Partager

Bab 2

Auteur: Miarosa
last update Date de publication: 2026-05-04 13:18:11

"Mereka menganggapmu pengkhianat bangsa karena hubungan kita di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan martabatmu lebih jauh lagi, karena stigma itu. Aku satu-satunya yang punya kuasa untuk membungkam mulut mereka! Aku bisa membuktikan bahwa panti ini sah milikmu secara hukum dan moral. Aku bisa menunjukkan pada mereka bahwa hubungan kita bukan penghinaan bagi tanah ini!" balas Willem frustrasi.

Dyah tertawa, sebuah tawa kering yang lebih menyakitkan daripada tangisan.

​"Setiap detik kamu berdiri di sini, Willem, masyarakat yang lewat akan melihat seorang "Nyonya" sedang merayu tuannya." Dyah menunjuk ke arah jalanan di mana beberapa warga pribumi melintas sambil melempar tatapan curiga dan bisik-bisik sinis. "Mereka tidak melihat arsitek dan pengelola panti. Mereka melihat pengkhianat dan penjajahnya."

​Dyah menarik napas panjang dan mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.

"Kehadiranmu adalah kutukan bagiku. Dulu masyarakat menghormatiku sebagai putri bupati. Sekarang? Mereka memanggilku "perempuan Belanda" dengan nada jijik. Jika kamu benar-benar ingin melindungiku, maka berikan aku perlindungan yang paling berharga, yaitu ketidakhadiranmu."

"Dyah, kumohon ...."

"Pergi, Willem!" potong Dyah dengan nada yang mendadak datar dan hampa. "Jangan kembali lagi. Kamu bukan lagi pelarian yang kucintai. Kamu adalah wajah dari kekuasaan yang menghancurkan hidupku. Pergi sebelum aku memanggil warga untuk mengusir mobil mewahmu ini dari tanah kami."

​Dyah berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia berjalan menuju pintu bangunan tua itu dengan punggung yang tegak untuk menunjukkan bahwa meskipun dunia telah merampas segalanya darinya, ia tidak akan membiarkan pria ini merampas ketenangannya yang tersisa.

​Willem berdiri terpaku di depan pagar yang tertutup. Hujan mulai turun kembali, membasahi setelan linennya yang mahal dan mengubah warnanya menjadi abu-abu kusam. Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan rasa sesak yang tak tertahankan.

​Ia memang kembali ke Jawa. Namun, ia baru menyadari bahwa gerbang menuju hati Dyah jauh lebih kokoh dan lebih sulit ditembus daripada benteng pertahanan mana pun yang pernah ia pelajari di sekolah arsitektur.

​Kesempatan kedua yang ia impikan ternyata hanyalah awal dari sebuah peperangan panjang yang mungkin takkan pernah ia menangkan. Di kejauhan, gending gamelan dari sebuah pesta pernikahan entah di mana terdengar sayup-sayup, mengirimkan nada-nada minor yang seolah menertawakan kedatangannya yang terlambat sepuluh tahun.

​Willem masuk kembali ke dalam mobilnya dengan perasaan hancur.

"Jalan!" perintahnya pada supir.

​Saat mobil itu bergerak menjauh, dari balik jendela panti yang retak, Dyah berdiri dalam gelap dan membiarkan satu tetes air matanya jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia meremas kain kebayanya tepat di atas dada dan mencoba meredam denyut menyakitkan yang kembali bangkit setelah sekian lama ia anggap telah mati.

Dyah teringat bagaimana setelah malam di Stasiun Tawang itu, para tetangga berbisik di belakang punggungnya. "Lihat si ningrat itu, mau-mauan dijadikan boneka kulit putih lalu dibuang begitu saja." Stigma itu adalah penjara yang jauh lebih kejam daripada jeruji besi mana pun.

***

Dyah duduk di depan sebuah meja kayu kecil di ruang tengah panti asuhan hanya ada sebatang lilin yang menerangi kegelapan. Di hadapannya terdapat tumpukan terbuka buku kas panti asuhan yang menunjukkan angka-angka merah yang mengkhawatirkan.

​Persediaan beras hanya cukup untuk tiga hari ke depan. Obat untuk si kecil Amin yang terkena demam juga mulai habis. Namun, pikiran Dyah tidak sedang berada pada angka-angka itu.

​Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari tua di pojok ruangan. Dengan kunci yang ia kalungkan di leher, ia membuka laci yang paling bawah. Di sana, di bawah tumpukan kain batik lama terdapat sebuah kotak kayu kecil bermotif bunga melati.

​Dyah membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada tiket kereta api yang sudah menguning dan rapuh. Tiket Stasiun Tawang menuju Batavia sepuluh tahun yang lalu.

​Ia ingat malam itu. Hujan turun rintik-rintik, persis seperti sore tadi. Ia berdiri di peron dengan jantung yang berdebar dengan menggenggam bungkusan berisi pakaian dan sedikit uang simpanan. Ia telah meninggalkan segalanya, gelar Raden Ajeng, keluarganya, dan masa depannya hanya untuk pria yang berjanji akan membawanya menuju kebebasan.

Satu jam berlalu, dua jam berlalu. Kereta terakhir berangkat, meninggalkan kepul asap yang menyesakkan dada. Willem tidak pernah datang yang datang justru kakak angkatnya, Soerjo, bersama sepasukan penjaga kabupaten.

"Dia tidak datang, Dyah," ucap Soerjo dengan nada merendahkan yang teramat sangat. "Tuan Muda Van Deventer sudah berada di kabin kelas satu kapal menuju Rotterdam. Dia hanya menjadikanmu hiburan sementara sebelum kembali ke kehidupan mewahnya di Eropa."

​"Bohong!" teriak Dyah saat itu.

​"Ini buktinya." Soerjo melempar sebuah jam saku perak ke tanah.

Jam milik Willem yang selalu tersimpan di saku jasnya. "Dia meninggalkannya untuk membayar waktu yang kamu habiskan bersamanya. Dia bilang, dia punya masa depan yang terlalu cerah untuk dihabiskan dengan seorang gadis pribumi di kota pengap ini."

​Dyah terjatuh di atas semen dingin stasiun. Malam itu, dunianya musnah. Ia hanya tahu, pria yang ia percayai telah meninggalkannya tanpa kata pamit, membiarkannya menanggung malu sendirian di depan keluarganya.

Malam itu, Dyah tidak hanya kehilangan kekasihnya, ia kehilangan nyawanya sebagai seorang ningrat. Ia diseret pulang dalam kehinaan, dipukul, dan kemudian dibuang ke rumah terpencil ini agar tidak memalukan keluarga di mata para pejabat Belanda.

​"Kenapa kamu kembali, Willem?" bisik Dyah pada kegelapan. "Kenapa sekarang, saat aku sudah belajar untuk mati?"

​Tiba-tiba suara ketukan keras di pintu depan mengejutkannya. Dyah cepat-cepat menutup kotak itu dan menguncinya kembali. Ia merapikan kebayanya, memasang kembali topeng ketenangannya, dan berjalan menuju pintu.

​Di depan pintu, berdiri Adipati Soerjo. Kakaknya itu tampak pongah dengan setelan jas bergaya Eropa, namun sorot matanya tetaplah mata seorang tiran tradisional.

​"Ada apa, Mas?" tanya Dyah dingin. Ia tidak lagi memanggilnya dengan hormat yang seharusnya.

​Soerjo melangkah masuk tanpa ijin dan mengibaskan debu dari sepatunya ke lantai panti yang bersih.

"Aku mendengar kabar menarik dari pelabuhan hari ini. Seorang arsitek Belanda baru saja mendarat dan aku mendengar dia langsung menemuimu. Benar begitu, Dyah?"

​Dyah mengepalkan tangannya di balik kain kebaya. "Dia datang untuk urusan dinas. Pemerintah ingin menggusur tempat ini."

​Soerjo tertawa, suara yang membuat bulu kuduk Dyah berdiri.

"Jangan berbohong padaku! Aku tahu siapa pria itu. Dia hanya kaki tangan keluarga Van Deventer yang dulu hampir membuat kita semua malu dan sekarang dia kembali untuk mengambil apa yang tersisa?"

​"Dia tidak mengambil apa pun, Mas. Aku sudah mengusirnya."

​"Bagus." Soerjo mendekat dan wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Dyah. "Karena aku punya rencana yang lebih baik untuk tanah ini. Jika pemerintah menggusurnya, aku akan mendapatkan ganti rugi yang besar sebagai perwakilan keluarga Adiningrat. Jangan berani-berani kamu bekerja sama dengan Belanda itu untuk mempertahankan tempat sampah ini. Jika kamu melakukannya, aku sendiri yang akan memastikan anak-anak yatim ini tidur di jalanan sebelum buldoser datang."

Dyah menatap kakaknya dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Tempat ini adalah hidupku, Mas. Kamu sudah mengambil segalanya dariku sepuluh tahun lalu. Kamu tidak akan mengambil panti ini."

​Soerjo mencengkeram rahang Dyah dengan kasar. "Kamu hanyalah noda di kain putih keluarga kita. Jangan lupa itu! Jika bukan karena belas kasihanku, kamu sudah membusuk di jalanan sejak lama. Ingat posisimu."

​Setelah Soerjo pergi dengan suara deru mobil yang kasar, Dyah jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa terjepit di antara dua kekuatan besar, kakaknya yang serakah dan mantan kekasihnya yang membawa janji-janji palsu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 107

    Sore yang tenang di pertengahan tahun 1926 menyelimuti peron Stasiun Tawang. Langit Semarang memancarkan pendar oranye keemasan dab memantul anggun pada atap pelengkung besi stasiun yang megah. Aroma uap batu bara bercampur dengan angin pesisir yang bertiup lembut membawa ingatan pada peristiwa sepuluh tahun silam.​Di peron tiga, persis di sudut tiang besi bernomor empat tempat mereka pernah berdiri penuh ketakutan sepuluh tahun lalu, Dyah dan Willem kembali berdiri bersisian.​Dyah mengenakan kebaya katun bersahaja dengan selendang batik Parang Klitik yang melingkar anggun di bahunya. Di sampingnya, Willem berdiri tegap dalam balutan kemeja katun. Pria itu menatap lurus lintasan rel kereta api dan matanya biru kelabunya memancarkan kedamaian tiada tara yang tak lagi terusik oleh kecemasan.​Dari kejauhan terdengar deru mesin lokomotif kereta malam tujuan Batavia menggelegar parau, lalu disusul jeritan peluit uap yang nyaring.​​Garis-garis besi rel bergetar halus saat gerbong-gerb

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 106

    Pagi demi pagi berganti menjadi lembaran hari yang sarat gairah. Tanah rawa Kanal Timur yang dulunya sunyi dan bersimbah ketakutan sekarang bergetar oleh irama kehidupan baru. Dentang martil memukul paku, derak gergaji memotong kayu jati, serta riuh alunan tembang Jawa dari para wanita yang memasak di dapur umum membahana sepanjang pesisir Semarang.​Ratusan warga Kampung Melayu, kuli pelabuhan Tanjung Mas, pedagang Pasar Johar, hingga para perajin kayu dari Kota Lama datang bergantian setiap hari. Mereka bekerja tanpa pamrih dan menyumbangkan tenaga dan keahlian demi tegaknya sekolah dan panti asuhan baru.​Di atas susunan perancah kayu bambu yang tinggi, Willem berdiri mengawasi pemasangan rangka atap limasan. Dengan kemeja linen tergulung dan celana katun bersahaja, ia memegang waterpas dan siku besi, memandu para tukang kayu lokal.​"Geser balok nok itu dua senti ke utara, Kang Darmo!" seru Willem lantang dari atas perancah.Ia menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Kemiri

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 105

    Willem tersenyum lembut dan mengusap tepi peti kayu itu dengan penuh kehangatan. "Ini adalah sisa tabungan pribadiku, Dyah. Hasil dari pekerjaanku sebagai arsitek muda di Delft dan sisa honorarium bersih yang kukumpulkan sebelum aku melangkah ke tanah Jawa."​Nyai Rahayu membelalakkan matanya dan menahan napas seraya merapatkan kain stagennya. "Willem, uang simpanan sebesar ini dari Eropa? Untuk apa ditunjukkan kepada kami?"​Willem mengambil seluruh lembaran wesel bank dan pundi koin emas tersebut, lalu menyodorkan semuanya ke dalam pangkuan tangan Dyah dan Nyai Rahayu.​"Ini bukan lagi milikku pribadi," tutur Willem."Seluruh simpanan ini secara resmi kuserahkan untuk pembangunan panti asuhan baru dan operasional awal sekolah gratis bagi anak-anak rawa dan buruh Tanjung Mas."​Dyah terperanjat dan jemarinya bergetar hebat saat memegang lembaran wesel tersebut. "Willem! Tidak! Ini tabungan kerja kerasmu selama bertahun-tahun di Eropa. Ini jaminan masa depanmu sendiri!"​"Masa depa

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 104

    Hendrik menahan napas, sementara Dyah menatap Willem tanpa bersuara sedikit pun. Keheningan mendadak menyergap area meja kerja. Empat puluh ribu gulden adalah angka yang sangat fantastis, sebuah kekayaan yang sanggup membuat siapa pun hidup dalam kemewahan seumur hidup di Eropa.​Willem menatap berkas emas itu sejenak. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan keraguan atau keserakahan. Willem mendorong kembali lembaran perkamen dan pena emas tersebut ke arah notaris van der Wal.​"Saya menolak warisan itu, Tuan Notaris," tegas Willem.​Notaris van der Wal terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "T-Tapi Tuan van Deventer! Ini empat puluh ribu gulden. Uang ini sah dan porsi Anda yang tidak disita negara!"​"Uang itu tercemar oleh air mata dan darah rakyat!" pangkas Willem tajam, matanya menatap lurus sang Notaris. "Empat puluh ribu gulden itu lahir dari penindasan kuli pelabuhan, pemalsuan tanah rawa, dan kebohongan konsorsium. Saya tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uan

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 103

    Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak.​"Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.​Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi.​"Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.​Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.​Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 102

    ​Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.​Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"​Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur.​"Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat."​"Terima kasih, Hend

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 13

    Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.​Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 7

    Dyah membanting pintu gerbang itu dengan kekuatan yang tersisa dan meninggalkan Willem di jalan tanah yang berdebu. Bunyi dentuman besi tua itu seolah menjadi titik penegas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar samudera, melainkan gunjingan keji yang berakar di setiap sudut kampung. ​Di

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 6

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beber

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 5

    Willem merasakan jemarinya bergetar hebat saat memori itu berputar seperti piringan hitam yang rusak. Di dalam benaknya, ia kembali ke detik-detik paling menghancurkan di atas dek kapal SS Grotius yang perlahan menjauhi Pelabuhan Tanjung Mas malam itu. ​Suara peluit kapal yang melengking panjang t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status