Compartir

Bab 53

Autor: Hiro Sayank
last update Fecha de publicación: 2026-08-08 13:33:25

Wajah Savana seketika pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya saat sudut mata Kirana menatapnya curiga. Dengan jemari gemetar, Savana berusaha menautkan kembali kancing seragamnya yang salah posisi.

"M-maaf, Dokter. Tadi pagi saya terburu-buru saat memakai baju," cicit Savana pelan tanpa berani menatap wajah wanita anggun di hadapannya.

Melihat kecurigaan yang mulai terpancar di raut wajah Kirana, Hanggara dengan tenang langsung beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Ia
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waduh ketahuan gk ea
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 108

    Sinar matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai jendela. Savana perlahan mengecapkan bibirnya, membuka mata yang masih terasa berat. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, napasnya mendadak tertahan.Hanggara masih berbaring tepat di sampingnya.Lengan kekar pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya. Dalam posisi sedekat ini, Savana bisa melihat setiap detail paras sang direktur utama tanpa jarak. Dahi tegasnya, alis tebalnya yang rapi, hidung mancungnya yang sempurna, hingga bibir tipisnya yang terkatup rapat. Di bawah pendar pagi, Hanggara terlihat begitu menawan sekaligus tenang, sangat berbeda dari sosok angkuh yang ditakuti seluruh staf rumah sakit. Savana terpaku lama, diam-diam mengagumi ketampanan pria yang kini menguasai pikirannya tersebut.Namun, di tengah tatapan terpesonanya, kedua kelopak mata Hanggara mendadak terbuka perlahan. Manik mata tajam berwarna cokelat gelap itu langsung terkunci lurus pada netra Savana.Savana tersentak kaget, menyadari bahwa

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 107

    Sesosok bocah laki-laki berdiri mematung di tengah ruangan beraroma zat kimia tajam yang menyeruak menusuk penciuman. Tatapan matanya kosong, terkunci lurus pada dua pembaringan besi di hadapannya. Di atas bangsal dingin itu, dua sosok terbujur kaku tertutup kain putih yang tersingkap di bagian wajah, Ayah dan Ibunya.Di sudut ruangan, Nyonya Besar Suganda meraung menangis histeris, menumpahkan duka yang tak tertahankan atas kematian putra dan menantunya. Beberapa kerabat berjas hitam berdiri mengelilingi, menepuk-nepuk pundak Tuan Suganda seraya menyapu air mata fiktif di pipi mereka, berpura-pura terpukul demi menjaga kesopanan di hadapan sang penguasa bisnis.Namun, Hanggara kecil sama sekali tidak meneteskan air mata. Rasa syok yang teramat dahsyat menghantam kesadarannya hingga melumpuhkan seluruh inderanya. Otaknya menolak mempercayai bahwa dua sosok penyayang yang tadi pagi memeluknya kini telah menjadi jasad tak bernyawa. Keheningan yang menyiksa itu menarik jiwanya ke dasar j

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 106

    Sore harinya....Savana sudah berada di rumahnya, sibuk berkutat di dapur kecilnya yang beraroma sedap. Ia memotong bumbu dan menyiapkan bahan masakan untuk makan malam sebelum Bara kembali dari rumah sakit.Bzzzt... Bzzzt...Ponsel di atas meja dapur bergetar singkat. Savana menyapu keringat tipis di dahinya seraya menyambar benda tersebut. Sebuah pesan singkat dari Hanggara terpampang di layar.[Sudah sampai di rumah? Jangan lupa istirahat, Savana.]Jemari Savana bergerak cepat mengetik balasan. [Sudah, Dokter. Ini saya sedang memasak makan malam di dapur.]Tak sampai lima detik kemudian, layar ponselnya mendadak berubah menampilkan panggilan video masuk dari pria yang sama. Savana meremas kain lap dapur dengan jantung berdebar kencang. Ia enggan menerimanya, selain karena sebentar lagi Bara akan pulang, Hanggara sering kali bersikap nekat dan melakukan hal-hal yang membuat bulu kuduknya berdiri sewaktu melakukan panggilan video.Savana membiarkan panggilan itu berdering hingga mati

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 105

    Beberapa menit sebelum panggilan menegangkan itu terjadi.Di dalam ruangan kerja eksekutif lantai atas, Hanggara tampak fokus memeriksa tumpukan berkas dokumen rumah sakit yang menumpuk di atas meja mahoninya. Keheningan ruangan yang tenang itu mendadak terpecah oleh denting getaran ponsel yang cukup kencang.Hanggara menaikkan sebelah alisnya, menghentikan ketukan pulpennya. Ia meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di samping laptop, namun layarnya gelap gulita. Getaran itu bukan berasal dari ponsel miliknya.Sambil mengecap bibirnya kaku, Hanggara beranjak berdiri. Manik mata tajamnya mengedar menyapu setiap sudut ruangan hingga pandangannya jatuh ke area karpet di bawah meja kerja. Di sana, sebuah ponsel berpelindung merah muda tergeletak pasrah.Ponsel milik Savana. Benda itu pasti terlepas dan terjatuh sewaktu ia memangku dan mencumbui wanita itu dengan beringas tadi pagi.Hanggara membungkuk, menyambar benda pipih tersebut. Saat layarnya menyala, sebuah notifikasi pesan masuk

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 104

    "Maksudmu Savana si cleaning service itu?!"Karin membelalakkan matanya lebar-lebar sebelum akhirnya tawa renyah yang sarat akan nada hinaan pecah memenuhan isi ruangan kerjanya. Dokter cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi berputar, tertawa geli hingga membungkuk seolah baru saja mendengar lelucon konyol paling bodoh sepanjang hidupnya."Astaga, kamu ini membuang-buang waktuku saja!" kekeh Karin seraya menyapu air mata fiktif di sudut matanya. "Mana mungkin Hanggara sudi menyentuh wanita rendahan, norak, dan miskin seperti Savana?! Selera Hanggara itu kelas atas, bukan sampah seperti dia! Kamu pikir aku bisa kamu bodohi begitu saja?"Petugas cleaning service itu panik, melangkah lebih dekat dengan wajah memerah. "Saya tidak bohong, Dokter Karin! Saya mendengar sendiri pengakuan Savana di dalam ruangan kami! Dia cerita bagaimana awal mula mereka bertemu di hotel berbintang, salah masuk kamar, sampai hubungan gelap mereka berlanjut di ruangan Pak Direktur selama ini!"Raut wajah

  • Ketika Atasan Suamiku Mendekapku   Bab 103

    Setelah menumpahkan seluruh rahasia tergelap yang selama ini menghimpit dadanya, Savana menarik napas panjang seraya menyapu sisa-sisa kegugupan di wajahnya. Ia mengusap sudut matanya pelan, membetulkan letak seragam birunya yang sedikit kusut, lalu menatap Valerie."Aku harus lanjut bekerja sekarang, Valerie," tutur Savana dengan suara yang masih agak parau. "Aku mau mengecek area lobi depan dulu, memastikan anak-anak mengerjakan tugasnya dengan benar."Valerie menatap sahabatnya dengan tatapan campur aduk, antara cemas, kasihan, dan masih terperangah. Namun, ia akhirnya hanya mampu mengangguk pelan. "Iya, Savana, hati-hati. Ingat, jaga sikapmu di luar."Savana melangkah beranjak, mendorong pintu ruangan cleaning service dan melangkah keluar menuju lorong utama. Tanpa ia ketahui, begitu pintu luar berderit tertutup, pintu bilik toilet paling ujung perlahan terbuka dengan engsel yang berbunyi halus.***Menyusuri koridor rumah sakit yang serba putih dan beraroma antiseptik tajam, Sava

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status