LOGIN“Pernikahan kalian sudah berjalan tiga tahun. Kapan kalian akan memberiku cicit? Umurku sudah setua ini.”Suasana di ruang makan mendadak membeku.Napas Alana seketika tercekat. Tangannya mencengkeram leher gelas dengan dengan tangan gemetar. Bagaimana mungkin ia dan Julian memiliki anak ketika pria itu bahkan sudah menyerahkan surat perjanjian cerai padanya? Bahkan calon mempelai suaminya pun turut hadir di tempat ini, dan tampak berusaha merebut posisi Alana dari segala sisi dengan gigih.Di ujung meja, Elsa mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya panas melihat bagaimana tetua Ashford menuntut keturunan dari Julian hanya pada Alana. Tangannya mengepal di atas meja sebelum ia memberanikan diri membuka suara.“Mungkin Kak Alana belum siap, Kek. Lagi pula, Kak Julian sedang sibuk dengan proyek konsorsium. Memiliki anak sekarang pasti akan merepotkan—”“Apakah aku bertanya padamu?” Kakek Frederick menoleh lamba-lambat ke arah Elsa, tatapannya tajam menusuk. “Urusan ranjang dan ket
“Biarkan saja dia ikut,” ucap Alana tenang.Julian menoleh cepat, menatap Alana dengan dahi mengerut. “Alana, kau tidak perlu—”“Lagi pula, tidak ada salahnya kan dia mulai membiasakan diri berkumpul dengan para pemegang saham?” potong Alana, bibirnya mengulas senyum tipis yang nyaris tak terbaca maknanya.“Cepat atau lambat, Elsa akan menggantikan posisiku berdiri di sampingmu. Biarkan dia belajar bersosialisasi mulai malam ini.” Alana mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Tak ada yang tahu, bahwa di balik kalimat itu, ia menahan perih karena terpaksa memindahkan mahkota kebanggaan yang selama ini ia pertahankan dengan penuh perjuangan.Bukan karena cintanya direnggut, melainkan karena tubuhnya yang tak sanggup lagi melawan penyakit.Selama beberapa saat, keheningan mengisi suasana. Julian terperangah menatap istrinya. Tangannya terkepal, tahu bahwa ucapan Alana benar. Namun ia tak mengerti mengapa batinnya justru memberontak. Sementara itu, seringai kemenangan di wajah Elsa kini
“Ada apa denganmu sebenarnya?” Pertanyaan yang sudah lama menggantung di benak Julian itu akhirnya lolos dari bibirnya.Mendengar pertanyaan Julian, Alana mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”“Kau belakangan ini … benar-benar ….” Julian menyipitkan mata, tampak kehilangan kata-kata. “tidak seperti dirimu yang dulu.”Suara hujan gerimis mengisi hening sesaat.Alana menarik napas panjang. “Dulu … aku berpikir kita masih punya ‘masa depan’ sebagai keluarga yang bahagia, tapi sekarang,” Alana menatap wajah Julian. Wajah pria yang sejak dulu dia kagumi, dan sesaat lagi akan dimiliki orang lain. “Sekarang, ‘masa depan’ itu sudah tidak ada lagi.”‘Mati. Itulah masa depan yang kumaksud.’ Alana membatin.Jawaban Alana membuat Julian teringat kembali dengan perjanjian cerai mereka. Sebuah kesepakatan yang baru akan Alana tandatangani jika Julian bersedia memenuhi seratus daftar harapan Alana. Bagi Julian, Alana sedang memandang perceraian mereka sebagai masa depan yang akan memisahkan keduanya.Pr
Di dalam mobil Adrian, Alana beberapa kali menelan ludah dan membasahi bibir. Itu semua karena aroma pengharum mobil yang dipakai Adrian terlalu tajam hingga memancing rasa mualnya.Tanpa Alana sadari, sejak tadi Adrian memperhatikannya. Satu tangan pria itu lalu meraup sesuatu dari kantung bagian tengah mobil, kemudian ia membuka telapak tangannya ke hadapan Alana.Alana menatap beberapa bungkus permen jahe yang kini ditawarkan Adrian.“Isap ini, rasa pahit di mulutmu terasa lagi kan?” ucap Adrian tanpa mengalihkan fokus dari kemudi.Melihat itu, Alana tersenyum tipis, lalu mengambil satu bungkus. “Terima kasih, Adrian.”Sementara itu, di kediaman Ashford, Julian berjalan mondar-mandir di dekat pintu masuk dengan napas memburu. Sesekali, ia memeriksa layar ponsel, lalu mengetatkan rahangnya kuat-kuat setiap kali melihat bahwa pesannya belum dibaca sama sekali oleh Alana.Jika Alana tidak pulang dan juga tidak berada di kedai mie milik Pamannya, lalu di mana dia?Beragam dugaan muncul
Alana membuka kelopak mata. Saat menoleh ke sisi ranjang, ia menemukan Adrian tidur dalam posisi duduk di kursi yang berada di sebelah ranjangnya. Kepala pria itu tertunduk dengan tangan yang berusaha menopangnya agar tidak ambruk.Tak ingin membangunkan Adrian, Alana berusaha duduk perlahan-lahan. Namun suara ranjang yang berdecit saat Alana bergerak membuat Adrian tersentak dan melompat mendekat dengan panik.“Kau baik-baik saja? Butuh sesuatu?”Alana mendongak, kaget dengan refleks cepat pria itu. Bibirnya mengulas senyum kecil karena rasa haru.“Terima kasih sudah menolongku hari ini, Adrian. Maaf aku jadi merepotkanmu. Aku tidak tahu akan bagaimana jadinya kalau kau tidak datang tadi.”Adrian menghela napas pelan. “Ini sama sekali bukan apa-apa, Alana.”“Sesak napasku sudah hilang. Kepalaku juga sudah tidak pusing lagi berkat obat yang kau berikan lewat infus. Adrian … aku harus kembali ke mansion.”Mata Adrian melebar seolah mendengar hal yang tidak wajar.“Alana, kau yakin ingi
Julian berlari menuruni tangga rumah sakit dengan langkah panik. Di balik jas, kaos alpukat kuningnya sudah basah oleh keringat. Sementara sebelah tangannya tak henti menempelkan ponsel ke telinga. Ia barusan menghubungi pelayan di mansion. Tapi mereka bilang, Alana belum kembali.“Angkat teleponnya, Alana ….”Setelah sampai di lobi, Julian menghampiri mobilnya yang sudah menunggu di depan. Begitu pintu dibukakan, Julian masuk ke kursi penumpang sambil tanpa henti menyambungkan teleponnya ke nomor Alana.Ia sudah mengirim pesan ke nomor Alana, bertanya apakah istrinya itu masih berada di kedai mie milik Pamannya. Namun, pesannya tidak juga dijawab. Selama dalam perjalanan, tak hentinya Julian menghubungi Alana. Satu kali. Lima kali. Sepuluh kali. Panggilannya tetap tak dijawab.Ia teringat dengan kalimat bodohnya tadi sebelum pergi.‘Pastikan kau tidak merengek meminta supir yang kugaji dengan uangku untuk menjemputmu nanti!’Dan sekarang, melihat dirinya sendiri yang bergerak menc







