Aku menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama. Kemudian, aku menggeleng dengan tegas. Aku telah menunggunya melupakan perasaannya terhadap Riska selama tujuh tahun supaya bisa bersamaku dengan baik.Dari penuh harapan hingga benar-benar hancur, hati yang pernah berdetak kencang untuknya kini telah berubah menjadi abu.Aku berbalik untuk pulang, tetapi Nico meraihku. Yang membuatku terkejut, dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang biasanya selalu terangkat dengan angkuh."Veena, maafkan aku! Aku yang salah, maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpamu!" Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan air mata membasahi wajahnya, seolah-olah aku adalah cinta sejatinya. Faktanya, dia tidak memilihku ketika dihadapkan antara hidup dan mati.Dalam kehidupan baruku ini, aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri dan orang yang kucintai.Aku menepis tangannya, lalu berbicara pelan, "Tapi Nico, aku nggak mencintaimu lagi!" Di bawah tatapan
Read more