MasukSudut pandang Abigail:Aku menatap ke luar jendela mobil dengan kesal. Aku merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Ryan, dia sudah membuat keputusan. Dan aku tahu apa pun yang aku katakan, dia tidak akan mendengarkan karena dia selalu melakukan apa pun yang diinginkannya."Kamu tahu nggak Orson sangat terluka saat kamu menghilang? Kami pikir kamu sudah meninggal. Kenapa kamu bersembunyi dari kami, Abigail? Kenapa kamu biarkan kami percaya kalau kamu sudah mati?" kata Ryan.Aku menghela napas dengan kuat. Aku pikir Ryan akan tetap diam, tetapi dia malah terus berbicara.Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua itu karena aku koma selama bertahun-tahun. Saat aku sadar, Liam baru menjelaskan semuanya padaku. Dia menceritakan bagaimana mereka membawaku ke Gervox untuk menjalani perawatan dan bagaimana kecelakaan itu membuatnya menipu Ryan hingga percaya aku sudah meninggal.Liam yakin Ryan tahu tentang obat yang diberikan Nelly padaku adalah obat yang salah dan aku hanya akan m
Orang tuanya Liam bahkan tidak berbelas kasihan sedikit pun padaku saat aku hampir mati karena berduka atas kepergian istriku. Mereka benar-benar membuatku percaya Abigail sudah meninggal.Aku meraih tangan istriku dan Abigail segera mundur. Ini adalah saat yang sudah kutunggu-tunggu. Aku segera melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengangkatnya. Dia pun menjerit dan meronta-ronta, sedangkan Shirley dan Arnold langsung berdiri untuk menghentikanku."Ryan ... lepaskan Abigail!" perintah Shirley.Aku tidak mendengarkan perintah itu karena mereka tidak berhak untuk menghentikanku. Mereka sudah membantu putra mereka untuk membohongiku, sehingga aku tidak memiliki alasan untuk mendengarkan mereka. Aku berkata dengan marah, "Aku bawa istriku pergi, Bi Shirley. Bilang pada Liam, kita akan berhadapan."Pasangan suami istri itu saling menatap karena tidak mampu menjawab.Sementara itu, Abigail berusaha keras untuk melepaskan diri, sehingga aku memeluknya lebih erat. Aku tidak akan membiarka
Sudut Pandang Ryan:Aku sebenarnya tidak berencana menghadiri jamuan makan malam ini. Aku sudah berjanji kepada Nenek Amara bahwa aku akan makan di rumah. Aku juga tahu Orson sedang menungguku.Namun, Jeff selaku sekretaris mengatakan bahwa pengusaha tua itu ingin berbicara denganku sebelum berangkat ke Honshin besok untuk menjalani perawatan. Jadi, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menemuinya. Lagi pula, sekretarisnya sudah berulang kali menghubungiku selama beberapa minggu terakhir.Seperti yang sudah kuduga, kami membahas urusan bisnis. Kami mengobrol dan akhirnya mencapai kesepakatan. Pertemuan itu pun berakhir dengan cepat.Setelahnya, aku berniat pergi ke toilet. Kami mungkin akan terjebak macet dalam perjalanan pulang, jadi lebih baik berjaga-jaga.Aku baru saja hendak berbelok di sebuah sudut ketika menabrak seseorang. Untungnya, refleksku cukup cepat. Aku segera meraih pinggang wanita itu agar dia tidak jatuh.Awalnya aku ingin memarahinya, tetapi ketika melihat wajahnya
Apa yang dikatakan Shirley memang benar. Aku tidak bisa terus menjadi lemah. Aku harus belajar bagaimana menjalani hidup.Mereka tidak boleh lagi menindasku. Aku harus belajar memperjuangkan diriku sendiri.Alasan aku kembali ke negara ini setidaknya untuk mendapatkan keadilan atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Aku tidak bisa terus bersembunyi dari mereka selamanya."Oh ya ... Arnold undang kamu makan malam di restoran favoritnya. Kamu dan Marcie sebaiknya siap-siap. Nanti kita keluar," kata Shirley sambil tersenyum, lalu menyerahkan sebuah kantong kertas kepadaku.Aku menatapnya dengan bingung."Kamu ini wajah baru produk kita. Pakai itu. Mulai besok, banyak orang yang akan mengenalimu. Aku ingin kamu terlihat cantik di mata semua orang," ujar Shirley sambil tetap tersenyum.Aku mengangguk dengan ragu. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengenakan pakaian yang diberikan Shirley.Pakaiannya terlihat cukup bagus. Aku tidak perlu merasa malu memperlihatkan sedik
"Terima kasih, Pa!" jawab Orson sebelum kembali memejamkan mata.Aku menatapnya dengan sedih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia mengucapkan terima kasih kepadaku.Mungkin dia masih linglung akibat kecelakaan itu, jadi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Atau mungkin dia hanya memimpikannya, itulah sebabnya dia terus mengatakan bahwa ibunya masih hidup.Aku sedang menatap Orson dengan sedih ketika ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya saat melihat nama Arthur di layar."Ada kabar apa?" tanyaku."Pak, para polisi yang melakukan penyelidikan di rumah sakit sudah pergi. Aku juga sudah mengirim dua pengacara ke kantor polisi untuk menangani para pelapor," lapornya."Bagus. Katakan kepada para pengacara untuk melakukan apa pun yang diperlukan agar nama Orson nggak terseret. Jangan sampai ini masuk ke media. Aku bersedia bayar berapa pun agar masalah ini selesai," jawabku."Baik, Pak. Jangan khawatir. Sepertinya para pelapor sudah setuju dengan penyelesaian secara
Sudut Pandang Ryan:Hatiku nyaris hancur mendengar perkataan Orson. Aku bisa merasakan betapa dalam kesedihannya karena kehilangan ibunya. Aku menggenggam tangannya dan berusaha menenangkannya."Orson, tenang dulu. Yang kamu katakan itu nggak mungkin terjadi. Ibumu sudah tiada. Dia sudah meninggal sejak lama," kataku dengan suara yang sarat kesedihan.Dia langsung menggeleng. "Nggak .... Mama masih hidup. Tadi dia ada di sini. Aku lihat Mama dengan jelas," jawabnya sambil berusaha bangkit dari tempat tidur dan meringis kesakitan."Aku nggak salah. Aku sadar waktu melihat Mama. Aku merasakan dia menciumku. Aku mendengar dia menangis. Kalau Papa benar-benar mencintai Mama, cepat cari dia. Dia ada di sini," kata Orson.Aku hanya bisa menggeleng. Percakapan kami terputus ketika seorang perawat masuk. Syukurlah, Orson akhirnya terdiam sejenak.Kami membiarkan perawat itu melakukan pekerjaannya. Dia memeriksa kondisi Orson dan infus yang terpasang di tubuhnya. Beberapa menit kemudian, dia se
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg







