로그인Aku benar-benar bahagia melihat Dante bersama anak-anak kami. Aku tidak menyangka dia akan menerima mereka dengan begitu hangat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat aku berusaha keras menahan air mata.Setelah menggendong Beatrice, dia beralih kepada Bernard dan menghujani pipinya dengan ciuman.Ini pertama kalinya aku melihat mata Dante berlinang air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Tidak pernah kusangka anak-anak kami bisa membuatnya menangis.Aku menghampiri mereka ketika mendengar Beatrice menangis. Dia mungkin tidak terima karena papanya menurunkannya demi menggendong kakaknya."Dia cemburu," kataku kepada Dante sambil menggendong Beatrice dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut. Aku menyadari Dante sedang menatapku, tetapi aku mengabaikannya. Aku bahkan membelakanginya sambil menenangkan Beatrice, terutama ketika tangisannya semakin keras karena ingin kembali digendong papanya."Benarkah?" tanyanya.Aku mengangguk."Iya. Dia mau semua perhatian hanya unt
Aku menatap Dante. Harus kuakui, sekarang dia sudah belajar meminta dengan baik-baik. Lagi pula, siapa aku sampai harus melarangnya mendapatkan apa yang dia inginkan?Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kami dan penderitaan yang kualami karena ulahnya, aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku tidak mungkin terus menyembunyikan anak-anak darinya selamanya. Suatu hari nanti, mereka pasti akan mencari ayah mereka, dan aku tidak ingin merampas hak mereka untuk mengenal ayahnya.Aku tidak ingin bersikap egois jika menyangkut anak-anakku. Mengabulkan keinginannya bukan berarti kami akan kembali bersama. Aku tetap teguh pada keputusanku untuk tidak kembali kepadanya.Cukup sekali aku menderita karena dia. Aku akan berusaha hidup bahagia dan mencurahkan seluruh perhatianku pada bisnis serta anak-anakku. Aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapa pun."Baiklah. Kamu tetap ayah mereka, dan aku nggak ingin merampas hakmu untuk bertemu me
Sudut Pandang Trinity:Saat kami hampir sampai di mobil Dante, anak buahnya menoleh ke arah kami. Mereka masing-masing buru-buru menyembunyikan ponsel seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menghampiri kami."Bos, apa yang terjadi? Apa Anda terluka?" tanya salah seorang dari mereka.Kalau aku tidak salah ingat, dia adalah tangan kanan Dante. Rasanya aku ingin menoyornya. Sudah jelas Dante terluka, tetapi dia masih saja bertanya."Sedikit. Buka pintu mobil!" jawab Dante sambil merangkul bahuku.Aku sudah tidak merasakan beban tubuhnya lagi, jadi aku berusaha menjauh. Namun, tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dan memaksaku masuk ke mobil."Apa yang kamu lakukan? Dante, aku nggak mau ikut denganmu! Lepaskan aku!" bentakku sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.Tanpa kesulitan sedikit pun, dia berhasil memasukkanku ke dalam mobil.Aku mulai merasa curiga.Bukankah tadi Dante terkena pukulan Carlos? Bagaimana mungkin dia bisa memaksaku masuk ke mobil dengan semudah itu? Apa
Sudut Pandang Trinity:Aku perlahan menarik tanganku dari genggaman Carlos.Kalau bisa, aku tidak ingin menyinggung perasaannya. Apalagi orang tuanya dekat dengan orang tuaku. Namun, jika dia memang berniat mendekatiku, aku akan menjaga jarak darinya."Hm, maaf kalau ucapanku tadi membuatmu kaget. Aku cuma nggak mau membuang waktu. Waktu pertama kali lihat fotomu, aku langsung jatuh cinta. Aku pikir, mungkin ini kesempatan yang tepat untuk mendekatimu," katanya, membuatku semakin canggung.Dia seharusnya tidak mencintaiku. Hatiku sudah menjadi milik pria lain.Belum sempat aku tersadar dari lamunanku, suara yang begitu kukenal tiba-tiba terdengar di seluruh restoran."Trinity, istriku. Syukurlah, kamu sudah pulang."Aku spontan berdiri mendengar suara itu. Itu adalah suara Dante yang sudah terukir dalam ingatan dan jiwaku."Mau apa kamu di sini? Kenapa kamu terus bikin keributan sih?" tanya Carlos dengan marah. Dia berdiri dan langsung mencengkeram kerah baju Dante.Aku pun panik."Car
Sudut Pandang Trinity:"Mama, aku baik-baik saja. Aku bisa kok," jawabku segera sambil bersiap di depan cermin.Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kantor sejak pulang dari Amestria.Aku akan menepati janjiku kepada Papa, mengambil alih Perusahaan Logistik Baskoro setelah berhasil pulih dari patah hati akibat perlakuan Dante."Mama cuma khawatir, Sayang. Papa juga nggak protes kalau kamu nggak mulai kerja hari ini. Kamu baru saja pulang, tapi sudah langsung mikirin pekerjaan. Kamu bisa santai dulu sama anak-anak. Jangan khawatir soal perusahaan. Papa bisa mengurusnya," kata Mama.Aku tersenyum."Aku tetap bisa santai sama anak-anak meski sambil bekerja. Jangan khawatir, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak enak sama Papa. Dulu aku minta waktu setahun, tapi malah molor jadi tiga tahun gara-gara harus mengurus anak-anak," sahutku sambil tersenyum."Kamu ini ngomong apa? Mama sudah bilang, nggak usah dipikirkan. Papa nggak masalah," kata Mama.Aku menyelesaikan riasanku, lalu men
Sudut Pandang Dante:"Nyonya sudah pulang ke Philvania, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Ruben.Dia satu-satunya saksi atas semua yang telah kulalui selama beberapa tahun terakhir, jadi aku menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku berterima kasih kepadanya karena selalu menjagaku.Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut akibat beberapa malam tidak bisa tidur.Sejak melihat Trinity dan anak-anak kami di bandara, aku tidak bisa tidur. Insomniaku makin parah. Setiap kali memejamkan mata, wajah lembut Trinity terus menghantui pikiranku.Aku membuka mata dan menatap bingkai foto di atas meja. Itu adalah foto Trinity dan anak kembar kami.Ya, aku tahu semua tentang kehidupan Trinity di Amestria berkat saudari tiriku, Dorothy.Dorothy adalah putri ibuku dari pria lain. Aku baru mengetahui keberadaannya belum lama ini. Aku pun senang kami bisa menerima satu sama lain sebagai saudara.Dia satu-satunya saudara perempuanku. Tidak ada alasan bagiku untu







