Share

Bab 355

Author: Cathy
Sudut Pandang Felicia:

'Dia benar-benar berlutut di depan Ayah?' Pikiranku berteriak saat menatap Orson.

Apa dia benar-benar bertekad untuk meluluhkan hatiku?

"Hahaha. Sudahlah, ayo berdiri. Kamu nggak perlu begitu. Aku nggak marah, dan aku mengerti keadaanmu. Berdirilah, kita bicarakan hubunganmu dengan putriku," kata Ayah kepada Orson.

Aku tidak bisa menahan rasa malu di depan Papa dan Mama. Mereka mungkin akan salah paham tentang keluarga kami.

Kenapa Orson harus berlutut? Apa yang sebenarnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 355

    Sudut Pandang Felicia:'Dia benar-benar berlutut di depan Ayah?' Pikiranku berteriak saat menatap Orson.Apa dia benar-benar bertekad untuk meluluhkan hatiku?"Hahaha. Sudahlah, ayo berdiri. Kamu nggak perlu begitu. Aku nggak marah, dan aku mengerti keadaanmu. Berdirilah, kita bicarakan hubunganmu dengan putriku," kata Ayah kepada Orson.Aku tidak bisa menahan rasa malu di depan Papa dan Mama. Mereka mungkin akan salah paham tentang keluarga kami.Kenapa Orson harus berlutut? Apa yang sebenarnya ingin dia buktikan?"Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah bersalah pada putri Anda. Aku berjanji nggak akan membiarkan Felicia terluka lagi," kata Orson.Sepertinya dia tidak berniat berdiri, jadi aku menghampirinya dan menariknya hingga berdiri."Kamu ngapain?" tanyaku kesal.Setelah dia berdiri, aku segera meminta izin kepada semua orang dan pergi. Aku bahkan tidak repot-repot melihat reaksi mereka atau menunggu siapa pun menjawab. Aku hanya berjalan menuju pintu.Tiba-tiba, aku kehilangan s

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 354

    Sudut Pandang Felicia:"Ayah," sapaku sambil membungkuk dan mengecup pipinya.Dia hanya mengangguk sebelum mengalihkan perhatian kepada orang-orang yang kuajak bersamaku, yaitu Keluarga Baskoro."Mereka Mama Abigail dan Papa Ryan. Mereka datang dengan anak-anak mereka, Trinity dan Orson. Merekalah yang membesarkanku. A ... aku menganggap mereka sebagai keluargaku," kataku, tiba-tiba merasa ragu.Ini pertama kalinya aku melihat wajah Ayah seserius itu."Aku merasa terhormat akhirnya bisa bertemu denganmu, Pak Gerard."Papa menjadi orang pertama yang berbicara. Dia langsung mengulurkan tangan kepada Ayah.Ayah menatapnya sejenak sebelum menerima uluran tangannya.Aku langsung mengembuskan napas lega."Mama, Papa, ini Dante, keponakanku. Dia putra mendiang kakakku. Dante, aku yakin kamu sudah kenal Trinity, 'kan? Dan ini Orson, ayah dari si kembar," kataku memperkenalkan mereka.Jika ekspresi tegas Ayah saja sudah membuatku gugup, ekspresi Dante bahkan lebih mengintimidasi.Dia terlihat j

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 353

    Sudut Pandang Felicia:"Felicia, benarkah? Kamu hamil lagi, dan aku ayahnya?"Orson bertanya setelah Mama dan Papa meninggalkan kami berdua di ruang keluarga. Mereka sengaja memberi waktu agar kami bisa bicara."Iya, tapi jangan khawatir. Sama seperti anak-anak kita yang lain, aku nggak akan memaksamu bertanggung jawab atas bayi ini," kataku.Dia tampak terkejut.Aku melihat kepahitan melintas di matanya dan langsung tahu bahwa dia tidak menerima perkataanku.Namun, apa lagi yang bisa kulakukan?Aku ingin jujur kepadanya. Terlalu banyak hal yang telah terjadi di antara kami, dan kami tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja."Ayolah, Felicia. Kamu tahu aku bisa memenuhi semua kebutuhan anak-anak kita, 'kan? Kasih aku kesempatan," katanya. Emosi dalam suaranya membuatku merasa bersalah."Maaf. Jangan khawatir. Mulai sekarang, aku akan memberimu kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan anak-anak kita. Aku nggak bakal egois lagi, Orson. Setidaknya, aku ingin memberi m

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 352

    Sudut Pandang Felicia:Keningku dipenuhi keringat saat aku berusaha mengatur napasku yang terengah-engah.Andai saja aku bisa mempercepat waktu dan membuat semua penderitaan ini segera berakhir. Aku tidak pernah menyangka kehamilan bisa sesakit ini."Kamu nggak apa-apa? Sebenarnya ada apa, Felicia? Kamu sakit?" tanya Orson dengan cemas sambil mengusap punggungku.Aku tak mampu menjawabnya.Tiba-tiba aku tersadar. Aku tidak sedang berada di rumah. Aku berada di vila Keluarga Baskoro, dan mereka jelas melihat apa yang baru saja terjadi."Hah? Oh, aku nggak apa-apa," jawabku akhirnya sambil mengusap keringat di kening.Setelah muntah, aku merasa sedikit lebih baik."Kamu yakin? Kalau mau, aku bisa antar kamu ke rumah sakit," kata Orson sambil membantuku berdiri.Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku sudah terjatuh ke lantai. Setelah rasa mual yang begitu hebat, aku nyaris ambruk di samping toilet dengan kedua tanganku masih memeluknya."Nggak, aku nggak apa-apa. Kamu makan saja. Mungkin ak

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 351

    "Kamu pergi saja. Nanti aku telepon kalau sudah waktunya dijemput. Kalau Ayah tanya, bilang saja aku bersama mereka," perintahku kepada sopir saat kami kembali ke area parkir.Aku ingin menghabiskan hari bersama keluarga tempatku dibesarkan tanpa harus diikuti segerombolan pengawal. Sekali ini saja, aku ingin menikmati waktu bersama mereka."Maaf, Nona, tapi kami nggak bisa seperti itu. Kami bakal kena masalah kalau sampai Nona kenapa-napa. Tolong izinkan kami tetap menjaga Nona. Tenang saja, kami nggak akan mengganggu. Kami cuma ingin memastikan Nona aman," kata sopirku.Aku melirik mobil Mama Abigail, tempat mereka menungguku dengan sabar. Aku mengembuskan napas panjang sebelum menjawab."Oke. Kalau itu mau kalian, lakukan saja sesukanya," kataku sebelum berbalik dan berjalan pergi.Sopir dan para pengawalku adalah orang-orang Dante, jadi mereka hanya akan mengikuti perintahnya. Kalau mereka malah mengikuti perintahku, Dante mungkin akan mengomeli mereka nanti. Terserah saja mereka m

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 350

    Sudut Pandang Felicia:"Kasih aku waktu. Kami akan datang ke rumahmu untuk menemui anak-anak," kata Orson saat kami tiba di taman. Dia berjalan di belakangku."Terima kasih, Felicia. Kamu tahu nggak, aku sudah menunggu momen ini begitu lama. Kamu nggak tahu betapa bahagianya aku sekarang," katanya.Suaranya dipenuhi kebahagiaan. Aku spontan menoleh dan melihat kegembiraan di matanya. Aku pun tak kuasa menahan senyum.Bagaimana perasaannya kalau dia tahu aku hamil lagi? Haruskah aku memberitahunya?Mungkin nanti saja. Untuk sekarang, aku akan membiarkannya bertemu dengan si kembar terlebih dahulu sebelum memberitahunya bahwa kami akan punya anak lagi. Perutku juga belum terlihat membesar, jadi seharusnya tidak masalah.Situasiku benar-benar rumit. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah sampai sejauh ini, jadi mau tak mau harus menghadapinya."Felicia, gimana kabarmu selama ini? Maksudku, apa kamu kesulitan mengurus mereka?" tanyanya beberapa saat kemudian.Aku kembali tersenyum."Kenapa? A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status