LOGINSudut Pandang Felicia:Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku akhirnya mulai terbiasa dengan kehidupan baruku. Aku benar-benar merasa nyaman tinggal di tempatku sekarang. Orang-orang di sekitarku merawatku dengan sangat baik, terutama Dante."Kita akan kembali ke Nestergrand minggu depan," ujar Dante. Dia baru saja pulang dan menemukanku sedang berdiri di taman sambil menikmati matahari terbenam.Aku menoleh kepadanya sebelum menjawab."Benarkah? Bagus sekali. Aku sudah nggak sabar ingin ketemu ayahku," jawabku sambil tersenyum.Dia mengangguk, lalu duduk di kursi yang ada di dekat sana."Aku masih belum kasih tahu dia kalau aku sudah menemukanmu. Aku ingin memberinya kejutan, jadi bersiaplah," jawabnya sambil tersenyum.Aku duduk di seberangnya dan menatap matanya."Aku sudah siap sejak dulu. Sejak mengetahui bahwa aku sebenarnya bukan bagian dari Keluarga Baskoro, aku selalu berharap bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga kandungku," jawabku sambil tersenyum."Dan keinginanmu itu ak
"Maaf. Tapi kita nggak bisa. Mama dan Papa sudah tahu apa yang terjadi di antara kita," jawabku.Aku langsung mendengar suara sesuatu pecah dari seberang telepon, disusul teriakan Orson. Tangisku semakin menjadi-jadi."Sial. Berengsek. Kenapa kita selalu harus memikirkan mereka dalam setiap keputusan yang kita buat? Felicia, kumohon, kasihanilah aku. Kembalilah. Temui aku."Kalau kamu nggak mau kembali ke keluarga ini ... baiklah ... nggak apa-apa. Lakukan saja demi aku. Aku akan membawamu pergi dari mereka semua. Kita berdua akan pergi jauh ... ke tempat yang nggak mengenal kita. Kumohon ... kumohon. Aku benar-benar mencintaimu," pintanya.Aku semakin terisak."Nggak. Kita nggak bisa. Aku nggak mau menyakiti Mama dan Papa. Lupakan aku, karena itulah yang juga akan kulakukan terhadapmu," jawabku, berharap kali ini dia akhirnya mau mendengarkanku.Dia kembali berteriak dari seberang telepon. Aku terus menangis sambil mendengarkannya."Sial. Dengarkan aku, Felicia ... aku nggak akan mene
Sudut Pandang Felicia:Aku berbaring di atas ranjang yang empuk, menatap kosong ke langit-langit sambil tenggelam dalam pikiranku.Bahkan sampai sekarang, aku masih tidak percaya bahwa keluarga yang selama ini kucari ternyata adalah keluarga yang dijauhi semua orang, termasuk keluarga yang membesarkanku, karena apa yang pernah terjadi pada Trinity.Perlahan aku bangkit dan duduk. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih setelah mengetahui semua ini. Aku adalah bagian dari Keluarga Sandiaga dan kenyataan itu tidak akan pernah berubah. Akhirnya, aku menemukan keluarga kandungku.Aku tidak bisa menahan secercah kebahagiaan yang muncul dalam hatiku saat mengetahui bahwa selama ini mereka juga mencariku.Aku masih tenggelam dalam pikiran ketika tiba-tiba ponselku berdering.Aku mengernyit. Siapa yang menelepon selarut ini? Waktu sudah hampir pukul sepuluh malam dan kebanyakan orang sudah tidur.Aku meraih ponsel dan melihat layar untuk mengetahui siapa yang menelepon. Jantungku langsu
"Tentu saja, ibumu setuju. Siapa yang akan menolak uang, 'kan? Pacarnya juga setuju. Mereka berdua menandatangani perjanjian itu dan Kakek nggak ragu memberikan 15 miliar sebagai uang muka ... lalu sisanya setelah kamu lahir dan diserahkan ke dalam pengasuhan Kakek.""Tapi di luar dugaan, dua hari sebelum kamu lahir, pacar ibumu kabur membawa uang itu. Dia meninggalkan ibumu sendirian di apartemen tempat mereka tinggal," kata Dante sambil mengembuskan napas panjang.Aku bahkan tidak sadar kalau aku terisak pelan. Aku tidak tahu apakah harus marah kepada ibuku atau merasa kasihan kepadanya atas semua yang dia alami. Namun pada akhirnya, hatiku justru merasa iba kepada ayah kandungku. Dia sudah terlalu tua untuk mengalami hal seperti ini. Ternyata selama ini, satu-satunya yang dia inginkan hanyalah menjadi ayahku."Ibumu nggak pernah menghubungi Kakek lagi, sampai akhirnya Kakek mendengar kabar bahwa dia meninggal saat melahirkan di sebuah rumah sakit umum," lanjutnya.Aku mengepalkan ta
Sudut Pandang Felicia:"Bisa kamu jelaskan dulu? Pikiranku sudah kacau sejak tadi," keluhku kepada Dante sebelum akhirnya dia melepaskanku.Aku hampir saja melarikan diri dari sana. Dia terlihat bahagia karena sesuatu yang bahkan belum dia jelaskan dengan benar kepadaku. Padahal aku punya banyak waktu untuk mendengarkan."Kakek sudah mencarimu selama bertahun-tahun. Kamu adalah anggota Keluarga Sandiaga," jawabnya.Dia bahkan tidak mencoba mengatakannya secara perlahan, langsung mengatakannya begitu saja. Aku menatapnya dengan tatapan kosong.Kepalaku mulai terasa berdenyut setelah mendengar ucapannya. Jadi, itulah alasan Dante tiba-tiba ingin aku menjalani tes DNA. Ternyata semua yang terjadi selama ini memiliki makna yang lebih dalam."A ... apa katamu? Aku anggota Keluarga Sandiaga? Kok bisa?" tanyaku lirih.Dia meletakkan tangannya di bahuku dan menatap langsung ke mataku. "Kamu nggak salah dengar, Felicia. Kamu anggota Keluarga Sandiaga," jawabnya."Kok bisa?" tanyaku. Lututku mul
Sudut Pandang Felicia:"Kamu memanggilku?" tanyaku begitu sampai di hadapan Dante. Dia hanya melirikku sekilas sebelum menjawab."Sepertinya kamu nggak terlalu menikmati waktumu di sini. Aku akan menyuruh mereka mengantarmu kembali," jawabnya.Aku tak kuasa merasa lega. Itu jelas lebih baik. Aku memang sedang tidak ingin pergi ke mana-mana. Aku lebih memilih tetap di dalam sambil menunggu hasil tes DNA.Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku mulai terbiasa dengan lingkungan baruku. Setelah Dante membawaku ke mal, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan tidak kembali ke istana ini.Ya, aku menolak menyebut tempat ini sebagai rumah, apalagi vila. Tempat ini begitu luas sampai-sampai mungkin butuh waktu lama untuk menjelajahi seluruh bagiannya.Ukurannya hampir tiga kali lebih besar daripada vila Keluarga Baskoro. Aku merasa nyaman tinggal di sini karena semua orang memperlakukanku dengan sangat hormat.Meski begitu, orang-orang yang berad







