FAZER LOGINLobi Diwangsa Tower sunyi senyap. Hanya ada bunyi langkah sepatu pantofel Arjuna yang menggema memecah keheningan di atas lantai marmer hitam yang mengkilap.
Dua orang sekuriti berseragam safari langsung berdiri tegak begitu melihat kedatangan bos besar mereka. Mereka membungkuk dalam, memberi hormat tanpa berani menatap mata.
Aku berjalan dua langkah di belakang Arjuna. Kepalaku tertunduk dalam.
Rasanya seperti seekor anjing kampung kotor yang tersesat masuk ke istana raja. Bajuku masih lembap, meski dingin AC gedung ini jauh lebih menusuk daripada udara di mobil tadi.
Arjuna tidak menoleh sedikit pun. Dia berjalan lurus menuju lift VVIP yang pintunya terbuka otomatis sebelum dia sempat menekan tombol.
"Lantai 50," perintahnya singkat pada sistem suara lift.
Tubuhku terhuyung sedikit saat lift melesat naik dengan kecepatan tinggi. Telingaku berdengung. Dalam hitungan detik, pintu kembali terbuka.
Kami masuk ke sebuah ruangan yang luasnya mungkin lima kali lipat dari rumah kontrakan yang baru saja kutinggalkan. Dindingnya terbuat dari kaca penuh, menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta yang basah di bawah sana.
Ini adalah puncak rantai makanan. Dan aku merasa sangat kecil di sini.
Arjuna melepas jasnya, melemparnya sembarangan ke sofa kulit di sudut ruangan. Dia berjalan menuju meja kerjanya yang besar, lalu menekan tombol speaker di telepon kantornya.
Suara sambungan telepon terdengar dua kali sebelum diangkat.
"Halo! Siapa nih malem-malem ganggu?!" Teriakan kasar si penagih hutang terdengar memenuhi ruangan yang elegan itu. Kontras yang menjijikkan.
Arjuna duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Berapa nomor rekeningmu?" tanyanya. Nadanya santai, seolah sedang memesan makanan.
"Hah? Lu siapa, Bangsat? Jangan main-main sama gue! Gue cari si Alea—"
"Saya tanya nomor rekening," potong Arjuna. Suaranya tidak meninggi, tapi dinginnya sanggup membekukan ruangan. "Sebutkan sekarang, atau besok pagi kamu dan bos kamu sudah mendekam di Polda."
Hening sejenak di seberang sana. Preman itu sepertinya mengenali aura bahaya meski hanya lewat suara.
Dengan ragu, dia menyebutkan sederet angka.
Jari-jari Arjuna menari cepat di atas tablet di mejanya. Tidak sampai satu menit.
"Cek mutasi," perintah Arjuna.
Terdengar suara kasak-kusuk di seberang, lalu teriakan kaget. "Lunas... Anjir, beneran lunas! Lima ratus juta masuk!"
"Jangan pernah injak halaman rumah Alea lagi," ucap Arjuna datar. "Atau saya bakar markas kamu."
Klik.
Sambungan diputus sepihak.
Ruangan kembali hening. Hanya ada suara napasku yang memburu. Kakiku lemas. Aku jatuh terduduk di kursi tamu di depan meja kerjanya.
Lunas. Mimpi buruk itu selesai dalam waktu kurang dari lima menit.
Arjuna memutar tabletnya, menyodorkannya ke hadapanku. Di layar itu tertera bukti transfer dengan nominal Rp 500.000.000.
Air mataku tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena rasa lega yang luar biasa yang membuat dadaku sesak.
"Terima kasih, Om... Terima kasih banyak..." Aku terisak, menangkupkan tangan di depan dada. "Saya janji... saya akan ganti uang Om. Saya akan kerja keras. Saya akan cicil setiap bulan, berapapun yang saya bisa..."
"Cicil?"
Arjuna mengulang kata itu dengan nada geli yang sinis. Dia bersandar di kursinya, menatapku seolah aku baru saja menceritakan lelucon paling bodoh sedunia.
"Dengan gaji magang kamu? Berapa? Tiga juta sebulan?"
Aku terdiam. Isakanku tertahan.
"Butuh waktu 14 tahun untuk melunasinya, Alea. Itu pun kalau kamu tidak makan dan tidak bayar sewa tempat tinggal."
Dia berdiri. Bayangannya menjulang menutupi cahaya lampu kota di belakangnya. Dia berjalan memutari meja, mendekat ke arahku.
Aura dominasinya membuatku ingin menyusut masuk ke dalam kursi.
"Saya pebisnis, Alea. Saya tidak main-main dengan uang receh. Dan saya tidak suka investasi bodoh yang pengembaliannya belasan tahun."
"Lalu... apa yang harus saya lakukan, Om?" tanyaku gemetar. "Saya akan lakukan apa saja."
Arjuna berhenti tepat di depanku. Dia menunduk, menatap mataku lekat-lekat.
"Investasi saya harus aman. Saya harus memastikan aset saya tidak kabur atau rusak."
Dia menunjuk ke arah pintu ganda di sisi lain ruangan.
"Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Di Penthouse saya."
Mataku membelalak. "Tapi, Om... Luna... Kalau Luna tahu..."
"Luna tidak perlu tahu kalau kamu bisa tutup mulut," potongnya tajam. "Ini bukan tawaran negosiasi. Kontrakan kamu sudah hancur. Kamu tidak punya siapa-siapa."
Dia meraih daguku, memaksaku mendongak menatap matanya yang gelap dan kelam. Ibu jarinya mengusap rahangku pelan, sebuah sentuhan yang mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafku.
"Kamu tidak bisa bayar saya dengan uang, Alea," bisiknya rendah, tepat di depan wajahku.
"Bayar dengan kepatuhan."
Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran
Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se
Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p
Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te
Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku
Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan
Plaza Indonesia terasa asing siang ini. Dulu, aku hanya berani masuk ke sini untuk numpang lewat ke halte busway atau sekadar window shopping sambil menahan napas melihat label harga.Hari ini, aku masuk dengan misi yang berbeda. Misi yang diperintahkan oleh tuanku.Langkahku ragu saat berhenti di
Klik.Suara kunci yang berputar itu terdengar final. Mengunci dunia luar, mengunci hujan, dan mengunci akal sehatku di luar sana.Sekarang hanya ada aku dan Arjuna di dalam ruangan kedap suara ini.Aku berbalik perlahan, bersandar pada pintu ganda yang kokoh. Jantungku berdetak begitu keras hingga
Duar!Suara petir menggelegar di luar dinding kaca, membuatku terlonjak di kursi. Lampu-lampu Jakarta di bawah sana terlihat buram, tertutup tirai hujan yang turun semakin gila malam ini.Jam dinding digital di sudut meja kerjaku menunjukkan pukul 22.15.Kantor Diwangsa Corp sudah mati suri. Lorong
Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya menggema di telinga, menyaingi suara berat Arjuna di atas sana.Di dalam kegelapan kolong meja yang sempit ini, udaranya terasa panas dan menyesakkan.Tangan kananku gemetar hebat saat menyentuh gesper ikat pinggang kulitnya.Logam itu dingin, kontra







