INICIAR SESIÓNArjuna Diwangsa tidak menunggu jawabanku. Dia berbalik, melipat payung hitamnya dengan gerakan efisien yang nyaris elegan, lalu masuk kembali ke dalam kabin belakang mobil.
Sopir yang mengenakan jas rapi sudah membukakan pintu untukku, menatapku dengan kilat mata yang sulit diartikan—mungkin kasihan, mungkin jijik.
Di belakangku, suara teriakan preman masih samar terdengar, meski tertelan derasnya hujan.
Kemudian baru kusadari: dia sedang dalam perjalanan ke kantor saat aku menelepon. Kantor yang jaraknya mungkin dua blok dari kontrakan kumuh ini.
Aku masuk.
Dengan sisa tenaga, aku menyeret kakiku yang berlumuran lumpur masuk ke dalam mulut monster besi ini.
Seketika, duniaku berubah.
Begitu pintu ditutup, suara bising hujan lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang kedap dan menekan.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitku yang basah, membuatku menggigil hebat. Namun, bukan dinginnya suhu yang membuatku sesak napas.
Wanginya.
Wangi Oud Wood, tembakau, dan kulit jok baru — wangi dunia yang tidak mengenalku.
Kontrasnya dengan aroma yang kubawa: keringat, lumpur, dan hujan.
Aku duduk di ujung kursi, berusaha mengerutkan tubuh sekecil mungkin. Aku takut kulitku yang kotor menyentuh jok kulit berwarna beige yang tampak lebih mahal daripada nyawa seluruh keluargaku. Air menetes dari ujung rambutku, jatuh ke karpet mobil yang tebal dan empuk.
Setiap tetesan itu terasa seperti dosa.
"Duduk yang benar, Alea."
Suara itu berasal dari sebelahnya. Aku menoleh patah-patah.
Arjuna duduk bersandar dengan santai, satu kaki disilangkan di atas lutut yang lain. Dia sedang mengetik sesuatu di tabletnya, bahkan tidak menoleh padaku.
Cahaya dari layar tablet menyinari profil wajahnya yang keras—rahang tegas, hidung mancung, dan garis-garis halus di sudut mata yang justru menambah aura matangnya alih-alih membuatnya terlihat tua.
Usianya 42 tahun, seumuran dengan Ayahku yang kabur entah ke mana. Tapi di mana Ayah terlihat layu dan kalah, Arjuna terlihat seperti raja yang sedang duduk di takhtanya.
"Maaf, Om... saya basah... saya takut mengotori..." Suaraku mencicit, tenggelam di tenggorokan.
Arjuna menghentikan jarinya di atas layar. Perlahan, dia menoleh. Tatapan matanya yang gelap menyapu seluruh penampilanku.
Dari rambut lepek, kaos oblong yang mencetak lekuk tubuh karena basah, hingga celana pendekku yang robek dan berdarah di bagian lutut.
Tidak ada nafsu di matanya. Hanya penilaian dingin. Seperti seseorang yang sedang menaksir nilai barang rusak di pasar loak.
Tatapannya berhenti di wajahku.
"Mendekat," perintahnya.
Aku menelan ludah kasar. "Om?"
"Saya tidak suka mengulang perintah."
Jantungku berdegup kencang, menabrak rusuk dengan ritme yang menyakitkan. Dengan ragu, aku menggeser dudukku sedikit mendekat.
Tangan Arjuna bergerak ke saku dalam jasnya. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra berwarna abu-abu perak. Tanpa peringatan, tangannya terulur ke arah wajahku.
Aku memejamkan mata secara refleks, takut dia akan menampar atau memukulku karena telah menyeretnya ke dalam kekacauan ini.
Namun, yang kurasakan adalah kelembutan kain sutra di pipi kananku.
Arjuna menyeka noda lumpur di tulang pipiku. Gerakannya pelan. Terlalu pelan.
Aku membuka mata. Wajahnya kini hanya berjarak satu jengkal dari wajahku. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya yang terawat dan warna matanya yang cokelat tua pekat, nyaris hitam. Napasnya yang berbau mint hangat menerpa bibirku yang membiru.
Dia tidak segera menarik tangannya. Ibu jarinya, yang terbungkus kain sutra, menekan sedikit lebih keras di sudut bibirku, membersihkan noda yang bahkan tidak kusadari ada di sana.
Ini bukan sentuhan seorang paman kepada teman anaknya.
Ada tensi aneh yang merayap di udara, membuat bulu kudukku meremang. Rasanya intim, namun juga mengancam. Jantungku berkhianat, berdebar bukan lagi karena takut pada preman, tapi karena kedekatan yang membingungkan ini.
"Kamu berantakan sekali," gumamnya, suaranya rendah, bergetar di dada.
Dia menarik tangannya kembali, lalu menatap sapu tangan sutra yang kini ternoda cokelat lumpur dan sedikit darah dari goresan di pipiku.
Ekspresinya datar, tapi ada kilatan jijik yang samar.
Dia menjatuhkan sapu tangan itu ke tempat sampah kecil di sisi pintu. Tanpa ragu. Tanpa melirik kembali.
"Berapa?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan magis yang sempat tercipta.
Otakku butuh beberapa detik untuk memproses pertanyaan itu. "Berapa... apanya, Om?"
"Hutangmu. Nyawamu. Berapa harga yang membuat kamu berlari seperti tikus got di tengah hujan begini?"
Kata-katanya tajam, menusuk tepat di ulu hati. Mataku memanas lagi. "Lima... lima ratus juta, Om."
Arjuna tidak berkedip. Jumlah yang bagiku seperti gunung mustahil itu, baginya mungkin hanya uang receh untuk sekali makan malam bisnis.
Dia mengetuk sekat kaca yang memisahkan kami dengan sopir. Kaca itu turun sedikit dengan suara mendesing halus.
"Ke kantor. Lewat jalur belakang," perintahnya pada sopir, lalu kaca itu naik kembali.
"Lho, Om... saya... saya mau pulang..."
"Pulang ke mana?" potongnya cepat. Dia kembali menatap layar tabletnya, mengabaikan protes lemahku. "Ke tempat yang pintunya sudah jebol? Atau ke jalanan?"
Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak punya tempat pulang.
"Diam," katanya, tanpa menoleh dari tabletnya. "Dan jangan kotori jok saya lebih dari yang perlu."
Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""
Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan
Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras
Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."
Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m
Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."







