تسجيل الدخول"Kenapa kamu lemparin semua kesalahan ke aku? Kita berdua sama-sama menyakitinya. Jadi kenapa kamu harus membuatku menderita begini? Apa delapan tahun penderitaan belum cukup? Apa kamu nggak bisa mencintaiku saja?" kata Nelly sambil menangis.Aku menatapnya, lalu menyeringai."Kamu sudah tahu sejak awal kalau aku nggak pernah suka sama kamu. Kamu yang mengejarku, ingat? Aku mabuk waktu pertama kali sesuatu terjadi di antara kita. Aku sedang bersedih dan kamu memanfaatkan keadaan itu. Jadi, jangan pernah berkhayal bahwa aku bisa mencintaimu," jawabku.Dia menangis semakin keras.Aku melirik para pengawalku lalu memberi perintah, "Singkirkan wanita ini dari hadapanku. Bawa dia kembali ke rumah dan kasih tahu para penjaga agar jangan biarkan dia keluar," kataku dingin.Mata Nelly langsung dipenuhi ketakutan. Aku sudah tidak peduli lagi. Dia boleh setakut apa pun, aku tidak peduli.Aku ingin dia menderita atas apa yang telah dilakukannya kepada Abigail. Dia mencoba membunuh istriku dengan
Sudut pandang Ryan:"Kamu dipecat!" bentakku kepada salah satu karyawanku. Dia sudah tidak masuk kerja selama beberapa hari dan menjadikan statusnya sebagai pengantin baru sebagai alasan.Alasan seperti itu tidak berlaku bagiku. Jika seseorang tidak ingin bekerja, dia bisa mengundurkan diri. Aku hanya akan mencari karyawan yang bersedia mengikuti peraturanku.Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika aku menginginkan sesuatu. Sejak awal mereka sudah tahu seperti apa diriku sebagai atasan, dan itu tidak akan pernah berubah.Beginilah suasana kantorku setiap hari. Semua orang sudah terbiasa. Sebagian bahkan tidak percaya melihat betapa banyak kepribadianku telah berubah.Jika dulu aku sudah keras sebelum Abigail meninggal, sekarang aku jauh lebih keras lagi. Aku bahkan tidak peduli pada karyawan yang sedang membutuhkan uang. Aku tidak peduli. Masalahku sendiri sudah terlalu banyak untuk memikirkan posisi mereka.Jika mereka ingin tetap bekerja di perusahaanku, mereka harus mengikuti semua p
"Sembuhkan dirimu dulu. Mungkin sebulan lagi kamu bisa pulang ke Philvania. Tapi untuk sekarang, kita harus merayakan kesembuhanmu," kata Liam sambil tersenyum.Aku langsung setuju.Dalam delapan tahun terakhir, ini adalah hari pertama aku kembali merasakan harapan. Aku telah bebas dari leukemia. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan.....Sementara itu, di kediaman Keluarga Baskoro."Jam berapa kamu pulang tadi malam?" tanya Ryan begitu melihat Orson memasuki ruang makan. Orson bertindak seolah tidak mendengar sepatah kata pun dan diam-diam duduk di kursinya."Orson! Aku lagi bicara sama kamu. Aku ketiduran waktu nunggu kamu tadi malam. Wali kelasmu telepon. Mereka bilang kamu nggak masuk sekolah. Mereka juga bilang kamu meninggalkan sopir dan pengawalmu," desak Ryan sekali lagi.Orson berhenti menuangkan air ke dalam gelasnya, lalu menoleh ke arah ayahnya."Aku nggak mau sekolah lagi. Aku ingin berhenti," katanya datar.Ryan langsung meletakkan alat makannya dan menatap putranya
"Pagi!" sapa Liam dengan nada ceria. Dia melirik putrinya lalu menggelengkan kepala."Marcie tidur di kamarmu lagi?" tanyanya.Aku mengangguk. Aku menarik sebuah kursi dan mendudukkan Marceline agar dia bisa mulai sarapan. Setelah itu, aku duduk di sampingnya."Maaf soal dia, Abigail. Aku benar-benar nggak tahu kenapa dia selalu nempel sama kamu. Kami sudah berkali-kali nasihatin dia, tapi dia tetap nggak mau dengar," kata Rosa sambil tersenyum."Biarkan saja. Mungkin karena aku selalu sama dia waktu dia masih bayi. Karena itu dia jadi dekat sama aku sekarang," jawabku."Ngomong-ngomong, Abigail ... selamat. Aku bicara sama dokter-doktermu kemarin. Kamu resmi berada dalam masa remisi. Semua hasil pemeriksaan laboratoriummu kembali normal," kata Liam.Hatiku dipenuhi kebahagiaan mendengar kabar dari Liam. Meskipun sudah dalam dugaan, aku tetap tidak bisa menahan luapan rasa bahagia itu."Aku sembuh? Hidupku akhirnya bisa kembali normal sekarang?" tanyaku.Liam langsung mengangguk.Aku b
Sudut pandang Abigail:Aku terbangun ketika sebuah lengan kecil tiba-tiba melingkar di tubuhku. Aku membuka mata dan melihat seorang anak kecil yang lucu sedang tersenyum kepadaku. Aku bahkan tidak sadar kapan dia masuk ke kamarku. Aku juga tidak tahu apakah dia sudah tidur di sampingku sepanjang malam."Marceline!" panggilku. Dia tersenyum, lalu mengangguk."Selamat pagi, Mama Abigail. Tidurnya nyenyak?" tanyanya lembut, lalu memberikan kecupan kecil di ujung hidungku. Aku tak kuasa tersenyum.Delapan tahun berlalu dalam sekejap mata dan kini tubuhku akhirnya mulai pulih dari leukemia. Banyak hal telah terjadi selama rentang waktu yang panjang itu, tetapi hanya ada satu hal yang pasti. Aku berhasil melawan penyakitku dan menang. Aku akhirnya bisa bertemu lagi dengan putraku ... putraku tersayang, Orson."Marcie, kamu tidur di kamarku?" tanyaku pada gadis kecil berusia enam tahun itu. Dia langsung mengangguk."Iya ... Mama dan Papa nggak izinin aku. Mereka bilang Mama Abigail sedang is
"Kamu tahu apa yang aku temukan? Terlepas dari apakah Abigail tertabrak mobil itu atau nggak, dia tetap akan meninggal karena obat yang selama ini kamu kasih ke dia," kata Liam.Aku mengernyit tidak mengerti."Kamu ingin tahu maksudku? Kalau begitu ikutlah denganku," katanya sambil berjalan keluar dari kapel.Aku langsung mengikuti di belakangnya, tetapi Amara menghentikanku. Dia takut aku dan Liam akan semakin saling menyakiti. Namun, aku tidak peduli. Aku jauh lebih tertarik dengan apa yang akan diungkapkan sahabat lamaku itu.Aku menemukan Liam berdiri di luar kapel sambil memegang sebatang rokok dan menatap ke kejauhan. Liam tidak pernah merokok, tetapi kurasa rasa kehilangan telah mendorongnya melakukan itu."Apa maksudmu tadi? Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui?" tanyaku begitu mendekatinya. Aku menatap rokok di tangannya dengan bingung."Kamu tahu siapa yang kasih Abigail obat seperti ini? Apa kamu tahu sesuatu tentang ini?" Dia mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dan
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg







