Share

Bab 118

Penulis: Hiro Sayank
last update Tanggal publikasi: 2026-09-09 13:30:12

Di sisi lain, awan hitam kota Jakarta menyambut kepulangan Hanggara dan Savana dari Paris. Setelah jet pribadi mewah milik sang direktur mendarat mulus di landasan pacu bandara swasta, sebuah mobil sedan hitam elegan lengkap dengan sopir pribadi berjas rapi sudah bersiaga di depan hangar.

Tanpa membuang waktu, Hanggara membimbing Savana masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan tenang. Begitu pintu tertutup rapat dan mobil mulai meluncur membelah jalanan ibu kota, aura tenang namun memikat lang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 123

    Di luar ruangan, kepanikan semakin menjadi-jadi. Kenop pintu besi ruang kontrol mendadak tergoyang-goyang kencang dari luar, diiringi gedoran bertubi-tubi yang menggema nyaring."Buka! Pintunya terkunci dari dalam! Pakai kunci cadangan!" teriak salah satu petugas keamanan dengan nada panik."Sudah diinstal dari dalam! Enggak bisa diputar!" sahut suara petugas lainnya di seberang pintu.Savana tersentak kaget. Rasa panik seketika menyapu bersih sisa-sisa tawa dan gejolak gairahnya. Wajahnya memucat membayangkan apa yang akan terjadi jika orang-orang di luar sana berhasil mendobrak masuk dan menemukan dirinya bersama sang Direktur Utama dalam keadaan tak berbusana.Hanggara, yang tadi menyudutkan Savana hingga berdiri mepet di panel kontrol, segera menarik kejantanannya keluar dari organ intim Savana. Pria itu bergerak cepat merapikan celananya, lalu berbisik tegas di telinga Savana, "Pakai bajumu kembali. Sekarang."Savana mengangguk patuh dengan jemari gemetar. Dengan tergesa-gesa, ia

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 122

    Savana berdiri di sudut koridor lantai tiga, memegang papan ujian berisi lembar evaluasi kebersihan harian. Matanya mengawasi dengan teliti setiap sudut ubin yang baru saja disapu oleh dua staf bawahannya. Setelah memastikan pegangan tangga stainless steel bebas dari debu dan noda jemari, ia memberikan tanda centang pada lembar kerjanya. Suasana Rumah Sakit Citra Medika siang itu relatif tenang, hingga sebuah bayangan tinggi melangkah mantap di sepanjang koridor VIP.Savana menoleh dan mendapati Hanggara tengah berjalan sendirian. Langkah kaki pria itu tergesa, bahunya tegang, dan garis rahangnya mengeras tajam. Raut wajahnya tampak begitu suram, memancarkan aura dingin yang membekukan sekelilingnya. Tidak ada sisa-sisa ketenangan elegan yang biasanya melekat pada sang direktur utama.Rasa khawatir mendadak merayapi dada Savana. Ia menghentikan kegiatannya, memperhatikan punggung Hanggara yang kian menjauh menuju area lorong teknis. Tanpa ragu, Savana merogoh saku seragamnya dan menga

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 121

    Savana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang bergemuruh liar sebelum mengetuk pintu kayu mahoni tebal bertuliskan dr. Karin. Setelah memantapkan hati, jemarinya terangkat.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," suara tajam dan dingin terdengar dari dalam.Savana mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk. Di balik meja kerjanya yang mewah, Karin duduk bersedekap dengan tatapan mata meneliti yang menusuk. Keanggunan sang dokter spesialis itu terpancar jelas, namun aura permusuhan menguar pekat di udara. Savana meremas ujung seragam cleaning service-nya, bersiap menahan badai amukan Karin jika wanita itu benar-benar telah mengetahui rahasianya bersama Hanggara."D-Dokter Karin... maaf, kata Mbak senior tadi, Dokter memanggil saya?" tanya Savana dengan suara kecil bergetar, menundukkan kepala.Karin menyandarkan punggungnya ke kursi, menyunggingkan senyum miring yang terkesan meremehkan. "Iya. Saya dengar dari Dokter Roy, beberapa hari kemarin kamu tidak masuk

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 120

    Alex yang panik setengah mati bergegas menyambar celana pendek di dekatnya, memakainya secepat kilat sambil terburu-buru menghampiri Bara. Laki-laki asing yang bersamanya tadi hanya bisa terpaku bingung, buru-buru membenahi pakaiannya di atas tempat tidur."Dokter... Dokter Bara, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" panggil Alex dengan suara bergetar ketakutan, tangannya gemetar mencoba meraba lengan Bara.Bara menepis tangan Alex dengan kasar. Napasnya memburu, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang menghimpit dadanya. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, bangsat!" bentak Bara, suaranya sarat dengan rasa jijik dan kehancuran yang teramat sangat."Dokter, aku mohon... aku minta maaf! Aku khilaf!" Alex berlutut di hadapan Bara, mengabaikan harga dirinya. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca penuh penyesalan. "Aku melakukannya dengan orang lain karena aku merasa Dokter sudah tidak berhasrat lagi padaku! Dokter makin dingin belakangan ini,

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 119

    Savana terduduk di lantai dingin yang kaku, tubuhnya bergetar hebat diiringi isak tangis yang menyayat hati. Rasa panas dan leleh dari ludah serta cengkeraman kasar Bara masih membekas di wajahnya, meninggalkan rasa hina yang amat mendalam. Namun, di balik kehancuran perasaannya, ada satu hal yang tiba-tiba menyala terang di dalam dadanya: titik balik dari segala penderitaan yang selama ini ia tanggung.Dengan langkah yang tertatih dan napas tersengal, Savana bangkit. Ia berjalan ke arah kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu menyalakan shower. Air dingin langsung mengguyur tubuhnya yang masih terbalut pakaian lengkap. Savana terduduk di ubin kamar mandi yang basah, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa penghinaan Bara dari kulitnya. Ia menangis sekeras-kerasnya, menumpahkan seluruh rasa sakit, rasa bersalah, dan ketakutan yang selama ini menghimpit chest-nya.Suara gemericik air yang deras menyamarkan suara tangisnya yang pecah. Di bawah guyuran a

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 118

    Di sisi lain, awan hitam kota Jakarta menyambut kepulangan Hanggara dan Savana dari Paris. Setelah jet pribadi mewah milik sang direktur mendarat mulus di landasan pacu bandara swasta, sebuah mobil sedan hitam elegan lengkap dengan sopir pribadi berjas rapi sudah bersiaga di depan hangar.Tanpa membuang waktu, Hanggara membimbing Savana masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan tenang. Begitu pintu tertutup rapat dan mobil mulai meluncur membelah jalanan ibu kota, aura tenang namun memikat langsung menguasai atmosfer di dalam kendaraan tersebut.Hanggara duduk bersandar dengan posisi tegap yang teramat berwibawa. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya lurus menatap jalanan di balik kaca berpelindung gelap. Sikapnya tetap dingin, cool, dan sarat akan dominasi seperti biasanya. Namun, ada satu gestur yang tidak ia lepaskan sejak tadi: jemari kokoh Hanggara menggenggam erat tangan kanan Savana di atas paha mereka.Cengkeraman itu tidak menyakiti, melainkan terasa hangat, hangat yang memab

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status