LOGINSavana perlahan meletakkan ponselnya di atas taplak meja linen yang bersih, jemarinya sedikit gemetar. Pikirannya masih dipenuhi suara melengking Valerie dan bayangan wajah Karin yang penuh amarah. Ia menatap Hanggara dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara ketakutan dan rasa bersalah yang kini menghimpit dadanya."Ada apa?" tanya Hanggara tenang, meletakkan gelas anggurnya. Ia menatap Savana dengan tatapan yang seolah mampu menembus pikiran wanita itu.Savana menelan ludah, suaranya tercekat. "Valerie... dia bilang Dokter Karin sekarang sedang mengamuk di rumah sakit. Dia mendatangi bagian HRD dan manajemen, memaksa mereka membuka data absensi hari ini. Dia sedang memburu siapa pun staf perempuan yang tidak masuk kerja dan sedang berada di sini, Dokter."Hanggara justru tertawa kecil. Tawa itu tidak terdengar mengejek, melainkan tawa pria yang merasa situasi tersebut hanyalah masalah sepele yang bisa ia selesaikan dengan satu jentikan jari. Ia meraih tangan Savana di ata
"Dokter! Dokter, bertahanlah! Saya panggilkan ambulans sekarang, ya?!" jerit Savana histeris. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat melihat pria yang biasanya tampil gagah dan tak tersuntik kelemahan itu kini merintih kesakitan. Jemari Savana yang gemetar buru-buru meraih ponsel di atas meja, berniat menghubungi nomor darurat hotel.Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, sebuah cengkeraman erat dan dingin meremas pergelangan tangannya. Hanggara menggelengkan kepala dengan napas yang terengah-engah, peluh dingin tampak membasahi pelipis dan dadanya yang bertelanjang."Tidak usah... Jangan panggil siapa pun," pangkas Hanggara dengan suara parau yang amat lemah. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapat seraya memijat pangkal hidungnya. "Aku tidak apa-apa. Cuma butuh tenang sebentar.""Tapi Dokter kelihatan kesakitan sekali!" celetuk Savana penuh kekhawatiran. Ia berlutut di samping sofa, mengusap peluh di dahi Hanggara menggunakan uju
Napas Savana masih bertaburan kasar di dada bidang Hanggara yang naik turun teratur. Di atas ranjang king size yang kini berantakan itu, keduanya berbaring berdekatan di balik selimut tebal. Lengan kokoh Hanggara melingkar posesif di pinggang Savana, merengkuh tubuh mungil yang tampak begitu kontras di samping tubuh tegapnya. Keheningan yang hangat merayapi kamar presidential suite tersebut, menyisakan jejak percintaan panas yang baru saja usai.Beberapa menit berlalu dalam dekapan tenang, hingga Savana perlahan menggerakkan bahunya. Ia berusaha beranjak duduk, berniat menyibak selimut yang membungkus tubuh polosnya. Namun, belum sempat kakinya menyentuh tepi ranjang, pergelangan tangannya ditarik kembali dalam satu gerakan cepat.Brak.Savana kembali telentang di atas kasur, dan dalam sekejap mata tubuh tegap Hanggara sudah kembali berada di atasnya, menatapnya dari jarak beberapa senti saja."Mau ke mana?" tanya Hanggara dengan nada bariton yang masih serak dan dalam."M-mandi, Dokt
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Savana untuk merangkai kebohongan baru, Hanggara bertindak cepat. Pria itu menyusupkan satu tangannya ke balik lutut Savana dan tangan lainnya di pinggang, lalu dalam satu gerakan cepat dan bertenaga, ia mengangkat tubuh wanita itu dan menyampirkannya begitu saja di atas pundak tegapnya seperti membawa karung beras."Dokter! Astaga, Dokter Hanggara! Lepaskan!" jerit Savana terkejut bukan main. Pandangannya seketika terbalik, menatap punggung mantel tegap Hanggara dan aspal trotoar Paris yang berada tepat di bawah matanya. "Dokter, malu dilihat orang-orang! Turunkan saya!"Savana memukul-mukul punggung Hanggara dengan kepalan tangan kecilnya, namun pria itu sama sekali tak bergeming. Langkah kaki Hanggara tetap lebar, tegap, dan penuh dominasi menyusuri trotoar kembali menuju hotel mereka."Dokter, mau dibawa ke mana saya?!" cecar Savana lagi dengan napas memburu, panik melanda seluruh dadanya."Kembali ke hotel," jawab Hanggara singkat, nada s
Pagi harinya, pesona kota Paris yang begitu klasik dan memanjakan mata langsung menyambut Savana begitu ia menyingkap tirai jendela presidential suite. Hamparan bangunan berasitektur megah bergaya Haussmann, deretan pepohonan yang berjejer rapi di sepanjang jalan Champs-Élysées, serta siluet Menara Eiffel yang menjulang elegan di kejauhan membuat wanita itu memekik tertahan. Seumur hidupnya, menginjakkan kaki di luar negeri, apalagi di Benua Eropa, adalah mimpi yang bahkan tak berani ia bayangkan. Kini, ia benar-benar bernapas di udara Paris, dan kenyataan itu membuat kebahagiaannya membumbung tak terkendali.Tanpa membuang waktu lebih lama, Savana segera bersiap dan menyeret Hanggara keluar dari hotel. Ia mengenakan mantel musim semi berwarna krem tebal yang sudah disiapkan oleh sang direktur, lengkap dengan syal rajut yang membungkus lehernya dari hembusan angin dingin yang menusuk tulang.Begitu sepasang kaki mereka menapak di trotoar berbatu yang luas, energi Savana seolah meledak
Pesawat jet pribadi itu akhirnya mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle, Paris, sewaktu fajar baru saja menyingsing. Tanpa buang waktu, Hanggara membawa Savana menggunakan mobil sedan mewah yang melaju kencang membelah dinginnya kota menuju sebuah hotel bintang lima paling eksklusif di kawasan Champs-Élysées.Begitu pintu presidential suite tertutup rapat, Hanggara langsung menarik tubuh Savana ke dalam dekapannya. Pria itu menyergap bibir Savana dengan ciuman yang teramat menuntut, panas, dan sarat akan gairah liar yang sudah ditahannya sejak di Jakarta."Nghh... D-Dokter..." Savana merancac pasrah, jemarinya mengepal di dada bidang Hanggara sewaktu pria itu terus menghujani leher dan rahangnya dengan kecupan-kecupan memabukkan.Hanggara tak membiarkan wanita itu meloloskan diri. Ia mendorong tubuh Savana hingga rebah ke atas ranjang berukuran king size yang empuk. Pria itu langsung mengungkung tubuh Savana di bawah dominasinya, menggerayangi pinggang serta paha wanita itu denga







