Share

Bab 4

Penulis: Omara
Aku mendengarkan tuduhannya tanpa ekspresi. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dia tidak percaya padaku. Semua yang kukatakan hanyalah tipu daya baginya.

Namun, dia menganggap keheninganku sebagai pengakuan.

Dokter keluar dan berujar, "Pak Nico, Bu Riska kehilangan terlalu banyak darah. Bank darah lagi kekurangan darah!"

Nico mengangguk, lalu menunjukku dengan santai dan menyahut, "Ambil darahnya. Dia yang melukai Riska. Sudah sepantasnya dia rasakan akibatnya! Ambil darahnya sebanyak yang kamu perlukan!"

Aku berusaha keras menghindar, tetapi para pengawal menahanku di lantai.

Darah merah terang mengalir melalui selang ke dalam tubuh Riska. Bibirku perlahan memucat dan aku merasa pusing. Namun, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Dokter mengatakan itu sudah cukup, tetapi Nico tidak bersedia melepaskanku.

Sebelum aku pingsan, aku melihat sebuah pemandangan terakhir. Nico dengan lembut mencium kening Riska yang tak sadarkan diri. Begitu lembut, seolah-olah orang di hadapannya adalah cinta sejatinya.

Aku baru sadar di malam hari. Nico melemparku ke kursi dengan sembrono. Seluruh tubuhku terasa sakit. Dia bahkan tidak mencabut jarum yang menancap di tubuhku. Darahku pun menetes ke lantai.

Aku menahan rasa sakit dan mencabut jarum itu, lalu bangkit dan pulang.

Tidak lama setelah aku tiba di rumah, Nico dan Riska juga kembali. Nico mendorong kursi roda, sedangkan Riska yang duduk di kursi roda menatapku. Dia tidak mengalami keguguran, tetapi perlu beristirahat di ranjang untuk merawat janinnya.

Aku menatapnya dengan tenang. Hanya aku dan dia yang pernah menyentuh seafood claypot itu. Aku yakin aku tidak menambahkan apa pun ke dalam makanan itu. Jadi, jawabannya hanya ada satu. Dia meracuni dirinya sendiri untuk menjebakku.

Aku dengan tenang berjalan melewati mereka dan kembali ke kamar tamu. Setelah mengemas barang-barangku, aku mengambil surat kesepakatan cerai yang tergeletak di atas meja.

Baru saja aku hendak menyerahkan kertas itu kepada Nico, Nico dengan tidak sabar menyuruhku untuk mengurus Riska.

Dia menatapku dengan peringatan. "Veena, aku harus pergi temui klien. Jangan macam-macam kamu. Kalau terjadi sesuatu sama Riska dan bayinya, aku akan minta kamu tanggung jawab!"

Kemudian, aku didorong masuk ke kamar tidur utama. Hanya dalam satu hari, ruangan itu telah berubah total. Ada sebuah tempat tidur bayi, kursi goyang, dan boneka.

Mungkin karena Nico tidak ada di rumah, Riska akhirnya berhenti bersandiwara.

"Veena, kenapa kamu menempel pada Nico seperti lintah? Sudah tujuh tahun, tapi kamu masih belum sadar bahwa yang Nico cintai selama ini adalah aku? Kalau aku nggak pergi waktu itu, kamu belum tentu bisa nikah sama Nico. Sebaiknya kamu sadar diri dan pergilah secepatnya. Kalau begitu, aku akan lebih menghormatimu!"

Aku menatapnya. "Kenapa? Kamu yang jadi pelakor malah merasa paling benar? Selama masih ada aku di sini, kamu itu tetap cuma seorang pelakor, sedangkan bayi di dalam perutmu adalah anak haram!"

Riska yang merasa marah karena malu tiba-tiba tersenyum misterius. Kemudian, dia menunduk dan menghubungi sebuah nomor.

"Nico, Veena sudah gila! Dia membakar rumah! Cepat kembali dan selamatkan aku!"

Aku menatapnya dengan bingung.

Riska tertawa seperti orang gila. "Veena, kalau kamu mati, aku dan bayiku sudah bisa gantikan kamu secara resmi!"

Dia mengeluarkan mancis yang telah disiapkannya, lalu melemparkannya ke arahku. Aku berbalik untuk menghindarinya. Pada detik berikutnya, api dari mancis itu dengan cepat membakar tempat tidur.

Riska dan aku terjebak di dalam kamar. Api makin besar dan aku tidak berhenti terbatuk-batuk karena asap tebal.

Nico akhirnya kembali dan mendobrak pintu. Aku mengulurkan tangan kepadanya dan Nico secara refleks mencoba menggendongku. Namun, dia merasa ragu setelah mendengar rintihan Riska di belakangku.

Tak lama kemudian, dia mengulurkan tangan melewatiku dan menggendong Riska.

"Veena, kamu sendiri yang nyalakan apinya, buat apa kamu bersandiwara lagi? Keluar saja sendiri!"

Yang tidak dia ketahui adalah aku sudah menghirup asap tebal dan kehabisan tenaga. Tanganku yang terulur adalah harapan terakhirku. Namun, dia sendiri yang memadamkan harapan itu.

Aku hanya bisa melihat sosoknya yang menjauh. Pemandangan ini sudah terlalu sering kulihat selama bertahun-tahun. Dari penuh harapan hingga benar-benar putus asa, aku akhirnya bisa mengucapkan kata-kata ini dengan tenang.

"Aku nggak mencintaimu lagi."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 7

    Aku menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama. Kemudian, aku menggeleng dengan tegas. Aku telah menunggunya melupakan perasaannya terhadap Riska selama tujuh tahun supaya bisa bersamaku dengan baik.Dari penuh harapan hingga benar-benar hancur, hati yang pernah berdetak kencang untuknya kini telah berubah menjadi abu.Aku berbalik untuk pulang, tetapi Nico meraihku. Yang membuatku terkejut, dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang biasanya selalu terangkat dengan angkuh."Veena, maafkan aku! Aku yang salah, maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan air mata membasahi wajahnya, seolah-olah aku adalah cinta sejatinya. Faktanya, dia tidak memilihku ketika dihadapkan antara hidup dan mati.Dalam kehidupan baruku ini, aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri dan orang yang kucintai.Aku menepis tangannya, lalu berbicara pelan, "Tapi Nico, aku nggak mencintaimu lagi!" Di bawah tatapan

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 6 

    Betapa putus asanya Veena saat itu.Nico teringat dirinya yang menampar Veena, luka bakar di kakinya, insiden pengambilan darah, juga dirinya yang melepaskan tangan Veena saat kebakaran. Setiap adegan itu terulang kembali dalam benaknya.Ketika mengingat tatapan Veena yang putus asa, Nico berlutut tak berdaya di atas lantai. Air mata mengalir di wajahnya setetes demi setetes.Riska dan dokter yang mendengar keributan itu pun bergegas keluar. Mereka melihat Nico yang matanya merah dan bengkak, bagaikan iblis."Nico, dengar dulu penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!" Namun, jawaban yang didapatkan Riska hanyalah tatapan dingin Nico.Malam itu, Riska dan si dokter dibawa pergi oleh penagih utang. Namun, Nico tidak merasa lega. Dia dengan putus asa mencari Veena. Namun, setelah mencari di seluruh kota, dia tetap tidak menemukan Veena. Veena-nya sepertinya telah lenyap begitu saja.Seperti yang Veena katakan bertahun-tahun yang lalu. "Nico, kamu harus hargai aku dengan baik.

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 5

    Nico menerobos lampu merah dan akhirnya membawa Riska yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dia seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa hampa.Nico tak bisa berhenti memikirkan Veena. Dia teringat tatapan putus asa itu. Tatapan yang sama itu hanya pernah muncul ketika Veena dipukuli oleh ayahnya yang suka melakukan kekerasan.Nico pernah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Veena menderita lagi. Sekarang, dia telah melanggar janjinya. Dia mau tak mau menelepon nomor yang sudah dihafalnya itu. Namun, yang dia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor itu tidak aktif.Nico pun menelepon pengawalnya. Setelah pengawal memberitahunya bahwa Veena telah pergi, dia akhirnya menghela napas lega. Dia mengira Veena hanya marah karena dirinya tidak segera menyelamatkannya.Dokter memberitahunya bahwa Riska telah sadar.Nico meletakkan ponselnya dan mengurungkan niat untuk menyuruh pengawal mencari Veena. Dia merasa Veena akan kembali dalam beberapa hari.Nico pergi ke samping

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 4

    Aku mendengarkan tuduhannya tanpa ekspresi. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dia tidak percaya padaku. Semua yang kukatakan hanyalah tipu daya baginya.Namun, dia menganggap keheninganku sebagai pengakuan.Dokter keluar dan berujar, "Pak Nico, Bu Riska kehilangan terlalu banyak darah. Bank darah lagi kekurangan darah!"Nico mengangguk, lalu menunjukku dengan santai dan menyahut, "Ambil darahnya. Dia yang melukai Riska. Sudah sepantasnya dia rasakan akibatnya! Ambil darahnya sebanyak yang kamu perlukan!"Aku berusaha keras menghindar, tetapi para pengawal menahanku di lantai.Darah merah terang mengalir melalui selang ke dalam tubuh Riska. Bibirku perlahan memucat dan aku merasa pusing. Namun, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.Dokter mengatakan itu sudah cukup, tetapi Nico tidak bersedia melepaskanku.Sebelum aku pingsan, aku melihat sebuah pemandangan terakhir. Nico dengan lembut mencium kening Riska yang tak sadarkan diri. Begitu lembut,

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 3

    Setelah mendengar ucapan Riska, Nico segera duduk kembali dan menatapku sambil tersenyum sinis. "Veena juga cuma bisa pakai trik-trik kecil ini. Berhubung dia suka lukai dirinya sendiri, aku nggak akan menghentikannya. Aku sudah terlalu memanjakannya!"Aku meringis kesakitan dan berulang kali membasuh air dingin ke kakiku. Rasa sakit yang membakar itu terasa seperti semut tak terhitung jumlahnya yang menggerogoti lukaku. Aku tak kuasa menahan air mata. Namun, Nico hanya menatapku dengan dingin, seolah-olah bukan istrinya yang terluka.Nico yang dulunya akan langsung sangat sedih hanya karena jariku tergores sepertinya telah menghilang. Aku tiba-tiba tidak mengenalinya lagi.Aku berjalan pincang keluar dengan membawa seafood claypot itu. Riska menatapku dengan penuh kemenangan. "Terima kasih, Veena. Kamu tetap masak untukku dan bayiku meski terluka. Nico, ayo makan bareng!" Mengabaikan kemesraan mereka, aku menahan rasa sakit yang menyiksa, lalu kembali ke kamar tamu sendirian dan men

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 2

    "Setelah lahir, anak itu juga akan panggil kamu ibu. Riska nggak butuh status. Selama kamu merawatnya dengan baik, kamu akan tetap jadi istriku."Aku menatap perut Riska yang masih rata. Itu adalah bukti perselingkuhan Nico. Namun, dia masih berharap aku merawat selingkuhannya.Riska dengan bangga membusungkan perutnya. "Kak Veena, kamu nggak perlu iri. Dengar-dengar, punya anak di rumah akan datangkan lebih banyak anak lagi di masa depan. Mungkin setelah anakku lahir, kamu juga akan punya anak!"Aku menatap Nico dengan tenang sambil mengingat betapa sering aku memberitahunya aku menginginkan seorang anak. Namun, dia selalu menjawab dengan tidak sabar, "Anak cuma akan ganggu kehidupan kita. Ini belum waktunya."Setelahnya, melihat bahwa dia tidak menyukai anak, aku pun berhenti bertanya dan diam-diam melepaskan obsesiku terhadap anak. Bahkan di depan ibuku yang sakit kritis, aku tidak sanggup mengatakan hal buruk tentang Nico. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak menyukai anak-anak.Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status