LOGINWillem tersenyum lembut dan mengusap tepi peti kayu itu dengan penuh kehangatan. "Ini adalah sisa tabungan pribadiku, Dyah. Hasil dari pekerjaanku sebagai arsitek muda di Delft dan sisa honorarium bersih yang kukumpulkan sebelum aku melangkah ke tanah Jawa."Nyai Rahayu membelalakkan matanya dan menahan napas seraya merapatkan kain stagennya. "Willem, uang simpanan sebesar ini dari Eropa? Untuk apa ditunjukkan kepada kami?"Willem mengambil seluruh lembaran wesel bank dan pundi koin emas tersebut, lalu menyodorkan semuanya ke dalam pangkuan tangan Dyah dan Nyai Rahayu."Ini bukan lagi milikku pribadi," tutur Willem."Seluruh simpanan ini secara resmi kuserahkan untuk pembangunan panti asuhan baru dan operasional awal sekolah gratis bagi anak-anak rawa dan buruh Tanjung Mas."Dyah terperanjat dan jemarinya bergetar hebat saat memegang lembaran wesel tersebut. "Willem! Tidak! Ini tabungan kerja kerasmu selama bertahun-tahun di Eropa. Ini jaminan masa depanmu sendiri!""Masa depa
Hendrik menahan napas, sementara Dyah menatap Willem tanpa bersuara sedikit pun. Keheningan mendadak menyergap area meja kerja. Empat puluh ribu gulden adalah angka yang sangat fantastis, sebuah kekayaan yang sanggup membuat siapa pun hidup dalam kemewahan seumur hidup di Eropa.Willem menatap berkas emas itu sejenak. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan keraguan atau keserakahan. Willem mendorong kembali lembaran perkamen dan pena emas tersebut ke arah notaris van der Wal."Saya menolak warisan itu, Tuan Notaris," tegas Willem.Notaris van der Wal terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "T-Tapi Tuan van Deventer! Ini empat puluh ribu gulden. Uang ini sah dan porsi Anda yang tidak disita negara!""Uang itu tercemar oleh air mata dan darah rakyat!" pangkas Willem tajam, matanya menatap lurus sang Notaris. "Empat puluh ribu gulden itu lahir dari penindasan kuli pelabuhan, pemalsuan tanah rawa, dan kebohongan konsorsium. Saya tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uan
Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak."Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi."Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema
Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur."Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat.""Terima kasih, Hend
"Tuan van der Deventer, Nona Dyah," ujar Panitera utama seraya menyodorkan naskah putusan akhir untuk ditandatangani. "Dengan penancapan patok tembaga ini, seluruh hak hukum dan perlindungan militer secara mutlak berada di bawah nama Nona Dyah Ayuwangi Adiningrat."Dyah mengambil pena bulu ayam dan menggoreskan tanda tangannya dengan jemari gemetar namun di atas naskah tersebut. Willem membubuhkan tanda tangannya di samping Dyah sebagai saksi ahli arsitektur dan pendamping hukum."Selesai sudah, Dyah," bisik Willem menatap ukiran nama Dyah yang bertengger di lembaran hukum tertinggi Batavia. Dyah mendongak dan membalas tatapan Willem yang memancarkan kedamaian."Bukan cuma padam, Willem, tapi tanah ini telah kembali pada pemilik aslinya."Pak Sum dan Kang Darmo bersorak memeluk juru ukur, sementara Hendrik tak henti-hentinya menekan tombol tustel mengabadikan momen bersejarah penancapan patok tembaga tersebut. ***Keesokan paginya, derap puluhan langkah kaki yang ragu merayap
Suara benturan batu pertama itu bergema mantap dan disambut tepuk tangan dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.Dyah berdiri di samping Willem dan menyatukan jemarinya dengan jemari pria Eropa itu di atas batu fondasi pertama. Pendar sinar matahari sore memantul emas di paras mereka berdua."Willem," bisik Dyah lembut.Dyah menatap Willem di sampingnya. "Terima kasih telah bertahan dan berdiri bersamaku."Willem mengusap punggung tangan Dyah dengan lembut. "Aku tidak pernah meragukan tanah ini, Dyah dan aku tidak pernah meragukanmu."Suara derap langkah kuda dan roda dokar dinas yang berat mendadak memecah keheningan sore di perbatasan rawa. Dua juru ukur tanah bertopi baja bersama panitera utama Mahkamah Agung Hooge Raad Batavia melangkah turun dengan seragam dinas berselempang emas. Di tangan panitera tua itu, tergenggam map tebal berisikan lembaran perkamen resmi berkop segel lilin merah kerajaan Belanda.Pak Sum, Kang Darmo, dan puluhan kuli pelabuhan yan
Willem merasakan jemarinya bergetar hebat saat memori itu berputar seperti piringan hitam yang rusak. Di dalam benaknya, ia kembali ke detik-detik paling menghancurkan di atas dek kapal SS Grotius yang perlahan menjauhi Pelabuhan Tanjung Mas malam itu. Suara peluit kapal yang melengking panjang t
Setiap gerakan Willem membangkitkan memori yang menyakitkan bagi Dyah. Ia teringat bagaimana mereka dulu sering berdiskusi tentang impian Willem membangun jembatan-jembatan megah yang menghubungkan desa-desa terpencil di Jawa agar rakyat bisa berdagang dengan mudah. Impian yang dulu terdengar beg
Udara di dalam Hotel du Pavillon terasa kaku dan berbau lilin lebah yang digosokkan ke furnitur jati. Bagi Willem, kemewahan ini terasa mencekik. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lampu-lampu minyak yang mulai menyala di sepanjang jalan Bodjong. Di tangannya, sebuah gelas berisi jenever
"Mereka menganggapmu pengkhianat bangsa karena hubungan kita di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan martabatmu lebih jauh lagi, karena stigma itu. Aku satu-satunya yang punya kuasa untuk membungkam mulut mereka! Aku bisa membuktikan bahwa panti ini sah milikmu secara hukum dan







