MasukSudut Pandang Betty:Kami melewati area luas milik Keluarga Makuta hingga akhirnya rumah itu terlihat. Rumah Keluarga Makuta benar-benar tampak seperti istana yang berdiri di tengah lapangan terbuka.Ini pertama kalinya aku melihat tempat itu secara langsung. Natalie sama sekali tidak melebih-lebihkan. Seluruh area itu benar-benar luar biasa.Begitu kami turun dari minivan, seorang wanita paruh baya menyambut orang tua Natalie. Aku pun mengikuti mereka."Kalian datang tepat waktu. Pestanya dimulai jam 3, jadi masih banyak waktu untuk siap-siap. Para pelayan akan bantu membawa barang-barang kalian ke dapur," kata wanita itu.Namanya Linda. Dia adalah kepala pelayan di rumah itu.Selain itu, dia juga kerabat jauh Natalie. Itulah sebabnya dia selalu menghubungi Vero setiap kali rumah ini butuh ikan untuk suatu acara."Acaranya baru dimulai sore hari? Ikannya mungkin bisa rusak," kata Vero.Linda menggeleng. "Nggak bakal. Koki akan mengurusnya. Marissa di mana? Kenapa dia nggak ikut dengan
Sudut Pandang Betty:"Mama! Mama! Tolong aku!" Seorang gadis kecil terus menangis sambil berusaha meraih tangan seorang wanita yang wajahnya tak pernah bisa kulihat dengan jelas.Aku bisa merasakan seluruh rasa sakit yang dirasakannya saat dia berusaha meraih tangan itu. Wanita itu terus memanggil nama Beatrice sambil menangis tersedu-sedu. Aku pun tidak bisa menahan air mataku.Melihatnya menangis membuatku merasa sesak. Awan tebal perlahan menelannya hingga yang tersisa hanyalah suara tangisnya.Aku terus menangis sampai seseorang mengguncang bahuku. Akhirnya, aku membuka mata."Betty! Ya Tuhan, kamu mimpi buruk ya," kata Mama.Aku menatapnya sambil mengusap air mata, lalu bangkit dan duduk dengan napas terengah-engah. Mama terus mengusap punggungku."Ma, maaf sudah bangunin Mama. Aku sendiri nggak ngerti, kenapa aku terus mimpi seperti itu," kataku.Tatapannya melunak saat memandangku. "Mimpi tentang dia lagi?" tanyanya.Aku mengangguk perlahan. Dia tahu persis mimpi yang kumaksud.
Sudut Pandang Betty:"Se ... sebentar, Pak. Aku tahu aku cantik, tapi jangan langsung menarikku ke pelukanmu seperti ini. Nanti orang-orang kira kita punya hubungan," kataku, berusaha menutupi gejolak yang berkecamuk di dalam hati.Saat itu, rasanya aku seperti tenggelam dalam tatapannya. Jakunnya bergerak naik turun, sementara ekspresinya begitu serius. Aku melepaskan diri darinya, lalu memberikan senyum manis."Baiklah, aku pergi dulu. Toh aku nggak terluka, jadi simpan saja uangmu," ucapku.Dia tidak menjawab, jadi aku berbalik dan berjalan pergi. Aku sendiri tidak mengerti perasaan aneh yang muncul terhadap orang yang sama sekali tidak kukenal itu. Jantungku terus berdebar kencang.Bahkan saat aku sudah berjalan menjauh, aku masih bisa merasakan tatapannya tertuju pada punggungku.Aku memaksakan diri untuk tidak menoleh. Aku tidak butuh hal semacam ini dalam hidupku sekarang.Kenapa kalau dia tampan? Ada banyak pria tampan di dunia ini. Setelah lulus nanti, aku pasti akan bertemu d
Sudut Pandang Betty:"Ma, aku pulang!" seruku setelah masuk ke rumah kecil kami.Hanya dengan sekali melihat, orang bisa langsung melihat seluruh isi rumah ini. Hanya ada satu kamar, dapur kecil, dan kamar mandi. Rumahnya begitu sempit sampai-sampai hanya aku dan Mama yang bisa tinggal di dalamnya."Sayang, akhirnya kamu pulang. Makan dulu, ada makanan di meja. Mama tahu kamu pasti lapar," kata Mama sambil keluar dari kamar mandi.Keringat membasahi dahinya dan wajahnya tampak pucat. Aku langsung merasa khawatir."Ma, ada apa? Ada yang sakit?" tanyaku sambil buru-buru menghampirinya dan menuntunnya ke tempat tidur. Aku mendudukkannya di ranjang kayu, lalu mengusap punggungnya."Mama pasti kecapekan ya? Aku sudah bilang, Mama nggak perlu terus bekerja. Tubuh Mama terlalu lemah. Tinggal saja di rumah. Biar aku yang urus semuanya," kataku dengan dada yang terasa sesak karena khawatir.Mama menggenggam tanganku. "Jangan khawatir, Sayang. Kamu lupa janji Mama? Mama nggak akan berhenti beker
Sudut Pandang Betty:Aku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan pulang.Aku baru saja dari kafe tempatku melamar kerja. Aku sangat senang karena mereka langsung menerimaku.Saat itu sedang libur musim panas. Aku ingin memiliki pekerjaan paruh waktu agar nanti ketika semester baru dimulai, aku tidak perlu meminta uang kepada Mama.Aku ingin meringankan bebannya sebisa mungkin. Aku tahu betapa sulitnya bagi Mama untuk terus bekerja di usianya sekarang."Hei, Betty! Sini, cantik!"Aku langsung berhenti ketika mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh dan melihat Rain melambaikan tangan kepadaku sambil menyeringai."Betty, cantik, sini! Ayo, cepat!" Dia bahkan hampir menjerit karena terlalu bersemangat.Aku tak punya pilihan selain mampir ke salonnya. Mungkin dia hanya ingin bergosip denganku lagi."Ada apa? Dari teriakanmu saja sudah ketahuan ada sesuatu," kataku sambil mendekat. Aku lebih tinggi darinya, jadi dia harus mendongak untuk menatapku sambil tersenyum lebar.Dia langsun
Sudut Pandang Trinity:Lima belas tahun kemudian ...."Selamat ulang tahun ke-18, Sayang," kataku sambil menyapa putraku, Bernard. Tampak sedikit kesedihan yang tersembunyi di balik senyumku.Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku melahirkan dia dan saudara kembarnya, Beatrice.Lima belas tahun terakhir hidupku bersama Dante berjalan dengan baik, meski Beatrice tidak bersama kami. Kami telah dikaruniai lima anak, tetapi itu tidak pernah membuatku berhenti memikirkan putriku yang hilang setiap hari."Terima kasih, Ma. Aku sudah bilang ke Mama dan Papa, aku nggak mau pesta," kata Bernard.Aku memaksakan senyum meskipun sebenarnya ingin menangis. Seandainya Beatrice ada di sini, pesta ini pasti akan terasa jauh lebih berarti. Ini juga ulang tahunnya yang ke-18. Dia seharusnya berada di sini bersama saudara serta sepupu-sepupunya.Pikiran itu saja sudah membuat mataku berkaca-kaca. Dante langsung panik. Dia merangkul bahuku dan mengecup puncak kepalaku."Sudah, jangan begitu.







