MasukTing.
Pintu lift berdenting halus, lalu terbuka. Tidak ada lorong, tidak ada pintu depan. Lift ini membawaku langsung ke dalam jantung kehidupan pribadi Arjuna Diwangsa.
Langkah pertamaku mendarat di atas lantai marmer putih yang membentang luas tanpa ujung. Dinginnya menembus telapak kakiku yang telanjang—sandal putusku sudah kutinggalkan di tempat sampah kantor tadi.
Aku mengangkat wajah, dan napasku tercekat.
Seluruh dinding di hadapanku terbuat dari kaca transparan setinggi lima meter. Di balik kaca itu, Jakarta terhampar seperti hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam.
Lampu-lampu gedung pencakar langit, deretan lampu merah kendaraan yang terjebak macet, semuanya terlihat begitu kecil. Begitu jauh.
Aku berada di lantai 40. Di atas awan. Di atas penderitaan manusia biasa.
"Ini..." Suaraku hilang, tertelan keheningan ruangan yang luas ini.
"Rumah," sambung Arjuna datar. Dia berjalan melewatifku, melepas dasinya sambil berjalan. Gerakannya santai, seolah dia tidak baru saja membeli nyawa seseorang seharga setengah miliar.
Aku mengedarkan pandangan. Ruangan ini indah, tapi mengerikan.
Sofa kulit Italia berwarna krem tertata presisi di tengah ruangan. Lampu gantung kristal modern menggantung seperti tetesan hujan beku.
Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan dinding yang personal. Tidak ada tumpukan majalah atau sepatu yang berserakan.
Semuanya steril. Bersih. Sempurna.
Ini bukan rumah. Ini adalah galeri seni yang tidak boleh disentuh. Atau lebih tepatnya, sebuah sangkar emas raksasa yang menggantung di langit.
"Kamar kamu di sebelah sana," Arjuna menunjuk sebuah pintu kayu oak tinggi di sayap kiri ruangan. "Barang-barang keperluanmu sudah disiapkan. Asisten saya bekerja cepat."
Aku berjalan ragu menuju pintu itu. Tanganku gemetar saat memutar gagang pintunya.
Kamar itu luas, lebih besar dari seluruh luas kontrakanku. Tempat tidur King Size dengan sprei putih polos mendominasi ruangan.
Ada lemari besar yang sudah terisi beberapa set pakaian tidur dan baju ganti sederhana. Di atas meja nakas, ada satu set peralatan mandi mahal yang masih disegel.
Seperti kamar hotel bintang lima. Mewah, tapi dingin. Tidak ada jiwa di sini.
"Bersihkan dirimu. Mandi air panas," suara Arjuna terdengar dari ruang tengah. "Saya tidak mau bau sampah menempel di sofa saya."
Perintah itu menamparku kembali ke realitas. Aku bukan tamu. Aku adalah barang dagangan yang baru dibeli dan harus disterilkan sebelum boleh dipajang.
Aku menutup pintu kamar, lalu berjalan gontai menuju dinding kaca di sisi kamar. Hujan di luar sudah berhenti, menyisakan jejak basah di kaca yang membiaskan cahaya lampu kota.
Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca dingin itu. Di bawah sana, di antara jutaan lampu itu, mungkin ada preman-preman yang masih mencariku. Atau mungkin Rian yang sedang bingung kenapa aku menghilang.
Duniaku yang lama terasa begitu dekat, namun tak terjangkau. Kaca ini tebal, memisahkan aku dari bising dan kotornya hidup, tapi juga mengurungku dalam kesunyian yang mencekam ini.
Mataku menangkap sesuatu di pantulan kaca.
Di ruang tengah yang gelap—karena lampu utama belum dinyalakan—aku melihat bayangan Arjuna. Dia tidak pergi ke kamarnya. Dia berdiri diam di dekat mini bar, memegang gelas berisi cairan amber.
Tapi dia tidak sedang minum.
Dia sedang melihat ke arahku.
Atau lebih tepatnya, dia sedang menatap punggungku. Pintu kamarku ternyata belum tertutup rapat, menyisakan celah vertikal yang cukup lebar. Dari posisi berdirinya, dia bisa melihatku dengan jelas.
Tubuhku menegang.
Tatapan itu... berbeda.
Lewat pantulan kaca yang samar, aku bisa melihat intensitas di matanya. Itu bukan tatapan seorang ayah yang mengkhawatirkan teman anaknya. Itu bukan tatapan bos yang menilai kinerja karyawan.
Itu adalah tatapan seekor serigala yang sedang mengamati domba yang baru saja dia giring masuk ke dalam gua. Tatapan predator yang lapar, namun sabar. Menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Dia menelanjangi punggungku dengan matanya. Menilai setiap lekuk tubuhku yang tercetak jelas di balik kaos basah yang menempel ketat.
Darahku berdesir panas. Ada rasa takut yang merayap di tulang punggungku, tapi anehnya, ada juga sensasi lain yang menyengat di perut bawahku. Perasaan dilihat. Perasaan diinginkan.
Dengan jantung berdegup kencang, aku memutar tubuhku menghadap pintu.
Arjuna masih di sana. Tapi dalam sekejap mata, ekspresi predator itu lenyap. Wajahnya kembali menjadi topeng pualam yang dingin dan datar.
Dia menyesap minumannya dengan tenang, seolah dia tidak baru saja melahapku dengan matanya.
"Kenapa belum mandi?" tanyanya. Suaranya tenang, tapi membuatku tersentak.
"Sa... saya lupa handuk, Om," bohongku. Suaraku terdengar bodoh.
Arjuna meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi tak yang tajam. Dia berjalan perlahan mendekati pintu kamarku. Langkahnya tidak bersuara, seperti hantu.
Dia berhenti tepat di ambang pintu, tidak masuk, tapi kehadirannya memenuhi seluruh ruangan.
"Handuk ada di dalam lemari kamar mandi," katanya pelan. Matanya terkunci pada mataku, membuatku tidak bisa berpaling.
Lalu, dia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah ujung lorong yang gelap di sisi lain Penthouse. Di sana, ada sebuah pintu ganda berwarna hitam pekat. Satu-satunya pintu yang berbeda warnanya di rumah ini.
"Itu kamar saya," ucapnya.
Aku menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa.
"Jika kamu butuh sesuatu... atau jika kamu sadar betapa mahalnya harga yang saya bayar untuk kamu malam ini..."
Dia menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasiku liar menerka kelanjutannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang nyaris tak terlihat namun sarat makna.
"Pintu itu tidak pernah dikunci, Alea. Ingat itu."
Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran
Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se
Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p
Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te
Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku
Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan
Ponsel di tanganku bergetar panjang, memecah keheningan kamar yang mencekam.Aku melirik layar yang menyala terang di atas sprei putih. Nama yang tertera di sana membuat perutku melilit seketika.Luna Video Call.Tiga kata itu seharusnya membuatku senang. Luna adalah sahabatku, satu-satunya orang y
"Al! Alea, tunggu!"Suara teriakan yang familiar itu membuat langkahku terhenti tepat di tangga lobi fakultas.Matahari sore bersinar terik, membakar kulit, tapi rasanya jauh lebih hangat dan manusiawi dibandingkan udara dingin di Penthouse.Aku menoleh. Rian, teman seangkatanku, berlari kecil menu
Mesin Maybach menderu halus, membawa kami membelah kemacetan Jakarta yang mulai padat. Di luar sana, dunia bergerak dengan ritme yang kacau dan bising.Tapi di dalam sini, keheningan terasa begitu tebal dan mencekam.Aku duduk kaku di ujung kursi, meremas kedua tanganku sendiri di atas pangkuan. Ma
Pagi ini, Penthouse terasa sepi. Arjuna sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.Aku berkeliling tanpa tujuan, mencoba mencari kesibukan agar tidak gila karena diam sendirian. Langkah kakiku membawaku ke lorong yang menghubungkan kamar utama dengan area







