แชร์

Bab 29

ผู้เขียน: Cathy
"Selamat, Abigail. Kamu hamil dua bulan!" Dokter Chelsea Pandawa menatapku dengan senyum cerah.

Gelombang kebahagiaan murni menyelimutiku, sejenak menutupi rasa sakit 24 jam terakhir. Tanganku spontan menyentuh perutku, sebuah senyum bahagia muncul di wajahku yang masih basah karena air mata.

Seorang bayi. Bayi kami.

"Sekarang, sangat penting kalau kamu mengikuti semua instruksiku agar kehamilanmu sehat," lanjutnya, hangat tetapi profesional. "Aku akan meresepkan vitamin pranatal untuk mendukung
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (7)
goodnovel comment avatar
k2 beib
njirrrrr kelewatan
goodnovel comment avatar
Noor Aishah
cerai je la abigail, tak payah hadap lelaki tak guna.. abis madu sepah dibuang
goodnovel comment avatar
Rika Widyastuti
Pergi Abigail, pergii...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 490

    Sudut Pandang Betty:Aku tidak mengalihkan pandangan dari Joseph selama dia memesan makanan.Dia begitu menonjol di tengah kerumunan hanya dari caranya membawa diri. Aku sendiri tidak tahu apakah aku benar-benar beruntung mendapatkannya atau tidak. Dia baik, bahkan dia memesan ulang makanan yang tadinya ingin kusisihkan untuk perjalanan kami.Saat berada di kasir, aku melihatnya berbicara kepada kasir sambil menunjuk ke arahku. Aku tak mampu menahan diri untuk mengernyit. Kenapa dia menunjuk ke arahku?Aku baru saja hendak berdiri dan menghampirinya karena penasaran, tetapi dia sudah berjalan kembali ke meja kami. Sepertinya dia sudah selesai memesan. Ekspresinya tetap serius sepanjang perjalanan kembali ke meja."Sudah?" tanyaku, menirukan nada bicaranya ketika tadi dia menanyakan apakah aku sudah selesai memesan."Tiga puluh menit," jawabnya sambil mengusap sudut mulutku.Aku langsung membeku. Sentuhan sederhana itu membuat seluruh tubuhku seperti tersengat listrik."Kamu berantakan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 489

    Sudut Pandang Betty:Aku tetap berada di sisi Joseph sampai makanan kami datang. Tidak masalah, karena kami memang hanya datang untuk makan dan tidak melakukan hal lain."Kamu sanggup menghabiskan semua itu?" tanyanya.Ada banyak sekali makanan di meja kami, tetapi dia sepertinya sama sekali tidak berniat makan. Dia bersandar di kursinya dengan tangan terlipat di dada sambil menatap wajahku.Anak buahnya sudah mulai makan. Aku sengaja memesan banyak makanan untuk mereka karena tubuh mereka besar. Aku tahu mereka makan lebih banyak daripada kebanyakan orang."Ini untuk kita berdua. Kenapa kamu nggak makan?" tanyaku sambil menaruh makanan di depannya.Dia hanya mendengus sambil melihat ke sekeliling."Aku nggak makan makanan seperti ini. Aku datang cuma karena kamu mau makan. Jadi, cepat makan karena habis ini kita langsung pergi," jawabnya dengan tidak sabar.Aku berusaha menahan diri agar tidak mendengus. Terserah saja kalau dia mau marah dan langsung pergi. Aku masih ingin menghabiska

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 488

    Sudut Pandang Betty:"Pesan apa saja yang kamu mau," kata Joseph ketika kami masuk ke restoran. Dia menyerahkan sebuah kartu kepadaku, tetapi aku menolaknya."Aku masih punya uang. Uang yang kamu kasih waktu itu masih ada," kataku sambil tersenyum dan menggeleng.Aku melirik rombongan kami yang lain. Sepertinya mereka tidak berencana masuk. Aku tahu mereka mungkin juga lapar, sama sepertiku."Pakai kartu ini. Pesan apa pun yang kamu mau," ucapnya dengan serius. Dia bahkan meraih tanganku dan meletakkan kartu itu di telapak tanganku.Aku tidak punya pilihan selain menerimanya. Kemudian, aku melirik anak buahnya."Kamu nggak mau belikan mereka makanan juga?" tanyaku tanpa sadar.Dia juga melihat ke luar sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya."Pesankan untuk mereka juga," jawabnya sambil menekan sesuatu di ponselnya.Aku berjalan dengan antusias menuju kasir untuk memesan makanan. Perutku sudah keroncongan karena lapar.Antreannya cukup panjang. Banyak orang sedang menunggu. Aku harus m

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 487

    Sudut Pandang Betty:Yang benar saja! Mereka belum puas bertengkar? Kami sudah mau pergi, tetapi mereka masih ingin menghentikan kami?Sebenarnya keluarga ini maunya apa? Apa mereka memang sesuka itu mencampuri urusan orang lain?"Ayah, kumohon. Apa Ayah nggak lelah dengan semua ini? Aku nggak tahu kenapa Ayah masih bersikeras, apalagi di depan istriku. Sampai sekarang pun Ayah masih mencoba memaksakan keinginan Ayah." Joseph menahan amarahnya.Setelah semua yang baru saja kusaksikan, rasanya aku sulit bernapas. Sepertinya aku tidak akan sanggup hidup bersama orang-orang seperti ini. Rasanya seolah setiap hari adalah perang. Mengerikan sekali!"Kami nggak akan ikut campur kalau kamu memberi tahu kami sebelum kamu menikahi wanita itu, Joseph. Kami bukan karyawanmu. Kami keluargamu. Kami mengkhawatirkan masa depanmu!" tegur Abraham dengan marah, seolah sedang memarahi seorang anak kecil.Abraham benar-benar tidak menghargai Joseph. Mungkin itu sebabnya Joseph juga tidak menghormatinya."

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 486

    Sudut Pandang Betty:Mungkin itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah dikatakan seseorang kepadaku. Mentang-mentang aku miskin, mereka menganggapku perempuan yang mengincar uang?Mungkin aku masih bisa menahannya, tetapi aku justru berharap Joseph menuruti keinginan keluarganya. Seharusnya dia membiarkanku pergi dari rumahnya agar tidak ada masalah lagi.Toh tidak ada perasaan apa pun dalam pernikahan kontrak kami. Kami bersama hanya karena kontrak, tidak lebih."Aku tahu kamu mengincar uang cucuku! Berapa banyak yang kamu inginkan agar kamu menjauh dari Joseph?"Aku tidak bisa menahan isak tangis ketika Esti menghinaku tepat di hadapanku."Nenek! Cukup! Aku bawa Betty ke sini bukan untuk dihina Nenek. Kalau Nenek nggak bisa menerimanya, terserah! Aku nggak peduli kalau keluarga ini mau mengusirku!" ujar Joseph kepada neneknya dengan marah."Kamu lebih membela perempuan itu daripada keluargamu sendiri? Joseph, apa kamu sudah lupa kalau darah Keluarga Makuta mengalir dalam tubuhmu?

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 485

    "Sayang, Nenek sudah menunggumu sejak tadi malam. Nenek senang sekali kamu akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kami," kata Esti dengan gembira sambil mencium pipi cucunya, Joseph.Aku hanya memperhatikan mereka dalam diam karena terlalu canggung untuk mendekat.Di daerah tempat tinggalku, Esti dikenal sebagai wanita kaya yang baik hati dan taat beragama. Orang-orang mengatakan dia sering memberikan sumbangan dalam jumlah besar kepada gereja dan berbagai organisasi lain yang membutuhkan bantuan finansial."Maaf, Nenek. Aku pergi jemput istriku, jadi tadi malam aku pulang terlambat. Nenek sudah tidur waktu kami tiba," kata Joseph kepada neneknya."Istri? Kamu sudah punya istri, Sayang? Sejak kapan?" tanya Esti dengan bingung.Sepertinya dia benar-benar tidak percaya cucunya sudah menikah."Ya, Nenek nggak salah dengar. Aku sudah menikah," kata Joseph sambil tersenyum dan melirikku.Dia memberi isyarat agar aku mendekat. Aku menurut meskipun gugup dan takut membayangkan bagaimana reaksi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status