Share

Bab 43

Author: Hiro Sayank
last update publish date: 2026-08-04 13:31:27

Petugas resort itu menunduk sopan satu kali lagi sebelum pamit undur diri, meninggalkan Savana seorang diri di atas hamparan pasir putih yang sunyi.

Dengan debaran dada yang bergemuruh tak beraturan, langkah kaki Savana terasa begitu berat saat ia memberanikan diri berjalan mendekati Hanggara. Pria itu masih duduk tenang di atas kursi pantai mewahnya, tampak amat dominan dan penuh pesona dalam balutan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka santai.

Savana akhirnya menghentikan langkah t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mawarr
bakal d terkam habis2an kmu Savana
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
thor up jam brp lo aqu uda nungguin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 106

    Sore harinya....Savana sudah berada di rumahnya, sibuk berkutat di dapur kecilnya yang beraroma sedap. Ia memotong bumbu dan menyiapkan bahan masakan untuk makan malam sebelum Bara kembali dari rumah sakit.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel di atas meja dapur bergetar singkat. Savana menyapu keringat tipis di dahinya seraya menyambar benda tersebut. Sebuah pesan singkat dari Hanggara terpampang di layar.[Sudah sampai di rumah? Jangan lupa istirahat, Savana.]Jemari Savana bergerak cepat mengetik balasan. [Sudah, Dokter. Ini saya sedang memasak makan malam di dapur.]Tak sampai lima detik kemudian, layar ponselnya mendadak berubah menampilkan panggilan video masuk dari pria yang sama. Savana meremas kain lap dapur dengan jantung berdebar kencang. Ia enggan menerimanya, selain karena sebentar lagi Bara akan pulang, Hanggara sering kali bersikap nekat dan melakukan hal-hal yang membuat bulu kuduknya berdiri sewaktu melakukan panggilan video.Savana membiarkan panggilan itu berdering hingga mati

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 105

    Beberapa menit sebelum panggilan menegangkan itu terjadi.Di dalam ruangan kerja eksekutif lantai atas, Hanggara tampak fokus memeriksa tumpukan berkas dokumen rumah sakit yang menumpuk di atas meja mahoninya. Keheningan ruangan yang tenang itu mendadak terpecah oleh denting getaran ponsel yang cukup kencang.Hanggara menaikkan sebelah alisnya, menghentikan ketukan pulpennya. Ia meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping laptop, namun layarnya gelap gulita. Getaran itu bukan berasal dari ponsel miliknya.Sambil mengecap bibirnya kaku, Hanggara beranjak berdiri. Manik mata tajamnya mengedar menyapu setiap sudut ruangan hingga pandangannya jatuh ke area karpet di bawah meja kerja. Di sana, sebuah ponsel berpelindung merah muda tergeletak pasrah.Ponsel milik Savana. Benda itu pasti terlepas dan terjatuh sewaktu ia memangku dan mencumbui wanita itu dengan beringas tadi pagi.Hanggara membungkuk, menyambar benda pipih tersebut. Saat layarnya menyala, sebuah notifikasi pesan masuk

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 104

    "Maksudmu Savana si cleaning service itu?!"Karin membelalakkan matanya lebar-lebar sebelum akhirnya tawa renyah yang sarat akan nada hinaan pecah memenuhan isi ruangan kerjanya. Dokter cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi berputar, tertawa geli hingga membungkuk seolah baru saja mendengar lelucon konyol paling bodoh sepanjang hidupnya."Astaga, kamu ini membuang-buang waktuku saja!" kekeh Karin seraya menyapu air mata fiktif di sudut matanya. "Mana mungkin Hanggara sudi menyentuh wanita rendahan, norak, dan miskin seperti Savana?! Selera Hanggara itu kelas atas, bukan sampah seperti dia! Kamu pikir aku bisa kamu bodohi begitu saja?"Petugas cleaning service itu panik, melangkah lebih dekat dengan wajah memerah. "Saya tidak bohong, Dokter Karin! Saya mendengar sendiri pengakuan Savana di dalam ruangan kami! Dia cerita bagaimana awal mula mereka bertemu di hotel berbintang, salah masuk kamar, sampai hubungan gelap mereka berlanjut di ruangan Pak Direktur selama ini!"Raut wajah

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 103

    Setelah menumpahkan seluruh rahasia tergelap yang selama ini menghimpit dadanya, Savana menarik napas panjang seraya menyapu sisa-sisa kegugupan di wajahnya. Ia mengusap sudut matanya pelan, membetulkan letak seragam birunya yang sedikit kusut, lalu menatap Valerie."Aku harus lanjut bekerja sekarang, Valerie," tutur Savana dengan suara yang masih agak parau. "Aku mau mengecek area lobi depan dulu, memastikan anak-anak mengerjakan tugasnya dengan benar."Valerie menatap sahabatnya dengan tatapan campur aduk, antara cemas, kasihan, dan masih terperangah. Namun, ia akhirnya hanya mampu mengangguk pelan. "Iya, Savana, hati-hati. Ingat, jaga sikapmu di luar."Savana melangkah beranjak, mendorong pintu ruangan cleaning service dan melangkah keluar menuju lorong utama. Tanpa ia ketahui, begitu pintu luar berderit tertutup, pintu bilik toilet paling ujung perlahan terbuka dengan engsel yang berbunyi halus.***Menyusuri koridor rumah sakit yang serba putih dan beraroma antiseptik tajam, Sava

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 102

    Valerie menutup mulutnya erat-erat, matanya membelalak lebar seolah irisnya hendak melompat keluar. "J-jadi tebakanku benar?! Kamu wanita yang selama ini dekat dengan Pak Hanggara?!"Savana menarik napas panjang yang terasa menyiksa. Kepalanya tertunduk makin dalam, meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, Valerie... itu aku."Valerie menggeleng-gelengkan kepala dengan raut tak percaya. Ia memajukan duduknya, mencengkeram kedua bahu Savana dengan gemetar. "Tapi bagaimana bisa, Savana?! Kamu kan sudah menikah, kamu kan istrinya Dokter Bara! Bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan terlarang dan sesat seperti ini sama Pak Direktur?"Mendengar nama suaminya disebut, raut wajah Savana seketika mengeras. Kepedihan, kebencian, dan rasa terhina yang selama bertahun-tahun ia pendam mendadak meluap mendidih di dadanya. "Mas Bara yang lebih dulu mengkhianatiku dan membunuh harga diriku, Valerie," desis Savana dengan suara bergetar menahan ama

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 101

    Tangan kekar Hanggara terus menyusup bebas di balik seragam biru tipis yang kini makin berantakan. Jemarinya meremas pinggang payudara dan seluruh lekuk tubuh Savana dengan dominasi tanpa ampun, menuntut kepatuhan mutlak dari wanita di pangkuannya. Desah napas memburu dan sentuhan intens pria itu memacu detak jantung Savana hingga terasa kencang di balik dada."D-Dokter... hentikan, saya mohon..." cicit Savana serak, berusaha memegang kedua pergelangan tangan Hanggara yang terus menggerayangi tubuhnya.Hanggara justru makin gila, menenggelamkan wajahnya di leher halus Savana, memberi gigitan-gigitan kecil yang menyesakkan. "Tidak akan," bisik Hanggara parau, intonasinya kaku namun penuh dengan gairah yang membakar. "Selama kamu masih meragukanku, selama kamu belum mempercayaiku sepenuh hati, saya akan terus menghukummu seperti ini, Savana."Savana memejamkan mata erat-erat. Himpitan tubuh tegap Hanggara di atas meja kerja dan serangannya yang tiada henti membuat pertahanan dirinya run

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status