Mag-log inKalimat itu membuat Kakek Wicaksono yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya kembali bertemu. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, tidak ada amarah yang meledak di antara mereka. Hanya ada dua pria tua yang sama-sama membawa luka dari masa lalu. "Aku tahu kau akan mengatakan itu," jawab Kakek Wicaksono pelan. Kakek Suryani menghela napas berat. Tangannya masih menggenggam tongkat dengan erat. "Tapi aku juga tahu, selama ini kau membenciku karena kau berpikir aku adalah penyebab kematian Laras. Aku mengatakan sejujurnya, aku tidak pernah membunuh Laras." Kakek Wicaksono terdiam. "Bagaimana aku tidak membencimu?" balasnya lirih. "Putriku meninggal setelah hubungan kalian hancur. Reno juga meninggal. Semua orang mengatakan bahwa keluarga Suryani adalah penyebab penderitaan Laras dan saat Laras izin untuk mengatakan bahwa Bagas adalah putra Reno, ia malah kecelakaan dan meninggal." Kakek Suryani menutup matanya sejenak. Ia kembali membuka
Bagas terdiam mendengar perkataan Baskara. Tatapan pria itu berubah sedikit tajam, seolah ia sudah menduga bahwa keluarga Suryani tidak akan langsung percaya kepadanya. "Aku datang bukan untuk mengambil apa yang menjadi milik keluarga Suryani," jawab Bagas tenang. Baskara menyipitkan matanya. "Lalu untuk apa?bukankah sudah jelas kau pasti kesini hanya untuk meminta bagianmu dari keluarga Suryani?" Bagas terdiam sejenak, ia tersenyum miring dan segera mendudukkan dirinya di sofa. Tatapannya masih tajam. "Aku baru tahu Baskara Suryani memang begitu pintar? Karena kau sudah bertanya aku akan mengatakan sejujurnya." Bagas mengambil satu dokumen dari tasnya, ia melempar ke arah meja. Baskara buru buru mengambilnya dan membaca semua huruf huruf yang tergores di kertas putih itu. Matanya terbelalak saat ia menatap satu angka. " Lima puluh persen saham?" Baskara segera menyodorkan kertas itu kepada Kakek Suryani. Membaca itu kakek Suryani benar benar kesal, ia kembali mengetuk n
Wulan menatap layar tablet itu lebih lama. Semakin ia membaca setiap kalimat yang tertulis dalam laporan tersebut, semakin pikirannya terasa kacau. Nama Reno Suryani, Laras Wicaksono, dan Bagas Wicaksono seakan kembali membuka luka lama yang selama ini berusaha ditutup oleh keluarga mereka. Ia tahu bahwa Reno dan Laras memang pernah tinggal serumah, tetapi ia tidak menyangka Laras sedang hamil anak dari Reno. "Ini..." Wulan mengangkat wajahnya menatap Jonathan. "Apakah laporan DNA ini benar-benar asli?" Jonathan mengangguk pelan. "Kami sudah memeriksanya, Nyonya Wulan. Laporan ini berasal dari laboratorium yang cukup terpercaya. Namun, kami masih belum bisa memastikan bagaimana sampel itu bisa diuji dan apakah ada kemungkinan manipulasi." Baskara mengambil nafas panjang. Tatapannya berubah tajam. "Bagas melakukan ini bukan tanpa alasan," ucap Baskara dingin. "Dia sengaja membuka masa lalu paman Reno di depan publik. Dia ingin menghancurkan nama keluarga Suryani, agar semua or
"Ini..." gumamnya pelan. Di dalam dokumen itu bukan hanya berisi informasi mengenai bisnis Suryani Group, tetapi juga catatan lama tentang keluarga Suryani. Konflik internal, hubungan darah, hingga sebuah kejadian bertahun-tahun lalu yang sengaja dikubur agar tidak diketahui siapa pun. Pria itu memperhatikan perubahan wajah Bagas dengan senyum tipis. "Kamu paham kan?" Bagas mengangkat Kepalanya. Badannya kembali bergetar, ia tidak menyangka rahasia masa lalu selama bertahun tahun ditutupi kembali muncul. "Tuan, apa ini tidak begitu berlebihan?" "Menurutmu, apakah aku akan memberimu sesuatu yang tidak bisa digunakan?" jawab pria itu dingin. Bagas kembali melihat dokumen tersebut. Tangannya mengepal perlahan. Selama ini ia mencoba menyerang perusahaan Suryani Group dari luar. Menyebarkan berita buruk, mengguncang kepercayaan investor, dan menciptakan tekanan dari publik. Namun, semua itu tidak cukup. Suryani Group bukan hanya sebuah perusahaan. Mereka memiliki nama besa
Di layar laptop tersebut terpampang sebuah artikel berita dengan judul yang membuat suasana ruangan seketika berubah. "Suryani Group Diduga Melakukan Manipulasi Data Dalam Proyek AI Terbaru." Mata Zevran membelalak membaca berita tersebut. Senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan menghilang. "Apa ini?Semua ini penuh omong kosong," gumamnya pelan. Baskara tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada layar. Ia membaca setiap kalimat dalam artikel itu dengan wajah serius. Berita tersebut menyebutkan bahwa keberhasilan proyek AI yang baru saja diluncurkan diduga bukan hasil kerja keras perusahaan, melainkan karena adanya manipulasi laporan dan kerja sama ilegal dengan pihak tertentu. Pandangan Baskara terbelalak saat membaca paragraf paling bawah, berita itu menekankan bahwa proyek AI Suryani juga mengambil data diri pengguna untuk dilakukan kegiatan ilegal. Tidak hanya itu, beberapa dokumen palsu juga tersebar di berbagai media sosial, seolah membuktikan bahwa Su
Wulan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Wulan. Tatapannya beralih pada dokumen yang masih terbuka di atas meja. Ada beberapa bagian yang bahkan sampai sekarang masih membuatnya merasa ada yang disembunyikan oleh keluarga Wicaksono. "Mungkin," jawab Wulan, pelan. "Saya merasa bahwa ada seseorang yang membantu keluarga Wicaksono bangkit dan orang itu pasti bukan orang sembarangan." Wulan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya masih menatap lembaran dokumen di tangannya. "Karena tidak mungkin seseorang yang kehilangan segalanya bisa kembali menjadi keluarga besar hanya dalam beberapa tahun," ucapnya. Jonathan mengangguk. "Saya setuju Nyonya. Bahkan setelah kematian istri Bagas Wicaksono, perusahaan mereka hampir bangkrut. Banyak aset yang dijual, bahkan rumah lama mereka hampir disita karena hutang." "Namun beberapa tahun kemudian mereka kembali menjadi salah satu keluarga terkaya?" tanya Wulan memastikan. "Ya." Jonathan membuka dokumen lain. "Dan yang menarik adalah peru
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah. Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan
Wulan menatap ke sekeliling mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami, terlihat suasana kamar yang bernuansa putih dengan berbagai foto yang tampak familiar bagi Wulan Suryani. Hingga terdengar suara pintu kamar yang terbuka yang membuatnya sontak menoleh."Siapa itu?" ujarnya pelan ia masih bel
“Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.Namun, meskipun kesadaran Wulan nyar







