Share

Bab 2

Author: Omara
"Setelah lahir, anak itu juga akan panggil kamu ibu. Riska nggak butuh status. Selama kamu merawatnya dengan baik, kamu akan tetap jadi istriku."

Aku menatap perut Riska yang masih rata. Itu adalah bukti perselingkuhan Nico. Namun, dia masih berharap aku merawat selingkuhannya.

Riska dengan bangga membusungkan perutnya. "Kak Veena, kamu nggak perlu iri. Dengar-dengar, punya anak di rumah akan datangkan lebih banyak anak lagi di masa depan. Mungkin setelah anakku lahir, kamu juga akan punya anak!"

Aku menatap Nico dengan tenang sambil mengingat betapa sering aku memberitahunya aku menginginkan seorang anak. Namun, dia selalu menjawab dengan tidak sabar, "Anak cuma akan ganggu kehidupan kita. Ini belum waktunya."

Setelahnya, melihat bahwa dia tidak menyukai anak, aku pun berhenti bertanya dan diam-diam melepaskan obsesiku terhadap anak. Bahkan di depan ibuku yang sakit kritis, aku tidak sanggup mengatakan hal buruk tentang Nico. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak menyukai anak-anak.

Sekarang, semuanya terasa seperti lelucon. Nico ternyata tidak membenci anak-anak, dia hanya tidak menyukai anakku dengannya.

Cinta dan tidak cinta sangatlah jelas.

Nico membawa Riska ke kamar kami. Riska tidur di tempat tidurku dan diselimuti dengan selimutku. Aroma parfum mawar yang kuat dari tubuhnya memenuhi seluruh kamar tidur utama. Aku mau tak mau merasa mual.

Nico mengerutkan kening sambil menatapku. "Ada apa? Nggak enak badan? Kalau nggak, kamu istirahat saja."

Namun, Riska malah menatapku dan berujar, "Nico, aku lapar. Aku pengen makan seafood claypot."

Nico hendak menelepon asistennya untuk memesan makanan itu. Namun, Riska menatapku sambil menyeringai.

"Nico, aku pengen makan seafood claypot buatan Veena sendiri." Dia menatapku dengan ekspresi pura-pura kasihan, tetapi matanya menunjukkan provokasi yang tak tertutupi. "Veena, bisa nggak kamu memasaknya untukku? Aku dan bayiku ngidam banget!"

Aku menolak tanpa ragu. Melihat mata Riska memerah, Nico mengerutkan kening dengan tidak senang. "Veena, cuma suruh kamu masak kok. Itu bukan permintaan yang keterlaluan!"

Aku membalas, "Kenapa aku harus masak untuk seorang selingkuhan dan anak haram?"

Air mata Riska langsung menetes membasahi selimut. "Veena, kok kamu ngomong gitu? Anakku dengan Nico bukan anak haram. Dia itu malaikat kecil yang lahir ke dunia secara nggak sengaja! Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya bersama Nico. Aku yang sudah merusak hubungan kalian. Aku akan pergi sekarang!"

Riska hendak pergi dengan berlinang air mata, tetapi Nico menahannya kembali.

Nico menatapku. "Veena, minta maaf!"

Aku menatapnya dengan keras kepala, menolak untuk membiarkan air mataku jatuh.

Riska bangkit untuk pergi, tetapi Nico meraih lengannya.

Nico terkekeh pelan, lalu menatapku tanpa ekspresi. "Veena, apa aku terlalu memanjakanmu, makanya kamu jadi semena-mena!"

Sesaat kemudian, sebuah tamparan kuat mendarat di wajahku. Sudut bibirku berdarah dan wajahku terasa perih. Aku menatap Nico dengan tidak percaya.

Riska dengan sengaja berkata, "Nico, jangan biarkan aku pengaruhi hubungan kalian. Kalau Veena nggak mau masak untukku, nggak apa-apa. Lagian, aku nggak nafsu makan!"

Nico tidak akan menerima bantahan apa pun. "Kalau aku suruh kamu masak, ya masak! Riska, kamu istirahat dulu!"

Kemudian, Nico menarikku tanpa peduli aku tersandung. Kakiku pun membentur sudut dinding. Kulit yang awalnya putih dan mulus kini dihiasi memar yang terlihat sangat mengerikan.

Akan tetapi, Nico bahkan tidak melirikku. Dia melemparku ke dapur, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

"Aku baru akan biarkan kamu keluar setelah selesai masak! Aku punya banyak waktu untuk dihabiskan bersamamu!"

Di balik pintu, Riska duduk di pangkuan Nico. Nico dengan lembut menyuapi Riska makan bluberi segar yang dikirim melalui pesawat.

Aku yang meminta orang untuk mengirim bluberi itu karena itu adalah buah favorit Nico. Namun, usahaku sekarang terlihat sangat konyol.

Aku menyeka air mataku, lalu mulai masak seafood claypot sambil menahan rasa sakit. Mungkin karena tidak fokus, aku tidak sengaja menumpahkan air panas ke kakiku.

Nico hendak bergegas menghampiriku, tetapi Riska menariknya. "Aku tahu Kak Veena nggak ingin masak untukku, tapi dia juga nggak perlu lukai dirinya sendiri!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 7

    Aku menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama. Kemudian, aku menggeleng dengan tegas. Aku telah menunggunya melupakan perasaannya terhadap Riska selama tujuh tahun supaya bisa bersamaku dengan baik.Dari penuh harapan hingga benar-benar hancur, hati yang pernah berdetak kencang untuknya kini telah berubah menjadi abu.Aku berbalik untuk pulang, tetapi Nico meraihku. Yang membuatku terkejut, dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang biasanya selalu terangkat dengan angkuh."Veena, maafkan aku! Aku yang salah, maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan air mata membasahi wajahnya, seolah-olah aku adalah cinta sejatinya. Faktanya, dia tidak memilihku ketika dihadapkan antara hidup dan mati.Dalam kehidupan baruku ini, aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri dan orang yang kucintai.Aku menepis tangannya, lalu berbicara pelan, "Tapi Nico, aku nggak mencintaimu lagi!" Di bawah tatapan

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 6 

    Betapa putus asanya Veena saat itu.Nico teringat dirinya yang menampar Veena, luka bakar di kakinya, insiden pengambilan darah, juga dirinya yang melepaskan tangan Veena saat kebakaran. Setiap adegan itu terulang kembali dalam benaknya.Ketika mengingat tatapan Veena yang putus asa, Nico berlutut tak berdaya di atas lantai. Air mata mengalir di wajahnya setetes demi setetes.Riska dan dokter yang mendengar keributan itu pun bergegas keluar. Mereka melihat Nico yang matanya merah dan bengkak, bagaikan iblis."Nico, dengar dulu penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!" Namun, jawaban yang didapatkan Riska hanyalah tatapan dingin Nico.Malam itu, Riska dan si dokter dibawa pergi oleh penagih utang. Namun, Nico tidak merasa lega. Dia dengan putus asa mencari Veena. Namun, setelah mencari di seluruh kota, dia tetap tidak menemukan Veena. Veena-nya sepertinya telah lenyap begitu saja.Seperti yang Veena katakan bertahun-tahun yang lalu. "Nico, kamu harus hargai aku dengan baik.

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 5

    Nico menerobos lampu merah dan akhirnya membawa Riska yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dia seharusnya merasa lega, tetapi hatinya terasa hampa.Nico tak bisa berhenti memikirkan Veena. Dia teringat tatapan putus asa itu. Tatapan yang sama itu hanya pernah muncul ketika Veena dipukuli oleh ayahnya yang suka melakukan kekerasan.Nico pernah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan Veena menderita lagi. Sekarang, dia telah melanggar janjinya. Dia mau tak mau menelepon nomor yang sudah dihafalnya itu. Namun, yang dia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor itu tidak aktif.Nico pun menelepon pengawalnya. Setelah pengawal memberitahunya bahwa Veena telah pergi, dia akhirnya menghela napas lega. Dia mengira Veena hanya marah karena dirinya tidak segera menyelamatkannya.Dokter memberitahunya bahwa Riska telah sadar.Nico meletakkan ponselnya dan mengurungkan niat untuk menyuruh pengawal mencari Veena. Dia merasa Veena akan kembali dalam beberapa hari.Nico pergi ke samping

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 4

    Aku mendengarkan tuduhannya tanpa ekspresi. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Dia tidak percaya padaku. Semua yang kukatakan hanyalah tipu daya baginya.Namun, dia menganggap keheninganku sebagai pengakuan.Dokter keluar dan berujar, "Pak Nico, Bu Riska kehilangan terlalu banyak darah. Bank darah lagi kekurangan darah!"Nico mengangguk, lalu menunjukku dengan santai dan menyahut, "Ambil darahnya. Dia yang melukai Riska. Sudah sepantasnya dia rasakan akibatnya! Ambil darahnya sebanyak yang kamu perlukan!"Aku berusaha keras menghindar, tetapi para pengawal menahanku di lantai.Darah merah terang mengalir melalui selang ke dalam tubuh Riska. Bibirku perlahan memucat dan aku merasa pusing. Namun, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.Dokter mengatakan itu sudah cukup, tetapi Nico tidak bersedia melepaskanku.Sebelum aku pingsan, aku melihat sebuah pemandangan terakhir. Nico dengan lembut mencium kening Riska yang tak sadarkan diri. Begitu lembut,

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 3

    Setelah mendengar ucapan Riska, Nico segera duduk kembali dan menatapku sambil tersenyum sinis. "Veena juga cuma bisa pakai trik-trik kecil ini. Berhubung dia suka lukai dirinya sendiri, aku nggak akan menghentikannya. Aku sudah terlalu memanjakannya!"Aku meringis kesakitan dan berulang kali membasuh air dingin ke kakiku. Rasa sakit yang membakar itu terasa seperti semut tak terhitung jumlahnya yang menggerogoti lukaku. Aku tak kuasa menahan air mata. Namun, Nico hanya menatapku dengan dingin, seolah-olah bukan istrinya yang terluka.Nico yang dulunya akan langsung sangat sedih hanya karena jariku tergores sepertinya telah menghilang. Aku tiba-tiba tidak mengenalinya lagi.Aku berjalan pincang keluar dengan membawa seafood claypot itu. Riska menatapku dengan penuh kemenangan. "Terima kasih, Veena. Kamu tetap masak untukku dan bayiku meski terluka. Nico, ayo makan bareng!" Mengabaikan kemesraan mereka, aku menahan rasa sakit yang menyiksa, lalu kembali ke kamar tamu sendirian dan men

  • Ketika Cinta Datang Terlambat, Perpisahan itu Mutlak   Bab 2

    "Setelah lahir, anak itu juga akan panggil kamu ibu. Riska nggak butuh status. Selama kamu merawatnya dengan baik, kamu akan tetap jadi istriku."Aku menatap perut Riska yang masih rata. Itu adalah bukti perselingkuhan Nico. Namun, dia masih berharap aku merawat selingkuhannya.Riska dengan bangga membusungkan perutnya. "Kak Veena, kamu nggak perlu iri. Dengar-dengar, punya anak di rumah akan datangkan lebih banyak anak lagi di masa depan. Mungkin setelah anakku lahir, kamu juga akan punya anak!"Aku menatap Nico dengan tenang sambil mengingat betapa sering aku memberitahunya aku menginginkan seorang anak. Namun, dia selalu menjawab dengan tidak sabar, "Anak cuma akan ganggu kehidupan kita. Ini belum waktunya."Setelahnya, melihat bahwa dia tidak menyukai anak, aku pun berhenti bertanya dan diam-diam melepaskan obsesiku terhadap anak. Bahkan di depan ibuku yang sakit kritis, aku tidak sanggup mengatakan hal buruk tentang Nico. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak menyukai anak-anak.Se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status