Share

Bab 4 Rencana

Author: Namorae
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-10 14:21:43

Raka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu.

"Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya.

Raka masih diam, seolah ia masih enggan memberitahu bahwa fasilitas dari orang tuanya sedang ditarik. Raka masih ragu jika harus memberitahu sebenarnya kepada Reina, bukan dia tidak percaya tetapi ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang yang ia suka.

"Ga ada apa-apa Rei.” Raka menggaruk kepala yang tidak gatal. “Oh ya, maaf karena tadi belum sempat memberimu cincin ini," ujar Raka sambil merogoh kantongnya untuk mengambil cincin.

Setelah kotak cincin berwarna merah itu telah terambil dari saku celana. Raka segera bersimpuh di hadapan Reina. Memberikan satu cincin berlian yang cukup menawan membuat mata Reina kegirangan.

"Reina, maukah kamu jadi kekasihku?" ujarnya sambil menyodorkan cincin itu.

Reina menatap cincin itu sejenak, hatinya bergejolak. Gadis itu menghayalkan betapa menyenangkan jika sampai bisa masuk dan menerima semua fasilitas dari keluarga Suryani. Salah satu orang terkemuka di kotanya. Reina tidak akan memusingkan kekurangan uang. Terlebih Raka sudah mengejarnya begitu lama dan menjanjikan saham perusahaan, ah, betapa dia akan hidup enak penuh barang-barang mewah. Begitulah yang dipikirkan Reina. Reina semakin dimabuk khayalan semu. Gadis itu benar-benar bersiap akan semakin memanfaatkan Raka untuk tampil glamor, mendapatkan status, dan di balik semua itu yang terpenting bisa membantu keluarga naik status dan bisa menguasai sebagian Suryani Group.

Kerumunan murid yang menonton pernyataan cinta itu membuat Reina merasa terdesak. Seolah semua mata menatap menunggu jawaban yang terlontar dari mulutnya. Dengan napas tertahan, ia akhirnya mengangkat tangan, menerima cincin itu dan berkata dengan suara lembut ditambah sebuah senyum palsu yang tidak lupa terukir di wajah untuk memikat Raka lebih dalam kepada pesonanya. "Aku mau, Raka. Aku mau menjadi kekasihmu."

Bibir Raka terangkat melengkungkan senyum, ia senang pernyataan cintanya diterima dan merasa bahwa Reina memang mencintainya tidak seperti yang dikatakan oleh sang ibu. ‘Kau tahu, Mama, apa yang kau khawatirkan tidak terjadi. Reina gadis baik hati, aku tidak salah mencintainya.’ Raka membatin penuh percaya diri. Ia memegang tangan Reina, lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Reina. Aku janji akan selalu menjagamu.” Kalimat penuh ketulusan seorang pemuda yang dimabuk kepayang.

Dalam pelukan Raka ketika tidak ada satu orang pun yang dapat melihat perangai wajahnya. Reina memutar bola mata, berharap sandiwara roman picisan akan segera berakhir digantikan barang-barang mewah dan banyak uang yang seperti selama ini Raka berikan padanya tanpa diminta. Senyum yang terukir bukan karena bahagia saling jatuh cinta. Melainkan sebuah senyum kemenangan bahwa Raka sekarang sudah ada di dalam genggamannya. Melalui Raka, Reina bersiap untuk mulai memasuki Suryani group, perusahaan terbaik di kota Bulan.

"Raka," panggil Reina.

Raka segera melepas pelukan dari Reina, lalu menatap kekasih barunya itu. Reina yang sudah tidak sabar akan menerima saham Suryani group buru-buru menarik tangan Raka meninggalkan kerumunan, sorak sorai dan suara teriakan kegirangan atas pernyataan cinta Raka untuk Reina. Reina tidak peduli akan omong kosong itu, sesampainya di tempat yang cukup sepi Reina kembali mengulas senyum menyembunyikan niat terselubung.

Bak gadis malu-malu Reina bertanya dengan lirih, "Raka, kamu inget, kan kalau aku menerimamu jadi pacarku. Kau berjanji memberikan beberapa saham dari Suryani group kan?"

Wajah Raka mendadak pias ditanya hal itu, bingung karena sekarang ini sedang tidak mempunyai apapun bahkan uang jajan pun hanya tersisa 100 ribu. Raka diam sejenak, tapi ia yakin dengan Reina gadis baik itu pasti akan menerimanya walau ia tidak punya uang atau pun fasilitas dari keluarga Suryani.

"Sayang, kenapa kamu diam saja?" tanya Reina mendesak sambil menggoyang goyangkan tangan Raka.

Raka segera tersadar lalu menatap ke arah Reina menampilkan senyum. "Maafkan aku sayang, saat ini aku tidak bisa memberikanmu saham."

Wajah Reina menegang, tetapi gadis itu segera menguasai diri. Walaupun dalam hati ada sedikit kekecewaan yang mulai meresap. Gadis itu memaksakan diri untuk tetap tersenyum.

"Tidak apa-apa, Raka," jawab Reina masih menyembunyikan rasa kesal karena Raka belum menepati janji memberikan saham. "Aku tahu kamu sangat mencintaiku dan akan memberikan saham itu di kemudian hari. Kau tahu, kan, aku sayang padamu, tetapi hidupku akan kesulitan jika masuk ke keluargamu tanpa persiapan. Saham itu demi harga diri dan masa depan kita.” Panjang lebar Reina berucap omong kosong.

Raka bodoh yang tidak tahu apa-apa kegirangan hanya menangkap kalimat jika Reina sayang padanya. Raka akan berkata jujur tentang perlakuan orang tuanya yang mengambil semua fasilitas. Pemuda itu berpikir Reina masih akan berada di sisinya meski tanpa uang dan fasilitas Suryani karena Reina gadis baik hati, tulus, dan polos. Namun, untuk sementara Raka terpaksa bungkam, belum ingin jujur, tidak ingin masa-masa awal bahagia karena cintanya diterima menjadi terganggu.

"Aku juga sayang kamu, Rei. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, aku janji."

Namun, di dalam pikirannya, Reina mulai merencanakan langkah berikutnya. ‘Yah, tidak harus sekarang, mungkin nanti. Aku akan menemui cara lain untuk menguasai Suryani Group,' pikirnya, menyembunyikan semua keraguan yang mulai muncul di hatinya.

‘Kenapa mama berpikir gadis cantik dan sebaik Reina jahat?’ Raka merasa bahwa mamanya mungkin hanya mau mengaturnya saja dan menghalang halangi ia dengan Reina.

...........

Di tempat yang berbeda. Wulan sudah berada di depan sebuah gedung perusahan terbesar di kota Bulan, ia segera masuk ke dalam sana. Baskara suaminya sudah duluan pamit untuk pergi keluar negeri mengurusi perusahaan mereka di sana. Pikiran Wulan mulai berputar tentang kejadian di kehidupan sebelumnya di mana Zevran—putra sulungnya tidak kalah membuat pusing. Anak lelaki tertua mengatur perusahaan dengan tidak benar bahkan membiarkan keluarga kekasihnya untuk ikut campur urusan perusahaan yang menyebabkan para investor mundur.

"Aku harus pantau bagaimana Zevran mengurus perusahaan ini," gumamnya sambil melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan.

Benar saja sesampainya di sana ia bahkan sudah tidak kenal staf-staf yang bekerja. Wulan berjalan menuju ke arah lantai atas menuju ke ruangan dimana Zevran berada, tetapi saat Wulan mau melangkah menaiki tangga tiba-tiba seorang wanita seumurannya dengan perhiasan yang menghiasi tubuhnya menabraknya, membuat tas berwarna merah muda yang dipegang terjatuh dan mengenai kaki Wulan. Wulan segera mengambilnya dan memberikan kepada wanita itu.

"Ini tasnya bu," ujar Wulan sambil menyodorkan tas itu.

Wanita itu bukannya menerima tas yang sudah diambil oleh Wulan, malah menghempas tas itu hingga kembali terjatuh.

"Dasar sialan! Kenapa kau berjalan tidak lihat lihat!" teriak wanita itu tidak terima.

Wulan hanya menatap wanita itu dengan datar, ia terus menelisik wajah dari wanita tua yang tampak familiar baginya. Mata Wulan melebar, akhirnya sadar kalau itu adalah wanita yang terus memaksa Zevran mengambil uang perusahaan yang mengakibatkan Suryani group bangkrut dan diambil alih oleh keluarga Reina.

"Sari? Bukankah dia ibu dari Sarah kekasih Zevran," batinnya.

Wanita yang dikenal dengan nama Sari masih menatap tajam ke arah Wulan, seolah ia jijik dengan tampilan Wulan yang sangat sederhana. "Kau pasti orang miskin yang mau bekerja di sini!" ujarnya sambil mendorong bahu Wulan. "Aku tidak sudi menerima pekerja sepertimu!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 203 Apa yang terjadi dengan kakakmu!

    Wulan yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskan nafas lega. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar kabar tersebut. "Syukurlah..." gumamnya pelan. Melati juga langsung menutup mulutnya, menahan tangis lega yang hampir keluar. Sejak melihat Zevran jatuh dalam pelukan Nerlina, pikirannya terus dipenuhi rasa takut kehilangan kakaknya. "Dok, apakah kami bisa melihatnya?" tanya Wulan cepat. Dokter mengangguk. "Bisa, tapi hanya beberapa orang. Kondisinya masih lemah, jadi jangan terlalu lama berbicara dengannya. Tuan Zevran masih perlu beristirahat." Wulan segera mengangguk. "Terima kasih, Dok." Setelah dokter pergi, Nerlina masih berdiri diam. Wajahnya terlihat ragu untuk masuk. Wulan yang menyadari itu segera mendekat. "Kamu juga ikut masuk." Nerlina langsung menatap Wulan. "Tapi, Tante..." "Zevran terluka karena dia ingin melindungimu. Aku yakin orang pertama yang ingin dia lihat saat sadar adalah kamu." Ucapan Wulan membuat Nerlina terdiam. Perlahan ia meng

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 202 Penusukan

    Melati menatap tangan Sarah yang mengepal di hadapannya. Ada kemarahan yang begitu besar dalam tatapan wanita itu, seolah semua rasa sakit yang ia simpan selama ini telah berubah menjadi kebencian. "Jadi... sejak awal kau hanya menggunakan aku untuk memancing kak Zevran?" tanya Melati pelan. Namun, belum sempat Sarha menjawab dari arah belakang terdengar suara tendangan yang membuat pintu pabrik kosong itu terbuka lebar. Beberapa penjaga segera masuk ke dalam. Sarah yang merasa rencananya akan gagal segera menangkap Melati dan menaruh pisau itu tepat di depan leher Melati. "Diam disana kalian! Atau kalian akan melihat mayat gadis ini" teriaknya, yang membuat beberapa penjaga mulai terdiam. Wulan melangkah masuk ke dalam, kacamata hitam menghiasi wajahnya. Jas hitam yang ia kenakan bagian belakangnya terbang yang membuat orang yang melihat merasakan ketakutan dengan sikap wanita paruh baya itu. "Sarah, kau belum kapok juga ya?" suara dingin Wulan memekik telinga Sarah yang me

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 201 Penculikan

    Haruna yang semula berniat menghadapi mereka langsung tidak menyangka serangan itu datang begitu cepat. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Rasa sakit menjalar di bagian perutnya, membuat napasnya tercekat. "Haruna!" teriak Melati panik. Gadis itu segera berlari menghampiri sahabatnya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat tiga pria tersebut berjalan mendekat. Tatapan mereka membuat Melati tanpa sadar mundur beberapa langkah. Salah satu pria bertubuh besar itu tertawa kecil melihat Haruna yang berusaha bangkit. "Siapa yang harus kita bawa? Ada dua gadis disini?" tanya, seseorang. "Bawa saja dua duanya, lagi pula jika yang dipilih hanya satu yang satu bis kita jual," ujar seorang pria yang berbadan paling besar. Saat Haruna ingin berdiri dari belakang seorang pria memukulnya yang membuat dirinya kehilangan kesadaran. Bahkan Melati yang melihat itu menatap ketakutan. ... Melati dan Haruna akhirnya membuka matanya, neraka menatap gedung kosong yang tampa

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 200 Jangan pergi

    Sejak mendengarkan penjelasan ibunya dan bapak supir, Melati terus mengamati sahabatnya itu lebih saksama. Ia mencoba mencari jawaban tentang yang dikatakan ibunya dan bapak supir. Melati menghela napas pelan sambil menatap Haruna yang sedang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat seperti biasa, tersenyum dan berbicara dengannya seolah tidak ada yang berbeda. Namun, sekarang Melati mulai menyadari beberapa hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Haruna lebih sering membicarakan masalahnya dibanding menanyakan keadaan dirinya. Setiap kali Melati menceritakan sesuatu, Haruna hanya mendengarkan sebentar sebelum kembali mengarahkan pembicaraan kepada masalah keluarganya. "Melati, apa kita bisa lihat taman," ujar Haruna menunjuk ke arah jendela dimana hamparan taman bunga keluarga Suryani berada. Melihat itu Melati hanya mengangguk, ia segera keluar lebih dulu dan segera disusul oleh sahabatnya itu. Namun, baru saja turun dari tangga. Terdengar suara sang ibu. "Melati, mama in

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 199 Desakan

    Bel pulang akhirnya berdering. Melati segera memasukkan barang barangnya ke dalam tasnya. Setelah selesai, ia segera bangkit dan melangkah menuju di mana Haruna berada. "Runa, ayo kita pulang," ajaknya. Namun, bukannya menjawab gadis itu malah tetap fokus menatap layar ponselnya. Melati menepuk bahu sahabatnya itu yang membuat Haruna sontak terkejut dan segera menatapnya. "Ah, ada apa Melati?" tanyanya, mencoba tersenyum walau dipaksakan. Melati hanya mengangguk, "Ayo kita pulang," ulangnya. Haruna terdiam sejenak, ia menatap ke arah ponselnya sebelum kembali menatap ke arah Melati. "Kamu duluan aja, aku masih perlu ke perpustakaan," jelasnya. Melati yang mendengar itu hanya mengangguk, ia tidak merasa curiga dengan sikap sahabatnya itu. Walau entah kenapa semenjak perkataan ibunya, ia merasa bahwa dirinya memang sedang dimanfaatkan oleh Haruna. Tetapi ia masih mencoba menepis akan hal itu. Setelah melihat kepergian Melati, Haruna segera menarik tasnya dan buru buru ke

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 198 Janggal

    Setelah berkendara beberapa menit. Sampailah mereka di depan gerbang SMA terbaik di kota Bulan. Haruna menoleh ke arah Melati, ini adalah hari pertama mereka kembali ke sekolah setelah beberapa hari melakukan pertukaran pelajaran. "Melati, aku turun dulu ya. Kamu tunggu beberapa menit sebelum turun, biar orang orang pergi dulu," ujarnya. Melati yang mendengar itu tidak merasa curiga ia hanya mengangguk dan membiarkan Haruna turun terlebih dahulu, setelah Haruna suda tidak kelihatan lagi. Melati segera turun dan menyusul Haruna. Hingga sampailah, mereka di ruang kelas. Beberapa murid yang sudah datang segera menatap ke arah tas yang tengah dipakai Haruna. "Tas mu Itu mahal sekali, kamu beli dimana?" tanya, salah satu murid disana. Haruna yang ditanya segera menoleh, ia tersenyum lebar saat mendengar tas yang baru saja di berikan oleh Melati di lihat oleh teman temanya. "Ini baru dibeliin mama ku di luar negeri," ujarnya. Melati hanya mengamati itu, ia tidak berniat berkomen

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 7 Permintaan maaf

    Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 6 Mama atau Sarah

    Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 3 Raka Suryani

    Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah. Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 5 Zevran Suryani

    Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status