共有

Bab 33

作者: Cathy
Liam, Iris, dan aku. Kami bertiga adalah trio yang terbentuk sejak kecil.

Kami tak terpisahkan. Liam adalah sahabat terbaikku, orang yang bahkan membantuku menulis surat cinta pertamaku untuk Iris. Mungkin itulah yang membuat pengkhianatannya begitu sulit kupahami.

Di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku, dia malah kabur bersama calon pengantinku. Dia tak pernah menunjukkan sedikit pun tanda bahwa dia punya perasaan pada Iris. Alasan di balik semuanya masih menghantuiku
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 441

    Sudut Pandang Trinity:Aku melihat ekspresi terkejut di wajah Mindy setelah mendengar ucapanku. Dia mungkin tidak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu.Aku tak kuasa tersenyum sinis. Segarang apa pun seseorang, dia pasti tetap punya kelemahan. Saat ini Mindy memang belum gentar, tetapi aku akan memastikan dia tidak akan pernah berhasil menghancurkan hubunganku dengan Dante."Dulu kamu mungkin bisa menindasku, tapi sekarang nggak lagi, Mindy. Aku nggak akan membiarkan siapa pun merebut pria yang kucintai. Milikku tetaplah milikku.""Kalau aku sampai tahu kamu mencoba menggoda Dante lagi, aku akan menamparmu lebih keras dari ini. Ingat itu!" bentakku tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari matanya.Dia langsung membuang muka dan tersenyum sinis, meski terlihat sedikit ragu."Wah, hebat sekali! Kita sudah bertahun-tahun nggak bertemu, sekarang kamu jadi seberani ini, ya! Sepertinya kamu jadi percaya diri karena sudah kembali sama Dante. Tapi, cara seperti itu nggak akan memb

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 440

    Sudut Pandang Trinity:Keesokan paginya, aku terbangun tanpa Dante dan anak-anak di sampingku.Aku segera berdiri, pergi ke kamar mandi, menyelesaikan rutinitas pagiku, lalu mengenakan pakaian yang nyaman sebelum keluar mencari suami dan anak-anakku.Setelah keluar, aku melihat Dante sedang bermain bersama anak-anak di taman dengan gembira. Aku tersenyum melihat betapa cepatnya mereka akrab dalam waktu sesingkat itu."Selamat pagi, Sayang!" sapa Dante saat aku menghampirinya. Dia kemudian mengecup bibirku dengan hangat, membuatku merasa canggung karena anak-anak melihat kami.Ibu mertuaku juga ada di sana, sibuk merawat bunga-bunganya. Aku masih belum terbiasa dicium Dante di depan orang lain."Selamat pagi. Kamu bangun pagi sekali," kataku sambil menghampiri si kembar dan mencium pipi mereka. Mereka sekarang sudah berusia 3 tahun, penuh energi, dan tidak pernah bisa diam di satu tempat terlalu lama."Ini sudah hampir siang, Sayang. Sekarang sudah jam 10. Kamu yang bangun kesiangan," k

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 439

    Sudut Pandang Trinity:Setelah bibir Dante menyentuh bibirku, aku langsung membalas ciumannya. Kami berciuman dengan penuh gairah sampai dia mulai melepaskan pakaianku."Ehmm, Dante ...." Aku tak kuasa mengerang ketika dia mulai mengisap putingku.Tubuhku terasa panas. Aku sudah basah. Seketika, aku menginginkan sesuatu yang bahkan sulit kuungkapkan dengan kata-kata."Kamu suka?" tanyanya dengan lembut sambil menjauhkan mulutnya sejenak. Satu tangannya masih membelai payudaraku, membuat tubuhku melengkung karena sensasi yang begitu kuat."Ya, suka. Tapi kita benar-benar akan melakukannya di sini? Anak-anak bisa bangun," kataku dengan mata dipenuhi hasrat.Dia terdiam dan melirik kedua anak kembar yang tidur nyenyak di samping. Aku menahan eranganku, takut membangunkan mereka."Kita ke kamar mandi saja," kata Dante, tetapi aku menggeleng.Kamar mandi tidak aman. Anak-anak bisa bangun dan mencari kami. Kami bukan berada di vila dan mereka belum hafal tempat ini. Mereka bisa saja panik at

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 438

    Sudut Pandang Trinity:"Terima kasih," ucap Dante saat kami masuk ke kamarnya.Aku sedang mengganti pakaian si kembar. Mereka jelas sudah mengantuk dan perlu berganti piama sebelum tidur.Mereka sangat menikmati suasana baru ini sampai hampir tidak pernah lepas dari sisi Dorothy. Bahkan ibu mertuaku meminta kami tinggal beberapa hari lagi agar dia bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama si kembar.Aku sendiri belum bisa memutuskan karena keputusan akhirnya ada di tangan Dante."Untuk apa?" tanyaku sambil tersenyum. Aku melirik ke arahnya, melihat dia juga menatapku sambil tersenyum."Karena kalian semua akhirnya ada di sisiku. Aku sudah lama sekali menunggu momen ini, akhirnya terwujud juga. Kamu nggak tahu betapa beruntungnya aku, Sayang. Selama ini aku hanya ingin bisa bersamamu dan anak-anak," jawabnya.Aku menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan, lalu berbalik menghadapnya. Dia duduk di sisi lain tempat tidur sambil terus tersenyum. Jelas sekali, dia merasa bahagia bisa bersama

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 437

    Sudut Pandang Trinity:Waktu berlalu begitu cepat. Kami langsung terbang ke Vistablanc dengan helikopter. Perjalanan berjalan lancar hingga kami tiba di rumah ibu Dante. Dia menyambut kami dengan gembira."Dante, Ibu senang kamu nggak mengecewakan Ibu. Ini istri dan anak-anakmu?" tanya ibu Dante dengan antusias.Dari ekspresinya saja, aku sudah bisa merasakan bahwa kami akan cocok."Ya, Bu. Ini Trinity, istriku yang cantik, yang selalu kuceritakan padamu. Sayang, ini ibuku, ibu kandungku," jelasnya sambil tersenyum."Halo, Bu," ucapku sambil tersenyum. Aku pun terkejut karena dia langsung memelukku erat-erat.Aku menatap Dante. Matanya dipenuhi kebahagiaan."Selamat datang di keluarga kami. Aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu," katanya.Aku pun membalas pelukannya tanpa ragu."Terima kasih," kataku. Aku melepaskan pelukan saat mendengar anak-anak mulai menangis. Dante langsung menghampiri Beatrice dan menggendongnya."Ini cucu-cucuku?" tanya ibu Dante. Dante tersenyum, lalu me

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 436

    Sudut Pandang Trinity:"Ibu kandungku. Sekarang dia di Vistablanc. Dulu aku berencana mengenalkannya ke kamu, tapi waktu itu hidupku kehilangan arah, jadi aku nggak pernah melakukannya," jelas Dante.Sepertinya dia menyadari keterkejutanku saat mendengar kata "ibu"."Ibu kandungmu? Maaf, tapi kamu masih punya ibu? Kenapa dulu kamu bilang kalau ibumu sudah meninggal?" tanyaku.Aku melihat rasa bersalah melintas di wajahnya. Sepertinya dulu dia memang sudah berbohong kepadaku, jadi aku punya alasan untuk meragukan perkataannya sekarang.Aku pernah bertanya kepadanya di mana ibunya, tetapi dia hanya mengatakan bahwa ibunya sudah lama meninggal. Wajar kalau aku terkejut saat sekarang dia mengatakan hal yang berbeda."Maaf. Dulu aku sangat membencinya dan menganggap dia sudah mati. Namun, ketika aku bertemu dengannya lagi, aku sadar kita semua pernah melakukan kesalahan. Nggak ada alasan bagiku untuk terus menolaknya. Bagaimanapun juga, dia tetap ibuku," jawabnya.Aku kembali tersenyum.Aku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status