LOGINMelihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”
Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.
Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?
“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.
Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.
“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku bahkan sama sekali nggak tahu kalau kamu hamil, dan sekarang kamu memutuskan untuk menggugurkan kandungan tanpa bilang apa pun!”
Belinda sama sekali tak mundur. Alih-alih, ia mengangkat dagu, menatap balik suaminya. Amarahnya sendiri juga sudah terlanjur mendidih hingga ujung kepalanya. Meskipun begitu, ia berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang.
“Memangnya kamu akan peduli?” tanya Belinda lirih. “Aku sudah berusaha memberi tahu. Dua jam yang lalu aku sudah coba telepon. Kamu di mana waktu itu? Aku juga mengirim beberapa pesan sebelum tindakan. Kamu nggak kepikiran buat ngecek?”
Wajah Arga mengeras. Rahangnya menegang, urat di pelipisnya nampak menonjol.
Dua jam lalu… saat itu Cantika baru mendarat di bandara.
Arga mengeluarkan ponselnya dan membuka log panggilan. Ia menelusuri satu per satu, kemudian berpindah ke aplikasi W******p, menggulir layar dengan gerakan cepat dan tidak sabar.
Gerakan itu membuat Belinda langsung mematung, mencengkeram erat ponselnya yang masih dalam genggaman. Ada rasa putus asa yang mendadak muncul ke permukaan, menimpa bahunya seperti debu tipis yang tak terlihat, tapi tetap memberatkan.
Dahi Arga terlihat semakin berkerut. Pria itu berhenti menggulirkan layar ponselnya. Ia sama sekali tidak menemukan apa-apa.
Tatapan pria itu kembali ke Belinda, nampak jauh lebih dingin dari ubin koridor rumah sakit yang selalu terasa membeku.
“Kukira karena suasana bandara terlalu ribut jadi aku nggak dengar teleponmu.” Arga mengangkat layar ponselnya ke arah Belinda, menampakkan tiadanya panggilan dari sang istri. Bibir pria itu kemudian menyeringai tipis, meremehkan. “Tapi ternyata kamu memang nggak pernah telepon.”
“Coba telepon dan kirim pesan? Kebohonganmu mulai berantakan, Belinda!” lanjut Arga. Nada suara pria itu mengandung ejekan yang sama sekali tidak repot-repot disembunyikan.
Belinda hanya bisa tersenyum tipis. Ia terlalu lelah untuk mencoba menjelaskan sesuatu pada seseorang yang tidak pernah mempercayainya.
“Yang bohong itu kira-kira aku atau kamu?” ujar Belinda pelan. “Jangan-jangan kamu sengaja hapus panggilan dan pesanku supaya terlihat semuanya seperti salahku?”
Segera setelahnya, Belinda menaikkan ponselnya dengan jemari sedikit gemetar, entah karena rasa nyeri di perutnya yang belum reda atau karena kekesalan yang sudah ditahan terlalu lama.
“Kamu lupa ya, Arga, kalau aku juga punya log rekaman panggilanku sendiri?” lanjut Belinda.
Hanya saja, belum sempat ia menunjukkan layar ponselnya, terdengar suara erangan lirih tak jauh dari mereka.
“Perutku sakit…”
Wajah Arga berubah seketika.
“Cantika!”
Begitu suara Cantika yang tertahan itu sampai ke telinga Arga, pria itu langsung bergegas mendekat. Langkahnya cepat, seolah refleks tubuhnya sudah memilih siapa di antara kedua perempuan itu tanpa diminta.
“Ada apa? Perutmu kambuh lagi?” tanya Arga dengan nada khawatir yang tak pernah Belinda dengar sebelumnya.
Cantika mengangguk, air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya. Perempuan itu terlihat sangat rapuh, kecil, dan mudah dikasihani.
“Arga, sakit sekali…”
“Kita ke dokter sekarang.” Arga menghela napas cepat, lalu menengadahkan tangan. “Mana formulir pendaftaran yang tadi?”
Cantika menyerahkan dokumen itu dengan patuh. Kemudian mereka berdua pergi bersama dengan gestur tubuh yang berdekatan. Di tengah koridor yang dilewati beberapa orang, kedekatan itu tampak terang-terangan, sama sekali tak ada rasa bersalah.
Belinda yang baru saja keluar dari ruang tindakan hanya bisa berdiri kaku. Perutnya masih terasa berat dan nyeri. Rasa itu secara perlahan merambat ke pinggang, membuat setiap tarikan napasnya terasa seolah melewati jalur sempit.
Perempuan itu hanya bisa menatap punggung suaminya yang menghilang menuju poliklinik kebidanan dan kandungan, bersama perempuan lain.
Perlahan Belinda menundukkan kepalanya. Layar ponselnya menampilkan riwayat panggilan dan pesan yang sempat ia kirim, sebuah bukti rapi dengan jam juga menit yang tak akan bisa berbohong.
Senyum pahit terselip di bibirnya.
Lagipula, sekalipun ia bisa membuktikan kalau Arga berbohong, memangnya apa yang akan berubah dalam hidupnya?
Karena pembuktian itu hanya menegaskan seberapa tidak pentingnya keberadaan Belinda dalam hidup pria itu.
Karena jauh di hati kecilnya, Belinda sempat mengira bahwa Arga datang ke rumah sakit ini untuknya, karena ia sudah mengirimkan pesan yang mendesak secara bertubi-tubi. Ia sempat membayangkan Arga menembus kemacetan Jakarta dan menahan rasa kesal di balik setir, kemudian berlari di sepanjang koridor rumah sakit karena panik memikirkan sang istri.
Namun, kenyataannya berbeda, dan jauh lebih menyakitkan. Arga ada di sini untuk menemani Cantika. Pria itu hanya kebetulan saja berpapasan dengan Belinda.
Betapa nggak masuk akal.
Setelah mengambil obat, Belinda keluar dari rumah sakit. Matahari Jakarta sore itu terasa pucat, seperti lampu kota yang mulai meredup. Selama perjalanan pulang, Belinda menatap keluar jendela mobil tanpa benar-benar memperhatikan apa pun. Baliho raksasa, deretan motor yang menyelip, trotoar yang tak pernah cukup lebar, semuanya lewat seperti bayangan.
Belinda hanya teringat, di dompetnya terselit struk apotek dengan deretan angka yang tak sedikit.
Sesampainya di rumah, tepat setelah menutup pintu, rasa nyeri tajam menyusuk perutnya. Sensasi panas seperti terbakar menggulung dari sana, naik hingga ke dada. Belinda pun secara reflek langsung meraih tisu dan berlari ke arah kamar mandi.
Belinda sempat berpegangan di wastafel, tapi gelombang mual terlanjur datang lebih cepat. Ia pun membungkuk ke kloset. Air yang keluar dari dalam perutnya bukan lagi sekadar muntahan.
Merah.
Belinda tercekat. Tangan kirinya mencengkeram tepi kloset hingga jarinya memutih. Ia muntah lagi dan lagi, sampai tubuhnya gemetar. Kepalanya pun terasa ringan dan pandangannya berputar.
Waktu menjadi seolah kabur. Yang ia tahu hanyalah bunyi tetes air, napasnya sendiri yang terengah, dan rasa dingin yang perlahan merayap naik dari lantai.
Belinda pun pingsan.
“Belinda?”Belum sempat Belinda meminta maaf karena sudah bertabrakan, telinganya menangkap suara yang cukup familiar. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya.“Nathan?”Rupanya benar, pria di hadapannya adalah Nathan Wicaksono, seniornya semasa kuliah.Dulu, Nathan selalu ada untuk mendukung dan menemani Belinda. Hingga pernah ada masa Belinda mengira perasaannya pada Nathan bisa berkembang lebih jauh. Bahkan, mereka pernah nyaris melangkah melewati batas pertemanan.Namun, hidup Belinda langsung berubah ketika akhirnya ia bertemu dengan Arga. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Belinda menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Sejak itu, gadis itu mulai menjaga jarak dari Nathan, dan komunikasi mere
Belinda mengangguk. Ia menerima ajakan itu tanpa ragu, lalu berjalan anggun menuju lantai dansa bersama pria tersebut. Ketika musik berganti, gaun merahnya bergerak mengikuti langkah, seperti percikan warna di antara gelapnya jas hitam dan kilau perhiasan.Sementara itu, di lantai atas ballroom, Arga terlihat bersandar di kursi dengan mata terpejam. Di sampingnya, asistennya, Andri Wijaya tengah berdiri sambil melaporkan beberapa hal, nada suaranya profesional, ritme kalimatnya tertata.Namun mendadak, pandangan Andri sempat tersangkut pada sosok merah menyala di lantai dansa. Keningnya mengerut tanpa sadar, laporannya terhenti sejenak.Arga tidak membuka matanya. “Kenapa berhenti?” Suaranya dingin, datar, layaknya seseorang yang tak mau memberi ruang pada apa pun.Andri tersentak dan langsung menarik diri dari distraksi sesaat di lantai bawah, kemudian melanjutkan laporannya hingga selesai.Setelah laporan itu selesai, Arga baru membuka kedua matanya. “Ada kabar dari dia?” tanyanya d
“Cantika,” ucap Arga setelah mengangkat telepon itu. Ia kemudian berdiri cepat dengan wajah cemat yang nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan ketika menatap Belinda yang tengah terkapar di lantai beberapa saat lalu. “Ada apa? Oke, aku ke sana sekarang.”Telepon itu langsung ditutup dan Arga meraih jaket dari sandaran sofa. Tanpa menolehkan kepala, ia langsung melangkah menuju pintu.Belinda hanya bisa menggenggam map berisi surat gugatan cerai itu erat. “Tanda tangani dulu sebelum kamu pergi. Cuma perlu lima detik aja,” ujarnya dengan suara yang terlihat jelas berusaha tetap tenang, meskipun tetap ada gemetar di baliknya.Meskipun begitu, Arga tetap saja tidak menoleh. Seolah suara Belinda hanyalah bagian dari kebisingan Jakarta yang ada di luar jendela. Pintu rumah mereka ditutup dengan kencang, suaranya menggema di sekeliling ruangan.Belinda memejamkan mata. Ia membiarkan satu detik, dua detik, berlalu hingga keheningan kembali memeluknya. Ketika akhirnya ia membuka mata, situasi rua
Lebih dari satu jam kemudian, ada sentuhan kecil yang mengusik Belinda dengan lembut. Mochi, kucingnya, mengeong pelan sambil mendorong lengan Belinda menggunakan kepalanya.Belinda membuka mata dengan susah payah. Kemudian tangannya mengusap kepala Mochi dengan gerakan lemah dan perlahan.“Iya… iya…” gumam Belinda nyaris tak bersuara.Secara perlahan, dengan bertumpu pada dinding kamar mandi, Belinda memaksakan diri untuk berdiri. Kedua kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Goyah dan tak seimbang. Dengan satu dua langkah, Belinda mulai keluar dari kamar mandi.Hingga mendadak dunia terasa jatuh.Tubuh perempuan itu ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk yang berat.Dalam pandangannya yang samar, Belinda bisa melihat sepatu kulit mewah buatan tangan yang melangkah masuk dari arah pintu. Sepatu itu berhenti di depan wajahnya.Belinda berusaha mengangkat kepalanya, tapi kelopak matanya terasa berat. Suara di atasnya terdengar dingin, mengejek, seperti pisau tajam yang tak membut
Melihat keberadaan perempuan itu di belakang Arga, membuat sesuatu di dalam diri Belinda kini terasa seolah mengeras. Bibirnya mengerucut tipis dan getir. Kemudian ia berbisik, “Sepertinya… aku memang melakukan pilihan yang benar.”Arga jelas tidak datang sendirian. Ia datang ke rumah sakit dengan membawa Cantika. Seolah dengan sengaja menjadikan momen Belinda paling rapuh itu sebagai tontonan. Seolah Arga membiarkan Cantika menyaksikan Belinda dalam kondisi yang paling rendah, tanpa mempedulikan rasa malu dan sakit yang menggulung Belinda.Kalau sudah begitu, apa lagi yang tersisa untuk Belinda pertahankan?“Belinda!” bentak Arga, seolah berusaha menyadarkan lamunan sang istri.Tatapan pria itu seolah menancap pada wanita yang disebut namanya. Kedua mata yang biasanya selalu tampak teduh itu kini menyala, panas dan tajam, seolah seluruh amarahnya baru saja menemukan tempat berlabuh.“Berani sekali kamu menganggap mengakhiri kehamilan itu pilihan yang paling benar! Itu anak kita! Aku
“Maaf, Bu Belinda. Kandungan Ibu tidak bisa dipertahankan,” ujar dokter kandungan itu lembut, suaranya terdengar tidak terlalu tajam di ruangan konsultasi yang dinginnya seperti sengaja dipertahankan.Belinda Wiratama duduk di kursi pasien yang terasa dingin, dengan punggung tegak seolah masih berusaha menjaga sopan santun di antara kabar buruk yang terdengar. Meskipun sebelumnya ia telah menyiapkan diri untuk berita seperti ini karena kondisi tubuhnya yang memang lemah, tapi rasanya tetap saja menyesakkan. Belinda mengangkat wajahnya sedikit untuk menahan air matannya. Sementara di pangkuannya, ponselnya bergetar pelan. Belinda sempat mengira pesan itu datang dari suaminya, Arga. Hingga ia pun langsung meminta izin pada sang dokter untuk mengecek ponselnya.Sayangnya, Belinda harus menelan kekecewaannya.Pesan itu tidak datang datang dari suaminya, tapi dari sahabatnya, Manda. Namun, sebelum membuka pesan tersebut, ia menekan ikon telepon dan berusaha menghubungi Arga terlebih dahul







