FAZER LOGIN“Ayah!” Tiba-tiba, Noel berlari kecil melewati Alana dan langsung memeluk kedua kaki Julian erat-erat.Tubuh Julian tersentak. Ia mematung, menatap anak kecil asing yang kini membuat kakinya sulit digerakkan. “K-kau panggil aku apa?”Noel mendongak menatap Julian, senyumnya mengembang lebar hingga sebagian giginya yang ompong kini terlihat. “Ibu benar! Ayah sangat tampan seperti di foto! Ibu bilang, Ayah tidak pernah ikut ke sini karena Ayah sibuk bekerja mencari uang untuk Noel dan teman-teman. Tapi sekarang Ayah datang!” Noel kembali memeluk kaki Julian erat.Jantung Julian seolah berhenti berdetak. Ia tidak terbiasa dengan anak kecil. Bahkan seumur hidupnya, interaksinya dengan anak kecil hampir bisa dihitung jari.Pria itu menatap canggung puncak kepala Noel yang benar-benar mulus seperti bohlam. Lalu beralih menatap Alana yang kini menatap Noel sambil tersenyum lembut. Ekspresinya sendu, seperti seorang Ibu yang akhirnya mempertemukan anaknya dengan sang Ayah yang lama tidak pu
‘35. Berkunjung ke panti dan menjadi orang tua Noel dalam sehari.’Julian menatap kalimat itu dengan rahang mengeras. Tatapannya kini berubah tajam. “Panti? Orang tua Noel?” Pria itu mendongak, menatap Alana dengan kilatan tidak suka yang tidak disembunyikan. “Sejak kapan kau mengurusi anak-anak panti di belakangku?”Kalimat tajam itu meluncur lancar. Sebagai suami, Julian membenci fakta bahwa ada bagian dari kehidupan Alana, bahkan seorang anak kecil bernama Noel, yang sama sekali tidak ia ketahui.Sementara itu, Alana menelan ludah, menahan perih di dadanya dan bersiap mengubur harapan untuk menyenangkan hati Noel yang sedang sakit.“Itu panti asuhan kecil yang kudanai selama dua tahun terakhir. Aku mendirikannya menggunakan nama pribadiku, tanpa embel-embel Sinclair maupun Ashford.”“Untuk apa? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”Alana menunduk, menyembunyikan tatapannya yang rapuh karena mengingat Noel. “Dulu, di awal pernikahan kita, aku punya satu impian bodoh,” ucap Alana
“Alana, bangunlah. Kita sudah sampai rumah.” Suara Julian yang terdengar dari sebelah Alana bergetar. Alana membuka kelopak matanya yang terasa sangat lengket. Wanita itu menatap sekitar, menyadari bahwa mereka ternyata sudah sampai di pelataran mansion.Suara lenguhan Elsa yang sedang meregangkan otot-ototnya dari kursi depan terdengar panjang. Wanita itu sengaja mengeraskan suaranya, berharap Julian membukakan pintu depan untuknya dan menuntunnya turun dari mobil hanya karena ia masih mengantuk setelah tertidur dalam perjalanan, seperti biasanya.Namun saat Elsa mengintip dari kelopak matanya, tidak. Julian justru baru saja membantu Alana turun dari mobil dengan raut penuh perhatian.Melihat pemandangan itu, dada Elsa terasa begitu panas. Tatapan matanya tak lagi mengilatkan sandiwara. Melainkan sebuah sorot tajam yang penuh gelegak amarah.Sementara itu, Alana yang baru saja turun dari mobil merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Wanita itu mengambilnya dan menemukan panggilan
Alana bertumpu pada wastafel, memuntahkan cairan dari perutnya yang hanya terisi sedikit makanan. Napas wanita itu tersengal-sengal, bahunya yang terlampau kurus bergetar hebat di balik gaun mewahnya.“Alana!” Julian bergegas mendekat. Tanpa ragu, pria itu meraih bahu Alana dan memegang tengkuk istrinya yang dibasahi keringat dingin. “Julian, tidak per—”“Diamlah! Biarkan aku membantumu!” bentak Julian panik. Ia menyalakan keran air, lalu mengambil sapu tangan dari saku jasnya untuk menyeka sudut bibir Alana.Julian memutar tubuh Alana agar menghadapnya. Wanita itu tak sanggup melawan, membiarkan tubuhnya bersandar pada pinggiran wastafel dengan dada yang naik-turun “Kau …,” suara Julian tertahan, seolah ia takut mendengar jawaban Alana. “Bilang padaku, sakit apa kau sebenarnya?”Alana memejamkan matanya beberapa saat. Napasnya masih tak beraturan.“Aku … tidak sakit apa pun yang membutuhkan perhatianmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”“Alana!” Julian meraih sisi wajah Alana, mempe
“Pernikahan kalian sudah berjalan tiga tahun. Kapan kalian akan memberiku cicit? Umurku sudah setua ini.”Suasana di ruang makan mendadak membeku.Napas Alana seketika tercekat. Tangannya mencengkeram leher gelas dengan dengan tangan gemetar. Bagaimana mungkin ia dan Julian memiliki anak ketika pria itu bahkan sudah menyerahkan surat perjanjian cerai padanya? Bahkan calon mempelai suaminya pun turut hadir di tempat ini, dan tampak berusaha merebut posisi Alana dari segala sisi dengan gigih.Di ujung meja, Elsa mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya panas melihat bagaimana tetua Ashford menuntut keturunan dari Julian hanya pada Alana. Tangannya mengepal di atas meja sebelum ia memberanikan diri membuka suara.“Mungkin Kak Alana belum siap, Kek. Lagi pula, Kak Julian sedang sibuk dengan proyek konsorsium. Memiliki anak sekarang pasti akan merepotkan—”“Apakah aku bertanya padamu?” Kakek Frederick menoleh lamba-lambat ke arah Elsa, tatapannya tajam menusuk. “Urusan ranjang dan ket
“Biarkan saja dia ikut,” ucap Alana tenang.Julian menoleh cepat, menatap Alana dengan dahi mengerut. “Alana, kau tidak perlu—”“Lagi pula, tidak ada salahnya kan dia mulai membiasakan diri berkumpul dengan para pemegang saham?” potong Alana, bibirnya mengulas senyum tipis yang nyaris tak terbaca maknanya.“Cepat atau lambat, Elsa akan menggantikan posisiku berdiri di sampingmu. Biarkan dia belajar bersosialisasi mulai malam ini.” Alana mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Tak ada yang tahu, bahwa di balik kalimat itu, ia menahan perih karena terpaksa memindahkan mahkota kebanggaan yang selama ini ia pertahankan dengan penuh perjuangan.Bukan karena cintanya direnggut, melainkan karena tubuhnya yang tak sanggup lagi melawan penyakit.Selama beberapa saat, keheningan mengisi suasana. Julian terperangah menatap istrinya. Tangannya terkepal, tahu bahwa ucapan Alana benar. Namun ia tak mengerti mengapa batinnya justru memberontak. Sementara itu, seringai kemenangan di wajah Elsa kini







