Share

Bab 5

Penulis: Omara
Nico menerobos lampu merah dan akhirnya membawa Riska yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dia seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa hampa.

Nico tak bisa berhenti memikirkan Veena. Dia teringat tatapan putus asa itu. Tatapan yang sama itu hanya pernah muncul ketika Veena dipukuli oleh ayahnya yang suka melakukan kekerasan.

Nico pernah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Veena menderita lagi. Sekarang, dia telah melanggar janjinya. Dia mau tak mau menelepon nomor yang sudah dihafalnya itu. Namun, yang dia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor itu tidak aktif.

Nico pun menelepon pengawalnya. Setelah pengawal memberitahunya bahwa Veena telah pergi, dia akhirnya menghela napas lega. Dia mengira Veena hanya marah karena dirinya tidak segera menyelamatkannya.

Dokter memberitahunya bahwa Riska telah sadar.

Nico meletakkan ponselnya dan mengurungkan niat untuk menyuruh pengawal mencari Veena. Dia merasa Veena akan kembali dalam beberapa hari.

Nico pergi ke samping tempat tidur Riska. Melihat wajah Riska, dia mau tak mau teringat Veena. Kemudian, dia menggeleng dan mencoba mengusir pikiran-pikiran itu dari benaknya.

Riska dengan lemah membuka matanya dan bertanya dengan ketakutan, "Nico, anak kita ...."

Nico bangkit dan mencium kening Riska sebelum dengan lembut mengelus perutnya. "Bayinya masih ada, jangan khawatir."

Wajah Riska dipenuhi kesedihan. "Nico, kamu tahu betapa takutnya aku? Veena mau bakar aku dan bayi kita!"

Tangan Nico yang sedang menepuk-nepuk punggung Riska seketika membeku. "Riska, gimana kalau aku carikan kamu rumah baru dan kamu pindah ke sana?"

Wajah Riska menjadi pucat. Dia berkata dengan tidak percaya, "Veena sudah celakai aku. Kenapa harus aku yang pindah?"

Nico mengerutkan kening. "Gimanapun, Veena itu istriku. Dia benar-benar nggak menyukaimu, Riska. Maaf aku harus buat kamu dan bayi kita mengalah!"

Riska ingin mengatakan sesuatu lagi. Akan tetapi, setelah melihat ekspresi tidak sabar Nico, dia menelan kekesalannya dan menjawab dengan pengertian, "Nggak apa-apa. Selama kamu dan Veena bahagia, aku akan melakukan apa saja."

Nico memeluk Riska. "Riska, kamu itu ibu hamil paling baik di dunia."

Riska hanya memaksakan seulas senyum.

Malam itu, Nico mengaturkan tempat tinggal lain untuk Riska, lalu pulang dengan penuh semangat. Yang mengejutkannya, Veena yang dia kira ada di rumah tidak terlihat sosoknya.

Ruang tamu kosong. Dia pun membuka pintu kamar tamu. Semua barang milik Veena telah hilang, selain selembar kertas di meja dan cincin berkilauan di atasnya.

Nico berjalan mendekat dengan tak percaya. Tangannya gemetar saat dia mengambil cincin berlian itu. Itu adalah cincin yang secara pribadi dia pasangkan di jari Veena di depan banyak orang.

Selama tujuh tahun, Veena tidak pernah melepaskannya. Namun, cincin itu malah tergeletak di sini sekarang.

Nico mengambil kertas yang terselip di bawahnya. Kata-kata "Surat Kesepakatan Cerai" langsung menarik perhatiannya.

Mata Nico langsung berkaca-kaca. Air mata mengaburkan tulisan tangan yang indah itu. Itu adalah tulisan tangan Veena yang telah dibacanya selama tujuh tahun dan terukir dalam ingatannya. Kata-kata yang memilukan hati itu juga ditulis sendiri oleh Veena.

[ Aku bersedia cerai tanpa dapatkan apa pun. Sebaiknya kita pisah secara damai, lalu cari kebahagiaan masing-masing dan tidak pernah bertemu lagi! ]

Tanda tangan Veena terlihat jelas di kertas itu. Begitu tegas dan kuat, seolah-olah menyatakan tekadnya.

Nico tiba-tiba menyadari bahwa Veena benar-benar ingin meninggalkannya. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan meminta pengawal untuk mencari Veena. Namun, sebelum panggilan terhubung, dia menerima panggilan dari rumah sakit.

Riska merasa tidak enak badan dan dirawat di rumah sakit lagi. Nico pun bergegas ke sana. Ketika sampai di depan kamar rawat inap, dia mendengar Riska dan dokter di depannya sedang saling menggoda. Dia pun melepaskan pegangannya pada gagang pintu.

"Riska, kapan kita bisa dapatkan aset Nico? Penagih utang sudah datang menagih. Aku sudah duluan pakai uangku sendiri untuk melunasi sebagian utang itu, tapi aku takut mereka akan mencarimu. Lagian, aku juga mau bawa kamu dan anak kita pergi!"

"Sayang, jangan khawatir. Aku sudah menjebak Veena dan membuatnya pergi. Tunggu sebentar lagi. Setelah aku benar-benar memenangkan hati Nico, kita bertiga bisa bersama selamanya!"

Nico menampar dirinya sendiri dengan kuat. Semua ini ternyata adalah jebakan Riska. Salahnya sendiri yang begitu bodoh dan tidak memercayai Veena.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 7

    Aku menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama. Kemudian, aku menggeleng dengan tegas. Aku telah menunggunya melupakan perasaannya terhadap Riska selama tujuh tahun supaya bisa bersamaku dengan baik.Dari penuh harapan hingga benar-benar hancur, hati yang pernah berdetak kencang untuknya kini telah berubah menjadi abu.Aku berbalik untuk pulang, tetapi Nico meraihku. Yang membuatku terkejut, dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang biasanya selalu terangkat dengan angkuh."Veena, maafkan aku! Aku yang salah, maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan air mata membasahi wajahnya, seolah-olah aku adalah cinta sejatinya. Faktanya, dia tidak memilihku ketika dihadapkan antara hidup dan mati.Dalam kehidupan baruku ini, aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri dan orang yang kucintai.Aku menepis tangannya, lalu berbicara pelan, "Tapi Nico, aku nggak mencintaimu lagi!" Di bawah tatapan

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 6 

    Betapa putus asanya Veena saat itu.Nico teringat dirinya yang menampar Veena, luka bakar di kakinya, insiden pengambilan darah, juga dirinya yang melepaskan tangan Veena saat kebakaran. Setiap adegan itu terulang kembali dalam benaknya.Ketika mengingat tatapan Veena yang putus asa, Nico berlutut tak berdaya di atas lantai. Air mata mengalir di wajahnya setetes demi setetes.Riska dan dokter yang mendengar keributan itu pun bergegas keluar. Mereka melihat Nico yang matanya merah dan bengkak, bagaikan iblis."Nico, dengar dulu penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!" Namun, jawaban yang didapatkan Riska hanyalah tatapan dingin Nico.Malam itu, Riska dan si dokter dibawa pergi oleh penagih utang. Namun, Nico tidak merasa lega. Dia dengan putus asa mencari Veena. Namun, setelah mencari di seluruh kota, dia tetap tidak menemukan Veena. Veena-nya sepertinya telah lenyap begitu saja.Seperti yang Veena katakan bertahun-tahun yang lalu. "Nico, kamu harus hargai aku dengan baik.

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 5

    Nico menerobos lampu merah dan akhirnya membawa Riska yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dia seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa hampa.Nico tak bisa berhenti memikirkan Veena. Dia teringat tatapan putus asa itu. Tatapan yang sama itu hanya pernah muncul ketika Veena dipukuli oleh ayahnya yang suka melakukan kekerasan.Nico pernah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Veena menderita lagi. Sekarang, dia telah melanggar janjinya. Dia mau tak mau menelepon nomor yang sudah dihafalnya itu. Namun, yang dia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor itu tidak aktif.Nico pun menelepon pengawalnya. Setelah pengawal memberitahunya bahwa Veena telah pergi, dia akhirnya menghela napas lega. Dia mengira Veena hanya marah karena dirinya tidak segera menyelamatkannya.Dokter memberitahunya bahwa Riska telah sadar.Nico meletakkan ponselnya dan mengurungkan niat untuk menyuruh pengawal mencari Veena. Dia merasa Veena akan kembali dalam beberapa hari.Nico pergi ke samping

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 4

    Aku mendengarkan tuduhannya tanpa ekspresi. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dia tidak percaya padaku. Semua yang kukatakan hanyalah tipu daya baginya.Namun, dia menganggap keheninganku sebagai pengakuan.Dokter keluar dan berujar, "Pak Nico, Bu Riska kehilangan terlalu banyak darah. Bank darah lagi kekurangan darah!"Nico mengangguk, lalu menunjukku dengan santai dan menyahut, "Ambil darahnya. Dia yang melukai Riska. Sudah sepantasnya dia rasakan akibatnya! Ambil darahnya sebanyak yang kamu perlukan!"Aku berusaha keras menghindar, tetapi para pengawal menahanku di lantai.Darah merah terang mengalir melalui selang ke dalam tubuh Riska. Bibirku perlahan memucat dan aku merasa pusing. Namun, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.Dokter mengatakan itu sudah cukup, tetapi Nico tidak bersedia melepaskanku.Sebelum aku pingsan, aku melihat sebuah pemandangan terakhir. Nico dengan lembut mencium kening Riska yang tak sadarkan diri. Begitu lembut,

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 3

    Setelah mendengar ucapan Riska, Nico segera duduk kembali dan menatapku sambil tersenyum sinis. "Veena juga cuma bisa pakai trik-trik kecil ini. Berhubung dia suka lukai dirinya sendiri, aku nggak akan menghentikannya. Aku sudah terlalu memanjakannya!"Aku meringis kesakitan dan berulang kali membasuh air dingin ke kakiku. Rasa sakit yang membakar itu terasa seperti semut tak terhitung jumlahnya yang menggerogoti lukaku. Aku tak kuasa menahan air mata. Namun, Nico hanya menatapku dengan dingin, seolah-olah bukan istrinya yang terluka.Nico yang dulunya akan langsung sangat sedih hanya karena jariku tergores sepertinya telah menghilang. Aku tiba-tiba tidak mengenalinya lagi.Aku berjalan pincang keluar dengan membawa seafood claypot itu. Riska menatapku dengan penuh kemenangan. "Terima kasih, Veena. Kamu tetap masak untukku dan bayiku meski terluka. Nico, ayo makan bareng!" Mengabaikan kemesraan mereka, aku menahan rasa sakit yang menyiksa, lalu kembali ke kamar tamu sendirian dan men

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 2

    "Setelah lahir, anak itu juga akan panggil kamu ibu. Riska nggak butuh status. Selama kamu merawatnya dengan baik, kamu akan tetap jadi istriku."Aku menatap perut Riska yang masih rata. Itu adalah bukti perselingkuhan Nico. Namun, dia masih berharap aku merawat selingkuhannya.Riska dengan bangga membusungkan perutnya. "Kak Veena, kamu nggak perlu iri. Dengar-dengar, punya anak di rumah akan datangkan lebih banyak anak lagi di masa depan. Mungkin setelah anakku lahir, kamu juga akan punya anak!"Aku menatap Nico dengan tenang sambil mengingat betapa sering aku memberitahunya aku menginginkan seorang anak. Namun, dia selalu menjawab dengan tidak sabar, "Anak cuma akan ganggu kehidupan kita. Ini belum waktunya."Setelahnya, melihat bahwa dia tidak menyukai anak, aku pun berhenti bertanya dan diam-diam melepaskan obsesiku terhadap anak. Bahkan di depan ibuku yang sakit kritis, aku tidak sanggup mengatakan hal buruk tentang Nico. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak menyukai anak-anak.Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status