Share

BAB 220

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-03-15 21:57:11

Sinar matahari sore yang hangat menembus dinding kaca Penthouse, menyinari ruang tengah yang kini terasa jauh lebih hidup daripada setahun yang lalu.

Di atas karpet bulu tebal berwarna krem, Altair sedang duduk dikelilingi mainan edukatifnya.

Usianya sudah satu tahun lebih, pipinya gembil, dan tawa renyahnya mengisi ruangan setiap kali dia berhasil menyusun balok kayu.

Aku duduk di sofa, melipat pakaian Altair yang baru disetrika, sesekali tersenyum melihat tingkahnya.

Di sampingku, Arjuna dudu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 238

    Aroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 237

    Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 236

    Cairan hitam di dalam cangkir porselen itu sudah kehilangan suhu panasnya sejak dua jam lalu.Permukaannya kini diluruskan oleh lapisan minyak tipis yang pekat. Aku berdiri menyandar pada meja pulau berbahan marmer di tengah dapur bersih. Suhu pendingin ruangan di jam lima pagi menusuk langsung ke pori-pori kulitku.Pakaianku masih sama dengan semalam. Blus sutra yang kini terasa kusut dan kaku.Otot leherku menegang hebat. Rasa perih membakar sudut mataku setelah semalaman dipaksa membedah ribuan baris teks legal. Rasa lelah ini bukan sekadar fisik. Ini kelelahan mental yang menggerogoti hingga ke dasar tulang.Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong utama.Berat, stabil, dan tidak terburu-buru.Arjuna melangkah masuk ke area dapur. Pria itu hanya mengenakan celana tidur berbahan katun gelap, bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, bayangan rahangnya ditumbuhi sisa rambut halus sisa semalam.Langkahnya terhenti tiga meter dariku.Insting predatornya bekerja bahka

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 235

    Aroma tajam tinta printer berpadu dengan wangi kertas legal yang masih panas.Kombinasi bau itu menyengat indra penciumanku. Aku baru saja melangkah masuk ke ruang depan direksi utama saat penciumanku menangkap kejanggalan itu. Suhu pendingin ruangan menembus tipisnya blus sutra yang kukenakan, mendinginkan keringat di punggungku.Sebuah tumpukan dokumen tebal bersampul biru tua tergeletak di atas meja mahoni. Meja kerja milik asisten pribadi Arjuna.Sang asisten pria menunduk kaku. Jakunnya bergerak naik turun saat dia melihatku berhenti mendadak di depan mejanya.Aku menyentuh permukaan map itu tanpa meminta izin. Kertasnya masih hangat. Baru beberapa menit lalu dicetak.Ini adalah proposal revisi dari Raka Wiratama.Dokumen sakral ini berhasil mendarat di lantai lima puluh dua. Menembus lapis demi lapis birokrasi perusahaan yang kejam. Dan itu terjadi bahkan sebelum aku—Co-CEO Diwangsa Corp—mendapat notifikasi apa pun di tabletku.Seseorang di perusahaan ini memberikan akses jalur

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 34

    Pintu kamar mandi tertutup di belakangku, memisahkan aku dari tatapan lapar Arjuna—setidaknya untuk sementara.Aku menyandarkan punggung ke pintu kayu mahoni yang kokoh itu. Napasku berhembus panjang dan gemetar, menciptakan kabut tipis di udara yang dingin.Ini bukan sekadar kamar mandi. Ini adala

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 36

    Bau rumah sakit biasanya identik dengan karbol menyengat, obat-obatan, dan keputusasaan. Tapi tidak di sini.Di lantai 8 Paviliun Kencana Medistra, udaranya beraroma lemongrass dan bunga segar. Lantainya dilapisi parket kayu hangat, bukan keramik putih dingin. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 37

    Lilin-lilin aromaterapi beraroma vanila dan sandalwood menyala di sepanjang meja makan marmer hitam itu.Cahayanya yang temaram berpendar lembut, memantul pada gelas-gelas kristal tinggi dan peralatan makan perak yang tertata presisi.Di tengah meja, ada vas bunga mawar merah segar yang kelopaknya

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 32

    "Satu jam."Kata-kata itu bergema di kepalaku, berpacu dengan detak jarum jam dinding yang tak terlihat namun terdengar jelas di telingaku.Aku berbalik dan berlari keluar dari ruang kerja Arjuna. Bukan untuk kabur, tapi untuk mencari sisa napas terakhir sebelum tenggelam.Aku berlari menuju balkon

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status