LOGINLagi pula, salah satu rencanaku saat ini adalah mencari pekerjaan di Philvania. Aku tidak mungkin terus bergantung pada orang tua Liam untuk segala hal. Mereka sudah mengeluarkan begitu banyak uang untukku dan saat ini aku benar-benar membutuhkan penghasilan sendiri."Tapi, orang-orang mungkin nggak bakal tertarik kalau aku yang jadi modelnya, Bibi. Lagian, aku nggak punya pengalaman sama sekali di bidang itu," jawabku malu-malu."Kamu salah, Abigail. Kami membutuhkan wajah baru dan kamu sangat cocok untuk itu. Jangan lupa, kamu itu cantik dan aku juga bakal membantumu," katanya dengan senyum meyakinkan.Aku pun mulai mempertimbangkan tawarannya dengan serius.....Di rumah Keluarga Baskoro.Sudut Pandang Ryan:"Pak, Tuan Muda Orson pergi lagi. Dia bawa mobil sendiri. Para pengawal nggak bisa menghentikannya."Aku langsung menerima laporan dari sopir pribadi Orson, Ronnie Surajat. Dia adalah salah satu sopir yang paling lama bekerja untuk keluargaku, itulah sebabnya aku memercayakan Or
"Ya. Dia nggak mau ditinggal," jawabku.Bibi Shirley mengangguk, lalu melirik suaminya yang sudah asyik bermain dengan cucu mereka."Mending kita langsung pulang sekarang, lanjut mengobrol di rumah saja," kata Bibi Shirley.Aku langsung setuju. Marcie sudah berkeringat dan aku tidak ingin dia jatuh sakit setelah keringatnya mengering.Selain itu, aku juga tidak nyaman karena Iris masih terus menatapku. Bahkan sampai sekarang, dia masih terlihat syok, matanya terpaku ke arahku. Suaminya sudah beberapa kali menyenggolnya, tetapi dia tetap tidak mengalihkan pandangan.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat begitu banyak makanan tersaji di atas meja. Mereka benar-benar mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatanganku dan juga Marcie. Aku merasa terharu.Setidaknya aku tidak merasa seperti orang asing di keluarga ini.Ketika aku masih menjalani perawatan dan tidak bisa keluar dari rumah sakit di Gervox, Bibi Shirley selalu datang menjenguk dan merawatku. Dia dan suaminya harus bolak-ba
Sudut Pandang Abigail:Aku tak bisa menahan senyum saat merasakan hangatnya iklim Philvania. Setelah delapan tahun, aku tidak menyangka akan menginjakkan kaki di negara ini lagi. Hatiku dipenuhi perasaan bahagia sekaligus sedih saat memandangi sekeliling."Mama, di sini panas sekali. Aku benci tempat ini. Kenapa Mama malah mau datang ke sini?" keluh Marcie.Aku menoleh dan melihat keringat sudah membasahi wajahnya. Ekspresi tidak suka terlihat jelas di wajah gadis kecil itu.Sejak lahir, Liam hanya pernah mengajaknya ke Philvania dua kali untuk berlibur. Karena itu, dia sudah cukup tahu seperti apa iklim negara ini."Karena anakku ada di sini, Marcie. Aku ingin bertemu dengannya," jawabku sambil tersenyum.Wajahnya langsung menjadi serius saat menatapku."Yang benar?" tanyanya dengan mata membulat.Aku mengangguk. Pandanganku menyapu area sekitar, mencari orang yang seharusnya menjemput kami.Sopir Liam akan datang menjemput kami. Aku dan Marcie akan langsung menuju rumah orang tuanya
"Kenapa kamu lemparin semua kesalahan ke aku? Kita berdua sama-sama menyakitinya. Jadi kenapa kamu harus membuatku menderita begini? Apa delapan tahun penderitaan belum cukup? Apa kamu nggak bisa mencintaiku saja?" kata Nelly sambil menangis.Aku menatapnya, lalu menyeringai."Kamu sudah tahu sejak awal kalau aku nggak pernah suka sama kamu. Kamu yang mengejarku, ingat? Aku mabuk waktu pertama kali sesuatu terjadi di antara kita. Aku sedang bersedih dan kamu memanfaatkan keadaan itu. Jadi, jangan pernah berkhayal bahwa aku bisa mencintaimu," jawabku.Dia menangis semakin keras.Aku melirik para pengawalku lalu memberi perintah, "Singkirkan wanita ini dari hadapanku. Bawa dia kembali ke rumah dan kasih tahu para penjaga agar jangan biarkan dia keluar," kataku dingin.Mata Nelly langsung dipenuhi ketakutan. Aku sudah tidak peduli lagi. Dia boleh setakut apa pun, aku tidak peduli.Aku ingin dia menderita atas apa yang telah dilakukannya kepada Abigail. Dia mencoba membunuh istriku dengan
Sudut pandang Ryan:"Kamu dipecat!" bentakku kepada salah satu karyawanku. Dia sudah tidak masuk kerja selama beberapa hari dan menjadikan statusnya sebagai pengantin baru sebagai alasan.Alasan seperti itu tidak berlaku bagiku. Jika seseorang tidak ingin bekerja, dia bisa mengundurkan diri. Aku hanya akan mencari karyawan yang bersedia mengikuti peraturanku.Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika aku menginginkan sesuatu. Sejak awal mereka sudah tahu seperti apa diriku sebagai atasan, dan itu tidak akan pernah berubah.Beginilah suasana kantorku setiap hari. Semua orang sudah terbiasa. Sebagian bahkan tidak percaya melihat betapa banyak kepribadianku telah berubah.Jika dulu aku sudah keras sebelum Abigail meninggal, sekarang aku jauh lebih keras lagi. Aku bahkan tidak peduli pada karyawan yang sedang membutuhkan uang. Aku tidak peduli. Masalahku sendiri sudah terlalu banyak untuk memikirkan posisi mereka.Jika mereka ingin tetap bekerja di perusahaanku, mereka harus mengikuti semua p
"Sembuhkan dirimu dulu. Mungkin sebulan lagi kamu bisa pulang ke Philvania. Tapi untuk sekarang, kita harus merayakan kesembuhanmu," kata Liam sambil tersenyum.Aku langsung setuju.Dalam delapan tahun terakhir, ini adalah hari pertama aku kembali merasakan harapan. Aku telah bebas dari leukemia. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan.....Sementara itu, di kediaman Keluarga Baskoro."Jam berapa kamu pulang tadi malam?" tanya Ryan begitu melihat Orson memasuki ruang makan. Orson bertindak seolah tidak mendengar sepatah kata pun dan diam-diam duduk di kursinya."Orson! Aku lagi bicara sama kamu. Aku ketiduran waktu nunggu kamu tadi malam. Wali kelasmu telepon. Mereka bilang kamu nggak masuk sekolah. Mereka juga bilang kamu meninggalkan sopir dan pengawalmu," desak Ryan sekali lagi.Orson berhenti menuangkan air ke dalam gelasnya, lalu menoleh ke arah ayahnya."Aku nggak mau sekolah lagi. Aku ingin berhenti," katanya datar.Ryan langsung meletakkan alat makannya dan menatap putranya
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b
Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan
Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny
'Ya, aku memang punya uang. Dan aku akan pakai setiap sennya untuk menemukan Abigail. Tapi jangan pernah berpikir buat merebut dia dari aku. Kalau aku sampai tahu kamu sudah mengambil sesuatu yang jadi milikku, kamu akan kuberi pelajaran,' kataku dalam hati, pikiranku kalut ketika aku melangkah perg







