Share

Bab 161

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Kami sedang melewati jalan sempit menjauhi rumah orang tuaku ketika aku melihat Ayah berlari mengejar mobil kami. Ryan segera memberi isyarat kepada sopir untuk berhenti.

Aku membuka jendela mobil di sisiku. Sepertinya Ayah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Lagi pula, tadi dia memelukku dengan hangat. Dia tidak seperti Ibu yang malah mengatakan hal-hal menyakitkan padaku saat melihat kepulanganku.

"Ayah, Ayah nggak seharusnya ngejar aku begini," kataku dengan suara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 343

    Sudut Pandang Felicia:"Felicia, ya ampun. Ternyata benar-benar kamu. Apa kabarmu, Sayang?" katanya, lalu langsung memelukku.Air mataku pun tak terbendung. Baru saat itulah aku sadar betapa aku merindukannya. Selama bertahun-tahun jauh darinya, aku memang sangat merindukan perhatian dan kasih sayangnya.Meski dia bukan ibu kandungku, dia selalu membuatku merasakan kasih sayang tulus seorang ibu. Bersama mereka, aku pernah merasakan kebahagiaan memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak akan pernah melupakannya."Mama," panggilku dengan suara bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa henti."Apa kabarmu? Kenapa kamu nggak pernah menemui kami? Kami kangen sekali sama kamu, Felicia," katanya sambil melepaskan pelukannya.Dia bahkan mengusap air mata di pipiku sambil menatap wajahku. Aku malah menangis semakin deras."Maaf, Mama. Aku terlalu pengecut. Maaf karena aku bersembunyi darimu," ucapku.Dia langsung menggeleng. "Tolong jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu. Seharusnya

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 342

    Sudut Pandang Felicia:Saat berbicara dengan Marceline, aku tidak bisa menahan rasa bahagia.Entah bagaimana, kehadirannya membuatku merasa seperti kembali ke masa lalu. Dulu, sebelum dia menikah dengan Orson, kami sangat dekat. Aku menganggapnya seperti kakakku sendiri, jadi aku berusaha menjauhi Orson, terutama setelah mereka menikah.Rasa kesalku kepadanya tiba-tiba lenyap. Hubungan kami kembali seperti dulu. Meskipun sudah terjadi banyak hal, dia masih ingin aku menjadi pendamping pengantinnya di hari paling penting dalam hidupnya. Aku seharusnya bersyukur karena Marceline tidak pernah mengubah sikapnya kepadaku.Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku mulai sibuk mempelajari cara mengelola perusahaan. Tidak ada orang lain yang bisa mengambil tanggung jawab ini selain aku. Aku juga tidak punya pilihan selain mengesampingkan impianku menjadi dokter demi perusahaan.Meskipun Ayah tidak mengatakan apa-apa, aku tahu dia lebih ingin aku mengambil alih tanggung jawab perusahaan. Aku memang d

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 341

    Sudut Pandang Felicia:Meski aku terkejut melihat Marceline berada di bar ini dan bertanya-tanya kenapa dia datang bersama Devon, aku tetap berdiri dan menyapanya.Dia tidak terlihat terkejut saat melihatku, jadi mungkin dia sudah tahu identitasku yang sebenarnya."Hai, Felicia. Senang bisa ketemu denganmu lagi," katanya sambil tersenyum.Aku hanya mengangguk dan tersenyum sebelum kembali duduk di tempatku tadi."Ngomong-ngomong, kami berencana menikah dalam waktu dekat. Kami sudah nggak muda lagi. Kami ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak kami," kata Devon.Aku semakin terkejut. Apa maksud mereka? Setahuku, mereka baru saja bertemu, tetapi sekarang sudah berencana menikah? Cepat sekali.Mereka bahkan menyebut soal anak? Anak siapa yang dimaksud Devon? Apa dia ayah dari bayi Marceline?Aku menatap Marceline dengan bingung. Dia langsung tersenyum kepadaku."Ya. Dia ayah dari anakku. Waktu itu kami hanya menghabiskan satu malam bersama. Aku nggak nyangka bisa langsung hamil," k

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 340

    Sudut Pandang Felicia:"Trinity Baskoro? Sejak kapan?" tanyaku kepada Dante dengan bingung. Aku benar-benar tidak pernah menyangka wanita yang dia maksud adalah Trinity.Siapa yang tidak akan terkejut? Dari sekian banyak wanita di dunia, dia justru memilih mencintai Trinity.Jadi, itu alasan mereka terlihat aneh kemarin. Itu juga alasan keponakanku tidak keberatan ketika aku meninggalkannya berdua dengan Trinity untuk mengobrol. Ternyata sudah ada sesuatu di antara mereka."Jadi, kalian akhirnya bicara? Kemarin? Tunggu, kemarin kalian melakukan apa? Kalian menghilang cukup lama," tanyaku kepada Dante.Dia menghela napas panjang sebelum menjawab. "Kami bicara kemarin. Dia bilang dia mencintaiku."Mataku langsung membelalak kaget. Aku benar-benar tidak menyangka Trinity punya keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada seorang pria. Lagi pula, dia tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia menyukai Dante.Pantas saja kemarin dia pergi dengan wajah murung. Ternyata dia baru saja ditola

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 339

    Sudut Pandang Felicia:"Semalam kamu pulang jam berapa? Kamu yakin hari ini bisa mengajariku dengan baik? Kalau nggak, kita masuk kantor besok saja."Aku memecah keheningan di antara kami saat kami berada di dalam mobil menuju kantor.Baru kusadari Dante tampak gelisah. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Hal ini tidak biasa baginya.Apa yang sedang mengganggu pikiran keponakanku? Apa dia sedang menghadapi masalah?"Nggak apa-apa. Aku cuma lagi mikirin sesuatu," jawabnya.Jawabannya sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Jelas sekali, dia menyembunyikan sesuatu."Mikirin apa? Kamu bisa cerita ke aku. Wajahmu sudah mirip mayat hidup. Jangan memendam masalah sendirian. Pikiranmu bisa nggak kuat menahannya dan malah bikin semuanya makin kacau," kataku sambil bercanda.Aku hanya ingin mencairkan suasana pagi itu. Aku tidak mau kami terus diam selama perjalanan ke kantor. Kalau terlalu banyak diam, pikiranku biasanya mulai melayang ke mana-mana. Itu justru membuatku semak

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 338

    Sudut Pandang Felicia:Aku baru saja selesai makan malam. Saat hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ponselku tiba-tiba berdering.Aku langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon karena kukira itu ayahku.Ayah seharian pergi keluar. Katanya dia sedang mengurus sesuatu dan mungkin pulang larut malam, jadi aku makan malam sendirian. Sementara itu, setelah Trinity pergi tadi, Dante juga ikut pergi."Halo, Ayah," kataku sambil menempelkan ponsel ke telinga."Felicia, bisa kita bicara?"Aku langsung mengernyit dan menatap layar ponsel untuk memastikan siapa yang menelepon. Bukan Ayah dan bukan Dante."Orson?" tanyaku spontan. Apa yang dia inginkan? Kenapa menelepon selarut ini?"Aku lagi sibuk, nggak punya waktu. Kalau ada yang mau kamu katakan atau tanyakan, langsung saja," kataku.Suasana hening sejenak. Aku merasa heran."Orson, kenapa kamu telepon? Kalau kamu nggak mau bicara, aku tutup ya," kataku lagi."Felicia, apa aku seburuk itu sampai kamu memilih mera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status