LOGIN"Kamu nggak bersalah, Orson. Ini adalah pertarunganku. Jangan buang-buang waktumu pikirkan hal-hal yang sudah terjadi, semua itu sudah berlalu dan Mama juga sudah lupakan itu," jawabku sambil memaksakan senyuman.Orson menatapku cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya ke kejauhan dan berkata dengan sedih, "Mama harusnya bersama dengan Papa Liam, jadi Mama nggak perlu mengalami semua ini kalau Mama menikah dengannya. Aku masih ingat bagaimana dia merawat Mama dulu. Mama nggak akan menderita seperti ini kalau dia yang jadi suami Mama."Aku segera menggelengkan kepala, lalu berkata, "Nggak, tolong jangan bilang itu, Orson. Mama selalu menganggap Liam itu kakakku. Dan meskipun kami nggak berakhir bersama, dia tetap merawat Mama. Dia dan istrinya merawat Mama sampai Mama pulih."Saat mendengar kata-kata itu, aku bisa melihat rasa terkejut di tatapan Orson."Istri? Papa Liam sudah punya istri?" tanya Orson.Aku menganggukkan kepala, lalu menjawab, "Ya. Kamu masih ingat Suster Rosa? Sekaran
Sudut pandang Abigail:"Mama, janji ya Mama nggak akan meninggalkanku lagi."Saat ini, kami semua sudah berada di kamar Orson dan nada bicara Orson terdengar seperti memohon saat mengucapkan kata-kata itu. Mendengar itu, hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Putraku sudah menderita selama delapan tahun tanpa aku di sisinya dan aku bahkan tidak bisa merawatnya.Orson benar-benar telah tumbuh menjadi seorang remaja, tidak ada lagi jejak Orson yang dulu. Aku bisa melihatnya dari kamarnya, dari cara dia bersikap. Sekarang, dia bahkan lebih tinggi dariku.Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Aku tidak berada di sisi Orson saat dia membutuhkanku, sehingga aku merasa seperti ibu tak berguna karena tidak menunjukkan diriku kepadanya selama bertahun-tahun ini."Mama janji. Sekarang Mama sudah ada di sini, Mama nggak akan biarkan kita berpisah lagi. Mama akan menebus semua waktu saat Mama nggak ada di sisimu," jawabku sambil meneteskan air mata.Orson tersenyum, lalu mendekat dan kembali
Aku dan Ryan tiba di rumah itu dengan cepat.Saat mobil melewati gerbang, aku tidak ingin keluar. Aku takut saat membayangkan bagaimana reaksi Orson yang melihatku karena selama ini aku tidak bisa berada di sisinya sebagai seorang ibu. Aku berharap dia tidak marah padaku dan reaksinya akan sama seperti saat dia melihatku di rumah sakit. Aku ingin memeluk dan menciumnya untuk menebus perpisahan selama bertahun-tahun ini.Aku dan Orson sudah tidak bertemu selama delapan tahun. Ada begitu banyak hal yang perlu aku tahu tentangnya, aku sudah melewatkan begitu banyak momen dalam hidupnya. Aku berjanji pada diriku, aku akan menebus semuanya dengan cara apa pun yang aku bisa."Keluarlah. Aku tahu Nenek Amara dan Orson mau bertemu denganmu," kata Ryan.Saat itu, pintu mobil di sisiku sudah terbuka dan ekspresi Ryan yang datar itu membuatku gugup."Terima kasih," jawabku dengan sengaja, lalu keluar dari mobil.Saat Ryan mencoba membantuku keluar dari mobil, aku menjauh. Aku mendengarnya menghel
Sudut pandang Abigail:Aku menatap ke luar jendela mobil dengan kesal. Aku merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Ryan, dia sudah membuat keputusan. Dan aku tahu apa pun yang aku katakan, dia tidak akan mendengarkan karena dia selalu melakukan apa pun yang diinginkannya."Kamu tahu nggak Orson sangat terluka saat kamu menghilang? Kami pikir kamu sudah meninggal. Kenapa kamu bersembunyi dari kami, Abigail? Kenapa kamu biarkan kami percaya kalau kamu sudah mati?" kata Ryan.Aku menghela napas dengan kuat. Aku pikir Ryan akan tetap diam, tetapi dia malah terus berbicara.Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua itu karena aku koma selama bertahun-tahun. Saat aku sadar, Liam baru menjelaskan semuanya padaku. Dia menceritakan bagaimana mereka membawaku ke Gervox untuk menjalani perawatan dan bagaimana kecelakaan itu membuatnya menipu Ryan hingga percaya aku sudah meninggal.Liam yakin Ryan tahu tentang obat yang diberikan Nelly padaku adalah obat yang salah dan aku hanya akan m
Orang tuanya Liam bahkan tidak berbelas kasihan sedikit pun padaku saat aku hampir mati karena berduka atas kepergian istriku. Mereka benar-benar membuatku percaya Abigail sudah meninggal.Aku meraih tangan istriku dan Abigail segera mundur. Ini adalah saat yang sudah kutunggu-tunggu. Aku segera melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengangkatnya. Dia pun menjerit dan meronta-ronta, sedangkan Shirley dan Arnold langsung berdiri untuk menghentikanku."Ryan ... lepaskan Abigail!" perintah Shirley.Aku tidak mendengarkan perintah itu karena mereka tidak berhak untuk menghentikanku. Mereka sudah membantu putra mereka untuk membohongiku, sehingga aku tidak memiliki alasan untuk mendengarkan mereka. Aku berkata dengan marah, "Aku bawa istriku pergi, Bi Shirley. Bilang pada Liam, kita akan berhadapan."Pasangan suami istri itu saling menatap karena tidak mampu menjawab.Sementara itu, Abigail berusaha keras untuk melepaskan diri, sehingga aku memeluknya lebih erat. Aku tidak akan membiarka
Sudut Pandang Ryan:Aku sebenarnya tidak berencana menghadiri jamuan makan malam ini. Aku sudah berjanji kepada Nenek Amara bahwa aku akan makan di rumah. Aku juga tahu Orson sedang menungguku.Namun, Jeff selaku sekretaris mengatakan bahwa pengusaha tua itu ingin berbicara denganku sebelum berangkat ke Honshin besok untuk menjalani perawatan. Jadi, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menemuinya. Lagi pula, sekretarisnya sudah berulang kali menghubungiku selama beberapa minggu terakhir.Seperti yang sudah kuduga, kami membahas urusan bisnis. Kami mengobrol dan akhirnya mencapai kesepakatan. Pertemuan itu pun berakhir dengan cepat.Setelahnya, aku berniat pergi ke toilet. Kami mungkin akan terjebak macet dalam perjalanan pulang, jadi lebih baik berjaga-jaga.Aku baru saja hendak berbelok di sebuah sudut ketika menabrak seseorang. Untungnya, refleksku cukup cepat. Aku segera meraih pinggang wanita itu agar dia tidak jatuh.Awalnya aku ingin memarahinya, tetapi ketika melihat wajahnya
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b







