แชร์

Bab 13. Janji Kecil Raline

ผู้เขียน: Magnolia Lily
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-21 11:24:57

"Raline... Raline... Bangun! Hujan mulai reda."

Merasa tidurnya terganggu, ia lantas membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah pucat Matthias.

"Tuan... Anda sakit?"

Raline menempelkan tangannya di kening Matthias dengan cemas. Panas. Suhu tubuhnya naik drastis. Sekarang dia menyesal kenapa harus tidur dan merasa nyaman sendirian sementara atasannya kesakitan.

'Dasar bodoh!' pekiknya dalam hati.

"Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku pasti sembuh."

Bohong.

Sebelum datang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 15. Pria Sulit Dimengerti

    "Tidak bisa. Makanlah sendiri, Matthias," ucapnya tegas. Karena ekspresi Raline benar-benar tak mau dibantah, Matthias menyerah. Dia mulai menyendok makanannya dengan tenang. Mereka duduk berhadapan, tak ada percakapan, hanya suara hujan turun yang mengisi kekosongan di antara mereka. Sampai akhirnya, Raline yang pertama bersuara. "Aku sudah meminta tolong ke Pak Ando untuk menyelesaikan perbaikan jalan secepatnya. Tapi rasanya ada yang aneh." "Apa yang aneh?" Matthias menanggapi sambil mengunyah makanannya. "Tahun ini jalan itu sudah diperbaiki sebanyak lima kali. Meskipun itu adalah jalan yang dilalui mobil pengangkut barang bangunan, bukankah kerusakannya terlalu cepat?" Kecurigaan Raline terdengar masuk akal. Apalagi pembangunan jalan menuju resort memakan biaya yang tidak sedikit. 5x dalam setahun terlalu gila. "Sepertinya banyak yang harus kita lakukan di tempat ini." Sang asisten mengangguk setuju. "Aku akan menyesuaikan jadwal supaya ketika kita pulang ke Jakarta

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 14. Sedikit Melunak

    "Saya benar-benar minta maaf, Bu Raline. Gara-gara saya, Pak Matthias dan Anda tersesat. Saya harusnya mengirim orang untuk mendampingi kalian."Pak Ando membungkuk, meminta maaf dengan tulus pada Raline yang saat ini tengah berada di depan kamar sang direktur yang tengah mendapat penanganan medis. Wanita itu belum bebenah diri, dia ingin memastikan Matthias dalam keadaan aman setelah mereka sampai di villa perusahaan. "Nggak apa-apa, Pak. Lagian Pak Matthias sendiri yang minta kunjungannya kali ini nggak perlu disambut banyak orang. Ini bukan salah siapa-siapa."Namun tetap saja Pak Ando takut. Ketika dia mendapat kabar kalau Matthias dan Raline belum juga sampai di lokasi proyek, dia langsung mengerahkan regu pencari bahkan helikopter untuk mencari mereka berdua. "Karena sudah begini, saya harap pembetulan jalan harus diutamakan. Bagaimanapun caranya, satu-satunya akses menuju lokasi tidak boleh seperti itu. Dan tambahkan juga petunjuk jalan."Pak Ando terdiam sejenak. "Sebenarn

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 13. Janji Kecil Raline

    "Raline... Raline... Bangun! Hujan mulai reda." Merasa tidurnya terganggu, ia lantas membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah pucat Matthias. "Tuan... Anda sakit?" Raline menempelkan tangannya di kening Matthias dengan cemas. Panas. Suhu tubuhnya naik drastis. Sekarang dia menyesal kenapa harus tidur dan merasa nyaman sendirian sementara atasannya kesakitan. 'Dasar bodoh!' pekiknya dalam hati. "Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku pasti sembuh." Bohong. Sebelum datang ke Sumba, Matthias memang sudah menunjukkan tanda-tanda sakit karena kelelahan terlalu banyak bekerja. Dia hanya sedang menahan diri dengan keras kepala. "Tidak bisa begitu. Ayo, kita harus pergi dari sini." Berbeda dengan wajah Matthias, Raline sudah sepenuhnya segar. Dia keluar dari pelukan Matthias membantu pria itu berdiri. Waktu menunjukkan pukul empat sore dan hujan lebat kini menyisakan rintik kecil yang masih sanggup mereka lalui. "Anda bisa berjalan?" Matthias tersenyum kec

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 12. Terjebak Dalam Pelukannya

    "Jangan mengatakan hal menakutkan, Tuan. Saya yakin hujan pasti reda." Tepat setelah mengatakan itu, petir menyambar pohon di depan mereka. Sontak wanita itu menjerit dan merapatkan tubuhnya ke sang atasan. Jantungnya berdegup kencang. "Apa saya salah?" Di sini, hanya Raline yang ketakutan. Nyatanya, pria itu tampak tenang seolah petir tadi bukanlah apa-apa. "Sepertinya langit mendukung keinginanku." Perkataan itu langsung mengundang tatapan tajam, tapi Matthias sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyelipkan tangannya ke belakang punggung Raline, menyentuh pundaknya, lalu menariknya mendekat. "Kau bisa kedinginan." Kali ini Raline setuju. Dia membiarkan tubuh mereka yang basah kuyup saling menempel satu sama lain. Keheningan melanda. Keduanya sibuk menatap langit hitam sambil berusaha mencari kehangatan. "Setelah malam itu, apa Bima bertanya sesuatu?" "Kenapa anda membahasnya lagi? Saya sudah bilang, saya tidak mau membahas apapun tentang malam itu." "Jangan mara

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 11. Persimpangan Jalan

    "Lain kali, kau harus rajin berolahraga, Raline." Sang direktur bergurau tatkala melihat Raline sudah hampir kehabisan nafas padahal baru berjalan lima belas menit. "Saya olahraga, kok." "Kapan?" Wanita itu termenung sekejap. "Sebulan lalu?" Matthias mendengus merasa lucu. "Pantas saja." Keputusan sepihak Matthias untuk berjalan kaki sejauh satu setengah kilo tak mampu Raline tolak. Semua barang ditinggalkan di mobil, mereka hanya membawa ransel berisi barang-barang penting dan minuman. Raline tak mengharapkan perjalanan mereka mulus. Bebatuan yang tercampur lumpur telah mengotori seluruh sepatunya bahkan celananya. Kanan kiri masih dikelilingi oleh perkebunan dan dari kejauhan mereka bisa mendengar suara deburan ombak bercampur gemuruh kecil pertanda hujan akan datang. "Jika langkahmu selambat ini, kita akan basah kuyup saat sampai di villa. Cepatlah!" "Anda bisa bilang begitu karena kaki anda panjang. Ini sudah secepat yang saya bisa, " jawab Raline kesal.

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 10. Trip Sumba

    "Kau terlambat lima menit, Raline." Ketika sang asisten datang, atasannya sedang duduk menunggu di lobby sambil membaca majalah dengan tampilan kasual dan kaca mata hitam. Di sampingnya ada satu koper berukuran kecil. "Maaf, Tuan Reinhardt. Ada penutupan jalan karena karnaval." Karnaval memang ada, tapi alasannya dirinya telat adalah tidak bisa tidur. Semalam Romi menelepon lagi dan seperti tempo hari, Bima buru-buru pergi bahkan tak pulang sampai pagi hari. Suaminya memberikan alasan yang terlihat meyakinkan, tapi justru itulah yang perasaan Raline tak enak. Saat wajah cantik Raline menunduk, Matthias ternyata memperhatikannya. Ekspresi wanita itu tidak bagus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, meski samar tapi Raline tak pernah seperti ini. "Baiklah. Ayo kita pergi." Dari Jakarta, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di Tambolaka-Sumba. Dan untuk sampai ke lokasi proyek, masih butuh waktu dua jam lagi menggunkan mobil. Awalnya, perjalanan sangat mulus. Sumba

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status