. Sky would never do something like that.” “Tapi itu fakta.”Reya akhirnya menoleh. Ta

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pizza dan Percakapan

    Adakalanya suatu hari, matahari terasa tepat berada di atas kepala. Panasnya menyengat, membuat isi kepala ikut mendidih. Keringat bercucuran. Tidak nyaman. Rasanya ingin marah-marah dan mengumpat pada apa saja.Lalu tiba-tiba hujan turun begitu saja.Tanpa mendung. Tanpa peringatan.Dan semua amarah itu hilang begitu saja.Itulah yang Langit rasakan.Suara Sky membuatnya luruh seketika. Emosinya mereda. Kekacauan dalam kepalanya tenang perlahan, seperti debu yang jatuh satu per satu ke dasar.Langit menoleh. Matanya bertemu dengan manik cokelat gelap Sky. Senyum anak itu tersungging tipis tapi terasa amat tulus. Langit bisa melihat jelas wajah lelah dan sudut bibir Sky yang sedikit biru. Sky masih amat muda.Sky—anak manis dan hangat itu—kenapa dia harus mendengar hinaan sekejam itu?Hanya dengan memikirkannya saja, dada Langit terasa disayat. Padahal sedetik lalu kepalanya masih penuh tanda tanya. Ia

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Fakta Baru (?)

    Aroma kopi yang khas menguar di ruang makan rumah Bima. Wangi pahit itu bercampur dengan udara pagi yang sejuk dari halaman belakang. Hangat. Menenangkan. Matahari yang menyelinap lewat jendela kaca membuat suasana pagi terasa ringan, seolah hari ini akan berjalan tanpa beban.Sadewa berdiri di depan mesin penyeduh kopi. Cairan hitam pekat menetes pelan ke dalam cangkir. Ia bersenandung riang, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik dari speaker kecil di sudut ruangan. Kemeja cokelatnya digulung sampai lengan, memperlihatkan pergelangan tangan yang sesekali bergerak mengikuti ketukan.Langit terkekeh pelan dari kursinya. Tangannya tersilang di dada. Lengan sweater cokelat yang ia tarik sedikit ke atas memperlihatkan jam tangan bermerek di pergelangan tangannya—kontras dengan penampilannya yang santai. Di hadapannya, cangkir kopi masih mengepulkan asap.“Morning.”Suara Irene muncul dari arah ruang tengah. Ia melangkah masuk sambil meletakkan

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sidang Komite

    Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bungkam

    Sore itu Reya masih di kantornya, terpaku pada layar laptop, memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan.Ponselnya berdering. Reya mengernyit saat melihat nama yang berkedip di layar, Mr. Alex– konselor di sekolah Sky itu. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. Ada apa?“Ya, selamat siang, Sir,” sapa Reya begitu ponsel menempel di telinganya. Di seberang, suara Mr. Alex terdengar hati-hati. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Sky.”Deg. Perasaan Reya langsung tidak enak.“Ada apa, Sir?” tanyanya, pelan tapi tegang.“Sky memukuli temannya hingga pingsan, dan sekarang temannya sedang dibawa ke rumah sakit.”Reya bangkit dari kursinya seketika. Jantungnya bertalu. “Apa‒ tunggu! Sky … apa?” suara Reya gemetar.“Saya rasa anda harus segera ke sini.”Meski Mr. Alex jelas tidak akan melihatnya, Reya mengangguk cepat, panik. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”Telepon ditutup.Reya menyambar tas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa. Ia ba

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Batas Kesabaran

    Sky sudah cukup tenang.Bisik-bisik itu masih beredar. Tatapan aneh pun masih mengikutinya sepanjang pagi. Bahkan di kelas, dia berkali-kali memergoki teman-temannya menoleh ke arahnya. Tapi Sky belajar mengabaikannya. Tidak apa-apa. Dia bisa menahannya. Selama Elio, Lyra, Noah, dan Bian tetap berdiri di sisinya, semua itu bukan masalah besar.Pergantian jam terakhir berbunyi. Kelas Sky harus menuju laboratorium kimia. Elio dan Bian sudah lebih dulu keluar, disusul anak-anak lain. Sky masih di dalam kelas, merapikan buku-bukunya dengan gerakan pelan.Saat ia melangkah keluar, lorong sudah hampir kosong. Dan di sanalah Xander berdiri. Bersandar di dinding, tangan terlipat di dada, dengan senyum miring yang sejak pagi jelas mencarinya. Sepertinya melihat Sky tetap tenang setelah provokasi tadi pagi membuat Xander tidak puas.“Ternyata selain nggak punya bapak,” Xander membuka suara, nyaring di lorong sepi itu, “elo juga nggak punya malu ya.”Sky tidak berhenti. Dia terus berjalan.“Eh?”

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status