Share

Bab 7 Tawar-Menawar

Penulis: Yukari
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 13:43:42

Lampu kamar sudah padam.

Rani masih berdiri di halaman.

Angin malam menyapu rambutnya pelan. Gerbang di depannya terbuka sedikit—cukup untuk membuat bayangan di lantai bergeser ketika ia mendorongnya.

Ia melangkah masuk.

Pintu rumah tidak dikunci.

Tentu saja tidak.

Ivan selalu menunggunya dengan cara seperti ini—seolah-olah rumah itu sudah milik mereka berdua, padahal namanya sendiri belum tercantum di sertifikat.

Rani menutup pintu pelan.

Ruang tamu wangi parfum pria. Bukan wangi yang lembut—tajam, berat, seperti ingin memenuhi udara sendirian.

Sepatu pria tergeletak di dekat sofa.

Jaketnya tergantung sembarangan di sandaran kursi.

Ia mendongak.

Langkah kaki terdengar dari lantai dua.

Pelan.

Teratur.

Ivan muncul di ujung tangga.

Kemeja rumahnya terbuka dua kancing di atas. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru mandi. Tangannya menyentuh pegangan tangga saat ia menuruni satu anak tangga, lalu berhenti.

Mereka saling menatap.

“Kamu lama sekali.”

Suara itu lembut. Hampir terdengar khawatir.

Rani meletakkan tasnya di atas meja konsol.

“Macet.”

Ivan turun satu langkah lagi.

“Aku menunggumu.”

Rani bisa merasakan tatapan itu menelusuri wajahnya. Seolah mencari jejak sesuatu.

Restoran.

Eric.

Percakapan.

Ia berjalan melewati ruang tamu tanpa menjawab. Tumit sepatunya terdengar jelas di lantai marmer.

Ivan turun lebih cepat.

“Kamu makan?”

“Sudah.”

“Dengan siapa?”

Langkah Rani berhenti.

Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat Ivan dari sudut mata.

“Rekan kerja.”

Ivan tersenyum.

Terlalu cepat.

“Pria?”

Rani melepas antingnya satu per satu. Logam kecil itu berbunyi pelan ketika diletakkan di meja.

“Kenapa?”

Ivan mendekat.

Jarak mereka tinggal satu meter.

“Kita menikah besok.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu makan malam dengan pria lain malam ini?”

Rani menatapnya lurus sekarang.

“Apa ada aturan yang melarang?”

Sudut bibir Ivan menegang.

Ia tertawa kecil, tapi tawa itu tidak sampai ke mata.

“Aku hanya bertanya.”

Rani melepas sepatu haknya. Tubuhnya sedikit lebih rendah sekarang. Ia berdiri tanpa alas, terasa lebih ringan.

“Aku tidak tahu kamu harus melapor soal makan malam.”

Ivan melangkah lebih dekat.

Sekarang jarak mereka hanya sejengkal.

“Aku calon suamimu.”

Jantung Rani berdetak.

Terkontrol.

Calon suami.

Dalam kehidupan sebelumnya, kata itu membuatnya tersenyum malu.

Sekarang, kata itu terasa seperti ancaman.

Ia menatap kancing kemeja Ivan yang terbuka.

Dada pria itu naik turun lebih cepat dari biasanya.

“Kita belum menikah,” jawab Rani pelan.

Ivan mengulurkan tangan.

Jarinya hampir menyentuh lengan Rani—

Rani melangkah mundur.

Gerakannya kecil.

Tapi cukup jelas.

Udara di antara mereka berubah.

Ivan membeku sepersekian detik.

“Kamu menghindar?”

Rani mengangkat wajah.

“Aku lelah.”

“Kamu tidak pernah keberatan aku menyentuhmu.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Seolah-olah tuduhan yang diselipkan dalam nada manis.

Rani menahan napas.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia memang tidak pernah keberatan. Ia selalu mendekat lebih dulu.

Ia yang menggenggam tangan.

Ia yang bersandar.

Ia yang percaya.

Sekarang—

“Aku ingin tidur,” ucapnya.

Ia berbalik menuju tangga.

Ivan tidak bergerak.

“Kita belum bicara tentang bulan madu.”

Langkah Rani berhenti di anak tangga pertama.

“Kenapa?”

“Aku sudah memilih tempat.”

“Oh?”

Ivan menyeringai tipis.

“Resor di Bali. Private villa. Tidak ada orang lain.”

Ia bisa membayangkannya.

Vila sepi.

Kolam renang pribadi.

Kamera tidak ada.

Saksi tidak ada.

Rani memegang pegangan tangga.

“Kita bisa tunda.”

Ivan terdiam.

“Tunda?”

“Banyak urusan kantor setelah resepsi.”

“Aku sudah mengajukan cuti.”

“Aku belum.”

Ivan menuruni satu anak tangga, mendekat lagi.

“Kamu berubah, Rani.”

Ia tidak menoleh.

“Hanya sibuk.”

“Kamu juga berubah sejak siang.”

Rani menoleh perlahan.

“Berubah bagaimana?”

Ivan mengamati wajahnya.

“Kamu seperti… tidak takut lagi.”

Hening.

Angin dari jendela ruang tamu menggerakkan tirai tipis. Bayangannya menari di dinding.

Rani turun satu langkah kembali. Kini mereka sejajar di tangga.

“Aku harus takut?”

Ivan tersenyum.

“Kamu biasanya khawatir aku marah.”

Rani menatap tangannya sendiri yang menggenggam pegangan kayu.

Buku-buku jarinya memutih sedikit.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia memang selalu khawatir.

Takut membuat Ivan kecewa.

Takut membuatnya pergi.

Takut ditinggalkan.

Sekarang—

Ia mengangkat wajah.

“Kenapa aku harus khawatir?”

Ivan menatapnya lama.

Terlalu lama.

Lalu ia tertawa kecil lagi.

“Kamu lucu malam ini.”

Ia melangkah naik satu anak tangga lagi, memotong jarak.

Tangannya terangkat.

Jari-jarinya menyentuh dagu Rani.

Sentuhan ringan.

Tapi Rani merasakan tubuhnya menegang otomatis.

“Besok kamu jadi istriku,” bisik Ivan.

Napas pria itu menyentuh pipinya.

“Kamu tidak bisa menghindar terus.”

Rani tidak memalingkan wajah.

Ia menatap mata Ivan lurus.

“Kenapa terburu-buru?”

Ivan mengernyit.

“Apa?”

“Kita punya waktu seumur hidup.”

Kalimat itu terdengar manis.

Tapi cara Rani mengucapkannya—

Pelan.

Datar.

Tanpa senyum.

Ivan menarik tangannya perlahan.

“Aku hanya ingin memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Kamu masih milikku.”

Kata itu menggantung di udara.

Milikku.

Rani menurunkan pandangan, lalu tertawa kecil.

“Sejak kapan aku barang?”

Ivan tidak langsung menjawab.

“Jangan salah paham.”

“Kalau begitu jangan gunakan kata itu.”

Keheningan merambat di antara mereka.

Ivan menghela napas, lalu turun kembali ke ruang tamu.

“Oke,” ucapnya, seolah-olah mengalah. “Kita tunda bulan madu.”

Rani menatap punggungnya.

Ivan mengambil ponselnya di meja.

“Besok setelah resepsi,” lanjutnya, “kita langsung ke rumahku.”

Rani terdiam.

Rumah itu.

Tempat ia mati.

“Aku pikir kita tinggal di sini dulu.”

Ivan menoleh cepat.

“Kenapa?”

“Lebih dekat dengan kantor.”

Ivan mengamati wajahnya. Tapi Ivan bisa merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia melangkah mendekat lagi. “Kamu menyembunyikan sesuatu.”

Rani tersenyum kecil.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

Ivan mengangkat tangannya lagi—

Kali ini bukan untuk menyentuh.

Ia mengulurkan ponselnya.

“Lihat ini.”

Layar menyala.

Foto vila mewah. Kolam biru, kamar tidur luas, kelambu putih menggantung di atas ranjang besar.

“Romantis, kan?”

Rani menatap foto itu tanpa ekspresi.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia hampir menangis bahagia melihat foto yang sama.

Sekarang—

“Indah.”

“Kita bisa punya anak di sana.”

Kalimat itu diucapkan ringan.

Seolah-olah membicarakan dekorasi.

Jantung Rani berdetak lebih keras.

Detak kecil.

Tajam.

Ia mengangkat wajah perlahan.

“Anak?”

Ivan tersenyum lebar.

“Bukankah itu yang kamu mau?”

Rani menatapnya.

Wajah yang dulu ia cintai.

Wajah yang tersenyum padanya saat ia kehabisan napas di bawah bantal.

“Kenapa kamu ingin anak secepat itu?”

Ivan mengangkat bahu.

Rani menyilangkan tangan di depan dada. “Kita belum menikah.”

“Besok.”

“Besok belum tentu.”

Senyum Ivan memudar sedikit.

“Kamu bercanda?”

Rani menatapnya tenang.

“Aku hanya bilang belum tentu.”

Hening.

Ivan mendekat lagi.

“Rani.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

“Jangan main-main.”

“Aku tidak.”

“Pernikahan ini penting.”

“Untuk siapa?”

Tatapan mereka saling bertabrakan.

Ivan menyipitkan mata.

“Untuk kita.”

Rani menggeleng pelan.

“Untuk kamu.”

Udara terasa lebih berat.

Ivan menarik napas dalam.

“Kita sudah membicarakan ini.”

“Ya.”

“Kamu setuju.”

Rani menatapnya.

“Aku memang setuju.”

“Tapi?”

“Tapi bukan berarti aku tidak bisa berpikir ulang.”

Wajah Ivan mengeras.

“Kamu tidak akan membatalkannya.”

Bukan pertanyaan.

Ancaman.

Rani melangkah turun satu anak tangga lagi.

Kini mereka berdiri berhadapan di ruang tamu.

Ia bisa melihat bayangannya di bola mata Ivan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau aku membatalkannya?”

Ivan tidak menjawab.

Beberapa detik.

Lalu—

Ia tersenyum lagi.

Pelan.

Berbahaya.

“Aku akan sangat kecewa.”

“Kekecewaan bisa diatasi.”

“Tapi kerugian tidak.”

Kata itu jatuh seperti batu kecil ke dalam air.

Rani memiringkan kepala.

“Kerugian?”

Ivan mendekat lebih dekat lagi.

“Banyak orang sudah tahu tentang pernikahan ini.”

“Jadi?”

Rani tidak berkedip.

Ia menatap wajah Ivan lama sekali.

Lalu tersenyum.

“Jadi ini tawar-menawar?”

Ivan membalas senyum itu.

“Aku hanya realistis.”

Rani berjalan ke meja, mengambil segelas air.

Ia minum perlahan.

Setelah meletakkan gelas kembali, ia berkata tanpa menoleh,

“Baiklah.”

Ivan terdiam.

“Baiklah apa?”

“Aku tetap menikah.”

Bahunya terlihat sedikit lebih rileks.

“Tapi,” lanjut Rani pelan, “aku punya syarat.”

Ivan membeku.

“Syarat?”

Rani berbalik.

Matanya tenang.

“Bulan madu ditunda.”

Ivan menatapnya.

“Dan?”

“Kita tinggal di sini dulu.”

Ivan terdiam.

“Dan satu lagi.”

“Apa lagi?”

Rani melangkah mendekat.

Cukup dekat untuk membuat Ivan berpikir ia akhirnya menyerah.

Tapi suaranya tetap datar.

“Aku tidak ingin anak dalam waktu dekat.”

Wajah Ivan berubah.

“Kenapa?”

“Aku ingin menikmati pernikahan dulu.”

Ivan menatapnya tajam.

Mencari celah.

Mencari kebohongan.

“Berapa lama?”

“Setahun.”

Ivan tertawa pendek.

“Itu terlalu lama.”

“Bagiku tidak.”

Keheningan kembali turun.

Ivan berjalan menjauh beberapa langkah, lalu kembali.

“Kita lihat nanti.”

Rani mengangguk.

“Kita lihat nanti.”

Ivan mengamatinya satu kali lagi.

Lalu akhirnya berkata, “Tidurlah. Besok hari besar.”

Ia berbalik menuju tangga.

Langkahnya terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Rani berdiri sendiri di ruang tamu.

Lampu kristal memantulkan bayangannya di lantai marmer.

Tangannya perlahan terangkat menyentuh lehernya sendiri.

Masih terasa hangat dari napas Ivan tadi.

Ia berjalan ke meja, mengambil ponselnya.

Layar menyala.

Tidak ada pesan baru.

Ia mengetik satu kalimat.

“Permainan dimulai.”

Jempolnya berhenti.

Ia tidak jadi mengirimnya ke siapa pun.

Ia menghapusnya.

Lalu menyimpan ponsel di saku.

Lampu ruang tamu dimatikan.

Rumah menjadi gelap.

Rani berdiri beberapa detik di tengah kegelapan.

Lalu berbisik pelan, hampir tidak terdengar,

“Kali ini… bukan aku yang akan jatuh.”

Di lantai atas—

Pintu kamar Ivan tertutup.

Tapi di balik pintu itu—

Layar ponsel menyala.

Sebuah nama muncul di layar.

Lidia.

Dan pesan baru terkirim:

“Dia mulai aneh. Kita harus percepat.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 21 Jejak Rekening

    Aku tidak menunggu matahari terbit untuk mulai bergerak, karena ketika Ivan akhirnya tertidur menjelang subuh dengan rahang yang masih terkatup tegang dan ponsel tergeletak di samping bantalnya seperti senjata yang gagal ia gunakan malam itu, aku sudah duduk tegak di ranjang kamar tamu sambil menatap layar ponselku yang dipenuhi salinan rekaman, pesan anonim, dan foto yang telah menjadi pemicu api di dadanya, lalu aku tersenyum pelan bukan karena bahagia, melainkan karena aku tahu pagi ini bukan tentang membela diri melainkan tentang membangun jebakan yang lebih rapi.“Aku tidak akan menunggu kamu menyerang lebih dulu,” bisikku dalam hati sambil merapikan rambut yang semalaman kusut karena berpura pura tidur. “Kalau kamu ingin bermain kotor, aku akan bermain lebih bersih, lebih tenang, dan lebih mematikan.”Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, Ivan sudah berdiri di ruang makan dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut biasa, dan aku keluar dari kamar tamu dengan la

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 20 Pesan Tengah Malam

    Pada pukul 02.13, ketika udara di dalam apartemen terasa terlalu dingin untuk ukuran kota yang tak pernah benar benar tidur, sebuah getaran pendek memecah gelap di atas nakas sisi ranjang Ivan, dan dalam kegelapan itu aku yang terbaring di kamar tamu dengan ponsel terhubung pada perangkat kecil di langit langit kamar utama, mendengar suara notifikasi itu seperti dentang lonceng yang menandai babak baru permainan kami.Aku tidak sedang tertidur. Sejak ia mengganti pola kunci ponselnya dengan gerakan jari yang lebih panjang dan lebih hati hati, aku memilih untuk tidak lagi memejamkan mata tanpa kewaspadaan, dan malam itu aku berbaring dengan posisi yang sama seperti malam sebelumnya, ponsel di tangan, layar redup, aplikasi perekam menyala, dan napasku kuatur pelan agar tidak terdengar seperti orang yang menunggu sesuatu.Getaran kedua terdengar lebih lama. Lalu suara kasur berderit pelan ketika Ivan bergerak.“Apa lagi,” gumamnya lirih, suaranya serak karena baru terbangun.Aku memejamk

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 19 Tatapan Curiga

    Notifikasi kecil itu belum benar benar hilang dari pelupuk mataku ketika fajar menyusup melalui sela gorden kamar tamu, mengiris tipis ruangan yang pengap dengan cahaya pucat yang tidak membawa kehangatan apa pun, dan aku masih terjaga, masih memeluk ponselku seolah benda kecil itu satu satunya saksi bahwa aku tidak sedang kehilangan akal.Aku tidak pernah menyangka bahwa yang akan membuatku gemetar bukan suara Lidia, bukan pengakuan setengah hati Ivan, melainkan satu kalimat dingin di layar yang berbunyi aktivitas login tidak dikenal terdeteksi, seolah ada mata lain yang ikut membaca, ikut mengendus, ikut menunggu aku lengah.“Tenang,” bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit langit yang retaknya membentuk garis samar. “Kamu sudah memperhitungkan risiko. Kamu tidak bodoh.”Tetapi jantungku tidak peduli pada logika. Ia berdegup terlalu keras untuk ukuran subuh yang seharusnya sunyi.Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan, diikuti langkah kaki yang berat menyusuri

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 18 Aku Tidak Akan Memberikan Anakku Padamu

    Aku tidak memindahkan tubuhku dari ranjang, tetapi sejak noda merah muda itu menatapku dari atas sarung bantal, aku tahu aku tidak akan pernah tidur di sisi yang sama lagi.Sore itu ketika Ivan pulang, suara kunci yang berputar di pintu terdengar lebih berat dari biasanya, seolah logamnya pun tahu ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, wajahku diterangi cahaya layar yang sengaja kubiarkan menyala agar ia melihatku sibuk, normal, tak tersentuh apa pun.Ia masuk tanpa menyapaku lebih dulu, melepas jas, menggantungnya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Punggungnya terlihat tegang bahkan dari kejauhan.“Kamu tidak tanya bagaimana presentasiku?” tanyanya tanpa menoleh.Aku mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana presentasimu?”“Berjalan baik,” jawabnya singkat. “Klien setuju lanjut ke tahap berikutnya.”“Bagus,” kataku tenang, lalu kembali menatap layar seolah berita itu hanya kabar biasa.Ia berdiri beberapa detik, m

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 17 Ivan Hanya Ingin Buat Anak

    Aku tidak pernah berniat menjadikan bulan madu sebagai medan perang, tetapi sejak Ivan memaksakan ide villa di Bali dengan suara penuh keyakinan yang terdengar seperti keputusan sepihak, aku tahu perjalanan itu bukan tentang cinta, melainkan tentang citra yang ingin ia pertahankan di depan dunia.“Semua orang tahu kita ke Bali,” katanya malam itu di apartemen, berdiri di depan meja makan dengan ponsel di tangan, memperlihatkan layar yang menampilkan foto villa dengan kolam renang menghadap laut. “Tempatnya privat, romantis, jauh dari gangguan. Ini sempurna.”Aku menatap gambar itu tanpa benar-benar melihatnya. Air biru, tirai tipis yang tertiup angin, tempat tidur putih besar dengan kelambu yang tampak seperti adegan iklan. Aku bisa membayangkan bagaimana ia akan memotret kami, bagaimana ia akan mengunggahnya, bagaimana komentar akan mengalir dengan ucapan iri dan doa bahagia.“Aku tidak mau ke Bali,” jawabku pelan.Ia tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan candaan yang tidak

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 16 Sentuhan yang Ditolak

    Undangan itu menyebutnya sebagai makan siang sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat, tetapi ruangan privat di lantai dua restoran itu jauh dari kesan sederhana. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak putih gading, vas-vas kecil berisi bunga segar, dan lilin aromatik yang menguarkan wangi lembut. Tawa dan suara kursi yang bergeser saling bertabrakan, membentuk riuh yang hangat, atau setidaknya terlihat hangat dari luar.Rani berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum masuk. Gaunnya jatuh lembut hingga betis, warna krem pucat yang membuat kulitnya tampak lebih terang. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana, hanya disematkan satu jepit kecil di belakang telinga. Ia tampak seperti pengantin baru yang tenang dan anggun.Hanya saja, ketenangan itu bukan milik seorang perempuan yang sedang berbunga-bunga.Ivan menyusul dari belakang, langkahnya mantap, senyum terpasang rapi seperti jas yang dikenakannya. Begitu mereka masuk, beberapa sepupu jauh yang jarang ditemui, teman-tema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status