MasukRaka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu.
"Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya. Raka masih diam, seolah ia masih enggan memberitahu bahwa fasilitas dari orang tuanya sedang ditarik. Raka masih ragu jika harus memberitahu sebenarnya kepada Reina, bukan dia tidak percaya tetapi ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang yang ia suka. "Ga ada apa-apa Rei.” Raka menggaruk kepala yang tidak gatal. “Oh ya, maaf karena tadi belum sempat memberimu cincin ini," ujar Raka sambil merogoh kantongnya untuk mengambil cincin. Setelah kotak cincin berwarna merah itu telah terambil dari saku celana. Raka segera bersimpuh di hadapan Reina. Memberikan satu cincin berlian yang cukup menawan membuat mata Reina kegirangan. "Reina, maukah kamu jadi kekasihku?" ujarnya sambil menyodorkan cincin itu. Reina menatap cincin itu sejenak, hatinya bergejolak. Gadis itu menghayalkan betapa menyenangkan jika sampai bisa masuk dan menerima semua fasilitas dari keluarga Suryani. Salah satu orang terkemuka di kotanya. Reina tidak akan memusingkan kekurangan uang. Terlebih Raka sudah mengejarnya begitu lama dan menjanjikan saham perusahaan, ah, betapa dia akan hidup enak penuh barang-barang mewah. Begitulah yang dipikirkan Reina. Reina semakin dimabuk khayalan semu. Gadis itu benar-benar bersiap akan semakin memanfaatkan Raka untuk tampil glamor, mendapatkan status, dan di balik semua itu yang terpenting bisa membantu keluarga naik status dan bisa menguasai sebagian Suryani Group. Kerumunan murid yang menonton pernyataan cinta itu membuat Reina merasa terdesak. Seolah semua mata menatap menunggu jawaban yang terlontar dari mulutnya. Dengan napas tertahan, ia akhirnya mengangkat tangan, menerima cincin itu dan berkata dengan suara lembut ditambah sebuah senyum palsu yang tidak lupa terukir di wajah untuk memikat Raka lebih dalam kepada pesonanya. "Aku mau, Raka. Aku mau menjadi kekasihmu." Bibir Raka terangkat melengkungkan senyum, ia senang pernyataan cintanya diterima dan merasa bahwa Reina memang mencintainya tidak seperti yang dikatakan oleh sang ibu. ‘Kau tahu, Mama, apa yang kau khawatirkan tidak terjadi. Reina gadis baik hati, aku tidak salah mencintainya.’ Raka membatin penuh percaya diri. Ia memegang tangan Reina, lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Reina. Aku janji akan selalu menjagamu.” Kalimat penuh ketulusan seorang pemuda yang dimabuk kepayang. Dalam pelukan Raka ketika tidak ada satu orang pun yang dapat melihat perangai wajahnya. Reina memutar bola mata, berharap sandiwara roman picisan akan segera berakhir digantikan barang-barang mewah dan banyak uang yang seperti selama ini Raka berikan padanya tanpa diminta. Senyum yang terukir bukan karena bahagia saling jatuh cinta. Melainkan sebuah senyum kemenangan bahwa Raka sekarang sudah ada di dalam genggamannya. Melalui Raka, Reina bersiap untuk mulai memasuki Suryani group, perusahaan terbaik di kota Bulan. "Raka," panggil Reina. Raka segera melepas pelukan dari Reina, lalu menatap kekasih barunya itu. Reina yang sudah tidak sabar akan menerima saham Suryani group buru-buru menarik tangan Raka meninggalkan kerumunan, sorak sorai dan suara teriakan kegirangan atas pernyataan cinta Raka untuk Reina. Reina tidak peduli akan omong kosong itu, sesampainya di tempat yang cukup sepi Reina kembali mengulas senyum menyembunyikan niat terselubung. Bak gadis malu-malu Reina bertanya dengan lirih, "Raka, kamu inget, kan kalau aku menerimamu jadi pacarku. Kau berjanji memberikan beberapa saham dari Suryani group kan?" Wajah Raka mendadak pias ditanya hal itu, bingung karena sekarang ini sedang tidak mempunyai apapun bahkan uang jajan pun hanya tersisa 100 ribu. Raka diam sejenak, tapi ia yakin dengan Reina gadis baik itu pasti akan menerimanya walau ia tidak punya uang atau pun fasilitas dari keluarga Suryani. "Sayang, kenapa kamu diam saja?" tanya Reina mendesak sambil menggoyang goyangkan tangan Raka. Raka segera tersadar lalu menatap ke arah Reina menampilkan senyum. "Maafkan aku sayang, saat ini aku tidak bisa memberikanmu saham." Wajah Reina menegang, tetapi gadis itu segera menguasai diri. Walaupun dalam hati ada sedikit kekecewaan yang mulai meresap. Gadis itu memaksakan diri untuk tetap tersenyum. "Tidak apa-apa, Raka," jawab Reina masih menyembunyikan rasa kesal karena Raka belum menepati janji memberikan saham. "Aku tahu kamu sangat mencintaiku dan akan memberikan saham itu di kemudian hari. Kau tahu, kan, aku sayang padamu, tetapi hidupku akan kesulitan jika masuk ke keluargamu tanpa persiapan. Saham itu demi harga diri dan masa depan kita.” Panjang lebar Reina berucap omong kosong. Raka bodoh yang tidak tahu apa-apa kegirangan hanya menangkap kalimat jika Reina sayang padanya. Raka akan berkata jujur tentang perlakuan orang tuanya yang mengambil semua fasilitas. Pemuda itu berpikir Reina masih akan berada di sisinya meski tanpa uang dan fasilitas Suryani karena Reina gadis baik hati, tulus, dan polos. Namun, untuk sementara Raka terpaksa bungkam, belum ingin jujur, tidak ingin masa-masa awal bahagia karena cintanya diterima menjadi terganggu. "Aku juga sayang kamu, Rei. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, aku janji." Namun, di dalam pikirannya, Reina mulai merencanakan langkah berikutnya. ‘Yah, tidak harus sekarang, mungkin nanti. Aku akan menemui cara lain untuk menguasai Suryani Group,' pikirnya, menyembunyikan semua keraguan yang mulai muncul di hatinya. ‘Kenapa mama berpikir gadis cantik dan sebaik Reina jahat?’ Raka merasa bahwa mamanya mungkin hanya mau mengaturnya saja dan menghalang halangi ia dengan Reina. ........... Di tempat yang berbeda. Wulan sudah berada di depan sebuah gedung perusahan terbesar di kota Bulan, ia segera masuk ke dalam sana. Baskara suaminya sudah duluan pamit untuk pergi keluar negeri mengurusi perusahaan mereka di sana. Pikiran Wulan mulai berputar tentang kejadian di kehidupan sebelumnya di mana Zevran—putra sulungnya tidak kalah membuat pusing. Anak lelaki tertua mengatur perusahaan dengan tidak benar bahkan membiarkan keluarga kekasihnya untuk ikut campur urusan perusahaan yang menyebabkan para investor mundur. "Aku harus pantau bagaimana Zevran mengurus perusahaan ini," gumamnya sambil melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. Benar saja sesampainya di sana ia bahkan sudah tidak kenal staf-staf yang bekerja. Wulan berjalan menuju ke arah lantai atas menuju ke ruangan dimana Zevran berada, tetapi saat Wulan mau melangkah menaiki tangga tiba-tiba seorang wanita seumurannya dengan perhiasan yang menghiasi tubuhnya menabraknya, membuat tas berwarna merah muda yang dipegang terjatuh dan mengenai kaki Wulan. Wulan segera mengambilnya dan memberikan kepada wanita itu. "Ini tasnya bu," ujar Wulan sambil menyodorkan tas itu. Wanita itu bukannya menerima tas yang sudah diambil oleh Wulan, malah menghempas tas itu hingga kembali terjatuh. "Dasar sialan! Kenapa kau berjalan tidak lihat lihat!" teriak wanita itu tidak terima. Wulan hanya menatap wanita itu dengan datar, ia terus menelisik wajah dari wanita tua yang tampak familiar baginya. Mata Wulan melebar, akhirnya sadar kalau itu adalah wanita yang terus memaksa Zevran mengambil uang perusahaan yang mengakibatkan Suryani group bangkrut dan diambil alih oleh keluarga Reina. "Sari? Bukankah dia ibu dari Sarah kekasih Zevran," batinnya. Wanita yang dikenal dengan nama Sari masih menatap tajam ke arah Wulan, seolah ia jijik dengan tampilan Wulan yang sangat sederhana. "Kau pasti orang miskin yang mau bekerja di sini!" ujarnya sambil mendorong bahu Wulan. "Aku tidak sudi menerima pekerja sepertimu!”Beberapa bulan setelah persidangan Gunawan berakhir, Wulan akhirnya mengerti satu hal. Kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang, kebahagiaan hanya berupa duduk di atas rumput bersama keluarganya, mendengar tawa anak-anaknya, dan melihat Baskara yang kini selalu berada di sisinya. "Ma, dimana sih sandwich tadi?" tanya Raka. Wulan mendengus, ia segera mengeluarkan satu kantong plastik yang berisi banyak sekali cemilan. "Ini, jangan dihabisi kasih juga yang lain," ujarnya. Raka hanya mengangguk, ia kembali berjalan ke arah Zevran dan yang lainnya berada. Seira, Nerlina dan Melati tengah asyik bercanda riang. "Eh kalian, sini dulu deh," teriak Raka yang membuat tiga gadis itu segera berjalan mendekat. Raka membuka kantong plastik yang dibawanya dengan senyum bangga. "Aku bawa banyak makanan. Tapi jangan diambil semua, harus dibagi bagi, " katanya sambil mengeluarkan beberapa bungkus sandwich dan cemilan. Melati langsung mengambil satu bungkus d
Gunawan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi kesombongan seperti biasanya. Tidak ada lagi senyum meremehkan yang selalu ia tunjukkan setiap kali berhasil menjatuhkan orang lain. Yang tersisa hanya seorang pria yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semua yang ia bangun selama ini runtuh di depan matanya sendiri. "Selesai, semua selesai," gumam Gunawan. Wulan yang melihat itu segera menatap ke arah Gunawan yang mulai diajak polisi untuk pergi. "Sebentar pak, saya ingin berbincang dengan Gunawan sebentar," jelasnya. Polisi itu mengangguk, ia membiarkan Gunawan dan Wulan untuk berbincang. "Bagaimana? Apa keluarga tidak akan menolongmu?" Gunawan masih menunduk, ia benar benar salah karena membiarkan wanita seperti Wulan berkeliaran. Seharusnya ia membunuh Wulan lebih dahulu. "Bagus, bagus sekali Wulan. Kau wanita licik yang berhasil menghancurkanku begitu saja. Kau memang layak disebut ibu yang begitu menyayangi keluarganya." Gunawan t
Gunawan terdiam. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara napas berat dari Baskara, Zevran, dan Jonathan yang masih terdengar di antara ketegangan yang semakin meningkat. Tatapan Gunawan yang sebelumnya penuh kemenangan perlahan berubah menjadi dingin. Namun, ia masih berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahnya. "Jadi..." gumamnya pelan. "Akhirnya kau tahu juga." Bagas menatapnya tajam. Ia benar benar tidak menyangka pria yang dulu selalu ia patuhi adalah orang yang sudah menghancurkan keluarganya. "Aku ingin tahu satu hal," lanjut Gunawan sambil melangkah mendekat. "Siapa yang memberitahumu? Siapa yang cukup bodoh untuk membuka semua rahasia itu kepadamu?" Bagas yang ingin menjawab pertanyaan itu, segera ditahan oleh Wulan. Wulan berdiri di depan Gunawan dengan senyum miringnya. "Semua bukti kejahatanmu diberikan oleh putri kandungmu sendiri. Oh ya, aku harus mengatakannya." Wulan menatap ke arah Gunawan tanpa rasa takut sedikitpun. "Putri
Bagas segera menarik tangan Wulan untuk masuk lebih dalam ke ruang bawah tanah. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin Wulan merasa tempat itu berbeda dari bayangannya. Ia mengira mereka akan menemukan ruangan gelap dan kotor seperti gudang terbengkalai. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Lorong panjang itu memiliki lampu dinding berwarna hangat yang menyala sempurna. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Di sepanjang dinding terdapat kamera keamanan, lukisan mahal, dan beberapa pajangan antik yang terlihat bernilai tinggi. Wulan mengerutkan kening. "Ini... bukan ruang bawah tanah biasa," gumamnya. Bagas mengangguk pelan. Tatapannya tetap waspada. "Gunawan sudah bersembunyi disini cukup lama, bahkan jika bukan orang kepercayaan Gunawan. Tidak ada yang menyangka bahwa gedung tua itu dihuni oleh orang kejam." Wulan hanya mengangguk, mereka segera menyusuri lorong itu sambil mengendap endap. Bagas yang dulu merupakan orang kepercayaan dari Gunawan sudah paham
Bagas menatap Raka cukup lama. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu. Bukan lagi kemarahan atau kebencian, melainkan rasa kehilangan yang berusaha pria itu sembunyikan. "Raka, apa kamu tidak mau menutup mata Reina? Untuk terakhir kalinya," ujar Bagas, pelan. Namun Raka tidak menoleh. Ia masih menatap tubuh Reina yang kini telah ditutupi oleh kain putih yang telah dibawa pengawal. Ia menatap Seira yang tengah me genggam tangannya. "Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi bagian dari hidupmu," lanjut Bagas. Raka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Entah kenapa menatap mayat Reina, membuatnya kembali merasa kesal. "Dia melakukan banyak kesalahan," ucap Raka dengan suara rendah. "Dia menyakiti banyak orang." Bagas mengangguk pelan. "Tapi dia juga orang yang menyerahkan bukti untuk menghancurkan Gunawan. Dia bisa saja membawa semua itu dan melarikan diri. Dia bisa saja menyimpan dendamnya sampai akhir. Tapi dia memilih memberikannya kepada kita," uj
Bagas segera mengangguk. Ia bisa melihat amarah yang selama ini disimpan Wulan akhirnya meledak. Wanita itu bukan hanya marah karena kejadian hari ini, tetapi karena luka dari kehidupan sebelumnya yang masih membekas di hatinya. Semua penderitaan yang ia lalui akhirnya ia bisa bayarkan karena berhasil menangkap pembunuhnya di kehidupan masa lalu. "Baik, Wulan," ujar Bagas pelan. Namun sebelum Bagas sempat mengambil ponselnya, Reina tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang sudah tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan apa pun lagi. Ia menatap dingin ke arah Wulan. "Kalian benar-benar berpikir semuanya akan selesai hanya dengan menangkapku?" ucap Reina sambil menatap mereka. Wulan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Reina mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin. "Aku memang bekerja untuk Gunawan. Aku mendekati Raka karena dia memerintahkanku. Aku membuat Raka percaya padaku, aku mencari informasi tentang keluarga kalian, d
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan
Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab
Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah. Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan







