LOGINLampu gantung kristal di restoran itu memantulkan cahaya keemasan di atas meja marmer. Gelas-gelas anggur tersusun rapi seperti barisan tentara. Denting sendok dan tawa pelan tamu lain menyatu dengan alunan piano yang lembut.
Rani berdiri kaku di dekat pintu masuk.
Gaun kerjanya terasa terlalu sederhana untuk tempat semewah ini. Ia bisa melihat bayangannya sendiri di dinding kaca: rambut tersisir rapi, wajah tanpa banyak riasan, mata yang tampak terlalu waspada.
Eric sudah duduk lebih dulu.
Pria itu melepas jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Kemeja putihnya tergulung sampai siku, memperlihatkan pergelangan tangan dengan jam logam berkilau. Ketika ia mengangkat wajah dan mata mereka bertemu, Rani merasa seperti tertangkap sedang melakukan sesuatu yang salah.
“Duduk.”
Bukan ajakan. Lebih seperti perintah yang tenang.
Rani menarik kursi perlahan. Suara gesekannya terdengar lebih keras dari yang seharusnya. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas pangkuan.
Pelayan datang, menu dibuka, pesanan disampaikan tanpa banyak basa-basi. Eric memesan dengan suara datar. Rani hanya mengangguk ketika pelayan menatapnya.
Setelah pelayan pergi, keheningan turun seperti tirai.
Eric menatapnya.
Bukan tatapan santai. Bukan juga tatapan penuh rasa ingin tahu biasa.
Tatapan yang mengukur.
“Besok kamu menikah.”
Rani menahan napas sepersekian detik.
“Ya, Pak.”
“Kamu tetap akan melanjutkannya.”
Bukan pertanyaan.
Rani meraih gelas air di depannya. Ujung jarinya dingin menyentuh permukaan kaca. Ia menyesap perlahan, memberi waktu pada dirinya sendiri.
“Ya.”
Eric bersandar. Kursinya mengeluarkan bunyi halus.
“Pria itu berencana memanfaatkanmu.”
Rani tidak menjawab.
Ia menatap lilin kecil di tengah meja. Api kecilnya bergetar karena angin dari pendingin ruangan.
“Kamu mendengarnya sendiri,” lanjut Eric. “Tentang anak. Tentang harta. Tentang perceraian yang sudah mereka rencanakan bahkan sebelum kamu mengenakan gaun pengantin.”
Rani mengangkat pandangan.
Tatapan mereka bertemu.
Di dalam dada Rani, sesuatu bergerak, bukan sakit seperti sebelumnya. Bukan marah. Bukan sedih.
Dingin.
“Apa yang Bapak harapkan dari saya?” tanyanya pelan.
Eric menyipitkan mata.
“Harapan?”
“Kalau Bapak membawa saya ke sini untuk menyuruh saya membatalkan pernikahan, maaf. Itu tidak akan terjadi.”
Sendok kecil di meja bergetar ketika Eric meletakkannya sedikit lebih keras dari seharusnya.
“Kamu keras kepala.”
Rani tersenyum tipis lagi.
Makanan datang. Aroma daging panggang dan saus mentega memenuhi udara. Rani menyentuh pisau dan garpu, tapi tidak benar-benar memotong apa pun.
Eric tidak langsung makan. Ia memperhatikannya.
“Kamu tidak terlihat seperti wanita yang bodoh.”
“Apa saya terlihat seperti itu siang tadi?”
“Kamu terlihat seperti seseorang yang sedang berjalan ke jurang dan tahu persis seberapa dalam jurang itu.”
Keheningan kembali turun.
Rani akhirnya memotong sedikit daging. Ia mengunyah perlahan, menelan, lalu meletakkan garpu.
“Bagaimana jika saya memang sengaja berjalan ke jurang?”
Alis Eric terangkat tipis.
“Kamu menikmati bahaya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Rani mengusap serbet di sudut bibirnya. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.
“Bagaimana kalau… saya hanya ingin melihat siapa yang akan jatuh lebih dulu.”
Tatapan Eric berubah.
Bukan lagi marah.
Ada kilatan sesuatu yang baru.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”
Rani menatap api lilin lagi.
Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah duduk di ruang makan rumahnya sendiri, menyuapi Ivan sambil tertawa kecil. Ia pernah membayangkan anak kecil berlari di antara ruang tamu dan dapur.
Ia pernah percaya.
Sekarang, yang tersisa hanyalah serpihan kepercayaan yang tajam.
“Saya tahu cukup banyak,” jawabnya.
Eric menyandarkan kedua siku di meja.
“Katakan.”
Rani mengangkat pandangan perlahan.
“Jika Bapak memecat mereka, semuanya selesai terlalu cepat.”
“Dan itu masalah?”
“Saya tidak ingin semuanya selesai terlalu cepat.”
Napas Eric terdengar lebih berat.
“Jadi kamu ingin bermain.”
“Tidak.”
“Lalu?”
Rani mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Pak Eric,” suaranya lebih rendah sekarang, “kalau seseorang berniat membakar rumah saya… apakah saya harus segera memanggil pemadam, atau… membiarkan dia masuk lebih dalam dulu?”
Keheningan.
Detik jam seolah melambat.
Eric menatapnya lama.
“Kamu berubah.”
“Mungkin saya hanya berhenti naif.”
Piano di sudut ruangan mengganti lagu. Nada-nadanya terdengar lebih dalam, lebih sendu.
Eric akhirnya mulai makan. Ia memotong steaknya dengan tenang.
“Kamu butuh sesuatu.”
Rani terdiam.
“Kamu tidak mungkin sengaja mempertahankan mereka tanpa alasan.”
Rani tidak langsung menjawab. Ia menatap piringnya.
“Apa yang Bapak pikir saya butuhkan?”
“Waktu.”
Rani mengangkat wajahnya perlahan.
“Kamu butuh waktu,” lanjut Eric, “untuk membalik keadaan.”
Jari Rani berhenti bergerak.
Ia tidak tersenyum.
Tidak juga menyangkal.
Hanya diam.
Eric menatapnya lebih tajam.
“Kalau kamu bermain, kamu tidak bisa sendirian.”
“Apa maksud Bapak?”
“Aku tidak akan memecat mereka,” ucap Eric pelan. “Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak tahu.”
Rani mengernyit tipis.
“Perusahaan ini milikku,” lanjut Eric. “Setiap transaksi, setiap laporan, setiap aliran dana, aku bisa melihatnya.”
Rani merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Eric melanjutkan, “Jika pria itu mencoba menyentuh satu rupiah pun yang bukan haknya, aku akan tahu.”
Jantung Rani berdetak sedikit lebih cepat.
“Kenapa Bapak membantu saya?”
Pertanyaan itu keluar tanpa ia rencanakan.
Eric tidak langsung menjawab.
Ia menatap gelas anggurnya. Cairan merah itu berkilau di bawah cahaya lampu.
“Aku tidak suka orang yang memanfaatkan bawahanku.”
“Itu saja?”
Tatapan mereka kembali bertemu.
Beberapa detik terlalu lama.
“Untuk sekarang,” jawab Eric akhirnya.
Rani memalingkan wajah.
Ia tahu pria di hadapannya bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.
Dan itu membuat situasi ini semakin berbahaya.
Makan malam berlanjut dalam percakapan yang lebih tenang, tentang pekerjaan, tentang jadwal rapat minggu depan, tentang laporan audit yang belum selesai. Tapi di antara kalimat-kalimat formal itu, ada arus bawah yang tidak terlihat.
Sesuatu yang sedang dibangun.
Ketika mereka akhirnya berdiri untuk pergi, malam sudah turun sepenuhnya.
Udara di luar restoran lebih dingin. Lampu jalan memantulkan cahaya di trotoar basah.
Mobil hitam berhenti di depan mereka. Sopir turun dan membukakan pintu belakang.
“Biarkan saya antar,” ucap Eric.
“Saya bisa naik taksi.”
“Ini sudah larut.”
Rani ragu sepersekian detik, lalu masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup.
Suasana di dalam hening. Hanya suara mesin dan napas yang teratur.
Rani menatap keluar jendela. Lampu kota bergerak cepat, seperti garis-garis cahaya.
“Rani.”
Ia menoleh.
“Besok,” ucap Eric, “apa pun yang terjadi di pelaminan, jangan membuat keputusan emosional.”
Rani menatapnya.
“Saya tidak akan.”
“Dan satu lagi.”
“Ya, Pak?”
“Jangan biarkan dia menyentuhmu kalau kamu belum siap.”
Tangan Rani yang berada di atas paha mengeras sedikit.
Ia tidak menjawab.
Mobil berhenti di depan rumahnya.
Rumah yang dalam kehidupan sebelumnya menjadi tempat ia berdarah.
Ia membuka pintu mobil.
“Kita belum selesai bicara,” kata Eric sebelum ia turun.
Rani menoleh.
“Besok setelah resepsi,” lanjutnya, “aku akan memberimu sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Alat.”
Rani terdiam.
“Untuk permainanmu.”
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia keluar dari mobil, berdiri di trotoar. Pintu tertutup, mobil perlahan menjauh.
Rani berdiri beberapa detik di depan gerbang rumahnya.
Lampu ruang tamu menyala.
Ia tahu siapa yang ada di dalam.
Ivan.
Calon suaminya.
Pria yang dalam kehidupan sebelumnya membunuhnya dengan bantal.
Rani menghembuskan napas perlahan.
Tangannya meraih gagang pintu.
Tepat sebelum ia membukanya....
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari Ivan.
Ia membuka layar.
“Kenapa kamu belum pulang? Aku sudah menunggumu di kamar. Kita harus membicarakan sesuatu tentang bulan madu.”
Jantung Rani berdetak.
Perlahan.
Terkontrol.
Ia menatap jendela kamar di lantai dua.
Tirai bergerak sedikit.
Ada bayangan di sana.
Dan tepat saat ia mengangkat wajah,
Lampu kamar itu padam.
Aku tidak menunggu matahari terbit untuk mulai bergerak, karena ketika Ivan akhirnya tertidur menjelang subuh dengan rahang yang masih terkatup tegang dan ponsel tergeletak di samping bantalnya seperti senjata yang gagal ia gunakan malam itu, aku sudah duduk tegak di ranjang kamar tamu sambil menatap layar ponselku yang dipenuhi salinan rekaman, pesan anonim, dan foto yang telah menjadi pemicu api di dadanya, lalu aku tersenyum pelan bukan karena bahagia, melainkan karena aku tahu pagi ini bukan tentang membela diri melainkan tentang membangun jebakan yang lebih rapi.“Aku tidak akan menunggu kamu menyerang lebih dulu,” bisikku dalam hati sambil merapikan rambut yang semalaman kusut karena berpura pura tidur. “Kalau kamu ingin bermain kotor, aku akan bermain lebih bersih, lebih tenang, dan lebih mematikan.”Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, Ivan sudah berdiri di ruang makan dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut biasa, dan aku keluar dari kamar tamu dengan la
Pada pukul 02.13, ketika udara di dalam apartemen terasa terlalu dingin untuk ukuran kota yang tak pernah benar benar tidur, sebuah getaran pendek memecah gelap di atas nakas sisi ranjang Ivan, dan dalam kegelapan itu aku yang terbaring di kamar tamu dengan ponsel terhubung pada perangkat kecil di langit langit kamar utama, mendengar suara notifikasi itu seperti dentang lonceng yang menandai babak baru permainan kami.Aku tidak sedang tertidur. Sejak ia mengganti pola kunci ponselnya dengan gerakan jari yang lebih panjang dan lebih hati hati, aku memilih untuk tidak lagi memejamkan mata tanpa kewaspadaan, dan malam itu aku berbaring dengan posisi yang sama seperti malam sebelumnya, ponsel di tangan, layar redup, aplikasi perekam menyala, dan napasku kuatur pelan agar tidak terdengar seperti orang yang menunggu sesuatu.Getaran kedua terdengar lebih lama. Lalu suara kasur berderit pelan ketika Ivan bergerak.“Apa lagi,” gumamnya lirih, suaranya serak karena baru terbangun.Aku memejamk
Notifikasi kecil itu belum benar benar hilang dari pelupuk mataku ketika fajar menyusup melalui sela gorden kamar tamu, mengiris tipis ruangan yang pengap dengan cahaya pucat yang tidak membawa kehangatan apa pun, dan aku masih terjaga, masih memeluk ponselku seolah benda kecil itu satu satunya saksi bahwa aku tidak sedang kehilangan akal.Aku tidak pernah menyangka bahwa yang akan membuatku gemetar bukan suara Lidia, bukan pengakuan setengah hati Ivan, melainkan satu kalimat dingin di layar yang berbunyi aktivitas login tidak dikenal terdeteksi, seolah ada mata lain yang ikut membaca, ikut mengendus, ikut menunggu aku lengah.“Tenang,” bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit langit yang retaknya membentuk garis samar. “Kamu sudah memperhitungkan risiko. Kamu tidak bodoh.”Tetapi jantungku tidak peduli pada logika. Ia berdegup terlalu keras untuk ukuran subuh yang seharusnya sunyi.Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan, diikuti langkah kaki yang berat menyusuri
Aku tidak memindahkan tubuhku dari ranjang, tetapi sejak noda merah muda itu menatapku dari atas sarung bantal, aku tahu aku tidak akan pernah tidur di sisi yang sama lagi.Sore itu ketika Ivan pulang, suara kunci yang berputar di pintu terdengar lebih berat dari biasanya, seolah logamnya pun tahu ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, wajahku diterangi cahaya layar yang sengaja kubiarkan menyala agar ia melihatku sibuk, normal, tak tersentuh apa pun.Ia masuk tanpa menyapaku lebih dulu, melepas jas, menggantungnya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Punggungnya terlihat tegang bahkan dari kejauhan.“Kamu tidak tanya bagaimana presentasiku?” tanyanya tanpa menoleh.Aku mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana presentasimu?”“Berjalan baik,” jawabnya singkat. “Klien setuju lanjut ke tahap berikutnya.”“Bagus,” kataku tenang, lalu kembali menatap layar seolah berita itu hanya kabar biasa.Ia berdiri beberapa detik, m
Aku tidak pernah berniat menjadikan bulan madu sebagai medan perang, tetapi sejak Ivan memaksakan ide villa di Bali dengan suara penuh keyakinan yang terdengar seperti keputusan sepihak, aku tahu perjalanan itu bukan tentang cinta, melainkan tentang citra yang ingin ia pertahankan di depan dunia.“Semua orang tahu kita ke Bali,” katanya malam itu di apartemen, berdiri di depan meja makan dengan ponsel di tangan, memperlihatkan layar yang menampilkan foto villa dengan kolam renang menghadap laut. “Tempatnya privat, romantis, jauh dari gangguan. Ini sempurna.”Aku menatap gambar itu tanpa benar-benar melihatnya. Air biru, tirai tipis yang tertiup angin, tempat tidur putih besar dengan kelambu yang tampak seperti adegan iklan. Aku bisa membayangkan bagaimana ia akan memotret kami, bagaimana ia akan mengunggahnya, bagaimana komentar akan mengalir dengan ucapan iri dan doa bahagia.“Aku tidak mau ke Bali,” jawabku pelan.Ia tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan candaan yang tidak
Undangan itu menyebutnya sebagai makan siang sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat, tetapi ruangan privat di lantai dua restoran itu jauh dari kesan sederhana. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak putih gading, vas-vas kecil berisi bunga segar, dan lilin aromatik yang menguarkan wangi lembut. Tawa dan suara kursi yang bergeser saling bertabrakan, membentuk riuh yang hangat, atau setidaknya terlihat hangat dari luar.Rani berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum masuk. Gaunnya jatuh lembut hingga betis, warna krem pucat yang membuat kulitnya tampak lebih terang. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana, hanya disematkan satu jepit kecil di belakang telinga. Ia tampak seperti pengantin baru yang tenang dan anggun.Hanya saja, ketenangan itu bukan milik seorang perempuan yang sedang berbunga-bunga.Ivan menyusul dari belakang, langkahnya mantap, senyum terpasang rapi seperti jas yang dikenakannya. Begitu mereka masuk, beberapa sepupu jauh yang jarang ditemui, teman-tema







