LOGIN"Pagi!" sapa Liam dengan nada ceria. Dia melirik putrinya lalu menggelengkan kepala."Marcie tidur di kamarmu lagi?" tanyanya.Aku mengangguk. Aku menarik sebuah kursi dan mendudukkan Marceline agar dia bisa mulai sarapan. Setelah itu, aku duduk di sampingnya."Maaf soal dia, Abigail. Aku benar-benar nggak tahu kenapa dia selalu nempel sama kamu. Kami sudah berkali-kali nasihatin dia, tapi dia tetap nggak mau dengar," kata Rosa sambil tersenyum."Biarkan saja. Mungkin karena aku selalu sama dia waktu dia masih bayi. Karena itu dia jadi dekat sama aku sekarang," jawabku."Ngomong-ngomong, Abigail ... selamat. Aku bicara sama dokter-doktermu kemarin. Kamu resmi berada dalam masa remisi. Semua hasil pemeriksaan laboratoriummu kembali normal," kata Liam.Hatiku dipenuhi kebahagiaan mendengar kabar dari Liam. Meskipun sudah dalam dugaan, aku tetap tidak bisa menahan luapan rasa bahagia itu."Aku sembuh? Hidupku akhirnya bisa kembali normal sekarang?" tanyaku.Liam langsung mengangguk.Aku b
Sudut pandang Abigail:Aku terbangun ketika sebuah lengan kecil tiba-tiba melingkar di tubuhku. Aku membuka mata dan melihat seorang anak kecil yang lucu sedang tersenyum kepadaku. Aku bahkan tidak sadar kapan dia masuk ke kamarku. Aku juga tidak tahu apakah dia sudah tidur di sampingku sepanjang malam."Marceline!" panggilku. Dia tersenyum, lalu mengangguk."Selamat pagi, Mama Abigail. Tidurnya nyenyak?" tanyanya lembut, lalu memberikan kecupan kecil di ujung hidungku. Aku tak kuasa tersenyum.Delapan tahun berlalu dalam sekejap mata dan kini tubuhku akhirnya mulai pulih dari leukemia. Banyak hal telah terjadi selama rentang waktu yang panjang itu, tetapi hanya ada satu hal yang pasti. Aku berhasil melawan penyakitku dan menang. Aku akhirnya bisa bertemu lagi dengan putraku ... putraku tersayang, Orson."Marcie, kamu tidur di kamarku?" tanyaku pada gadis kecil berusia enam tahun itu. Dia langsung mengangguk."Iya ... Mama dan Papa nggak izinin aku. Mereka bilang Mama Abigail sedang is
"Kamu tahu apa yang aku temukan? Terlepas dari apakah Abigail tertabrak mobil itu atau nggak, dia tetap akan meninggal karena obat yang selama ini kamu kasih ke dia," kata Liam.Aku mengernyit tidak mengerti."Kamu ingin tahu maksudku? Kalau begitu ikutlah denganku," katanya sambil berjalan keluar dari kapel.Aku langsung mengikuti di belakangnya, tetapi Amara menghentikanku. Dia takut aku dan Liam akan semakin saling menyakiti. Namun, aku tidak peduli. Aku jauh lebih tertarik dengan apa yang akan diungkapkan sahabat lamaku itu.Aku menemukan Liam berdiri di luar kapel sambil memegang sebatang rokok dan menatap ke kejauhan. Liam tidak pernah merokok, tetapi kurasa rasa kehilangan telah mendorongnya melakukan itu."Apa maksudmu tadi? Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui?" tanyaku begitu mendekatinya. Aku menatap rokok di tangannya dengan bingung."Kamu tahu siapa yang kasih Abigail obat seperti ini? Apa kamu tahu sesuatu tentang ini?" Dia mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dan
Sudut pandang Ryan:Setelah merenung selama beberapa jam, aku memutuskan untuk pergi ke Gereja Berca. Aku tidak ingin menjadi beban bagi Amara, Orson, atau siapa pun yang mencintai Abigail. Menerima kenyataan ini memang menyakitkan, tetapi aku tidak bisa melakukan hal lain dan tidak boleh menyerah juga karena semua ini adalah kesalahanku.Lagi pula, aku dan Abigail masih memiliki seorang putra yang membutuhkanku sekarang.Saat tiba di gereja, aku menarik napas dalam-dalam. Aku bisa merasakan tekadku mulai runtuh lagi. Semuanya terjadi begitu cepat, aku tidak tahu apakah aku sanggup melihat Abigail yang berupa sebuah guci abu. Aku bahkan tidak sempat melihat jasadnya untuk yang terakhir kali ataupun memeluknya.Bahuku terkulai saat aku melangkah melewati pintu gereja dan alunan lagu sendu yang bergema di dalam juga membuat perasaanku makin buruk.Saat menoleh ke arah altar, aku langsung melihat sebuah guci emas di samping foto Abigail yang dibingkai. Aku tidak mampu menahan air mataku l
"Apa ... maksudmu? Kenapa jasadnya nggak ada di sini?" tanya Amara yang wajahnya langsung pucat karena ketakutan."Jenazahnya sudah dibawa ke krematorium untuk dikremasi lebih awal. Dokter Liam sangat terpukul atas kehilangan itu. Dia nggak mau bawa jasad Bu Abigail ke kamar jenazah untuk diawetkan, jadi dia putuskan untuk segera dikremasi," jelas staf itu.Mendengar itu, aku mengepalkan tinjuku. Aku melirik jam tanganku ternyata saat itu pukul tiga sore dan Abigail dinyatakan meninggal pada malam sebelumnya."Siapa yang memberinya izin untuk lakukan ini pada jasad istriku? Kenapa kami nggak diberi tahu?" kataku dengan marah.Staf itu terdiam sejenak, sedangkan Amara terisak-isak keras di sampingku.Aku segera mengeluarkan ponselku dan menelepon nomor Liam. Dia langsung mengangkat teleponnya dan aku langsung membentaknya."Siapa yang memberimu hak untuk melakukan ini pada jasad istriku? Kenapa kamu yang buat keputusan padahal kamu nggak punya wewenang apa pun atas Abigail?" teriakku. J
Sudut Pandang Ryan:Rasa sakit di dadaku terasa tidak tertahankan, sehingga aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit bersama Amara. Dia ingin melihat tubuh Abigail untuk yang terakhir kalinya. Kami meninggalkan Orson di rumah karena Orson menangis sampai tertidur. Aku bisa merasakan ketegangan antara Amara dan Nelly yang duduk di dalam mobil.Namun, aku tidak terlalu memedulikan hal lainnya, yang ada di pikiranku hanya Abigail. Bayangannya yang menangis tadi malam terus berulang di benakku. Aku tahu dia merasa sangat hancur karena sudah melihatku bersama dengan Nelly. Aku mengakui aku telah melakukan kesalahan besar, tetapi itu bukan berarti aku berhenti mencintainya.Aku bisa terlibat dengan Nelly adalah karena aku terlalu tenggelam dalam kesedihan. Aku merasa menderita setiap kali melihat Abigail terbaring lemah dan sakit di tempat tidur itu. Aku tidak tahan melihatnya disiksa penyakitnya, tetapi aku juga tidak bisa melakukan apa pun untuk mengurangi penderitaannya.Aku sangat mer
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b







