LOGIN
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.
Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan.
Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.
Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.
Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahulu.
Nada sambung.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Tidak diangkat.
Belinda menelan ludah. Ujung jemarinya menggeser layar, kembali mencoba menghubungi suaminya. Tapi hasilnya masih sama, tak ada suara lain selain nada sambung yang berulang.
[Arga, tolong angkat teleponnya. Ini penting.]
Pesan itu langsung Belinda kirimkan detik berikutnya. Tak membutuhkan waktu lama sebelum randa centang dua muncul. Terkirim. Tapi tak kunjung berubah warna menjadi biru.
Belinda hanya bisa menelan ludah dan menarik napas panjang. Setelahnya ia baru membuka pesan lain dari Manda.
[Bel... kamu udah lihat ini belum?]
Dan di bawahnya terdapat sebuah link berita. Sebenarnya, ia tak ingin langsung membuka pesan tersebut, tapi secara refleks ibu jarinya menekan link tersebut. Di layar ponselnya kini menampilkan foto seorang pria dan wanita yang tengah melangkah berdampingan keluar dari pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Wajah keduanya terlihat cerah, seolah tak perlu menyembunyikan apa pun dari kedatangan mereka.
Perempuan yang ada di dalam foto, yang dikenal sebagai Cantika Maheswari, kini tengah naik daun di dunia hiburan. Ia baru saja kembali setelah menempuh pendidikan di luar negeri selama tiga tahun. Sementara di sebelahnya ada Arga Mahardika, CEO Mahardika Corp, konglomerasi yang namanya sering muncul di berita bisnis, seolah Jakarta tak akan pernah tidur tanpa campur tangannya.
Sayangnya, tak ada satu pun publik yang tahu, kalau Arga juga merupakan suami Belinda.
Tiga tahun dalam diam, tersembunyi dari setiap rapat, gala dinner, dan headline berita. Dan di balik rahasia itu, ada seorang janin yang Belinda sembunyikan baik-baik.
Belinda menggulirkan layarnya ke kolom komentar yang semakin riuh ramai tak terkendali. Ada yang menyebutkan Cantika dan Arga serasi, ada yang mengucapkan akhirnya mereka berdua reuni. Beberapa bahkan sibuk menebak kapan keduanya akan melakukan lamaran.
Sekali lagi, sama sekali tak ada satu pun yang menyebutkan bahwa Arga sebenarnya sudah memiliki seorang istri.
Belinda kembali mengunci ponselnya. Wajahnya terangkat perlahan, mengusap air mata yang sejak tadi menggenang, lalu kembali menghadap dokter yang ada di depannya. Kini, tak ada lagi alasan untuk Belinda tetap mengharapkan Arga.
“Jadi… bayinya nggak selamat?” tanyanya pada dokter di seberang meja. Suaranya tenang, namun agak gemetar seperti kaca tipis yang bisa saja retak sewaktu-waktu.
Sang dokter menatapnya dengan tatapan iba, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Dengan kondisi ibu sekarang, jelas tidak akan bisa. Kita harus segera melakukan tindakan vakum aspirasi agar bisa menjaga kesehatan ibu.”
Kondisi ibu sekarang, atau mungkin lebih tepatnya adalah Kanker Lambung.
Sebuah kondisi yang jelas membuat tubuh Belinda tak sanggup mempertahankan kandungannya. Mau tak mau, Belinda harus memilih untuk mengakhiri kehamilan itu. Dan itu rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia peluk.
Belinda melirik ponselnya lagi, kemudian seulas senyum getir singgah di bibirnya, cepat, layaknya lampu merah di perempatan jalan yang segera berubah. Di luar sana, banyak warganet yang masih heboh membicarakan foto bandara itu.
“Baiklah. Silakan segera jadwalkan operasinya,” ucap Belinda.
Dulu, ia selalu berharap memiliki buah hati lebih dari siapa pun. Ia sempat berkhayal menimang bayi di apartemen tinggi yang jendelanya menghadap gedung-gedung Sudirman. Membayangkan tawa kecil menyela bunyi klakson dari jalanan dan suara adzan maghrib.
Namun, kenyataan hidup tak pernah ramah pada Belinda. Seberapa keras ia berusaha, kandungannya tak bisa ia pertahankan.
Mungkin calon anaknya itu sudah tahu, jika kelak Belinda meninggal dunia, Arga tak akan bisa lembut pada sang bayi. Tak akan melindungi dan tak akan hadir sepenuhnya sebagai ayah. Mungkin itu sebabnya ia memilih untuk membatalkan kedatangannya ke dunia.
Tak masalah. Setidaknya, Belinda bisa pergi tanpa meninggalkan kekhawatiran yang jauh lebih panjang.
Di ruang tindakan, ketika Belinda terbaring di ranjang operasi, dokter kembali bertanya apakah ada keluarga yang akan mendampingi. Belinda belum sempat menjawab ketika mendengar suara perawat dari arah koridor, cekikikan pelan, tapi tetap jelas.
“Aku iri banget deh sama Cantika. Menghilang tiga tahun, pulang-pulang langsung ditemenin CEO Mahardika Corp.”
“Iya, kan? Cantika itu cinta pertama Pak Arga. Makanya biarpun dia ke luar negeri tiga tahun, tetap saja Pak Arga nungguin setia. Gila, romantis banget.”
“Tapi aku pernah dengar rumor katanya dia sudah menikah?”
“Ah, itu mah cuma gosip. Pak Arga itu sayangnya cuma sama Cantika. Mana mungkin dia nikah sama orang lain…”
Ucapan-ucapan itu menancap di dada Belinda seperti jarum berulang kali. Ia pun langsung menajamkan mata erat-erat, napasnya tercekat.
Dokter membuka pintu dengan gerakan tegas, suaranya terdengar menggema di sepanjang lorong. “Tolong jaga etika. Ini rumah sakit bukan pasar.”
Sunyi pun langsung melingkupi dan ruangan itu kembali hanya diisi dengan bunyi alat, langkah kaki, dan detak waktu yang terdengar samar.
Sang dokter kembali mendekat dan Belinda membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Tatapan gadis itu datar, seperti langit Jakarta yang kehabisan warna ketika hujan.
“Tak perlu bius,” ujar Belinda dingin.
Dokter itu tertegun menatap Belinda. “Tapi bu…”
“Tanpa bius,” ulang Belinda, dengan suara lebih mantab. Sama sekali tak ada keraguan di baliknya. Ia ingin merasakan semua rasa sakit itu. Ia ingin menanggungnya secara sepenuhnya, seolah rasa nyeri itu merupakan cara terakhir untuk tetap jujur pada dirinya sendiri.
Belinda menganggap itulah bayarannya setelah bertahun-tahun menyayangi Arga sepenuhnya dengan mata tertutup dan membiarkan dirinya hanya menjadi bayangan tak dipandang dalam pernikahannya sendiri.
Prosedur itu berlangsung tidak selama yang Belinda bayangkan. Tapi bagi perempuan itu, waktu terasa jauh lebih lama. Dalam setiap rasa nyeri yang ia rasakan selama setengah jam operasi itu, satu demi satu ikatan tak kasat mata yang mengikatnya mulai terlepas.
Tak ada lagi harapan pada Arga, juga tak ada lagi jejak kecil yang sempat hidup sesaat di dalam rahimnya.
Setelah mendapatkan izin pulang dan Belinda keluar dari ruang tindakan dengan langkah yang agak goyah, lorong rumah sakit mendadak terasa panjang. Lampu-lampu putih di lorong tersebut membuat wajah semua orang yang ada di sana tampak pucat.
Yang lebih buruk, aroma antiseptik terasa begitu pekat seolah menempel di tenggorokannya.
Kemudian, Belinda melihat sosok seorang pria di ujung lorong.
Arga.
Tatapan pria itu terlihat menyala penuh amarah. Arga melangkah cepat mendekatinya, lalu kedua tangannya mencengkeram bahu Belinda keras hingga membuat sang istri agak terguncang pelan. Seolah guncangan itu diperlukan agar membuat Belinda tersadar.
“Ngapain kamu di sini?” suaranya rendah dan tajam. “Jadi benar kamu mengakhiri hidup anak kita tanpa bilang aku?”
Belinda mengangkat kepalanya. Keringat yang mengalir dari dahinya membuat pandangannya agak berbayang. Namun, ia tetap bisa melihat jelas sosok perempuan di belakang Arga. Gaun putih, rambut rapi, wajah yang masih sama dengan foto bandara yang ramai di internet.
Cantika Maheswari, cinta pertama Arga.
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







