Share

Bab 3

Author: Hiro Sayank
last update publish date: 2026-07-17 12:26:30

Bara berbalik dengan sangat cepat, menatap Savana dengan tatapan mata yang menajam penuh keterkejutan sekaligus amarah yang tidak lagi ditutup-tutupi. Bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang memburu.

"Kerja? Maksud kamu apa tiba-tiba bilang mau kerja?” cecar Bara dengan nada suara yang lebih tinggi. 

Savana hanya terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Bara. Hal itu membuatnya semakin naik pitam.

"Ngapain kamu harus kerja? Istri itu tugasnya di rumah, melayani suami! Lagi pula, urusan rumah ini saja banyak yang nggak bener, kan!" tambah Bara.

Hati Savana semakin panas mendengarnya. Genggamannya di tas semakin erat.

Ia tahu betul bahwa selama tiga tahun ini, seluruh sudut rumah mewah ini selalu dibersihkannya dengan sangat bagus, rapi, dan teratur tanpa cela sedikit pun. Semua tuduhan Bara hanyalah alasan yang dicari-cari untuk menjatuhkan mentalnya.

Tetapi Savana harus tetap bertahan dan tak menyela untuk sekarang. Posisinya sekarang masih sangatlah lemah. Ia tidak boleh mengacaukannya sampai rencananya berhasil.

Melihat istrinya hanya membisu seperti patung, Bara melangkah mendekat dengan angkuh, mengintimidasi ruang gerak Savana.

"Memangnya kamu kerja apa, Savana? Apa yang bisa kamu lakukan dengan dirimu itu?" ejek Bara. 

Savana membalas tatapan suaminya itu. Berusaha agar tidak terlihat gentar di hadapannya.

"Aku bekerja sebagai petugas kebersihan, Mas," jawab Savana dengan suara yang berusaha lantang.

"Petugas kebersihan? Cleaning service maksud kamu?"

Savana mengangguk. Bara seketika tertawa lantang. Bergema di ruang tengah yang sunyi itu.

Savana tahu tawa yang dilontarkan Bara sekarang adalah tawa penuh ejekan dan merendahkannya. Rasa sesak segera menjalari dadanya dan tangannya yang memegang tas mulai bergetar.

Tahan. Ia tidak boleh runtuh sekarang. Sebentar lagi pembicaraan ini akan selesai, ia hanya perlu bertahan sedikit lagi.

Bara menghentikan tawanya dengan desahan panjang dan berat. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Kamu ini memang memalukan, Savana," desis Bara menusuk hati Savana. Pria itu lalu mengangkat dagunya. Sorot wajahnya menggelap.

"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi awas saja kalau pekerjaan rendahanmu itu sampai mempermalukan namaku. Aku akan langsung mengeluarkanmu dari sini, paham?"

"Iya, Mas. Aku paham," sahut Savana pelan.

Setelah mendengar jawaban patuh dari istrinya, Bara mendengus jijik. Ia membalikkan badan, lalu melangkah kasar menaiki tangga menuju kamarnya tanpa memedulikan perasaan Savana yang hancur berantakan.

***

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerangi area koridor belakang Rumah Sakit Harapan. Savana berjalan menyusuri lorong yang berbau karbol itu dengan seragam barunya yang tampak sedikit kebesaran di tubuh mungilnya.

Di sampingnya, berjalan seorang wanita bernama Valerie, sahabat dekatnya sejak SMA yang memiliki gaya bicara dan penampilan kebarat-baratan yang modis.

Valerie sudah bekerja lebih dulu di rumah sakit ini sebagai petugas kebersihan senior. Dia lah yang memberitahukan lowongan petugas kebersihan ini ke Savana ketika dia sedang mencari pekerjaan.

Berkat itu, Savana akhirnya bisa diterima bekerja di sini.

"Sav, kamu beneran sudah diizinkan sama Dokter Bara buat kerja di sini?" tanya Valerie sambil menata letak sabuk seragamnya dengan rapi.

Setahu Valerie dan orang-orang luar, Bara melarang Savana bekerja. Alasannya semata-mata karena tidak ingin istri tercintanya kelelahan dan jatuh sakit.

Padahal aslinya, Bara hanya ingin mengekang Savana di rumah saja agar dia mudah mengontrolnya. Pria itu memang pandai berakting di depan publik, bahkan sahabatnya sampai tertipu.

Savana yang menanggung malu dan aib rumah tangganya sendiri terpaksa menyusun kebohongan baru di depan sahabatnya.

"Iya, Val. Mas Bara sudah mengizinkanku bekerja kok sekarang," jawab Savana dengan seulas senyum yang dipaksakan muncul.

"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu khawatir kalian bertengkar saat bertemu nanti,” kekeh Valerie membuat senyum Savana memudar.

Benar, Rumah Sakit Harapan ini sebenarnya adalah tempat kerja Bara. Savana sengaja tidak memberitahukannya ke Bara kemarin. Ia tahu pria itu pasti akan langsung membuatnya keluar jika mengetahui mereka satu tempat kerja.

Ucapan Valerie tadi menyadarkannya lagi kalau ia harus berhati-hati agar tidak bertemu Bara di sini.

 “Ayo, briefing pagi sudah mau dimulai," ajak Valerie menarik tangan Savana lembut.

*

Setelah menyelesaikan sesi briefing singkat yang dipimpin langsung oleh kepala bagian administrasi kebersihan di ruangan bawah, Savana dan Valerie segera mengambil peralatan mereka.

Savana memegang tongkat pel dengan erat, bersiap menuju area yang ditugaskan. Mereka berdua diminta untuk membersihkan koridor utama di lantai dua.

Dengan langkah sedikit terburu-buru, Savana berjalan beriringan bersama Valerie yang membawa sapu di tangannya menuju lift.

Namun, baru saja mereka keluar dari lift dan mulai melangkah menyusuri koridor panjang lantai dua, pandangan Savana langsung terpaku pada sosok yang berjalan dari arah berlawanan. 

Sosok itu adalah seorang perawat pria senior. Langkahnya santai tapi raut wajahnya terlihat serius membaca selembar dokumen di tangannya. 

Meski wajahnya sedikit tertutupi rambutnya karena ia tengah menunduk, Savana langsung mengenali sosok itu. Ingatannya langsung berputar ke malam kemarin, saat ia melihat sosok itu bercumbu bersama Bara.

Tidak salah lagi. Perawat itu adalah Alex. Pacar simpanan Bara.

Jantung Savana seolah berhenti berdetak sesaat. Ia berusaha tidak memedulikan pria itu ketika mereka melewatinya. Tapi, sialnya Valerie justru menyapanya.

"Pagi, Mas Alex," sapa Valerie dengan ramah sembari menganggukkan kepalanya.

Alex segera menghentikan langkahnya. Kepalanya tertoleh dan Savana bisa melihat lebih jelas wajahnya sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mawarr
akhirnya berhadapan langsung sama selingkuhan suami
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 88

    Tudingan tajam yang meluncur mulus dari bibir Bara seketika membuat pasokan udara di paru-paru Savana terasa tersumbat. Jantungnya berdegup brutal, namun ia memaksakan diri mempertahankan ekspresi wajah sejujur mungkin demi menyembunyikan kenyataan bahwasanya sosok yang dituduhkan Bara saat ini benar-benar sedang bersembunyi di bawah tempat tidurnya."Jangan asal bicara, Mas!" potong Savana dengan nada suara berpura-pura tersinggung dan tegar. "Mana mungkin aku berbuat serendah itu? Jangan menyamakan aku dengan kelakuan burukmu di luar sana!"Mendengar sanggahan tajam itu, raut wajah Bara mendadak berubah. Kilasan keputusan Savana yang ingin meninggalkannya, serta tekad kuatnya untuk berpura-pura menjadi suami yang baik seketika meredam emosinya. Bara tersadar bahwasanya ia tidak boleh memicu pertengkaran baru jika ingin memperbaiki hubungan mereka.Pria itu menghela napas panjang, lalu tersenyum kaku seraya menepuk dahi pelan. "Maaf, Savana. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku tahu ka

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 87

    Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menyapa mata Savana yang perlahan terbuka. Sensasi hangat dan napas teratur yang berembus di ceruk lehernya membuat Savana tersadar. Di sampingnya, Hanggara masih tertidur pulas dalam posisi menyamping, melingkarkan lengan kokohnya erat-erat di pinggang Savana yang bertelanjang polos sejak semalam.Perlahan, ingatan Savana pulih sepenuhnya. Matanya membelalak lebar sewaktu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi."Dokter... Dokter Hanggara, bangun..." bisik Savana panik, menepuk-nepuk pelan lengan tegap yang melingkari tubuhnya. "Dokter, bangun... Hari sudah pagi, Dokter harus segera pergi dari sini!"Bukannya bergeming, Hanggara justru menggeram rendah, makin membenamkan wajahnya di leher hangat Savana dan memperketat dekapan lengannya.Savana mulai sedikit memberontak, mencoba mengurai cengkeraman lengan itu. "Dokter, tolong. Nanti Mas Bara melihat Dokter di sini! Lagipula, apa Dokter tidak ke rumah sakit? Saya j

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 86

    Napas Hanggara berembus makin panas saat bibirnya meluncur turun dari bibir Savana, menyusuri garis rahang lalu menyesap leher jenjang wanita itu dengan lapar. Jemarinya yang kekar bergerak sigap, menyusup ke balik daster yang baru saja dikenakan Savana dan melucutinya tanpa ampun hingga kain itu terperosok jatuh ke lantai."Siapa yang menyuruhmu memakai baju ini kembali, hm?" bisik Hanggara parau di ceruk leher Savana, diiringi hisapan menuntut yang meninggalkan bekas keunguan yang kontras di kulit mulus wanita itu.Savana hanya bisa melenguh pasrah sewaktu jemari Hanggara beralih meluncur ke bawah, meremas kuat bokong mulusnya. Sementara itu, bibir sang direktur terus melahap kelembutan dadanya, menyapu dan melumat pucuk payudara Savana yang menegang."D-Dokter... hhh... pelan-pelan..." bisik Savana panik, menahan desahannya agar tak menembus dinding kamar, khawatir Bara yang berada di ruangan lain mendengar ketukan gairah mereka.Namun, Hanggara seolah pekak oleh kebuasan gairahnya

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 85

    Di tempat lain di dalam rumah yang sama, keheningan melingkupi kamar tidur utama yang dihuni oleh Bara. Pria itu bersandar santai di kepala ranjang, memegang ponsel pintarnya dengan tatapan fokus. Jemarinya bergerak lincah menelusuri menu pengaturan, lalu membuka sebuah folder rahasia bermateri terkunci yang ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun.Di dalam folder tersembunyi itu, tersimpan puluhan koleksi foto kebersamaannya dengan Alex. Bara menggeser layar satu per satu, memperhatikan jepretan kenangan mereka, mulai dari momen kemesraan biasa saat berlibur, hingga foto-foto vulgar dan adegan hubungan intim yang pernah mereka lakukan bersama secara tersembunyi.Bara menatap layar itu dengan dalam, mencoba memancing kembali gairah dan hasrat yang belakangan ini mendadak padam. Ia berharap rekaman visual kenangan liarnya bersama Alex bisa membakar kembali gairahnya yang kian mendingin. Namun, sebanyak apa pun foto syur Alex yang ia pandangi, tubuhnya tetap bergeming. Tidak ada senga

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 84

    Perintah dingin yang dilontarkan Hanggara dengan tatapan penuh intensitas itu membuat dada Savana berdebar tak karuan. Keraguan mendalam menahannya untuk bergerak. Bibirnya menyunggingkan senyum canggung, bermaksud mencari celah untuk menghindar."D-Dokter... aku takut. Bagaimana kalau nanti ada yang melihat?" bisik Savana pelan, jemarinya meremas selimut erat-erat."Aku tidak menerima penolakan, Savana. Lepas pakaianmu sekarang," titah Hanggara tanpa memberi ruang untuk negosiasi, suaranya berat dan mengikat.Savana menggigit bibir bawahnya, akhirnya meluluh pada dominasi pria yang amat dicintainya itu. "B-baiklah... tapi aku melepaskan pakaianku di kamar ganti saja ya, Dokter.""Tidak. Jangan coba-coba bersembunyi. Lepas di depanku, di depan kamera ponselmu," potong Hanggara tegas, mengunci fokus pandangannya pada layar.Tak punya pilihan lain, Savana akhirnya patuh. Dengan tangan sedikit gemetar, ia beranjak dari ranjang dan berjalan pelan menuju meja rias. Ia menyandarkan ponselny

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 83

    "Maaf, Mas. Jangan membicarakan hal itu," bisik Savana parau di sela-sela batuknya.Bara dengan sigap menggeser duduknya mendekat, menepuk-nepuk pelan punggung Savana seraya menyodorkan gelas air. Dahinya berkerut dalam, memancarkan rasa heran sekaligus kebingungan. "Kenapa, Savana? Kenapa aku tidak boleh membicarakan hal ini? Bukankah wajar jika sepasang suami istri merencanakan kehadiran seorang anak? Lagipula, Mama dan Papaku menginginkannya."Savana meneguk air putihnya hingga tandas, berusaha membasuh rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menepis pelan tangan Bara dari punggungnya, lalu menatap pria itu dengan pandangan dingin."Sejak kamu menolakku berkali-kali, aku sama sekali sudah tidak memiliki rencana seperti itu, Mas," tegas Savana, suaranya terdengar begitu berjarak. "Tidak untuk saat ini, dan tidak juga di masa depan."Bara terbelalak kaget. "Savana, dengar dulu__""Aku sudah kenyang, Mas. Permisi, aku mau ke kamar," potong Savana cepat.Tanpa menunggu balasan ata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status