Share

Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin
Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin
Penulis: Rizki Adinda

Bab 1: Kandungan yang Digugurkan

Penulis: Rizki Adinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 16:01:42

“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.

Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. 

Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.

Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.

Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahulu.

Nada sambung.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Tidak diangkat.

Belinda menelan ludah. Ujung jemarinya menggeser layar, kembali mencoba menghubungi suaminya. Tapi hasilnya masih sama, tak ada suara lain selain nada sambung yang berulang.

[Arga, tolong angkat teleponnya. Ini penting.]

Pesan itu langsung Belinda kirimkan detik berikutnya. Tak membutuhkan waktu lama sebelum randa centang dua muncul. Terkirim. Tapi tak kunjung berubah warna menjadi biru.

Belinda hanya bisa menelan ludah dan menarik napas panjang. Setelahnya ia baru membuka pesan lain dari Manda.

[Bel... kamu udah lihat ini belum?]

Dan di bawahnya terdapat sebuah link berita. Sebenarnya, ia tak ingin langsung membuka pesan tersebut, tapi secara refleks ibu jarinya menekan link tersebut. Di layar ponselnya kini menampilkan foto seorang pria dan wanita yang tengah melangkah berdampingan keluar dari pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Wajah keduanya terlihat cerah, seolah tak perlu menyembunyikan apa pun dari kedatangan mereka.

Perempuan yang ada di dalam foto, yang dikenal sebagai Cantika Maheswari, kini tengah naik daun di dunia hiburan. Ia baru saja kembali setelah menempuh pendidikan di luar negeri selama tiga tahun. Sementara di sebelahnya ada Arga Mahardika, CEO Mahardika Corp, konglomerasi yang namanya sering muncul di berita bisnis, seolah Jakarta tak akan pernah tidur tanpa campur tangannya.

Sayangnya, tak ada satu pun publik yang tahu, kalau Arga juga merupakan suami Belinda.

Tiga tahun dalam diam, tersembunyi dari setiap rapat, gala dinner, dan headline berita. Dan di balik rahasia itu, ada seorang janin yang Belinda sembunyikan baik-baik.

Belinda menggulirkan layarnya ke kolom komentar yang semakin riuh ramai tak terkendali. Ada yang menyebutkan Cantika dan Arga serasi, ada yang mengucapkan akhirnya mereka berdua reuni. Beberapa bahkan sibuk menebak kapan keduanya akan melakukan lamaran. 

Sekali lagi, sama sekali tak ada satu pun yang menyebutkan bahwa Arga sebenarnya sudah memiliki seorang istri.

Belinda kembali mengunci ponselnya. Wajahnya terangkat perlahan, mengusap air mata yang sejak tadi menggenang, lalu kembali menghadap dokter yang ada di depannya. Kini, tak ada lagi alasan untuk Belinda tetap mengharapkan Arga.

“Jadi… bayinya nggak selamat?” tanyanya pada dokter di seberang meja. Suaranya tenang, namun agak gemetar seperti kaca tipis yang bisa saja retak sewaktu-waktu.

Sang dokter menatapnya dengan tatapan iba, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Dengan kondisi ibu sekarang, jelas tidak akan bisa. Kita harus segera melakukan tindakan vakum aspirasi agar bisa menjaga kesehatan ibu.”

Kondisi ibu sekarang, atau mungkin lebih tepatnya adalah Kanker Lambung.

Sebuah kondisi yang jelas membuat tubuh Belinda tak sanggup mempertahankan kandungannya. Mau tak mau, Belinda harus memilih untuk mengakhiri kehamilan itu. Dan itu rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia peluk. 

Belinda melirik ponselnya lagi, kemudian seulas senyum getir singgah di bibirnya, cepat, layaknya lampu merah di perempatan jalan yang segera berubah. Di luar sana, banyak warganet yang masih heboh membicarakan foto bandara itu.

“Baiklah. Silakan segera jadwalkan operasinya,” ucap Belinda.

Dulu, ia selalu berharap memiliki buah hati lebih dari siapa pun. Ia sempat berkhayal menimang bayi di apartemen tinggi yang jendelanya menghadap gedung-gedung Sudirman. Membayangkan tawa kecil menyela bunyi klakson dari jalanan dan suara adzan maghrib. 

Namun, kenyataan hidup tak pernah ramah pada Belinda. Seberapa keras ia berusaha, kandungannya tak bisa ia pertahankan.

Mungkin calon anaknya itu sudah tahu, jika kelak Belinda meninggal dunia, Arga tak akan bisa lembut pada sang bayi. Tak akan melindungi dan tak akan hadir sepenuhnya sebagai ayah. Mungkin itu sebabnya ia memilih untuk membatalkan kedatangannya ke dunia.

Tak masalah. Setidaknya, Belinda bisa pergi tanpa meninggalkan kekhawatiran yang jauh lebih panjang.

Di ruang tindakan, ketika Belinda terbaring di ranjang operasi, dokter kembali bertanya apakah ada keluarga yang akan mendampingi. Belinda belum sempat menjawab ketika mendengar suara perawat dari arah koridor, cekikikan pelan, tapi tetap jelas.

“Aku iri banget deh sama Cantika. Menghilang tiga tahun, pulang-pulang langsung ditemenin CEO Mahardika Corp.”

“Iya, kan? Cantika itu cinta pertama Pak Arga. Makanya biarpun dia ke luar negeri tiga tahun, tetap saja Pak Arga nungguin setia. Gila, romantis banget.”

“Tapi aku pernah dengar rumor katanya dia sudah menikah?”

“Ah, itu mah cuma gosip. Pak Arga itu sayangnya cuma sama Cantika. Mana mungkin dia nikah sama orang lain…”

Ucapan-ucapan itu menancap di dada Belinda seperti jarum berulang kali. Ia pun langsung menajamkan mata erat-erat, napasnya tercekat.

Dokter membuka pintu dengan gerakan tegas, suaranya terdengar menggema di sepanjang lorong. “Tolong jaga etika. Ini rumah sakit bukan pasar.”

Sunyi pun langsung melingkupi dan ruangan itu kembali hanya diisi dengan bunyi alat, langkah kaki, dan detak waktu yang terdengar samar.

Sang dokter kembali mendekat dan Belinda membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Tatapan gadis itu datar, seperti langit Jakarta yang kehabisan warna ketika hujan.

“Tak perlu bius,” ujar Belinda dingin.

Dokter itu tertegun menatap Belinda. “Tapi bu…”

“Tanpa bius,” ulang Belinda, dengan suara lebih mantab. Sama sekali tak ada keraguan di baliknya. Ia ingin merasakan semua rasa sakit itu. Ia ingin menanggungnya secara sepenuhnya, seolah rasa nyeri itu merupakan cara terakhir untuk tetap jujur pada dirinya sendiri.

Belinda menganggap itulah bayarannya setelah bertahun-tahun menyayangi Arga sepenuhnya dengan mata tertutup dan membiarkan dirinya hanya menjadi bayangan tak dipandang dalam pernikahannya sendiri.

Prosedur itu berlangsung tidak selama yang Belinda bayangkan. Tapi bagi perempuan itu, waktu terasa jauh lebih lama. Dalam setiap rasa nyeri yang ia rasakan selama setengah jam operasi itu, satu demi satu ikatan tak kasat mata yang mengikatnya mulai terlepas.

Tak ada lagi harapan pada Arga, juga tak ada lagi jejak kecil yang sempat hidup sesaat di dalam rahimnya.

Setelah mendapatkan izin pulang dan Belinda keluar dari ruang tindakan dengan langkah yang agak goyah, lorong rumah sakit mendadak terasa panjang. Lampu-lampu putih di lorong tersebut membuat wajah semua orang yang ada di sana tampak pucat.

Yang lebih buruk, aroma antiseptik terasa begitu pekat seolah menempel di tenggorokannya.

Kemudian, Belinda melihat sosok seorang pria di ujung lorong.

Arga.

Tatapan pria itu terlihat menyala penuh amarah. Arga melangkah cepat mendekatinya, lalu kedua tangannya mencengkeram bahu Belinda keras hingga membuat sang istri agak terguncang pelan. Seolah guncangan itu diperlukan agar membuat Belinda tersadar.

“Ngapain kamu di sini?” suaranya rendah dan tajam. “Jadi benar kamu mengakhiri hidup anak kita tanpa bilang aku?”

Belinda mengangkat kepalanya. Keringat yang mengalir dari dahinya membuat pandangannya agak berbayang. Namun, ia tetap bisa melihat jelas sosok perempuan di belakang Arga. Gaun putih, rambut rapi, wajah yang masih sama dengan foto bandara yang ramai di internet.

Cantika Maheswari, cinta pertama Arga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 94: Memutus Semua Hubungan dengan Arga

    Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 93: Kalau Ternyata Berjodoh...

    Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 92: Masih Muda, Masih Ada Waktu

    Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 91: Bisa Punya Anak Lagi Nanti

    Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 90: Belinda Ini Bodoh

    Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Mega tercekat.Mega berdiri kaku selama beberapa detik sebelum menyahut dengan frustasi. “Mana aku tahu! Aku bukan cenayang. Gimana bisa aku tahu tiga setengah bulan lalu sama siapa? Yang penting aku cuma mikirin kakakku!”“Oh, gitu?” Belinda membalas dengan suara dingin, lalu menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah Arga. “Kalau kamu sebegitu sayangnya ke kakakmu, kamu pasti tahu, kan, tiga setengah bulan lalu dia ada di mana dan lagi ngapain?”Wajah Mega langsung pucat. Kata-katanya buyar di ujung lidah.“Kamu nggak tahu?” Belinda tidak melunak. Jemarinya mengencang menggenggam tangan Tommy, lalu menukas tegas. “Aku kasih tahu kalau begitu. Tiga setengah bulan lalu, Pak Arga

  • Kesempatan Kedua untuk Sang CEO Dingin   Bab 89: Cuma Perempuan Murahan

    Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sebelumnya melekat pada Arga akhirnya retak. Pria itu menatap Belinda dengan penuh amarah, lalu berdiri dan melangkah menjauhi Belinda dengan kasar, ucapannya agak bergumam. “Nggak masuk akal!”Keheningan kembali memenuhi area depan IGD.Tak jauh dari Belinda, Alan menyaksikan semuanya dengan campuran keterkejutan dan kagum pada Belinda.Selama lima tahun ia pergi dari Indonesia, dan meskipun ia tumbuh besar mengenali Arga, tapi Alan belum pernah melihat Arga sedemikian terpojok sampai benar-benar kehilangan kata-kata.Alan sudah sering mendengar dinamika hubungan Arga dan Belinda. Kebanyakan orang yang ia kenal menggambarkan Belinda sebagai sekutu yang setia, seseorang yang selalu siap membela dan selalu punya alasan un

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status