Share

BAB 2

Penulis: Avelynne
last update Tanggal publikasi: 2025-12-13 00:44:24

Arjuna Diwangsa tidak menunggu jawabanku. Dia berbalik, melipat payung hitamnya dengan gerakan efisien yang nyaris elegan, lalu masuk kembali ke dalam kabin belakang mobil.

Sopir yang mengenakan jas rapi sudah membukakan pintu untukku, menatapku dengan kilat mata yang sulit diartikan—mungkin kasihan, mungkin jijik.

Aku tidak punya pilihan. Di belakangku, suara teriakan preman-preman itu masih samar terdengar, meski tertelan derasnya hujan.

Dengan sisa tenaga, aku menyeret kakiku yang berlumuran lumpur masuk ke dalam mulut monster besi ini.

Seketika, duniaku berubah.

Begitu pintu ditutup, suara bising hujan lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang kedap dan menekan.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitku yang basah, membuatku menggigil hebat. Namun, bukan dinginnya suhu yang membuatku sesak napas.

Wanginya.

Aroma Oud Wood yang maskulin, bercampur dengan sentuhan tembakau mahal dan kulit jok baru, memenuhi rongga dadaku.

Ini adalah wangi kekayaan. Wangi kekuasaan. Kontras yang menyakitkan dengan bau apek keringat, lumpur got, dan air hujan yang menguar dari tubuhku sendiri.

Aku duduk di ujung kursi, berusaha mengerutkan tubuh sekecil mungkin. Aku takut kulitku yang kotor menyentuh jok kulit berwarna beige yang tampak lebih mahal daripada nyawa seluruh keluargaku. Air menetes dari ujung rambutku, jatuh ke karpet mobil yang tebal dan empuk.

Setiap tetesan itu terasa seperti dosa.

"Duduk yang benar, Alea."

Suara itu berasal dari sebelahnya. Aku menoleh patah-patah.

Arjuna duduk bersandar dengan santai, satu kaki disilangkan di atas lutut yang lain. Dia sedang mengetik sesuatu di tabletnya, bahkan tidak menoleh padaku.

Cahaya dari layar tablet menyinari profil wajahnya yang keras—rahang tegas, hidung mancung, dan garis-garis halus di sudut mata yang justru menambah aura matangnya alih-alih membuatnya terlihat tua.

Usianya 42 tahun, seumuran dengan Ayahku yang kabur entah ke mana. Tapi di mana Ayah terlihat layu dan kalah, Arjuna terlihat seperti raja yang sedang duduk di takhtanya.

"Maaf, Om... saya basah... saya takut mengotori..." Suaraku mencicit, tenggelam di tenggorokan.

Arjuna menghentikan jarinya di atas layar. Perlahan, dia menoleh. Tatapan matanya yang gelap menyapu seluruh penampilanku.

Dari rambut lepek, kaos oblong yang mencetak lekuk tubuh karena basah, hingga celana pendekku yang robek dan berdarah di bagian lutut.

Tidak ada nafsu di matanya. Hanya penilaian dingin. Seperti seseorang yang sedang menaksir nilai barang rusak di pasar loak.

Tatapannya berhenti di wajahku.

"Mendekat," perintahnya.

Aku menelan ludah kasar. "Om?"

"Saya tidak suka mengulang perintah."

Jantungku berdegup kencang, menabrak rusuk dengan ritme yang menyakitkan. Dengan ragu, aku menggeser dudukku sedikit mendekat.

Tangan Arjuna bergerak ke saku dalam jasnya. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra berwarna abu-abu perak. Tanpa peringatan, tangannya terulur ke arah wajahku.

Aku memejamkan mata secara refleks, takut dia akan menampar atau memukulku karena telah menyeretnya ke dalam kekacauan ini.

Namun, yang kurasakan adalah kelembutan kain sutra di pipi kananku.

Arjuna menyeka noda lumpur di tulang pipiku. Gerakannya pelan. Terlalu pelan.

Aku membuka mata. Wajahnya kini hanya berjarak satu jengkal dari wajahku. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya yang terawat dan warna matanya yang cokelat tua pekat, nyaris hitam. Napasnya yang berbau mint hangat menerpa bibirku yang membiru.

Dia tidak segera menarik tangannya. Ibu jarinya, yang terbungkus kain sutra, menekan sedikit lebih keras di sudut bibirku, membersihkan noda yang bahkan tidak kusadari ada di sana.

Ini bukan sentuhan seorang paman kepada teman anaknya.

Ada tensi aneh yang merayap di udara, membuat bulu kudukku meremang. Rasanya intim, namun juga mengancam. Jantungku berkhianat, berdebar bukan lagi karena takut pada preman, tapi karena kedekatan yang membingungkan ini.

"Kamu berantakan sekali," gumamnya, suaranya rendah, bergetar di dada.

Dia menarik tangannya kembali, lalu menatap sapu tangan sutra yang kini ternoda cokelat lumpur dan sedikit darah dari goresan di pipiku.

Ekspresinya datar, tapi ada kilatan jijik yang samar.

Dengan gerakan santai, dia menjatuhkan sapu tangan mahal itu ke tempat sampah kecil di sisi pintu mobil. Seolah benda itu sudah tidak berharga lagi karena telah menyentuh kulitku.

"Berapa?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan magis yang sempat tercipta.

Otakku butuh beberapa detik untuk memproses pertanyaan itu. "Berapa... apanya, Om?"

"Hutangmu. Nyawamu. Berapa harga yang membuat kamu berlari seperti tikus got di tengah hujan begini?"

Kata-katanya tajam, menusuk tepat di ulu hati. Mataku memanas lagi. "Lima... lima ratus juta, Om."

Arjuna tidak berkedip. Jumlah yang bagiku seperti gunung mustahil itu, baginya mungkin hanya uang receh untuk sekali makan malam bisnis.

Dia mengetuk sekat kaca yang memisahkan kami dengan sopir. Kaca itu turun sedikit dengan suara mendesing halus.

"Ke kantor. Lewat jalur belakang," perintahnya pada sopir, lalu kaca itu naik kembali.

"Lho, Om... saya... saya mau pulang..."

"Pulang ke mana?" potongnya cepat. Dia kembali menatap layar tabletnya, mengabaikan protes lemahku. "Ke tempat yang pintunya sudah jebol? Atau ke jalanan?"

Aku terdiam. Dia benar. Aku tidak punya tempat pulang.

"Jangan banyak bicara. Hemat energimu," katanya dingin tanpa menoleh lagi. "Dan duduk diam. Jangan kotori jok saya lebih dari yang perlu."

Aku menyandarkan punggung yang basah ke sandaran kursi, memeluk diriku sendiri yang menggigil. Di luar jendela, Jakarta yang kejam berlalu dalam kilatan lampu buram.

Di dalam sini, aku aman dari hujan, tapi instingku berteriak bahwa aku baru saja masuk ke dalam kandang bahaya yang jauh lebih besar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
hadir thorr....bab awal seru banget.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 232

    Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 231

    Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 230

    Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 229

    Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 29

    Keheningan yang menyesakkan di Penthouse pecah oleh suara dering ponsel.Bukan ponsel Arjuna, melainkan ponselku. Ponsel retak yang baru saja dikembalikan Arjuna pagi ini setelah "masa isolasi"-ku berakhir. Dia meletakkannya begitu saja di meja makan sebelum berangkat kerja, seolah benda itu tidak

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 30

    Pintu ruang kerja itu tidak terkunci.Aku mendorongnya terbuka dengan kasar. Tidak ada ketukan sopan. Tidak ada "permisi". Adab dan tata krama sudah tidak ada artinya lagi saat kematian sedang mengintai di balik bahuku.Ruangan itu dingin, beraroma kayu tua dan rokok mahal.Arjuna sedang duduk memb

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 26

    Arjuna berbalik badan.Dia melangkah menuju meja nakas untuk meletakkan nampan yang isinya sudah tandas masuk ke perutku. Gerakannya santai, punggungnya lebar dan terbuka, seolah dia tidak merasa terancam sedikit pun oleh keberadaanku.Dia lengah.Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh otakku yang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 27

    Waktu kehilangan artinya di dalam kegelapan ini.Aku tidak tahu sudah berapa jam berlalu sejak Arjuna mematikan lampu dan meninggalkanku terikat seperti hewan kurban. Satu jam? Dua jam? Atau mungkin semalaman?Tanganku mati rasa. Pergelangan tanganku terasa perih, tergesek kain sutra yang mengikatk

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status