LOGIN02
Bulan bertukar dengan cepat. Asmiratih berhasil mengerjakan semua tugasnya lebih awal 2 bulan dari waktu yang telah disepakati. Dia menolak semua tawaran pekerjaan tambahan, karena ingin kembali ke profesi awalnya sebagai bodyguard lady.
Asmiratih dan Ferlita segera mengemasi semua barang mereka, yang hendak dikirimkan ke Indonesia. Mereka keluar dari apartemen dan berpindah ke hotel CJC, guna menunggu kedatangan rombongan Indonesia.
Liu Jasver Emery, Adik Vanetta, Sabtu nanti akan menikah dengan Wang Patricia, putri kedua Wang Magen, salah satu pengusaha yang cukup terkenal di Shanghai.
Asmiratih dan Ferlita, berteman akrab dengan Wang Patricia, yang merupakan pemilik spa langganan kedua gadis tersebut. Sebab itu, Wang Patricia meminta kedua perempuan bersaudara itu untuk menjadi pengiring pengantinnya.
Sore itu, rombongan Indonesia akhirnya tiba. Mereka diarahkan petugas hotel untuk menuju restoran terbesar di sisi kanan bangunan, di mana keluarga besar Liu, Cheung, Zheung, Vong, Han, dan Xie, telah menunggu.
Asmiratih sengaja bersembunyi di balik pilar besar. Dia mencari sosok Zikria, tetapi tidak ditemukan. Asmiratih akhirnya keluar dari persembunyian guna mendatangi rombongan pimpinan Lazuardi Khaldan Muzaffer, direktur utama PBK, dan menyalami mereka satu per satu.
Kala tiba di dekat abangnya, Asmiratih menyalami Aditya dengan takzim. Kemudian dia berpindah untuk menyalami Kakak iparnya, Alodita Verlita Daryantha.
Asmiratih merunduk untuk menciumi pipi kedua keponakannya, yakni Nuh Nawar Bryatta dan Hud Nizar Bryatta. Bocah kembar berusia hampir 2 tahun itu, tampak bingung, karena tidak mengenali sang tante.
Ferlita menyambangi keluarga kecil tersebut. Dia sudah menyalami mereka tadi dan berusaha menggendong bocah kembar itu secara bersamaan. Namun, Ferlita akhirnya sempoyongan dan segera dipegangi Yarif Fardhani, ajudan Aditya.
"Ehm, Teh. Bang Zik, di mana?" tanya Asmiratih sembari berbisik.
"Dia nyusul dari Guangdong," jawab Alodita. "Dia nggak ada ngomong ke kamu?" tanyanya.
Asmiratih menggeleng. "Dia masih merajuk dan nyaris nggak balas chat-ku. Ditelepon pun, nggak pernah diangkat."
Alodita tertegun. Dia sudah mengetahui jika hubungan Asmiratih dan Zikria telah merenggang. Namun, Alodita tidak menyangka bila Zikria benar-benar menjauhi Adik iparnya.
Seperti halnya Aditya dan keluarga Bryatta, Alodita juga mendukung kedekatan Zikria dan Asmiratih. Alodita berharap kedua orang tersebut bisa berbaikan dan kembali bersama, yang dilanjutkan dengan pernikahan.
Puluhan menit terlewati. Semua orang telah berpindah ke musala di lantai 9 gedung itu, yang sengaja disiapkan oleh Cheung Chyou Jaden, presdir CJC Company. Sebagai bentuk dukungannya pada keluarga dan kerabat 4 klan, yang mayoritas beragama Islam.
Asmiratih menunaikan salat Magrib berjemaah yang diimami Haikal Jabbar, presdir Baltissen Grup Indonesia. Kemudian dia mengikuti langkah Alodita, menuju lantai 5, tempat rombongan Indonesia menginap.
Asmiratih terkejut ketika Aditya menarik tangan kanannya, lalu mengajaknya memasuki lift lain yang menuju lantai 2. Asmiratih mengikuti langkah Aditya yang keluar dari lift. Keduanya jalan tanpa saling bicara, hingga tiba di depan ruang kerja Cheung Jianzhen Jordy, Adik Chyou.
Aditya menempelkan kartu pass ke panel di dekat gagang, sebelum terdengar bunyi klik. Aditya mendorong pintu itu dan memasuki ruangan luas bernuansa abu-abu. Asmiratih menyusul sambil menutup pintu dengan pelan.
"Aku nggak mau basa-basi, Dek," ucap Aditya, sesaat setelah duduk di sofa besar. "Zikria sudah menemuiku, dan menjelaskan tentang penolakanmu pada lamarannya, beberapa bulan lalu," lanjutnya.
"Sebenarnya aku pengen langsung mendatangimu, tapi ada kendala di proyek Montrèal, dan aku harus membereskannya. Lalu, minggu lalu, aku dengar kabar, kalau Zikria tengah dekat dengan Lova," sambung Aditya yang menyebabkan Asmiratih terkesiap.
Perempuan berhidung bangir itu menggeleng pelan. "Enggak mungkin. Bang Zik cinta sama aku," sanggahnya.
"Ini sudah lewat 4 bulan dari berakhirnya hubungan kalian. Bisa saja Zikria memang sudah nggak cinta lagi ke kamu."
"Enggak, Bang. Aku yakin, dia nggak mungkin begitu."
"Kenapa nggak mungkin?"
"Dia mencintaiku."
Aditya melengos. "Cinta itu bisa pudar. Apalagi kalau hanya menepuk angin."
"Aku juga cinta sama dia, Bang."
"Kalau cinta, kenapa lamarannya ditolak terus?'
"Kerjaanku waktu itu belum selesai. Aku cuma mau beresin dulu, baru aku pulang dan memintanya untuk menikah."
Aditya berdecak. "Sudah terlambat. Zikria sudah menyerah, dan nggak mau berjuang lagi."
Asmiratih mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku mau telepon Bang Zik."
"Buat apa?"
"Menjelaskan semuanya. Supaya dia menjauhi Lova."
"Kalau dia nggak mau, gimana?"
"Ehm, dia pasti mau."
Aditya menggeleng pelan. "Aku nggak yakin dia mau. Kami sudah bersahabat selama belasan tahun, dan aku hafal karakternya seperti apa."
***
Asmiratih jalan mondar-mandir sepanjang kamar yang ditempatinya bersama Ferlita, Zhu Gwenyth, asisten 1 Wirya, dan Hana Naiya, ajudan Vanetta.
Asmiratih telah mengirim pesan pada Zikria dan pria itu menerangkan jika dirinya akan sampai setelah magrib. Asmiratih sangat cemas, karena dia sangat ingin menemui lelaki tersebut.
Bunyi bel pintu menyebabkan Asmiratih segera membukanya. Dia tercenung memandangi Zikria yang balas menatapnya dengan tenang.
"Masuk, Bang," ajak Asmiratih.
"Ada orang di dalam?" tanya Zikria.
"Enggak ada. Yang lain lagi jalan-jalan."
"Kalau gitu, kita ngobrol di restoran aja."
"Ada hal penting yang harus kita omongin. Aku nggak mau didengar orang lain."
Zikria memindai sekitar. "Di sini sepi. Aku nggak mau ada yang mikir nggak baik, kalau kita cuma berdua di dalam."
"Pintunya dibuka. Kursinya diseret dekat pintu."
Zikria hendak menyanggah, tetapi Asmiratih telanjur berbalik dan mendekati sofa. Zikria mendengkus pelan, sebelum mengayunkan tungkai memasuki ruangan itu.
"Kursinya nggak usah digeser. Dari pintu, kelihatan ke sini," cakap Zikria ketika Asmiratih hendak menarik kursi hitam.
Gadis itu mengangguk patuh. Dia menduduki kursi dengan punggung tegak, sambil memikirkan kalimat pembuka. Asmiratih mendadak gugup dan sulit berkonsentrasi. Terutama, karena Zikria mengamatinya sejak tadi.
"Mau ngomong apa, Dek?" tanya Zikria, guna memecah kesunyian.
"Ehm, aku dengar dari Bang Adit. Katanya, Abang lagi dekat sama Lova," ungkap Asmiratih. "Benarkah?" desaknya.
Zikria terdiam sejenak, lalu dia mengangguk. "Ya, itu benar."
"Kenapa? Bukannya Abang bilang mau nikah sama aku?"
"Kamu ingat? Apa yang waktu itu aku katakan?"
"Yang mana?"
"Itu lamaran keenam, sekaligus yang terakhir."
Asmiratih terhenyak. "Kukira, itu cuma bercanda."
"Aku nggak pernah main-main untuk urusan pernikahan."
"Aku sudah menyelesaikan semua kontrak, dan siap menikah sama Abang."
Ruangan seketika hening. Zikria kaget dengan ungkapan Asmiratih, sedangkan perempuan itu menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
Asmiratih menengadah guna mengamati Zikria yang tetap diam. Asmiratih menimbang-nimbang dalam hati, sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Asmiratih mengambil baugette bag dari meja, dan meraih kotak kecil dari dalam. Dia hendak berdiri, ketika ponsel Zikria berbunyi dan pria itu langsung mengangkatnya.
"Kita lanjutkan lagi nanti, Dek," ucap Zikria seusai memutus sambungan telepon. "Aku sudah ditunggu Bang W," tambahnya sembari berdiri.
Asmiratih turut berdiri. Dia menyembunyikan kotak itu di saku belakang celana kainnya, lalu mengikuti langkah Zikria menuju pintu. Menuruti intuisi, Asmiratih nekat mendekap Zikria dari belakang, yang menjadikan tubuh pria itu menegang.
155Senin siang, ratusan orang berkumpul di ruang pertemuan terbesar di Hotel Janitra 2. Mereka mengenakan setelan jas dan blazer beraneka warna, sesuai dengan tim masing-masing. Para bos PG memakai setelan jas abu-abu gelap. Tim PC menggunakan warna krem. Tim PCD mengenakan pakaian serba biru muda. Anggota PCT memakai setelan cokelat. Kelompok PCE mengginakan setelan marun. Semua bos PCM mengenakan pakaian hijau army. Sedangkan tim PCA kompak memakai baju abu-abu gelap. Sementara tim PCU menggunakan setelan biru tua. Zufair, Zabda, dan Hana, memulai acara dengan pengucapan salam dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Arab. Ketiga MC menyebutkan nama banyak bos tua yang hadir dengan pakaian serba hitam dan merah, sesuai dresscode yang ditentukan panitia. Setelahnya, beberapa orang menaiki panggung. Mereka berbaris rapi sesuai tinggi badan, lalu dipasangi mikrofon kecil oleh panitia. Hamid yang menjadi pembicara pertama, berdeham dua kali, sebelum memguc
154Akhir pekan itu, acara akikahan diadakan di ballroom Hotel CJC pusat Kota Guangzhou. Ratusan tamu yang hadir sebagian besar adalah tim PBK dan keluarga mereka. Sisanya merupakan para bos yang cukup akrab dengan Zikria, serta artis dan kru film yang telah menjadi sahabat Asmiratih, sejak awal kariernya. Keempat Z bersaudara menjadi pusat perhatian khalayak. Baju fuchsia yang mereka kenakan, terlihat kontras dengan kulit mereka yang semuanya putih. Zeira berulang kali memeluk ketiga adiknya, yang berbaring di kasur lantai. Gadis kecil berjilbab fuchsia itu juga sering menciumi dahi para baby, dengan dipegangi sang bunda, atau Puti.Quan Cynthia memanggil Zeira untuk mendekat. Namun, bocah bermata sipit itu justru duduk di pangkuan Conary, yang cengengesan menggoda istrinya. Quan Cynthia tidak sanggup memprotes dan hanya bisa meringis, karena Zeira lebih memilih bermanja-manja ke Papa sambungnya. Shihabuddin memimpin pengajian dengan khusyuk. Dia mengedarkan mikrofon ke banyak tet
153*Grup Lapis 1-10*Haikal : MasyaAllah. TabarakAllah. Selamat atas kelahiran 3 babies, @Zikria. Risma : @Zikria. Tahniah, Brother.Nanang : Aku mau Zhani. Hamid : Zhardhan, buatku.Jingga : Zharufa, anak Ibu Jingga.Jeffrey : Kita kalah cepat sama 3 robot. Darma : Mereka licik. Terbang duluan ke China, dan maksa jadi Bapak angkat ketiga bayi. Erni : @Zikria, akikahannya, kapan? Fawwaz : Di sini, atau di sana acaranya? Rusli : Mungkin, di Sydney. Dinda : Brisbane. Ibrahim : Adelaide.Yusri : Canberra.Dita : Perth.Gumelar : Melbourne. Fuad : Sudah jelas, pasti di Chengdu.Anjani : Hangzhou.Beni : Tianjin. Daus : Suzhou. Robi : Chongqing.Fauziah : Shanghai. Herman : Shenzen.Valdi : Xi'an. Ratna : Aku lupa nama kota besar di China. Ridwan : Apalagi aku. Ingatnya cuma Macau. Frank : Acara akikahan, diadakan 2 kali, bisa nggak? Sari : Setahuku, cuma bisa sekali. Tapi kalau selamatan, 10 kali juga bisa. Jaiz : @Zikria. Selamat, ya. Salam buat Asmi dan keluarga. Haru
152Zikria mengurut pinggang belakang istrinya, yang tengah merintih kesakitan. Sedangkan Ren Liangyi mengusap peluh Asmiratih dengan handuk kecil, sembari terus menenangkan sahabatnya tersebut. Zikria berulang kali menembakkan tenaga dalam, guna membantu melancarkan pembukaan jalan lahir. Dia tidak tega melihat Asmiratih kesakitan, dan ingin penderitaan istrinya itu bisa segera berakhir.Sementara di area depan ruang bersalin, Li Fengjun, Li Mye Na, Zulfan, dan Zahiruddin, juga tengah melakukan hal yang sama dengan Zikria. Meskipun kekuatan olah napas mereka masih lemah, tetapi mereka tetap berusaha membantu agar Asmiratih bisa segera melahirkan. Ferlita dan Gidati, sibuk membalas banyak pesan yang masuk ke ketiga ponsel Asmiratih. Sedangkan Zhu Hadwin dan Xi Zhe Wen membalas pesan dari para bos, yang menanyakan kondisi Asmiratih. Cheung Xiuhuan dan seorang dokter perempuan, bergegas jalan menuju ruang bersalin. Mereka mempercepat persiapan lahiran, karena ketuban Asmiratih telah
151Minggu terakhir di bulan September, merupakan hari bahagia buat Conary Minley dan Quan Cynthia. Keduanya mengikat janji suci di depan pendeta, di ballroom Hotel GUNZ di tepi Kota Guangdong. Seusai pemberkatan, ritual adat Tiongkok dilaksanakan dengan khidmat. Selain para tetua kedua keluarga, Cheung Chyou Jaden dan Wirya juga diminta duduk berdampingan dengan istri masing-masing. Zikria dan Asmiratih yang menempati kursi ujung, sempat merasa canggung, karena mereka merupakan pasangan termuda. Namun, mereka tetap bertahan demi memenuhi permintaan Quan Cynthia, yang menganggap keduanya sebagai Koko dan Cici tertua. Pasangan pengantin baru memberikan cawan kecil ke Zikria dan Asmiratih. Lalu Conary Minley dan Quan Cynthia serentak merunduk memberi penghormatan. Zikria bangkit dan balas merunduk, sedangkan Asmiratih tetap duduk dan hanya merunduk sedikit, sembari membentuk penghormatan dengan kedua tangan. "Zei, mana, Kak?" tanya Quan Cynthia dengan bahasa Indonesia yang cukup lan
150Zikria tersenyum ketika Wirya mendorong punggungnya supaya cepat keluar dari pekarangan rumah sang bos. Zikria meringis kala Wirya langsung menutup pagar, lalu menggerak-gerakkan kedua tangan, seolah-olah tengah mengusir. Asmiratih yang sudah menunggu di mobil, cekikikan saat mendengar teriakan Wirya yang menyuruh Zikria segera melajukan mobilnya menjauh dari depan rumah. "Astagfirullah. Kita disyuh-syuh," ujar Zikria, sebelum menekan pedal gas dan mobil MPV putih itu melaju di jalan blok. "Ayah benar-benar mau menguasai Zei," sahut Asmiratih seraya mengulum senyuman. "Kemaren, waktu Abi bilang mau pelesiran, Bang W langsung bilang, nggak usah pulang cepat-cepat, biar Zei tinggal sama dia," ungkap Zikria. "Ayah, tuh, kayaknya merasa nggak nyaman kalau nggak ada anak kecil di dekatnya." "Betul. Makanya dia rajin nyulik anak siapa aja yang bisa diculik. Nggak peduli itu anak bos, tetap diangkut." "Kayak anaknya Mas Andreas. Dari baru pindah ke sini, langsung diangkut Ayah dan
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d







