Share

Bab 226 Agus Pram

Penulis: Misya Lively
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 20:26:21

Cora memasuki ruangan rawat inap bersama Reno.

Aroma desinfektan serta bunyi alat bantu pernafasan terdengar dengan jelas di ruangan tersebut.

Seorang pria berusia 39 tahun terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kedua matanya terpejam, dan wajahnya tampak sangat tirus. Dia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Cora dan Reno sama-sama berhenti berjalan dan saling bertukar pandang di pintu masuk kamar itu. Setelah menatap dengan penuh arti, mereka berdua kembali berjalan.

Langkah kaki Reno dan Cora yang berjalan semakin dekat, membuat Agus Pram membuka matanya.

Kedua mata sayu, lelah dan letih itu terarah pada dua orang yang tak dikenal yang berjalan mendekat.

Cora dan Reno berhenti di samping ranjang Agus yang menatap mereka tanpa banyak menunjukkan ekspresi. Dia tampak seperti seseorang yang sudah pasrah pada hidupnya. Dengan sakit cancer di stadium akhir, Agus telah melalui berbagai macam pengobatan, selama berbulan-bulan.

“Siapa kalian?” Pakaian rapi dan berkelas yang dike
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 226 Agus Pram

    Cora memasuki ruangan rawat inap bersama Reno.Aroma desinfektan serta bunyi alat bantu pernafasan terdengar dengan jelas di ruangan tersebut.Seorang pria berusia 39 tahun terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kedua matanya terpejam, dan wajahnya tampak sangat tirus. Dia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.Cora dan Reno sama-sama berhenti berjalan dan saling bertukar pandang di pintu masuk kamar itu. Setelah menatap dengan penuh arti, mereka berdua kembali berjalan.Langkah kaki Reno dan Cora yang berjalan semakin dekat, membuat Agus Pram membuka matanya. Kedua mata sayu, lelah dan letih itu terarah pada dua orang yang tak dikenal yang berjalan mendekat.Cora dan Reno berhenti di samping ranjang Agus yang menatap mereka tanpa banyak menunjukkan ekspresi. Dia tampak seperti seseorang yang sudah pasrah pada hidupnya. Dengan sakit cancer di stadium akhir, Agus telah melalui berbagai macam pengobatan, selama berbulan-bulan.“Siapa kalian?” Pakaian rapi dan berkelas yang dike

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 225 Pensieve

    “Pak Reno, Bu Cora, mohon kenakan sabuk pengaman, sebentar lagi kita akan mendarat…” seorang pramugari menghampiri Cora dan Reno di tempat duduk mereka.Pagi itu, mereka berdua berangkat menuju Palm Heaven dengan menggunakan pesawat jet keluarga Dwipangga.“Sudah sampai?” Cora yang tengah membaca sebuah artikel di ponselnya terkejut mendengar pemberitahuan pramugari. Dia menoleh ke jendela, penasaran dengan kota Palm Heaven yang mereka tuju Dari angkasa, yang terlihat adalah daratan dengan bangunan rumah, hotel, dan cottage yang berada di dartah pantaiLaut. Kedua mata Cora menatap perairan yang tampak seperti hamparan luar berwarna biru muda kehijauan dengan titik-titik yang tersebar, berpencar tidak beraturan. Semakin turun ketinggian pesawat, titik-titik itu semakin terlihat jelas, berubah menjadi kapal-kapal yang berlayar, meninggalkan jejak tipis dibelakangnya, atau kapal yang diam berlabuh di hamparan air biru.Kelopak mata Cora berkedip. Menatap laut biru itu, benak Cora be

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 224 Berkompromi

    Di atas perahu kayu, Reno melirik Cora yang duduk di sampingnya. Jantung Cora berdetak semakin cepat. Penuh harap, antisipasi dan juga gugup. “Apa katanya?” Ia menggerakkan mulutnya tanpa bersuara. Ia mengetahui jika Bastian yang menghubungi Reno. Meski ia tidak bisa mendengar apa yang Bastian katakan, namun instingnya mengatakan jika ini ada hubungannya dengan tes DNA. “Ehm… aku menyimak,” ujar Reno dengan ekspresi wajah datar dan sikap biasa.Ia sengaja memasang wajah darar, sehingga Cora tidak berasumsi terlebih dahulu sebelum ia mengatakannya sendiri.Di ujung lain sambungan, Bastian yang berada di kantornya menghela nafas. Ia bisa membaca nada suara Reno dan langsung mengetahui bahwa Cora ada bersama Reno.Sambil menatap Jay yang berdiri di hadapannya, ia lanjut berkata, “Maaf Ren. Hasilnya negatif. Mereka semua negatif.”Reno tidak merespon, diam selama beberapa detik memproses informasi itu. Ekspresi wajahnya tetap tenang, walaupun di dalam harinya ia gelisah dan memikirk

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 223 Bagaikan Angsa

    “Darra, tidak apa…” bahkan dengan ketakutan yang sama, kakaknya itu masih memeluknya.“Sayang, kamu—baik-baik saja?” Sentuhan perlahan tangan Reno dipundaknya membawa Cora kembali ke keberadaannya saat ini.Setelah Ia mengangguk, barulah Reno melepaskan tangannya.Cora bisa merasakan perahu melaju perlahan. Ia melihat ke sekeliling danau di mana mereka berada. Tanaman terapung yang terlihat di beberapa bagian danau itu, lalu kawanan angsa yang sedang berenang di ujung lain danau itu, rumah besar milik Bastian dan keluarganya, serta hamparan hutan pinus. Semua yang ia lihat saat itu, mengalihkan benaknya dari kejadian masa lalu yang menghantuinya. Dan perlahan ia mulai menikmatinya. Cora menarik nafas dalam, mengisi paru-parunya dengan udara segar. Wangi alam, air dan bunga teratai yang mekar, serta samar aroma kayu balsamic dari pohon pinus yang terlihat dikejauhan menguasai indera penciumannya.Dan entah bagaimana, semua itu membuatnya merasa lebih tenang.Gerakan perahu yang mela

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 222 Mengalahkan Rasa Takut?

    Cora menelan ludah. Ia menatap perahu yang mengapung di atas air. “Sayang?” panggilan Reno menyadarkannya sehinggga ia menatap wajah suaminya.Melihat ekspresi wajah istrinya, benak Reno melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka pergi ke daerah pesisir pantai untuk melepas kepenatan. Ia baru teringat hal ini.Saat itu mereka berada di dermaga yang oenuh dengan orang berlalu lalang. Berbagai macam perahu tertambat di sepanjang dermaga itu. Namun hari itu, tidak satu perahu pun yang mereka naiki.Sebelumnya mereka telah berencana untuk menaiki perahu. Sayangnya saat mereka telah berada di dermaga dan sedang memilih perahu mana yang akan mereka naiki, wajah Cora memucat dan Cora mengatakan iika tubuhnya terasa kurang enak dan mual.Pada saat itu mereka berdua berpikir jika Cora mengalami mabuk laut dan tidak terbiasa berada di dekat perairan. Dan saat ini, ketika mengenang kembali saat itu, Reno mengetahui alasan sebenarnya kenapa saat itu Cora menolak menaiki perahu

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 221 Test DNA

    Keesokan harinya, Cora berada di sebuah klinik swasta untuk pengambilan sample DNA bersama Reno. Setelah selesai, mereka berdua berjalan di lorong klinik tersebut, dan tidak sengaja melihat Rendy tengah bersama dengan dua orang anggotanya menemani empat orang laki-laki memasuki sebuah ruangan.Cora berhenti dan memperhatikan keempat orang itu dari tempatnya berdiri. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemiripan background dengan Darrel dari sekian banyak orang yang diselidiki oleh Jay dan Rendy. Sama halnya dengan Cora, mereka datang ke klinik itu untuk menjalani tes DNA. Memastikan jika ada diantara mereka yang memiliki kecocokan genetik dengan Cora. Rasa penasaran dan harapan yang besar untuk bertemu dengan Darrel membuat Cora berjalan ke arah ruangan tempat mereka berada. “Sayang, tunggu!” Reno yang menemaninya, segera menahan tangan Cora.“Kita sudah membicarakan ini, Cora. Sebaiknya jangan temui mereka saat ini. ” Reno mengingatkan.Tadi pagi setelah memikirkan ulang,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status