Share

31

Author: Harucchi
last update publish date: 2026-11-03 09:33:26

Alana bertumpu pada wastafel, memuntahkan cairan dari perutnya yang hanya terisi sedikit makanan. Napas wanita itu tersengal-sengal, bahunya yang terlampau kurus bergetar hebat di balik gaun mewahnya.

“Alana!” Julian bergegas mendekat. Tanpa ragu, pria itu meraih bahu Alana dan memegang tengkuk istrinya yang dibasahi keringat dingin.

“Julian, tidak per—”

“Diamlah! Biarkan aku membantumu!” bentak Julian panik. Ia menyalakan keran air, lalu mengambil sapu tangan dari saku jasnya untuk menyeka su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Pergi Nanti   32

    “Alana, bangunlah. Kita sudah sampai rumah.” Suara Julian yang terdengar dari sebelah Alana bergetar. Alana membuka kelopak matanya yang terasa sangat lengket. Wanita itu menatap sekitar, menyadari bahwa mereka ternyata sudah sampai di pelataran mansion.Suara lenguhan Elsa yang sedang meregangkan otot-ototnya dari kursi depan terdengar panjang. Wanita itu sengaja mengeraskan suaranya, berharap Julian membukakan pintu depan untuknya dan menuntunnya turun dari mobil hanya karena ia masih mengantuk setelah tertidur dalam perjalanan, seperti biasanya.Namun saat Elsa mengintip dari kelopak matanya, tidak. Julian justru baru saja membantu Alana turun dari mobil dengan raut penuh perhatian.Melihat pemandangan itu, dada Elsa terasa begitu panas. Tatapan matanya tak lagi mengilatkan sandiwara. Melainkan sebuah sorot tajam yang penuh gelegak amarah.Sementara itu, Alana yang baru saja turun dari mobil merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Wanita itu mengambilnya dan menemukan panggilan

  • Ketika Aku Pergi Nanti   31

    Alana bertumpu pada wastafel, memuntahkan cairan dari perutnya yang hanya terisi sedikit makanan. Napas wanita itu tersengal-sengal, bahunya yang terlampau kurus bergetar hebat di balik gaun mewahnya.“Alana!” Julian bergegas mendekat. Tanpa ragu, pria itu meraih bahu Alana dan memegang tengkuk istrinya yang dibasahi keringat dingin. “Julian, tidak per—”“Diamlah! Biarkan aku membantumu!” bentak Julian panik. Ia menyalakan keran air, lalu mengambil sapu tangan dari saku jasnya untuk menyeka sudut bibir Alana.Julian memutar tubuh Alana agar menghadapnya. Wanita itu tak sanggup melawan, membiarkan tubuhnya bersandar pada pinggiran wastafel dengan dada yang naik-turun “Kau …,” suara Julian tertahan, seolah ia takut mendengar jawaban Alana. “Bilang padaku, sakit apa kau sebenarnya?”Alana memejamkan matanya beberapa saat. Napasnya masih tak beraturan.“Aku … tidak sakit apa pun yang membutuhkan perhatianmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”“Alana!” Julian meraih sisi wajah Alana, mempe

  • Ketika Aku Pergi Nanti   30

    “Pernikahan kalian sudah berjalan tiga tahun. Kapan kalian akan memberiku cicit? Umurku sudah setua ini.”Suasana di ruang makan mendadak membeku.Napas Alana seketika tercekat. Tangannya mencengkeram leher gelas dengan dengan tangan gemetar. Bagaimana mungkin ia dan Julian memiliki anak ketika pria itu bahkan sudah menyerahkan surat perjanjian cerai padanya? Bahkan calon mempelai suaminya pun turut hadir di tempat ini, dan tampak berusaha merebut posisi Alana dari segala sisi dengan gigih.Di ujung meja, Elsa mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya panas melihat bagaimana tetua Ashford menuntut keturunan dari Julian hanya pada Alana. Tangannya mengepal di atas meja sebelum ia memberanikan diri membuka suara.“Mungkin Kak Alana belum siap, Kek. Lagi pula, Kak Julian sedang sibuk dengan proyek konsorsium. Memiliki anak sekarang pasti akan merepotkan—”“Apakah aku bertanya padamu?” Kakek Frederick menoleh lamba-lambat ke arah Elsa, tatapannya tajam menusuk. “Urusan ranjang dan ket

  • Ketika Aku Pergi Nanti   29

    “Biarkan saja dia ikut,” ucap Alana tenang.Julian menoleh cepat, menatap Alana dengan dahi mengerut. “Alana, kau tidak perlu—”“Lagi pula, tidak ada salahnya kan dia mulai membiasakan diri berkumpul dengan para pemegang saham?” potong Alana, bibirnya mengulas senyum tipis yang nyaris tak terbaca maknanya.“Cepat atau lambat, Elsa akan menggantikan posisiku berdiri di sampingmu. Biarkan dia belajar bersosialisasi mulai malam ini.” Alana mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Tak ada yang tahu, bahwa di balik kalimat itu, ia menahan perih karena terpaksa memindahkan mahkota kebanggaan yang selama ini ia pertahankan dengan penuh perjuangan.Bukan karena cintanya direnggut, melainkan karena tubuhnya yang tak sanggup lagi melawan penyakit.Selama beberapa saat, keheningan mengisi suasana. Julian terperangah menatap istrinya. Tangannya terkepal, tahu bahwa ucapan Alana benar. Namun ia tak mengerti mengapa batinnya justru memberontak. Sementara itu, seringai kemenangan di wajah Elsa kini

  • Ketika Aku Pergi Nanti   28

    “Ada apa denganmu sebenarnya?” Pertanyaan yang sudah lama menggantung di benak Julian itu akhirnya lolos dari bibirnya.Mendengar pertanyaan Julian, Alana mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”“Kau belakangan ini … benar-benar ….” Julian menyipitkan mata, tampak kehilangan kata-kata. “tidak seperti dirimu yang dulu.”Suara hujan gerimis mengisi hening sesaat.Alana menarik napas panjang. “Dulu … aku berpikir kita masih punya ‘masa depan’ sebagai keluarga yang bahagia, tapi sekarang,” Alana menatap wajah Julian. Wajah pria yang sejak dulu dia kagumi, dan sesaat lagi akan dimiliki orang lain. “Sekarang, ‘masa depan’ itu sudah tidak ada lagi.”‘Mati. Itulah masa depan yang kumaksud.’ Alana membatin.Jawaban Alana membuat Julian teringat kembali dengan perjanjian cerai mereka. Sebuah kesepakatan yang baru akan Alana tandatangani jika Julian bersedia memenuhi seratus daftar harapan Alana. Bagi Julian, Alana sedang memandang perceraian mereka sebagai masa depan yang akan memisahkan keduanya.Pr

  • Ketika Aku Pergi Nanti   27

    Di dalam mobil Adrian, Alana beberapa kali menelan ludah dan membasahi bibir. Itu semua karena aroma pengharum mobil yang dipakai Adrian terlalu tajam hingga memancing rasa mualnya.Tanpa Alana sadari, sejak tadi Adrian memperhatikannya. Satu tangan pria itu lalu meraup sesuatu dari kantung bagian tengah mobil, kemudian ia membuka telapak tangannya ke hadapan Alana.Alana menatap beberapa bungkus permen jahe yang kini ditawarkan Adrian.“Isap ini, rasa pahit di mulutmu terasa lagi kan?” ucap Adrian tanpa mengalihkan fokus dari kemudi.Melihat itu, Alana tersenyum tipis, lalu mengambil satu bungkus. “Terima kasih, Adrian.”Sementara itu, di kediaman Ashford, Julian berjalan mondar-mandir di dekat pintu masuk dengan napas memburu. Sesekali, ia memeriksa layar ponsel, lalu mengetatkan rahangnya kuat-kuat setiap kali melihat bahwa pesannya belum dibaca sama sekali oleh Alana.Jika Alana tidak pulang dan juga tidak berada di kedai mie milik Pamannya, lalu di mana dia?Beragam dugaan muncul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status