Share

Bab 2

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2025-11-16 20:36:11

Pov Icha

Padahal, kami punya masa dua tahun yang begitu nyata.

Aku masih ingat hari ketika aku terbaring tak berdaya setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.

Haykal merawatku di rumah sakit selama sebulan penuh. Ia bahkan mendatangkan dokter-dokter terbaik dari negara Melvin. Hampir tak pernah ia meninggalkan ruang perawatanku, seolah jika ia berpaling sebentar saja, aku akan benar-benar hilang darinya.

Malam itu bau antiseptik terasa begitu tajam, menusuk hingga ke kepala.

Lampu ruang IGD terlalu terang hingga membuat mataku perih. Suara monitor berdetak cepat di samping kepalaku, selang infus menusuk punggung tangan, dan perawat-perawat bergerak tergesa di sekelilingku.

“Tekanan darahnya turun lagi!” seseorang berseru.

Dalam pandangan yang mulai kabur, aku melihat Haykal berdiri tak jauh dari ranjangku. Wajahnya pucat, tapi tatapannya tidak berpaling sedikit pun dariku.

“Golongan darahnya sama dengan saya,” ucapnya cepat. “Ambil darah saya.”

Dokter itu mengangguk.

"Pak.. ini masih belum cukup, tapi tubuh anda..."

"Ambil lagi." Perintahnya tegas.

“Tapi pak, jumlah yang anda donorkan sudah terlalu banyak” dokter itu mencoba menahan.

“Ambil saja.”

Aku ingin menggeleng. Ingin mengatakan tidak perlu. Tapi bibirku terlalu lemah untuk bergerak.

Beberapa menit kemudian, ia duduk kembali di kursi sebelah, lengan bajunya tergulung hingga siku. Jarum besar menembus kulitnya. Darah merah gelap mengalir melalui selang transparan, bergerak perlahan menuju kantong penampung.

Matanya tetap tertuju padaku.

“Aku di sini,” katanya pelan, hampir tak terdengar di tengah bunyi mesin.

Waktu terasa lambat. Kantong pertama diganti. Lalu yang kedua. Wajahnya semakin pucat, garis rahangnya mengeras menahan pusing yang jelas mulai menyerangnya.

“Cukup, Pak. Ini berbahaya untuk anda,” ujar perawat tegas.

Ia menggeleng. “Selama dia belum stabil, kalian jangan berhenti.”

Suara monitor di sisiku akhirnya mulai lebih teratur.

Dan tepat setelah dokter mengatakan kondisiku mulai membaik, tubuh Haykal tiba-tiba terhuyung. Tangannya terlepas dari sandaran kursi.

“Pak!”

Ia jatuh sebelum sempat berdiri tegak. Perawat-perawat berlari menangkapnya, membaringkannya di ranjang kosong tak jauh dariku.

Dalam sisa kesadaranku, aku melihatnya terbaring pucat, oksigen menutup hidungnya, namun saat matanya sempat terbuka sepersekian detik, ia masih berusaha mencari wajahku.

Seolah memastikan aku masih bernapas.

Kenangan itu membuatku tersenyum tipis saat melihat foto kami di ponsel. Ironis, mengingat semuanya akan berakhir.

Dan penyebabnya adalah adik angkatku. Alia.

Setiap orang di kota Mevin tahu bahwa keluargaku dulu memiliki dua putri, Icha dan Tapashi.

Delapan tahun lalu, sebuah kecelakaan kapal merenggut Tapashi. Sejak itu aku berubah. Aku mengurung diri, dihantui rasa bersalah karena gagal menjaganya. Ada masa ketika aku melukai diri sendiri setiap kali mengingatnya.

Demi menyelamatkanku, Ayah dan Ibu membawaku menjalani perawatan ke berbagai negara. Mereka terlalu takut kehilangan putri terakhir mereka.

Setelah berhasil sembuh, aku malah membawa Alia pulang sebagai pengganti Tapashi. Ini memang salahku. Ini karmaku.

----

Ayah membawaku duduk di ruang keluarga. Disana sudah ada ibu yang menatapku dengan tatapan prihatin.

“Ayah, Ibu… sebelum aku bercerai dengan Haykal, aku ingin kalian membatalkan surat adopsi untuk Alia.”

Ibu terdiam, namun Ayah langsung mengangguk mantap. “Baik, Ayah akan mengurusnya. Kamu tidak perlu khawatir.”

Aku menghembuskan napas lega. “Terima kasih. Lalu… semua harta yang pernah Haykal berikan padaku, setelah perceraianku selesai, tolong donasikan saja. Aku tidak ingin membawa apa pun darinya.”

“Baik,” kata Ayah pelan. “Ayah akan mengaturnya.”

Aku menatap mereka lebih lama sebelum melanjutkan, “Ayah… Ibu… setelah ini, aku berniat meninggalkan negara Melvin. Identitas baruku sedang diproses. Kalian mungkin tidak bisa menghubungiku untuk beberapa waktu. Jadi… kalau aku menghilang, tolong jangan panik. Mungkin hari ini adalah kunjungan terakhirku sebelum aku pergi.”

Ibu menggenggam tanganku erat, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menahanku. Ia tahu aku sudah terlalu lelah.

Setelah menandatangani akta penyerahan hak kelola harta kepada orang tuaku, aku berpamitan dan keluar dari rumah.

Rencanaku adalah pulang ke kediamanku dan Haykal. Namun, tepat sebelum sampai, tanganku spontan memutar kemudi, mengarah ke kediaman keluarga Haykal. Hatiku berkata aku harus bertemu mereka, setidaknya untuk yang terakhir kali.

Begitu memasuki halaman rumah, segalanya berhenti.

Di sana, tepat di depan mataku, Haykal berdiri bersama Alia. Ia memegang lengan Alia dengan lembut, membantu langkahnya. Ayah dan Ibu Haykal menunggu di depan pintu, wajah mereka cerah, penuh kebahagiaan.

Saat itu juga aku mengerti, orang tua Haykal sudah tahu masalah ini. Mereka membantu Haykal menyembunyikan Alia dariku selama ini.

Aku tersenyum tipis. Senyum dingin yang hanya muncul ketika hatiku mati rasa. Aku tidak berniat turun dari mobil. Aku tidak berniat memarahi siapa pun. Aku hanya ingin pergi… sama seperti mereka yang menyingkirkanku tanpa suara.

Dari balik kaca mobil, aku melihat Alia mencengkeram pinggangnya sambil merengek, “Haykal… pinggangku semakin sakit. Apalagi waktu kamu tidak datang kemarin, rasanya semakin sakit.”

Suara manja itu mengiris, tapi aku sudah terlalu kebal. Ayah dan Ibu Haykal langsung panik.

“Haykal, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak menemui Alia saat dia meminta? Dia sedang mengandung keturunan keluarga Haykal. Bagaimana mungkin kamu mengabaikannya?”

Aku memandang mereka satu per satu. Dan akhirnya, aku hanya menyimpulkan satu hal, di rumah itu, tidak ada tempat untukku sejak awal.

Tanpa menunggu lebih lama, aku memutar kemudi dan pergi tanpa jejak.

Tidak ada yang sadar bahwa aku sempat hadir di halaman itu. Tidak ada yang sadar aku melihat apa yang seharusnya tidak kulihat. Tidak ada yang sadar… bahwa aku sudah memilih untuk pergi selamanya.

Haykal menatap Alia yang meringis sambil memegangi pinggangnya. “Apakah sesakit itu?” tanyanya pelan. Ia menarik napas berat. “Maaf… kemarin aku tidak bisa meninggalkan Icha begitu saja. Dia tidak boleh tahu kalau aku masih berhubungan denganmu.”

Alia menatap Haykal dengan ekspresi campur aduk, tersinggung, terluka, dan putus asa.

“Maaf…” suaranya pecah. “Andai waktu itu aku tidak memanggilmu ke Derko… anak ini mungkin tidak akan ada.”

Nada itu seolah ia menyalahkan dirinya sendiri. Haykal diam. Ia tidak menenangkan, hanya membantu Alia duduk perlahan, seakan itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa menghancurkan seseorang.

Ibu Haykal menatap putranya tajam. “Haykal, apa rencanamu untuk Alia dan anak dalam kandungannya? Itu adalah keturunan keluarga Haykal. Mama tidak mau cucu Mama memiliki identitas tercela. Kamu harus menceraikan Icha. Dia tidak bisa memberimu keturunan.”

Haykal menunduk. “Mah… aku cuma mencintai Icha. Hanya Icha.” Ia menoleh pada Alia, lalu kembali pada ibunya. “Alia… aku akan tetap bertanggung jawab. Kalian tidak perlu khawatir. Anaknya akan aku akui. Aku akan mengangkatnya sebagai anakku dan Icha. Kami sudah membicarakannya.”

Mereka sibuk merencanakan masa depan, tanpa tahu, masa lalu bernama Icha… telah memilih untuk menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 12

    Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh. Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan. Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri. Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. “Icha…” gumamnya lirih. Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar. Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya. Setelah itu, ia kembali memeluk Icha. “Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi.

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 11

    Ia melepas mantelnya, lalu melemparkannya sembarangan ke tanah yang dingin dan lembap. Napas Haykal terlihat jelas di udara malam yang menusuk tulang. Dadanya naik turun, berat, seolah paru-parunya menolak bekerja sama. Di tengah sunyi yang mencekam itu, Haykal mulai menggali makam Icha.Sekopnya menghantam tanah berkali-kali. Tanah basah terangkat sedikit demi sedikit, menumpuk di samping lubang. Tangannya mulai pegal, lengannya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Matanya kosong, pikirannya hanya dipenuhi satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala.Icha tidak mungkin mati.Waktu berjalan tanpa terasa. Malam seakan membeku, menyaksikan kegilaan yang perlahan mengambil bentuk. Dua puluh menit berlalu tanpa satu suara pun selain bunyi sekop yang menghantam tanah dan napas Haykal yang semakin berat, terengah, bercampur emosi yang tak beraturan. Keringat mengalir di pelipisnya meski udara begitu dingin.Akhirnya, sekop itu terlempar ke samping. Haykal menatap peti mati yang kini ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 10

    Haykal berlari menyusuri lorong rumah itu tanpa arah yang jelas. Napasnya terengah-engah, langkahnya tersandung oleh harapan yang keras kepala dan menolak mati. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti kemungkinan terakhir, bahwa di balik salah satunya Icha akan muncul dan menatapnya dengan wajah letih. Dadanya naik turun, denyut di pelipisnya berdegup terlalu keras.Ia berhenti di depan sebuah pintu.Pintu kamar Icha.Haykal mendorongnya tanpa ragu. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang yang langsung membuat langkahnya tertahan. Kosong.Kamar itu bersih, rapi, terlalu rapi. Tidak ada aroma tubuh, tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan, tidak ada barang yang terlihat baru disentuh. Udara di dalamnya dingin dan sunyi, seperti kamar yang sudah lama ditinggalkan. Seolah tempat itu tak pernah menjadi saksi seseorang yang berjuang antara hidup dan mati.Sesak itu datang tiba-tiba, menekan dadanya hingga napasnya terhenti sesaat. Namun pikirannya tetap membantah, menolak k

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 9

    Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.Ia berbalik tanpa berkata apa-apa dan keluar dari kamar.Langkahnya cepat, hampir berlari. Tangannya gemetar ketika meraih ponsel dari dalam tas. Ia menekan nama Icha.Nada sambung terdengar.Satu kali.Terputus.Ia mencoba lagi.Dua kali.Tiga kali.Berkali-kali.Namun hasilnya sama. Tidak ada suara Icha. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang dingin dan tanpa perasaan, seolah menertawakan kecemasannya.Ibu Haykal menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa t

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 8

    Haykal tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar menyala redup, sementara bayangan tirai menari di dinding. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Tangisan Icha di rumah sakit kembali terputar di kepalanya, jelas, menusuk, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan memukul tulang rusuknya sendiri dari dalam. Untuk pertama kalinya, Haykal merasakan panik yang tidak bisa ia kendalikan. Ia bangkit duduk, menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.“Tenang,” gumamnya lirih. “Tidak ada apa-apa.”Namun kata-kata itu tidak bekerja.Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Haykal berdiri di depan rumah keluarga Hartono, tempat yang dulu bisa ia datangi tanpa perlu izin. Kini, gerbang besi itu tertutup rapat, dingin, kaku, dan tidak bersahabat. Satpam yang sama berdiri di baliknya, sikapnya formal, tanpa ekspresi.“Perintah Bapak Hartono masih sama, Tuan,” ucapnya singkat. “Kami tidak bisa membukakan gerbang.”R

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 7

    Rasa panik itu datang tanpa aba-aba, tanpa sebab yang bisa Haykal pahami. Dadanya terasa ditekan sesuatu yang tak terlihat, membuat napasnya pendek dan terputus-putus. Jari-jarinya mencengkeram setir terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memucat. Ada perasaan kehilangan yang menggantung, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya hilang.Tanpa tujuan jelas, Haykal memutar setir dan melajukan mobil menuju salah satu restoran ternama di Kota Melvin. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca depan, namun tak satu pun dari mereka mampu menenangkan pikirannya. Yang terlintas hanya satu nama.Icha.Begitu tiba, ia langsung masuk tanpa memperhatikan sekitar. Restoran itu ramai, suara tawa dan denting alat makan memenuhi ruangan. Haykal berdiri di depan etalase kue, matanya terpaku pada satu pilihan.“Black forest,” ucapnya singkat. “Satu.”Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. “Seperti biasa, Pak?”Haykal mengangguk tanpa sadar. Kata biasa itu menusuk dadanya. Ya, ini memang biasa. Ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 5

    Pov Orang ketigaIcha baru tersadar dua hari kemudian.Kesadarannya datang perlahan, seolah tubuhnya dipaksa naik dari dasar air yang dingin dan gelap. Kelopak matanya terasa berat, nyaris tak sanggup terbuka. Saat akhirnya ia berhasil mengangkatnya sedikit, cahaya putih dari lampu kamar menusuk ta

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 4

    Pov Orang KetigaSaat terbangun di sore hari, aroma masakan sudah memenuhi rumah. Haykal telah menyiapkannya untuk Icha. Icha makan seperti biasa. Tanpa bertanya apa pun, ia menelan setiap suap dengan pikiran yang masih berkecamuk.Haykal, yang sedari tadi juga sibuk dengan pikirannya, akhirnya mem

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 3

    Pov IchaSuasana ruangan langsung hening.Aila menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya, seolah mencoba melindungi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami. Bahunya sedikit bergetar, entah karena menahan tangis atau karena rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia keluhkan.I

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 1

    Pov IchaDua tahun pernikahanku dengan Haykal memang berjalan tenang, tapi semua berubah, saat kabar dari orang tuaku tiba. "Icha.. Alia hamil di luar negeri. Dan ayah dari anak itu… Haykal." Telingaku berdengung seketika. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah mendengar kabar itu. Ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status