เข้าสู่ระบบSudut pandang Abigail:Bahkan sampai sekarang pun, aku masih gemetar karena marah pada Nelly. Saudari kandungku yang tidak pernah diduga akan mengkhianatiku, orang yang mencoba membunuhku agar bisa merebut pria yang aku kira tidak akan pernah menyakitiku lagi.Namun, itu terjadi untuk kedua kalinya, Ryan kembali tergoda oleh wanita lain. Yang lebih parahnya lagi, wanita itu adalah saudariku sendiri. Saudari yang dulu aku anggap seperti malaikat yang akan selalu berada di sisiku seumur hidup.Saat ini, Nelly benar-benar masih berani untuk berbicara padaku. Dia pikir aku ini siapa? Orang yang akan melupakan semua hal mengerikan yang telah dilakukannya padaku begitu saja? Apa begitu mudahnya baginya untuk berbicara padaku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dan mempertanyakan mengapa aku kembali?Aku memejamkan mata dan mengingat percakapanku dengan Nelly sebelumnya ....Saat aku terbangun, Orson sudah tidak berada di sampingku. Aku berpikir mungkin dia sudah keluar dari kamar karena
"Maafkan aku, Abigail. Aku harap kamu setidaknya biarkan aku memelukmu," bisikku pada Abigail, lalu menyeka air mata dari mataku dan berjalan pergi. Bahuku merosot saat meninggalkan kamar Carson. Abigail begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh dariku.Keesokan paginya ....Aku terbangun karena cahaya matahari yang terang menembus jendela kamarku. Aku segera bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Saat itu, aku melihat Nelly menangis sambil berlutut di lantai, sedangkan Abigail berdiri di depannya dengan tatapan penuh amarah."Ryan ... dia menyakitiku. Aku hanya minta maaf padanya. Aku mau perbaiki semua yang terjadi dulu, tapi aku nggak bisa bicara baik-baik dengannya," rengek Nelly yang meminta bantuanku.Aku melihat Abigail yang sedang menatapku dengan ekspresi marah."Silakan saja, jangan malu-malu. Bela saja saudari pengkhianatku ini, Ryan. Bela saja wanita simpananmu. Bagaimanapun juga, kalian berdua sudah kerja sama untuk mencoba membunuhku, 'kan?" kata Abigail dengan mar
Sudut pandang Ryan:Aku berdiri di tepi kolam renang, lalu menatap ke kejauhan. Aku merasa bahagia saat tahu Abigail kembali berada di sini dengan hidup dan sehat. Namun, aku tidak bisa menahan kesedihanku saat memikirkan bagaimana dia dan Liam membuatku memercayai sebuah kebohongan.Aku sudah berduka atas kepergian Abigail begitu lama dan si bajingan Liam itu mungkin tertawa setiap kali melihatku menangis di mausoleum. Semua air mata itu terbuang sia-sia karena istriku ternyata tidak meninggal. Apa aku benar-benar seburuk itu sampai mereka merasa perlu menipuku? Apa aku suami yang begitu tak berguna sampai mereka merampas hakku untuk merawatnya saat dia sakit?Ini semua salah Liam lagi. Mengapa aku begitu sulit keluar dari bayang-bayangnya? Mengapa dia selalu berada di pihak yang beruntung? Apa karena dia pria yang lebih baik dariku?Sialan, aku tidak bisa menerima kenyataan Abigail tidak mau kembali padaku. Kami memang telah berpisah selama delapan tahun, tetapi aku siap memperjuangk
"Kamu nggak bersalah, Orson. Ini adalah pertarunganku. Jangan buang-buang waktumu pikirkan hal-hal yang sudah terjadi, semua itu sudah berlalu dan Mama juga sudah lupakan itu," jawabku sambil memaksakan senyuman.Orson menatapku cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya ke kejauhan dan berkata dengan sedih, "Mama harusnya bersama dengan Papa Liam, jadi Mama nggak perlu mengalami semua ini kalau Mama menikah dengannya. Aku masih ingat bagaimana dia merawat Mama dulu. Mama nggak akan menderita seperti ini kalau dia yang jadi suami Mama."Aku segera menggelengkan kepala, lalu berkata, "Nggak, tolong jangan bilang itu, Orson. Mama selalu menganggap Liam itu kakakku. Dan meskipun kami nggak berakhir bersama, dia tetap merawat Mama. Dia dan istrinya merawat Mama sampai Mama pulih."Saat mendengar kata-kata itu, aku bisa melihat rasa terkejut di tatapan Orson."Istri? Papa Liam sudah punya istri?" tanya Orson.Aku menganggukkan kepala, lalu menjawab, "Ya. Kamu masih ingat Suster Rosa? Sekaran
Sudut pandang Abigail:"Mama, janji ya Mama nggak akan meninggalkanku lagi."Saat ini, kami semua sudah berada di kamar Orson dan nada bicara Orson terdengar seperti memohon saat mengucapkan kata-kata itu. Mendengar itu, hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Putraku sudah menderita selama delapan tahun tanpa aku di sisinya dan aku bahkan tidak bisa merawatnya.Orson benar-benar telah tumbuh menjadi seorang remaja, tidak ada lagi jejak Orson yang dulu. Aku bisa melihatnya dari kamarnya, dari cara dia bersikap. Sekarang, dia bahkan lebih tinggi dariku.Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Aku tidak berada di sisi Orson saat dia membutuhkanku, sehingga aku merasa seperti ibu tak berguna karena tidak menunjukkan diriku kepadanya selama bertahun-tahun ini."Mama janji. Sekarang Mama sudah ada di sini, Mama nggak akan biarkan kita berpisah lagi. Mama akan menebus semua waktu saat Mama nggak ada di sisimu," jawabku sambil meneteskan air mata.Orson tersenyum, lalu mendekat dan kembali
Aku dan Ryan tiba di rumah itu dengan cepat.Saat mobil melewati gerbang, aku tidak ingin keluar. Aku takut saat membayangkan bagaimana reaksi Orson yang melihatku karena selama ini aku tidak bisa berada di sisinya sebagai seorang ibu. Aku berharap dia tidak marah padaku dan reaksinya akan sama seperti saat dia melihatku di rumah sakit. Aku ingin memeluk dan menciumnya untuk menebus perpisahan selama bertahun-tahun ini.Aku dan Orson sudah tidak bertemu selama delapan tahun. Ada begitu banyak hal yang perlu aku tahu tentangnya, aku sudah melewatkan begitu banyak momen dalam hidupnya. Aku berjanji pada diriku, aku akan menebus semuanya dengan cara apa pun yang aku bisa."Keluarlah. Aku tahu Nenek Amara dan Orson mau bertemu denganmu," kata Ryan.Saat itu, pintu mobil di sisiku sudah terbuka dan ekspresi Ryan yang datar itu membuatku gugup."Terima kasih," jawabku dengan sengaja, lalu keluar dari mobil.Saat Ryan mencoba membantuku keluar dari mobil, aku menjauh. Aku mendengarnya menghel
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b







