LOGINAroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara
Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti
Cairan hitam di dalam cangkir porselen itu sudah kehilangan suhu panasnya sejak dua jam lalu.Permukaannya kini diluruskan oleh lapisan minyak tipis yang pekat. Aku berdiri menyandar pada meja pulau berbahan marmer di tengah dapur bersih. Suhu pendingin ruangan di jam lima pagi menusuk langsung ke pori-pori kulitku.Pakaianku masih sama dengan semalam. Blus sutra yang kini terasa kusut dan kaku.Otot leherku menegang hebat. Rasa perih membakar sudut mataku setelah semalaman dipaksa membedah ribuan baris teks legal. Rasa lelah ini bukan sekadar fisik. Ini kelelahan mental yang menggerogoti hingga ke dasar tulang.Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong utama.Berat, stabil, dan tidak terburu-buru.Arjuna melangkah masuk ke area dapur. Pria itu hanya mengenakan celana tidur berbahan katun gelap, bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, bayangan rahangnya ditumbuhi sisa rambut halus sisa semalam.Langkahnya terhenti tiga meter dariku.Insting predatornya bekerja bahka
Aroma tajam tinta printer berpadu dengan wangi kertas legal yang masih panas.Kombinasi bau itu menyengat indra penciumanku. Aku baru saja melangkah masuk ke ruang depan direksi utama saat penciumanku menangkap kejanggalan itu. Suhu pendingin ruangan menembus tipisnya blus sutra yang kukenakan, mendinginkan keringat di punggungku.Sebuah tumpukan dokumen tebal bersampul biru tua tergeletak di atas meja mahoni. Meja kerja milik asisten pribadi Arjuna.Sang asisten pria menunduk kaku. Jakunnya bergerak naik turun saat dia melihatku berhenti mendadak di depan mejanya.Aku menyentuh permukaan map itu tanpa meminta izin. Kertasnya masih hangat. Baru beberapa menit lalu dicetak.Ini adalah proposal revisi dari Raka Wiratama.Dokumen sakral ini berhasil mendarat di lantai lima puluh dua. Menembus lapis demi lapis birokrasi perusahaan yang kejam. Dan itu terjadi bahkan sebelum aku—Co-CEO Diwangsa Corp—mendapat notifikasi apa pun di tabletku.Seseorang di perusahaan ini memberikan akses jalur
Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran
Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se
Ponsel di tanganku bergetar panjang, memecah keheningan kamar yang mencekam.Aku melirik layar yang menyala terang di atas sprei putih. Nama yang tertera di sana membuat perutku melilit seketika.Luna Video Call.Tiga kata itu seharusnya membuatku senang. Luna adalah sahabatku, satu-satunya orang y
Pintu ruang kerja itu tidak terkunci.Aku mendorongnya terbuka dengan kasar. Tidak ada ketukan sopan. Tidak ada "permisi". Adab dan tata krama sudah tidak ada artinya lagi saat kematian sedang mengintai di balik bahuku.Ruangan itu dingin, beraroma kayu tua dan rokok mahal.Arjuna sedang duduk memb
Mesin Maybach menderu halus, membawa kami membelah kemacetan Jakarta yang mulai padat. Di luar sana, dunia bergerak dengan ritme yang kacau dan bising.Tapi di dalam sini, keheningan terasa begitu tebal dan mencekam.Aku duduk kaku di ujung kursi, meremas kedua tanganku sendiri di atas pangkuan. Ma
Pagi ini, Penthouse terasa sepi. Arjuna sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.Aku berkeliling tanpa tujuan, mencoba mencari kesibukan agar tidak gila karena diam sendirian. Langkah kakiku membawaku ke lorong yang menghubungkan kamar utama dengan area







