Share

BAB 3

Author: Avelynne
last update publish date: 2025-12-13 00:54:06

Lobi Diwangsa Tower sunyi senyap. Hanya ada bunyi langkah sepatu pantofel Arjuna yang menggema memecah keheningan di atas lantai marmer hitam yang mengkilap.

Dua orang sekuriti berseragam safari langsung berdiri tegak begitu melihat kedatangan bos besar mereka. Mereka membungkuk dalam, memberi hormat tanpa berani menatap mata.

Aku berjalan dua langkah di belakang Arjuna. Kepalaku tertunduk dalam.

Rasanya seperti seekor anjing kampung kotor yang tersesat masuk ke istana raja. Bajuku masih lembap, meski dingin AC gedung ini jauh lebih menusuk daripada udara di mobil tadi.

Arjuna tidak menoleh sedikit pun. Dia berjalan lurus menuju lift VVIP yang pintunya terbuka otomatis sebelum dia sempat menekan tombol.

"Lantai 50," perintahnya singkat pada sistem suara lift.

Tubuhku terhuyung sedikit saat lift melesat naik dengan kecepatan tinggi. Telingaku berdengung. Dalam hitungan detik, pintu kembali terbuka.

Kami masuk ke sebuah ruangan yang luasnya mungkin lima kali lipat dari rumah kontrakan yang baru saja kutinggalkan. Dindingnya terbuat dari kaca penuh, menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta yang basah di bawah sana.

Ini adalah puncak rantai makanan. Dan aku merasa sangat kecil di sini.

Arjuna melepas jasnya, melemparnya sembarangan ke sofa kulit di sudut ruangan. Dia berjalan menuju meja kerjanya yang besar, lalu menekan tombol speaker di telepon kantornya.

Suara sambungan telepon terdengar dua kali sebelum diangkat.

"Halo! Siapa nih malem-malem ganggu?!" Teriakan kasar si penagih hutang terdengar memenuhi ruangan yang elegan itu. Kontras yang menjijikkan.

Arjuna duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya datar, tanpa emosi sedikit pun.

"Berapa nomor rekeningmu?" tanyanya. Nadanya santai, seolah sedang memesan makanan.

"Hah? Lu siapa, Bangsat? Jangan main-main sama gue! Gue cari si Alea—"

"Saya tanya nomor rekening," potong Arjuna. Suaranya tidak meninggi, tapi dinginnya sanggup membekukan ruangan. "Sebutkan sekarang, atau besok pagi kamu dan bos kamu sudah mendekam di Polda."

Hening sejenak di seberang sana. Preman itu sepertinya mengenali aura bahaya meski hanya lewat suara.

Dengan ragu, dia menyebutkan sederet angka.

Jari-jari Arjuna menari cepat di atas tablet di mejanya. Tidak sampai satu menit.

"Cek mutasi," perintah Arjuna.

Terdengar suara kasak-kusuk di seberang, lalu teriakan kaget. "Lunas... Anjir, beneran lunas! Lima ratus juta masuk!"

"Jangan hubungi dia lagi," ucap Arjuna. "Atau markas kalian akan lebih mudah ditemukan oleh orang yang tidak kalian inginkan."

Klik.

Sambungan diputus sepihak.

Ruangan kembali hening. Hanya ada suara napasku yang memburu. Kakiku lemas. Aku jatuh terduduk di kursi tamu di depan meja kerjanya.

Lunas. Lima menit. Satu jentikan yang tidak terlihat, dan gunung yang mengubur hidupku selama setahun rata dengan tanah.

Arjuna memutar tabletnya, menyodorkannya ke hadapanku. Di layar itu tertera bukti transfer dengan nominal Rp 500.000.000.

Air mataku tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena rasa lega yang luar biasa yang membuat dadaku sesak.

"Terima kasih, Om... Terima kasih banyak..." Aku terisak, menangkupkan tangan di depan dada. "Saya janji... saya akan ganti uang Om. Saya akan kerja keras. Saya akan cicil setiap bulan, berapapun yang saya bisa..."

"Cicil?"

Arjuna mengulang kata itu dengan nada geli yang sinis. Dia bersandar di kursinya, menatapku seolah aku baru saja menceritakan lelucon paling bodoh sedunia.

"Dengan gaji magang kamu? Berapa? Tiga juta sebulan?"

Aku terdiam. Isakanku tertahan.

"Butuh waktu 14 tahun untuk melunasinya, Alea. Itu pun kalau kamu tidak makan dan tidak bayar sewa tempat tinggal."

Dia berdiri. Bayangannya menjulang menutupi cahaya lampu kota di belakangnya. Dia berjalan memutari meja, mendekat ke arahku.

Aura dominasinya membuatku ingin menyusut masuk ke dalam kursi.

"Saya pebisnis, Alea. Saya tidak main-main dengan uang receh. Dan saya tidak suka investasi bodoh yang pengembaliannya belasan tahun."

"Lalu... apa yang harus saya lakukan, Om?" tanyaku gemetar. "Saya akan lakukan apa saja."

Arjuna berhenti tepat di depanku. Dia menunduk, menatap mataku lekat-lekat.

"Investasi saya harus aman. Saya harus memastikan aset saya tidak kabur atau rusak."

Dia menunjuk ke arah pintu ganda di sisi lain ruangan.

"Mulai malam ini, kamu tinggal di sini."

Dia menunjuk ke atas. Ke arah langit Jakarta yang gelap di balik kaca gedung ini.

"Di Penthouse saya."

Mataku membelalak. "Tapi, Om... Luna... Kalau Luna tahu..."

"Luna tidak perlu tahu kalau kamu bisa tutup mulut," potongnya tajam. "Ini bukan tawaran negosiasi. Kontrakan kamu sudah hancur. Kamu tidak punya siapa-siapa."

Dia meraih daguku, memaksaku mendongak menatap matanya yang gelap dan kelam. Ibu jarinya mengusap rahangku pelan, sebuah sentuhan yang mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafku.

"Kamu tidak bisa bayar saya dengan uang, Alea," bisiknya rendah, tepat di depan wajahku.

"Bayar dengan kepatuhan."

Dia mengarahkanku ke lift VVIP yang berbeda dari yang tadi. Bukan lift Diwangsa Tower. Lift ini lebih kecil, lebih privat, pintunya tidak berlabel.

"Mobil saya sudah di basement," ucapnya datar. "Penthouse saya bukan di sini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
waahhhh.....bahaya nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 600

    Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 599

    Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 598

    Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 597

    Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 596

    Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 595

    Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status