LOGINUdara di dalam Hotel du Pavillon terasa kaku dan berbau lilin lebah yang digosokkan ke furnitur jati. Bagi Willem, kemewahan ini terasa mencekik. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lampu-lampu minyak yang mulai menyala di sepanjang jalan Bodjong. Di tangannya, sebuah gelas berisi jenever dingin dan embunnya mulai menetes, namun ia tak berminat meminumnya.
Pikiran Willem masih tertahan di pagar besi panti asuhan itu. Tatapan Dyah tadi siang bukan hanya berisi kemarahan, itu adalah tatapan seseorang yang telah selesai dengan harapan dan bagi Willem, itu jauh lebih mengerikan daripada cacian. "Kamu terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu, Willem." Suara itu datang dari pintu penghubung yang terbuka. Hendrik, seorang jurnalis Belanda bertubuh tambun dengan kemeja yang selalu tampak berkerut, melangkah masuk tanpa diundang. Hendrik adalah satu-satunya teman yang tahu mengapa Willem bersikeras meminta penempatan di Semarang padahal kariernya di Batavia bisa jauh lebih cemerlang. "Aku memang baru saja melihat hantu, Hendrik," jawab Willem parau. "Hantu dari masa lalu yang sekarang berjalan dengan kebaya cokelat dan mata sedingin es." Hendrik bersandar pada pagar balkon, menyulut cerutunya. "Adiningrat? Jadi kamu benar-benar menemuinya? Kamu gila. Kamu tahu apa yang terjadi pada keluarganya setelah skandal pelarian yang gagal itu? Ayahnya kehilangan jabatan bupati dan kakak angkatnya si Soerjo itu harus menyuap banyak pejabat agar nama keluarga mereka tidak benar-benar dihapus dari silsilah ningrat. Dia tidak akan memaafkanmu hanya karena kamu membawa selembar kertas cetak biru." Willem menyesap minumannya dan membiarkan cairan keras itu membakar kerongkongannya. "Dia mengelola panti asuhan di pinggiran kota. Tempat itu menyedihkan, Hendrik, dan pemerintah ingin menggusurnya untuk perluasan rel kereta api logistik ke pelabuhan." Hendrik meniupkan asap cerutu ke udara malam. "Dan kamu yang memegang kuas untuk menggambar garis rel itu di atas petanya. Ironis sekali, bukan? Arsitek yang datang untuk menyelamatkan ternyata adalah orang yang memegang sekop untuk menggali kuburannya." Willem meremas gelasnya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menggeser koordinatnya. Aku akan meyakinkan Residen bahwa lahan di sebelah timur panti jauh lebih stabil untuk beban kereta api." "Kamu bermain api dengan ayahmu, Willem," Hendrik memperingatkan dan suaranya sekarang serius. "Adriaan van Deventer menanam modal besar di perusahaan kereta api ini. Jika dia tahu kamu menyabotase proyek demi seorang wanita pribumi yang dulu ingin ia singkirkan, dia akan menghancurkanmu lagi." Willem tidak menjawab. Ia tahu ayahnya. Adriaan adalah pria yang percaya bahwa garis ras tidak boleh bercampur dan bahwa kemajuan kolonial adalah tuhan yang menuntut tumbal. Sepuluh tahun lalu, Adriaan telah menumbalkan kebahagiaan putranya sendiri. Kali ini Willem bersumpah tidak akan membiarkan pria itu merampas apa pun lagi. *** Pagi di pinggiran kanal timur Semarang tidak pernah benar-benar tenang. Suara uap dari pabrik pengolahan kayu di kejauhan beradu dengan teriakan para pedagang sayur yang melintas. Namun, di dalam dinding Panti Asuhan Kasih Ibu, ketegangan memiliki suaranya sendiri, yaitu keheningan yang menyesakkan. Dyah berdiri di dapur kecil yang beraroma kayu bakar dan nasi liwet setengah matang. Tangannya mengaduk tungku, namun pikirannya tertahan pada kata-kata kakaknya semalam. Tempat sampah ini, begitu kakaknya menyebut panti asuhan yang dibangun Dyah dengan air mata dan sisa perhiasan ibundanya. Bagi Soerjo, tempat ini hanyalah aset yang tertunda, sedangkan bagi Dyah, ini adalah penebusan dosanya. "Ibu Dyah, ada noda di kainnya," celetuk Siti, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun yang sejak tadi memperhatikannya. Dyah tersentak. Ia melihat ujung kain kebayanya yang tanpa sadar tercelup ke dalam abu tungku. Ia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Siti. Abu bisa dicuci yang penting nasi kita matang hari ini." Namun, saat ia menatap keluar jendela kecil ke arah gerbang, jantungnya mencelos. Mobil hitam itu kembali. Ford Model T yang sama dan pria itu turun lagi, kali ini tanpa setelan jas formal yang kaku. Willem mengenakan kemeja lapangan berwarna khaki dengan gulungan kertas besar di bawah lengannya. "Anak-anak, masuk ke ruang belajar. Jangan keluar sampai Ibu panggil!" perintah Dyah dengan nada yang tak bisa dibantah. Willem merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tahu ia tidak diinginkan di sini. Namun, setelah percakapannya dengan Hendrik semalam, ia menyadari bahwa waktu bukan lagi sekadar kawan melainkan musuh yang siap menerkam. Proyek rel kereta api itu bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan. Ayahnya telah menandatangani kontrak pengadaan bantalan rel yang akan melintasi tepat di titik di mana Dyah sekarang berdiri. Ia melangkah masuk ke halaman. Kali ini, ia tidak menunggu di gerbang. Ia berjalan menuju teras depan tempat Dyah sudah menantinya dengan tangan bersedekap. "Sudah aku katakan, Tuan van Deventer. Kami tidak butuh bantuanmu," suara Dyah bergetar, namun ia menahannya agar tetap rendah. "Aku tidak datang sebagai teman masa lalumu," jawab Willem dan ia mencoba menggunakan nada profesional yang ia pelajari di Delft. "Aku datang sebagai Arsitek Senior dari Burgerlijke Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum). Aku punya wewenang untuk meninjau struktur bangunan ini." Dyah mendengus, tawa sarkastik keluar dari bibirnya. "Struktur? Kamu ingin memeriksa kekuatan kayu jati yang sudah dimakan rayap ini sebelum kamu merobohkannya? Atau kamu ingin mengukur seberapa luas tanah yang bisa kamu rampas untuk keuntungan ayahmu?" Willem meringis. "Justru sebaliknya. Aku sedang mencari alasan teknis untuk menyatakan bahwa lahan ini tidak layak untuk beban rel kereta api, tapi untuk itu, aku butuh akses ke pondasi belakang dan denah asli bangunan ini." Dyah terdiam. Matanya mencari-cari kebohongan di iris mata biru Willem. Ada bagian dari dirinya yang ingin percaya, bahwa ada bagian kecil yang dulu pernah mencintai pria ini lebih dari nyawanya sendiri. Namun sekarang ada bagian yang lebih besar yang sudah babak belur dihantam kenyataan, berteriak bahwa ini hanyalah tipu muslihat kolonial lainnya. "Kamu ingin aku percaya bahwa kamu akan melawan ayahmu sendiri demi apa, Willem? Demi rasa bersalahmu?" "Demi kebenaran," sahut Willem tegas. "Dan mungkin sedikit untuk harga diriku sendiri yang hilang sepuluh tahun lalu." Dyah akhirnya mundur satu langkah dan memberi ruang bagi Willem untuk masuk. "Jangan berpikir ini adalah tanda aku memaafkanmu. Kamu punya waktu satu jam. Setelah itu kamu adalah orang asing lagi." Willem mulai bekerja. Ia membentangkan kertas kalkirnya di atas meja kayu yang goyang. Ia mulai mengukur, mencatat, dan mengetuk-ngetuk dinding. Dyah mengawasinya dari ambang pintu dan memperhatikan bagaimana jemari pria itu bergerak, jemari yang dulu pernah menggenggam tangannya di bawah rembulan, sekarang penuh dengan noda tinta dan kapur.Sore yang tenang di pertengahan tahun 1926 menyelimuti peron Stasiun Tawang. Langit Semarang memancarkan pendar oranye keemasan dab memantul anggun pada atap pelengkung besi stasiun yang megah. Aroma uap batu bara bercampur dengan angin pesisir yang bertiup lembut membawa ingatan pada peristiwa sepuluh tahun silam.Di peron tiga, persis di sudut tiang besi bernomor empat tempat mereka pernah berdiri penuh ketakutan sepuluh tahun lalu, Dyah dan Willem kembali berdiri bersisian.Dyah mengenakan kebaya katun bersahaja dengan selendang batik Parang Klitik yang melingkar anggun di bahunya. Di sampingnya, Willem berdiri tegap dalam balutan kemeja katun. Pria itu menatap lurus lintasan rel kereta api dan matanya biru kelabunya memancarkan kedamaian tiada tara yang tak lagi terusik oleh kecemasan.Dari kejauhan terdengar deru mesin lokomotif kereta malam tujuan Batavia menggelegar parau, lalu disusul jeritan peluit uap yang nyaring.Garis-garis besi rel bergetar halus saat gerbong-gerb
Pagi demi pagi berganti menjadi lembaran hari yang sarat gairah. Tanah rawa Kanal Timur yang dulunya sunyi dan bersimbah ketakutan sekarang bergetar oleh irama kehidupan baru. Dentang martil memukul paku, derak gergaji memotong kayu jati, serta riuh alunan tembang Jawa dari para wanita yang memasak di dapur umum membahana sepanjang pesisir Semarang.Ratusan warga Kampung Melayu, kuli pelabuhan Tanjung Mas, pedagang Pasar Johar, hingga para perajin kayu dari Kota Lama datang bergantian setiap hari. Mereka bekerja tanpa pamrih dan menyumbangkan tenaga dan keahlian demi tegaknya sekolah dan panti asuhan baru.Di atas susunan perancah kayu bambu yang tinggi, Willem berdiri mengawasi pemasangan rangka atap limasan. Dengan kemeja linen tergulung dan celana katun bersahaja, ia memegang waterpas dan siku besi, memandu para tukang kayu lokal."Geser balok nok itu dua senti ke utara, Kang Darmo!" seru Willem lantang dari atas perancah.Ia menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Kemiri
Willem tersenyum lembut dan mengusap tepi peti kayu itu dengan penuh kehangatan. "Ini adalah sisa tabungan pribadiku, Dyah. Hasil dari pekerjaanku sebagai arsitek muda di Delft dan sisa honorarium bersih yang kukumpulkan sebelum aku melangkah ke tanah Jawa."Nyai Rahayu membelalakkan matanya dan menahan napas seraya merapatkan kain stagennya. "Willem, uang simpanan sebesar ini dari Eropa? Untuk apa ditunjukkan kepada kami?"Willem mengambil seluruh lembaran wesel bank dan pundi koin emas tersebut, lalu menyodorkan semuanya ke dalam pangkuan tangan Dyah dan Nyai Rahayu."Ini bukan lagi milikku pribadi," tutur Willem."Seluruh simpanan ini secara resmi kuserahkan untuk pembangunan panti asuhan baru dan operasional awal sekolah gratis bagi anak-anak rawa dan buruh Tanjung Mas."Dyah terperanjat dan jemarinya bergetar hebat saat memegang lembaran wesel tersebut. "Willem! Tidak! Ini tabungan kerja kerasmu selama bertahun-tahun di Eropa. Ini jaminan masa depanmu sendiri!""Masa depa
Hendrik menahan napas, sementara Dyah menatap Willem tanpa bersuara sedikit pun. Keheningan mendadak menyergap area meja kerja. Empat puluh ribu gulden adalah angka yang sangat fantastis, sebuah kekayaan yang sanggup membuat siapa pun hidup dalam kemewahan seumur hidup di Eropa.Willem menatap berkas emas itu sejenak. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan keraguan atau keserakahan. Willem mendorong kembali lembaran perkamen dan pena emas tersebut ke arah notaris van der Wal."Saya menolak warisan itu, Tuan Notaris," tegas Willem.Notaris van der Wal terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "T-Tapi Tuan van Deventer! Ini empat puluh ribu gulden. Uang ini sah dan porsi Anda yang tidak disita negara!""Uang itu tercemar oleh air mata dan darah rakyat!" pangkas Willem tajam, matanya menatap lurus sang Notaris. "Empat puluh ribu gulden itu lahir dari penindasan kuli pelabuhan, pemalsuan tanah rawa, dan kebohongan konsorsium. Saya tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uan
Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak."Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi."Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema
Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur."Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat.""Terima kasih, Hend
Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas
Dyah membanting pintu gerbang itu dengan kekuatan yang tersisa dan meninggalkan Willem di jalan tanah yang berdebu. Bunyi dentuman besi tua itu seolah menjadi titik penegas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar samudera, melainkan gunjingan keji yang berakar di setiap sudut kampung. Di
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beber
Willem merasakan jemarinya bergetar hebat saat memori itu berputar seperti piringan hitam yang rusak. Di dalam benaknya, ia kembali ke detik-detik paling menghancurkan di atas dek kapal SS Grotius yang perlahan menjauhi Pelabuhan Tanjung Mas malam itu. Suara peluit kapal yang melengking panjang t







