Mag-log inAku tetap berdiri di lorong selama beberapa saat dan tidak mampu melangkah sedikit pun. Rasa sakit yang kurasakan seolah menembus sampai ke dalam jiwaku.Saat aku hendak meninggalkan gedung, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Dante turun dan berjalan menghampiriku.Aku melihat beberapa orang mengikutinya untuk memastikan bos mereka tetap aman di tempat ini. Memang terlihat sedikit berlebihan, tetapi aku tahu mereka hanya ingin memastikan keselamatannya.Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya. Pintunya sudah terbuka dan salah satu pengawal Dante berdiri di sampingnya."Felicia."Aku menoleh ketika seseorang memanggil namaku. Aku melihat Orson bergegas menghampiriku dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Abigail dan Marceline mengikutinya dari belakang.Aku tiba-tiba merasa gelisah. Yang ingin kulakukan hanyalah menangis sepuasnya. Aku ingin berlari menghampirinya dan memeluknya.Namun, aku tidak bisa. Aku tidak boleh melakukannya."Dan, ayo pergi," kataku sebelum bu
Sudut Pandang Felicia:Air mata terus mengalir di wajahku saat aku menunggu pintu lift terbuka. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hubunganku dengan Keluarga Baskoro akan berakhir seperti ini. Rasanya begitu menyakitkan dan aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa bahagia lagi.Mungkin apa yang dikatakan Dante memang benar. Kami tidak beruntung dalam urusan cinta. Kesialan itu seolah mengalir dalam darah kami. Sesakit apa pun rasanya, aku tidak punya pilihan selain memaksa diriku menerima semuanya.Mungkin pada akhirnya nasibku akan sama seperti ayah kandungku. Mungkin aku hanya akan menua di Nestergrand. Sama seperti dia, aku tidak akan pernah kembali ke Philvania.Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin meninggalkan semua kemalangan yang kualami di negara ini.Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi Dante. Aku tahu dia pasti mengkhawatirkanku. Aku yakin dia bahkan sudah menyuruh seseorang untuk mencariku.Begitu dia menjawab, aku langsung bisa mendengar kekhawatiran d
"Meskipun kehilanganmu terasa menyakitkan bagi kami, Mama nggak punya pilihan. Yang lebih penting bagi Mama adalah harga diri keluarga ini. Harga diri anak-anak Mama, terutama Orson. Dia sudah punya istri, jadi Mama harap kamu meninggalkannya dan nggak mengganggunya lagi, Felicia," kata Abigail sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.Dia berdiri di hadapanku dan menyodorkan sebuah amplop putih.Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Aku menatap Abigail dengan bingung."Di dalam amplop ini ada cek. Mama harap kamu meninggalkan kami dan nggak pernah muncul di hadapan kami lagi. Karena apa yang baru saja kamu lakukan, Mama sudah nggak bisa menerimamu sebagai anak lagi," katanya.Perkataannya terasa seperti bom yang meledak tepat di dalam dadaku. Aku tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari wanita yang selama ini selalu memberiku kasih sayang yang tulus."Mama, kumohon. Jangan. Kasihani aku. Jangan membenciku seperti ini. Kumohon," kataku sambil mengulurkan
Sudut Pandang Felicia:Momen panas di antara kami akhirnya berakhir. Aku berbaring sambil menatap kosong ke kejauhan.Aku tidak pernah menyangka bahwa untuk kedua kalinya, aku kembali menyerahkan diriku kepada pria yang bahkan tidak bisa kuperjuangkan.Aku mendengar dengkuran pelannya di sampingku. Perlahan aku menoleh ke arahnya dan melihat betapa damai wajahnya saat tertidur. Ada senyum di bibirnya dan itu justru membuat perasaanku saat ini semakin sulit kutanggung.Aku mengulurkan tangan untuk membelai pipinya, tetapi kemudian mengurungkan niat. Aku perlahan menggeleng dan dengan hati-hati menjauh darinya.Aku harus meninggalkan tempat ini sebelum dia bangun. Apa yang terjadi di antara kami adalah dosa besar dan tidak boleh terulang lagi.Aku bersyukur ketika turun dari ranjang, dia bahkan tidak bergerak sedikit pun. Aku menatap wajahnya sementara air mata mengalir di pipiku.Andai saja aku bisa tetap berada di sisinya. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Cukup aku saja yang terluka. J
"Seperti itu, Felicia. Rasakan bagaimana aku memuja tubuhmu," bisiknya seraya tangannya bergerak turun menuju pinggang celana dalamku. Dia menariknya ke bawah dan aku mengangkat pinggul untuk membantunya melepaskan pakaian terakhir yang menutupi bagian paling intim tubuhku."Sial ... aku nggak akan pernah bosan melakukan ini denganmu. Apa kamu tahu setiap malam aku selalu memimpikanmu? Aku sangat mencintaimu," katanya sebelum bergerak turun ke bagian bawah tubuhku.Aku merasakan dia merenggangkan kedua pahaku sambil menatap lekat bagian tubuhku yang paling pribadi. Aku bahkan tidak tahu apakah harus merasa malu atau bagaimana. Dia benar-benar sedang menatap bagian paling intim tubuhku.Pada akhirnya, aku hanya memejamkan mata. Aku tidak sanggup melihat reaksi Orson. Aku sudah melihat betapa kuatnya hasrat yang terpancar dari matanya saat menatapku."Ugghh," erangku ketika tiba-tiba merasakan sentuhannya tepat di bagian tubuhku yang paling sensitif.Ini gila. Aku sama sekali tidak siap
"Kamu ngapain ...."Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku ketika lidah Orson tiba-tiba menerobos masuk ke dalam mulutku. Dia menjelajahi setiap sudut mulutku hingga membuatku tidak mampu memprotes.Ciumannya begitu bergairah dan posesif. Aku bisa merasakan hasratnya melalui setiap sentuhan. Telapak tangannya mulai bergerak dari punggungku, lalu perlahan turun menuju pinggulku.Tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Tadi aku masih mampu menolaknya, tetapi kali ini berbeda. Seluruh kekuatanku seakan menghilang dan tanpa sadar aku menyandarkan tubuhku pada Orson.Sensasi seperti sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhku. Tanpa kusadari, aku mulai membalas ciumannya, mengikuti setiap gerakannya. Aku hanyut dalam gairah yang menggebu dan akhirnya menyerah pada panas yang telah Orson bangkitkan dalam diriku.Aku merasakan dia berhenti sesaat ketika menyadari bahwa aku membalas ciumannya.Aku sudah tidak peduli lagi. Hanya untuk kali ini ... aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa ini akan me







