Share

BAB 4

Author: Avelynne
last update publish date: 2025-12-13 01:03:31

Ting.

Pintu lift berdenting halus, lalu terbuka. Tidak ada lorong, tidak ada pintu depan. Lift ini membawaku langsung ke dalam jantung kehidupan pribadi Arjuna Diwangsa.

Langkah pertamaku mendarat di atas lantai marmer putih yang membentang luas tanpa ujung. Dinginnya menembus telapak kakiku yang telanjang—sandal putusku sudah kutinggalkan di tempat sampah kantor tadi.

Aku mengangkat wajah, dan napasku tercekat.

Seluruh dinding di hadapanku terbuat dari kaca transparan setinggi lima meter. Di balik kaca itu, Jakarta terhampar seperti hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam.

Lampu-lampu gedung pencakar langit, deretan lampu merah kendaraan yang terjebak macet, semuanya terlihat begitu kecil. Begitu jauh.

Aku berada di lantai 40. Di atas awan. Di atas penderitaan manusia biasa.

"Ini..." Suaraku hilang, tertelan keheningan ruangan yang luas ini.

"Rumah," sambung Arjuna datar. Dia berjalan melewatiku, melepas dasinya sambil berjalan. Gerakannya santai, seolah dia tidak baru saja membeli nyawa seseorang seharga setengah miliar.

Aku mengedarkan pandangan. Ruangan ini indah, tapi mengerikan.

Sofa kulit Italia berwarna krem tertata presisi di tengah ruangan. Lampu gantung kristal modern menggantung seperti tetesan hujan beku.

Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan dinding yang personal. Tidak ada tumpukan majalah atau sepatu yang berserakan.

Semuanya steril. Bersih. Sempurna.

Ini bukan rumah. Rumah punya jejak kehidupan — foto yang miring, sepatu yang berserakan, bekas cangkir kopi di meja. Penthouse ini steril seperti kamar operasi.

"Lantai ini adalah area utama. Ruang kerja saya, dapur, ruang tamu, dan kamar tamunya di sayap kiri itu." Arjuna menunjuk tanpa menoleh. "Lantai atas pribadi. Kamu tidak perlu ke sana kecuali saya minta."

Aku berjalan ragu menuju pintu itu. Tanganku gemetar saat memutar gagang pintunya.

Kamar itu luas, lebih besar dari seluruh luas kontrakanku. Tempat tidur King Size dengan sprei putih polos mendominasi ruangan.

Ada lemari besar yang sudah terisi beberapa set pakaian tidur dan baju ganti sederhana. Di atas meja nakas, ada satu set peralatan mandi mahal yang masih disegel.

Seperti kamar hotel bintang lima. Mewah, tapi dingin. Tidak ada jiwa di sini.

"Bersihkan dirimu. Mandi air panas," suara Arjuna terdengar dari ruang tengah. "Saya tidak mau bau sampah menempel di sofa saya."

Perintah itu menamparku kembali ke realitas. Aku bukan tamu. Aku adalah barang dagangan yang baru dibeli dan harus disterilkan sebelum boleh dipajang.

Aku menutup pintu kamar, lalu berjalan gontai menuju dinding kaca di sisi kamar. Hujan di luar sudah berhenti, menyisakan jejak basah di kaca yang membiaskan cahaya lampu kota.

Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca dingin itu. Di bawah sana, di antara jutaan lampu itu, mungkin ada preman-preman yang masih mencariku. Atau mungkin Rian yang sedang bingung kenapa aku menghilang.

Duniaku yang lama terasa begitu dekat, namun tak terjangkau. Kaca ini tebal, memisahkan aku dari bising dan kotornya hidup, tapi juga mengurungku dalam kesunyian yang mencekam ini.

Mataku menangkap sesuatu di pantulan kaca.

Di ruang tengah yang gelap—karena lampu utama belum dinyalakan—aku melihat bayangan Arjuna. Dia tidak pergi ke kamarnya. Dia berdiri diam di dekat mini bar, memegang gelas berisi cairan amber.

Tapi dia tidak sedang minum.

Dia sedang melihat ke arahku.

Atau lebih tepatnya, dia sedang menatap punggungku. Pintu kamarku ternyata belum tertutup rapat, menyisakan celah vertikal yang cukup lebar. Dari posisi berdirinya, dia bisa melihatku dengan jelas.

Tubuhku menegang.

Tatapan itu... berbeda.

Lewat pantulan kaca yang samar, aku bisa melihat intensitas di matanya. Itu bukan tatapan seorang ayah yang mengkhawatirkan teman anaknya. Itu bukan tatapan bos yang menilai kinerja karyawan.

Itu adalah tatapan seekor serigala yang sedang mengamati domba yang baru saja dia giring masuk ke dalam gua. Tatapan predator yang lapar, namun sabar. Menunggu saat yang tepat untuk menerkam.

Dia menelanjangi punggungku dengan matanya. Menilai setiap lekuk tubuhku yang tercetak jelas di balik kaos basah yang menempel ketat.

Darahku berdesir panas. Ada rasa takut yang merayap di tulang punggungku, tapi anehnya, ada juga sensasi lain yang menyengat di perut bawahku. Perasaan dilihat. Perasaan diinginkan.

Dengan jantung berdegup kencang, aku memutar tubuhku menghadap pintu.

Arjuna masih di sana. Tapi dalam sekejap mata, ekspresi predator itu lenyap. Wajahnya kembali menjadi topeng pualam yang dingin dan datar.

Dia menyesap minumannya dengan tenang, seolah dia tidak baru saja melahapku dengan matanya.

"Kenapa belum mandi?" tanyanya. Suaranya tenang, tapi membuatku tersentak.

"Sa... saya lupa handuk, Om," bohongku. Suaraku terdengar bodoh.

Arjuna meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi tak yang tajam. Dia berjalan perlahan mendekati pintu kamarku. Langkahnya tidak bersuara, seperti hantu.

Dia berhenti tepat di ambang pintu, tidak masuk, tapi kehadirannya memenuhi seluruh ruangan.

"Handuk ada di dalam lemari kamar mandi," katanya pelan. Matanya terkunci pada mataku, membuatku tidak bisa berpaling.

Lalu, dia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah ujung lorong yang gelap di sisi lain Penthouse. Di sana, ada sebuah pintu ganda berwarna hitam pekat. Satu-satunya pintu yang berbeda warnanya di rumah ini.

"Itu kamar saya," ucapnya.

Aku menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa.

"Jika kamu butuh sesuatu... atau jika kamu sadar betapa mahalnya harga yang saya bayar untuk kamu malam ini..."

Dia menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasiku liar menerka kelanjutannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang nyaris tak terlihat namun sarat makna.

"Pintu itu tidak pernah dikunci, Alea. Ingat itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Semesta 88
alea kamu keluar kandang harimau masuk kandang buaya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 600

    Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 599

    Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 598

    Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 597

    Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 596

    Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 595

    Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status