Share

BAB 227

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-03-17 13:02:33

Sinar matahari pagi menembus tirai tipis ruang makan Penthouse, menyinari meja marmer hitam yang kini dipenuhi oleh menu sarapan sehat: roti gandum, buah potong, dan segelas susu hangat.

Waktu telah berlalu, membawa perubahan yang halus namun signifikan di setiap sudut rumah ini.

"Altair, jangan mainin dasinya terus. Nanti kusut," tegurku lembut namun tegas.

Aku berdiri di depan seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang sedang duduk di kursi makan. Altair Diwangsa.

Dia tumbuh menjadi anak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 235

    Aroma tajam tinta printer berpadu dengan wangi kertas legal yang masih panas.Kombinasi bau itu menyengat indra penciumanku. Aku baru saja melangkah masuk ke ruang depan direksi utama saat penciumanku menangkap kejanggalan itu. Suhu pendingin ruangan menembus tipisnya blus sutra yang kukenakan, mendinginkan keringat di punggungku.Sebuah tumpukan dokumen tebal bersampul biru tua tergeletak di atas meja mahoni. Meja kerja milik asisten pribadi Arjuna.Sang asisten pria menunduk kaku. Jakunnya bergerak naik turun saat dia melihatku berhenti mendadak di depan mejanya.Aku menyentuh permukaan map itu tanpa meminta izin. Kertasnya masih hangat. Baru beberapa menit lalu dicetak.Ini adalah proposal revisi dari Raka Wiratama.Dokumen sakral ini berhasil mendarat di lantai lima puluh dua. Menembus lapis demi lapis birokrasi perusahaan yang kejam. Dan itu terjadi bahkan sebelum aku—Co-CEO Diwangsa Corp—mendapat notifikasi apa pun di tabletku.Seseorang di perusahaan ini memberikan akses jalur

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 232

    Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 231

    Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 230

    Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 16

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Menusuk mataku yang bengkak dan perih.Aku mengerjapkan mata, berharap saat aku membuka mata sepenuhnya, aku akan bangun di atas kasur tipis kontrakanku yang apek. Berharap kejadian semalam hanyalah mimpi buruk akibat

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 19

    Restoran fine dining di kawasan Senopati ini memiliki pencahayaan temaram yang seharusnya romantis. Namun, bagiku malam ini, suasana remang-remang ini justru terasa mencekam.Aku duduk kaku di kursi beludru merah, mengenakan dress satin hijau zamrud yang baru kubeli tadi siang. Kain mahalnya memelu

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 33

    Langkah kakiku terhenti tepat di tengah ruangan yang dingin itu.Arjuna masih duduk di posisi yang sama. Dia tidak berpindah satu inchi pun. Punggungnya bersandar santai di kursi kulit hitamnya yang besar, jari-jarinya bertaut di atas perut. Matanya yang tajam menatapku lurus, seolah dia sudah meng

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 18

    Plaza Indonesia terasa asing siang ini. Dulu, aku hanya berani masuk ke sini untuk numpang lewat ke halte busway atau sekadar window shopping sambil menahan napas melihat label harga.Hari ini, aku masuk dengan misi yang berbeda. Misi yang diperintahkan oleh tuanku.Langkahku ragu saat berhenti di

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status