تسجيل الدخول"Kalau begitu, aku harus pergi. Aku belum siap ketemu Ryan," jawabku dengan sedih.Chelsea terdiam sejenak sambil menatapku. "Kamu yakin nggak mau menunjukkan diri? Gimana dengan Orson? Menurutku dia butuh kamu."Aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir saat menatap wajah Orson yang sedang tertidur. Aku sangat ingin berada di sisinya. Namun, aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan diriku kepada mereka, memberi tahu mereka bahwa sebenarnya aku tidak mati, bahwa aku selamat dari kecelakaan itu dan berhasil sembuh dari leukemia.Kalau bisa, aku tidak ingin mengganggu kehidupan mereka.Namun, aku juga tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja kulihat. Putraku mabuk. Dia menyebabkan kecelakaan. Itu berarti ada sesuatu yang sangat salah dalam hidupnya, sesuatu yang harus kupahami.Dengan penuh kasih, aku mengusap rambut Orson dan mencium pipinya sebelum berdiri. Aku memandang putraku yang tertidur untuk terakhir kalinya, lalu berbisik, "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Bi
"Bu, Anda nggak boleh masuk," kata seorang staf medis kepadaku.Aku segera melihat ke sekeliling, berusaha menemukan Marceline."Pak, lihat anak perempuan masuk ke sini nggak? Maaf, aku harus cari dia," jawabku."Aku nggak lihat ada anak kecil, Bu. Anak-anak justru lebih dilarang masuk ke area ini. Kami sedang menangani pasien sekarang," kata staf itu sebelum kembali ke dalam ruang gawat darurat.Aku langsung mengikutinya. Petugas itu ternyata mengatakan yang sebenarnya. Aku melihat para tenaga medis sibuk mondar-mandir, menangani seorang pasien.Pandanganku menyapu ruangan, lalu aku menghela napas lega ketika melihat Marcie berdiri di sudut ruangan. Dia diam-diam memperhatikan tim medis yang sedang bekerja.Saat aku berjalan menghampirinya, aku mendengar sebuah suara. "Mama ... Mama di sini? Mama mau menemaniku?"Aku langsung membeku. Kemudian, aku segera menoleh ke arah pasien yang sedang ditangani para dokter. Mataku melebar saat melihat wajah itu."Orson?" bisikku.Seorang perawat
Sudut Pandang Abigail:Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku ingin mengungkapkan jati diriku kepada Orson, tetapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku sampai mengikutinya ke sekolah hanya agar bisa melihatnya lebih sering."Mama Abigail, aku nggak sabar ketemu Dokter Chelsea!" Tiba-tiba, Marcie berkata saat kami berjalan ke luar rumah.Kami sudah beberapa hari berada di Philvania. Hari ini akhirnya kami akan menjalankan rencana untuk mengunjungi rumah sakit. Chelsea sudah menunggu kedatanganku dan Marcie."Hati-hati di jalan. Jangan kelamaan di sana, pemotretanmu dimulai besok," kata Shirley saat aku masuk ke mobil."Ya. Chelsea juga sudah protes karena kami sudah beberapa hari di sini tapi belum juga menemuinya," jawabku."Aku nggak ngerti sama dia. Padahal dia bisa saja datang ke sini. Nggak perlu terus sibuk di rumah sakit," ujar Shirley."Nggak apa-apa. Mungkin dia memang lagi banyak urusan. Anaknya juga sudah dua. Mungkin setelah bekerja, dia lebih memilih langsung pulang," kat
"Kalau begitu, kamu bakal mati dalam penantian. Karena apa pun yang terjadi, aku nggak akan belajar mencintaimu. Cuma Abigail yang ada di hatiku, nggak ada yang lain," kataku dengan nada serius sebelum meninggalkannya. Aku langsung berjalan menuju kamarku.Keesokan paginya ....Hari masih gelap saat aku terbangun. Aku mengenakan pakaian, lalu keluar dari kamar.Orson masih belum pulang sejak semalam. Bahkan para pengawal pun tidak berhasil menemukannya.Ketika aku hendak keluar rumah, tiba-tiba terdengar mesin mobil berhenti di depan gerbang. Aku melihat Orson berjalan masuk dengan langkah sempoyongan seperti orang mabuk."Orson!" panggilku.Namun, dia seolah tidak mendengarku dan terus berjalan masuk rumah. Aku pun mengikutinya."Kamu nggak pulang semalaman dan mabuk begini? Orson, sebenarnya kamu kenapa? Kapan kamu akan berubah?" kataku sambil terus mengikuti langkahnya.Dia pun berhenti, lalu menjawab, "Pak Ryan, untuk apa kamu peduli? Aku saja nggak peduli sama kamu. Jangan ganggu
Di rumah Keluarga Baskoro.Sudut Pandang Ryan:Aku terus menenggak minuman keras sambil menatap ke kejauhan. Aku sudah terbiasa minum sebelum tidur. Aku membutuhkannya untuk mematikan pikiranku meski hanya sesaat.Aku tidak tahu apakah masih ada cara untuk memperbaiki keluargaku yang sudah hancur. Semua ini adalah kesalahanku. Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan.Aku menuangkan lagi minuman ke dalam gelas. Kini, hanya inilah satu-satunya teman yang menemaniku dalam kesedihan.Sialan hidup ini. Kapan rasa sakit di dalam diriku akan berakhir?Tiba-tiba, wajah Abigail melintas di benakku. Jika dia bisa melihatku sekarang, aku berharap dia tahu betapa menderitanya aku. Aku berharap dahulu dia tidak menyerah. Dia pasti masih hidup jika aku tidak memperlakukannya dengan begitu buruk."Ryan ... cukup. Bukannya doktermu sudah melarang kamu minum?"Aku mengepalkan tangan saat mendengar suara itu. Itu Nelly. Aku bahkan tidak menyadari kapan dia mendekat.Aku memberi isyarat agar dia duduk.
Sudut Pandang Abigail:"Kita mau ke mana, Nyonya?" tanya Adrian kepadaku. Dia adalah sopir Shirley dan Arnold.Kemarin malam, aku sempat memberi tahu Shirley bahwa aku berencana mengunjungi rumah Ryan. Aku tidak berniat menampakkan diri kepada mereka. Aku hanya ingin melihat dari kejauhan, berharap bisa melihat Orson."Ke rumah Ryan. Aku ingin lihat putraku," jawabku.Adrian mengangguk, lalu membukakan pintu mobil untukku.Hari masih sangat pagi, baru pukul enam. Syukurlah Marcie masih tertidur nyenyak. Aku tidak ingin mengajaknya ikut. Dia pasti hanya akan bosan duduk di dalam mobil.Saat kami mendekati rumah Ryan, aku meminta Adrian memarkir mobil di dekat gerbang. Aku ingin melihat apa yang sedang terjadi di dalam.Dengan apa yang kulakukan ini, aku merasa seperti seorang detektif. Aku hanya ingin melihat Orson, meskipun dari kejauhan.Pada akhirnya, kami tidak perlu menunggu lama. Aku langsung melihat sebuah mobil datang dan berhenti. Aku mengernyit saat mobil itu parkir tepat di l
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg







