LOGINBara berbalik dengan sangat cepat, menatap Savana dengan tatapan mata yang menajam penuh keterkejutan sekaligus amarah yang tidak lagi ditutup-tutupi. Bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang memburu.
"Kerja? Maksud kamu apa tiba-tiba bilang mau kerja?” cecar Bara dengan nada suara yang lebih tinggi. Savana hanya terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Bara. Hal itu membuatnya semakin naik pitam. "Ngapain kamu harus kerja? Istri itu tugasnya di rumah, melayani suami! Lagi pula, urusan rumah ini saja banyak yang nggak bener, kan!" tambah Bara. Hati Savana semakin panas mendengarnya. Genggamannya di tas semakin erat. Ia tahu betul bahwa selama tiga tahun ini, seluruh sudut rumah mewah ini selalu dibersihkannya dengan sangat bagus, rapi, dan teratur tanpa cela sedikit pun. Semua tuduhan Bara hanyalah alasan yang dicari-cari untuk menjatuhkan mentalnya. Tetapi Savana harus tetap bertahan dan tak menyela untuk sekarang. Posisinya sekarang masih sangatlah lemah. Ia tidak boleh mengacaukannya sampai rencananya berhasil. Melihat istrinya hanya membisu seperti patung, Bara melangkah mendekat dengan angkuh, mengintimidasi ruang gerak Savana. "Memangnya kamu kerja apa, Savana? Apa yang bisa kamu lakukan dengan dirimu itu?" ejek Bara. Savana membalas tatapan suaminya itu. Berusaha agar tidak terlihat gentar di hadapannya. "Aku bekerja sebagai petugas kebersihan, Mas," jawab Savana dengan suara yang berusaha lantang. "Petugas kebersihan? Cleaning service maksud kamu?" Savana mengangguk. Bara seketika tertawa lantang. Bergema di ruang tengah yang sunyi itu. Savana tahu tawa yang dilontarkan Bara sekarang adalah tawa penuh ejekan dan merendahkannya. Rasa sesak segera menjalari dadanya dan tangannya yang memegang tas mulai bergetar. Tahan. Ia tidak boleh runtuh sekarang. Sebentar lagi pembicaraan ini akan selesai, ia hanya perlu bertahan sedikit lagi. Bara menghentikan tawanya dengan desahan panjang dan berat. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini memang memalukan, Savana," desis Bara menusuk hati Savana. Pria itu lalu mengangkat dagunya. Sorot wajahnya menggelap. "Baiklah, terserah kamu saja. Tapi awas saja kalau pekerjaan rendahanmu itu sampai mempermalukan namaku. Aku akan langsung mengeluarkanmu dari sini, paham?" "Iya, Mas. Aku paham," sahut Savana pelan. Setelah mendengar jawaban patuh dari istrinya, Bara mendengus jijik. Ia membalikkan badan, lalu melangkah kasar menaiki tangga menuju kamarnya tanpa memedulikan perasaan Savana yang hancur berantakan. *** Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerangi area koridor belakang Rumah Sakit Harapan. Savana berjalan menyusuri lorong yang berbau karbol itu dengan seragam barunya yang tampak sedikit kebesaran di tubuh mungilnya. Di sampingnya, berjalan seorang wanita bernama Valerie, sahabat dekatnya sejak SMA yang memiliki gaya bicara dan penampilan kebarat-baratan yang modis. Valerie sudah bekerja lebih dulu di rumah sakit ini sebagai petugas kebersihan senior. Dia lah yang memberitahukan lowongan petugas kebersihan ini ke Savana ketika dia sedang mencari pekerjaan. Berkat itu, Savana akhirnya bisa diterima bekerja di sini. "Sav, kamu beneran sudah diizinkan sama Dokter Bara buat kerja di sini?" tanya Valerie sambil menata letak sabuk seragamnya dengan rapi. Setahu Valerie dan orang-orang luar, Bara melarang Savana bekerja. Alasannya semata-mata karena tidak ingin istri tercintanya kelelahan dan jatuh sakit. Padahal aslinya, Bara hanya ingin mengekang Savana di rumah saja agar dia mudah mengontrolnya. Pria itu memang pandai berakting di depan publik, bahkan sahabatnya sampai tertipu. Savana yang menanggung malu dan aib rumah tangganya sendiri terpaksa menyusun kebohongan baru di depan sahabatnya. "Iya, Val. Mas Bara sudah mengizinkanku bekerja kok sekarang," jawab Savana dengan seulas senyum yang dipaksakan muncul. "Syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu khawatir kalian bertengkar saat bertemu nanti,” kekeh Valerie membuat senyum Savana memudar. Benar, Rumah Sakit Harapan ini sebenarnya adalah tempat kerja Bara. Savana sengaja tidak memberitahukannya ke Bara kemarin. Ia tahu pria itu pasti akan langsung membuatnya keluar jika mengetahui mereka satu tempat kerja. Ucapan Valerie tadi menyadarkannya lagi kalau ia harus berhati-hati agar tidak bertemu Bara di sini. “Ayo, briefing pagi sudah mau dimulai," ajak Valerie menarik tangan Savana lembut. * Setelah menyelesaikan sesi briefing singkat yang dipimpin langsung oleh kepala bagian administrasi kebersihan di ruangan bawah, Savana dan Valerie segera mengambil peralatan mereka. Savana memegang tongkat pel dengan erat, bersiap menuju area yang ditugaskan. Mereka berdua diminta untuk membersihkan koridor utama di lantai dua. Dengan langkah sedikit terburu-buru, Savana berjalan beriringan bersama Valerie yang membawa sapu di tangannya menuju lift. Namun, baru saja mereka keluar dari lift dan mulai melangkah menyusuri koridor panjang lantai dua, pandangan Savana langsung terpaku pada sosok yang berjalan dari arah berlawanan. Sosok itu adalah seorang perawat pria senior. Langkahnya santai tapi raut wajahnya terlihat serius membaca selembar dokumen di tangannya. Meski wajahnya sedikit tertutupi rambutnya karena ia tengah menunduk, Savana langsung mengenali sosok itu. Ingatannya langsung berputar ke malam kemarin, saat ia melihat sosok itu bercumbu bersama Bara. Tidak salah lagi. Perawat itu adalah Alex. Pacar simpanan Bara. Jantung Savana seolah berhenti berdetak sesaat. Ia berusaha tidak memedulikan pria itu ketika mereka melewatinya. Tapi, sialnya Valerie justru menyapanya. "Pagi, Mas Alex," sapa Valerie dengan ramah sembari menganggukkan kepalanya. Alex segera menghentikan langkahnya. Kepalanya tertoleh dan Savana bisa melihat lebih jelas wajahnya sekarang.Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara celah dedaunan rindang di taman belakang Rumah Sakit Utama. Savana duduk sendirian di atas kursi besi yang dingin. Tatapan matanya kosong menembus rumput-rumput hijau yang basah oleh embun.Jemari halusnya yang gemetar tak berhenti mengusap sebentuk cincin bermata berlian melingkar anggun di jari manisnya, cincin pertunangan pemberian Hanggara sebelum musibah ini terjadi."Kenapa harus seperti ini, Tuhan...?" bisik Savana dengan suara parau yang amat teriris. Air mata panas kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan berlian yang berkilau.Savana meremas jarinya sendiri, merasakan dinginnya logam cincin itu menembus dadanya. "Hanggara, bagaimana bisa kamu melupakan aku begitu saja? Bagaimana bisa semua kenangan kita, janji-janji manis kita, dan tatapan matamu yang penuh cinta itu hilang tanpa sisa dalam semalam?"Rasa tidak terima memuncak membakar seluruh kesadarannya."Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak akan membiarkan wanita u
Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den
Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de
Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan
Berhari-hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang menimpa Hanggara, namun tak sedikit pun menyurutkan kesetiaan Savana. Wanita itu menolak untuk beranjak dari ruang perawatan VIP tempat calon suaminya terbaring koma. Bagi Savana, ruangan beraroma antiseptik itu kini telah menjadi dunianya.Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Savana sudah bangun. Dengan telaten dan penuh rasa kasih, ia mengelap tubuh tegap Hanggara menggunakan waslap basah berair hangat. Jemari halusnya menyapu perlahan dada bidang yang dulu kerap memeluknya erat, membersihkan setiap inci kulit pria itu dari debu dan keringat dengan kelembutan yang teramat sangat.Savana juga rutin merapikan rambut hitam Hanggara, memotong kuku-kuku jarinya dengan hati-hati, hingga mengoleskan pelembab pada bibir sang dokter yang pucat dan kering. Ia tak pernah membiarkan penampilan Hanggara tampak kusam sedikit pun.Tak hanya merawat fisiknya, Savana terus mengajak Hanggara berbicara sepanjang hari. Sembari memijat l
Hari berikutnya... Suasana di dalam ruang perawatan Intensive Care Unit (ICU) terasa begitu sunyi dan dingin, hanya didominasi oleh denting konstan dari monitor pendeteksi jantung serta deru halus mesin respirator.Savana duduk di kursi samping tempat tidur medis. Wajahnya yang pucat nampak begitu tirus, dengan lingkaran hitam tebal mengitari matanya yang sembap. Ia mengenakan pakaian kasual kusam, sama sekali tak memedulikan penampilannya sendiri sejak peristiwa mengerikan kemarin.Jemari halus Savana bergerak gemetar, menggenggam erat telapak tangan kanan Hanggara yang terbebat jarum infus dan terasa begitu dingin. Di atas ranjang, tubuh tegap yang biasanya memancarkan dominasi dan kekuasaan mutlak itu kini terbaring lemah tak berdaya. Kepala Hanggara terbungkus perban putih tebal, sementara selang pernapasan terpasang menutupi mulut dan hidungnya.Air mata yang seolah tak pernah kering kembali menetes pelan dari sudut mata Savana, jatuh tepat di atas jemari kekar Hanggara."Hangga







