Share

Bab 4

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2025-11-17 16:12:42

Pov Orang Ketiga

Saat terbangun di sore hari, aroma masakan sudah memenuhi rumah. Haykal telah menyiapkannya untuk Icha. Icha makan seperti biasa. Tanpa bertanya apa pun, ia menelan setiap suap dengan pikiran yang masih berkecamuk.

Haykal, yang sedari tadi juga sibuk dengan pikirannya, akhirnya membuka mulut.

“Icha… kalau aku meminta kamu melakukan sesuatu untuk seseorang yang cukup penting bagiku, apakah kamu mau?” tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.

Icha hanya diam dan menatapnya dengan tenang. Di sudut hatinya yang terdalam, ada sesuatu yang menusuk, membuat kata-kata sulit keluar dari mulutnya.

“Tidak,” jawabnya dingin setelah beberapa saat.

Usai mengucapkan kata itu, Icha meneguhkan keputusan yang sudah dia pikirkan sebelumnya, pergi ke luar negeri setelah perceraian, membesarkan bayi ini sendiri, tanpa memberitahu Haykal.

“Kenapa?” tanya Haykal dengan nada kesal. “Apakah kamu tidak mau berkorban sedikit saja untukku? Apakah kamu lupa bahwa aku bahkan bersedia mengorbankan nyawaku untukmu? Tapi sekarang, saat aku memerlukan bantuanmu, kenapa kamu tidak mau?”

Icha menatapnya dingin, suaranya penuh sarkasme.

“Apakah kamu ingin mengungkit semua perbuatan baikmu padaku? Apa kamu ingin aku membayar semuanya? Kalau itu maksudmu, mungkin aku akan bersedia.”

Haykal tertegun mendengar jawaban Icha. Dengan tergesa-gesa ia mencoba menjelaskan,

“Bukan itu maksudku, Icha… tolong jangan salah paham. Aku tidak ingin kamu membayar apapun. Semua yang kulakukan, aku lakukan dengan tulus. Maaf, tadi aku salah bicara,” ucapnya dengan mata memerah penuh penyesalan.

Icha hanya diam, tidak memberi respon.

“Aku ingin tidur,” ucapnya sambil melepas genggaman tangan Haykal.

Haykal tampak ingin menahannya, namun dering ponsel dari sakunya membuatnya terhenti.

Tanpa menoleh lagi, Icha meninggalkannya di ruang makan.

Beberapa saat kemudian, Haykal mengangkat panggilan itu sambil menatap Icha pergi.

“Ma… ada apa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan cari orang lain yang ginjalnya cocok untuk Alia?” ucap Haykal dengan nada tidak senang.

“Haykal, aku tidak masalah jika kamu segera menemukannya. Tapi sekarang kondisi Alia semakin kritis. Ini juga karena kamu yang tidak mau meninggalkan Icha dua hari lalu. Kalau waktu itu kamu pergi, Alia tidak akan seperti ini. Dokter bilang hidup Alia mungkin hanya bisa bertahan sepuluh jam lagi. Jika dia tidak mendapat donor secepatnya, Alia dan anak di dalam perutnya akan mati. Kau harus bertindak sekarang. Jangan biarkan mereka mati begitu saja,” ucap ibu Haykal dengan nada penuh amarah.

Haykal tertegun, matanya menatap kosong.

“H-Hanya sepuluh jam?” tanyanya kembali, suaranya serak, tak percaya.

“Benar… sekarang terserah kamu. Ibu tidak akan ikut campur lagi. Tapi seharusnya Icha masih bisa hidup dengan baik jika dia mau mendonorkan satu ginjalnya untuk Alia. Kau juga tidak akan menceraikannya, bukan? Kau bisa menjaganya dengan baik dan mencari ginjal lain untuk Icha nanti. Bagaimanapun, Alia ini orang yang pernah disayangi Icha,” ucap ibu Haykal dengan nada tegas, tapi terdengar pilu.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan. Tunggu di sana,” jawab Haykal. Tatapannya kini dipenuh tekad.

Dengan gerakan rapi, ia membersihkan meja makan dan membuatkan susu hangat untuk Icha. Biasanya, Icha tidak bisa tidur nyenyak jika belum minum susu terlebih dahulu. Kebiasaan ini sudah lama dipahami Haykal. Dengan hati-hati, ia membawa gelas berisi susu hangat itu ke kamar dan meletakkannya di dekat tempat tidur.

“Icha.. sayang… maaf ya. Aku berjanji tidak akan lagi mengatakan hal-hal buruk seperti yang tadi aku ucapkan di meja makan. Aku bersumpah. Sekarang kamu bisa menghukumku,” ucapnya sambil meraih lengan Icha.

Icha menatap mata hitam Haykal.

“Haykal… sebenarnya aku…”

“Hm?” Haykal menatap Icha dengan sungguh-sungguh, bersiap mendengar apa yang akan dikatakannya.

Icha menggelengkan kepala, seolah sudah selesai menimbang sesuatu.

“Nggak apa-apa, lupakan saja,” ucap Icha.

Ia mengambil gelas susu yang di letakkan Haykal di meja dan meneguknya hingga habis. Ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangannya buram. Barulah ia sadar bahwa susu itu mengandung obat tidur.

Icha menatap Haykal dengan mata penuh ketidakpercayaan sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Haykal segera menangkapnya. “Icha, maaf… aku berjanji setelah ini aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku akan mengirim Alia sejauh-jauhnya setelah dia melahirkan anakku. Aku akan segera mengganti ginjalmu. Icha… kamu masih mau memberiku kesempatan, kan?”

Mata Haykal berubah menjadi penuh tekad. “Benar… asal kamu tidak tahu, pasti kamu akan memaafkanku sepenuhnya. Tolong bersabar, sebentar lagi, ya…” Suaranya bergetar, lalu ia mencondongkan diri dan mencium bibir Icha dengan lembut.

Icha masih bisa mendengar suaranya, tapi tubuhnya benar-benar lemah. Ia tak bisa memberontak atau melawan. Air matanya menetes tanpa disadari, sebelum akhirnya hilang kesadaran sepenuhnya.

Haykal segera membawa Icha ke rumah sakit tempat Alia dirawat. Tanpa membuang waktu, tim medis langsung memulai prosedur operasi penanganan.

Sebenarnya, Icha memang pernah berniat mendonorkan ginjalnya untuk Alia. Ia bahkan sudah menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah mengetahui kondisi Alia yang menderita gagal ginjal. Namun, sebelum prosedur itu bisa dilakukan, Icha mengetahui perbuatan Alia yang menggoda Haykal, calon suaminya. Saat itu juga, ia memutuskan untuk membatalkan niatnya.

Siapa sangka, setelah begitu banyak jalan memutar, kini akhirnya Icha tetap harus mendonorkan ginjalnya untuk Alia, meski hatinya sudah menolak.

Setelah semua prosedur selesai dilakukan, dokter yang menangani operasi Alia datang menemui Haykal. Dia Dokter Arto, saudara kembar Dokter Yire, dokter pribadi Icha.

“Pak… apa Anda yakin ingin Nyonya Icha mendonorkan ginjalnya? Kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan karena…”

Haykal memotongnya. “Lakukan saja yang terbaik. Asal kedua wanita itu selamat, kalian bisa melakukannya,” ujarnya dengan suara gugup, matanya menatap ruang operasi tempat Alia berada.

“Pak… tapi istri Anda…”

“Bukankah sudah kukatakan? Lakukan saja. Asal istriku masih bisa hidup setelah ini, aku tidak akan peduli pada apapun,” jawab Haykal tegas.

Dokter Arto hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi seorang perawat berlari tergesa menghampirinya.

“Dokter, kondisi Nona Alia menurun drastis. Tekanan darahnya terus turun. Kita tidak bisa menunggu lagi, operasi ginjal harus segera dilakukan.”

Wajah Dokter Arto seketika berubah tegang. Kalimat yang tadi tertahan di bibirnya menguap begitu saja.

“Apakah Anda yakin ingin menyelamatkan Nyonya Alia dengan ginjal Nyonya Icha, Pak?” tanya Dokter Arto.

“Ya, lakukan saja yang terbaik,” jawab Haykal tegas.

Dokter Arto mengangguk.

"Baik."

Tim medis segera bekerja.

Tiga jam berlalu dengan cepat. Operasi Alia berhasil. Ia selamat dari kondisi kritis, dan bayinya pun berhasil diselamatkan.

Namun di sisi lain, Icha, bayinya tidak selamat, dan kondisinya sedikit memprihatinkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 12

    Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh. Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan. Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri. Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. “Icha…” gumamnya lirih. Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar. Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya. Setelah itu, ia kembali memeluk Icha. “Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi.

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 11

    Ia melepas mantelnya, lalu melemparkannya sembarangan ke tanah yang dingin dan lembap. Napas Haykal terlihat jelas di udara malam yang menusuk tulang. Dadanya naik turun, berat, seolah paru-parunya menolak bekerja sama. Di tengah sunyi yang mencekam itu, Haykal mulai menggali makam Icha.Sekopnya menghantam tanah berkali-kali. Tanah basah terangkat sedikit demi sedikit, menumpuk di samping lubang. Tangannya mulai pegal, lengannya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Matanya kosong, pikirannya hanya dipenuhi satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala.Icha tidak mungkin mati.Waktu berjalan tanpa terasa. Malam seakan membeku, menyaksikan kegilaan yang perlahan mengambil bentuk. Dua puluh menit berlalu tanpa satu suara pun selain bunyi sekop yang menghantam tanah dan napas Haykal yang semakin berat, terengah, bercampur emosi yang tak beraturan. Keringat mengalir di pelipisnya meski udara begitu dingin.Akhirnya, sekop itu terlempar ke samping. Haykal menatap peti mati yang kini ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 10

    Haykal berlari menyusuri lorong rumah itu tanpa arah yang jelas. Napasnya terengah-engah, langkahnya tersandung oleh harapan yang keras kepala dan menolak mati. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti kemungkinan terakhir, bahwa di balik salah satunya Icha akan muncul dan menatapnya dengan wajah letih. Dadanya naik turun, denyut di pelipisnya berdegup terlalu keras.Ia berhenti di depan sebuah pintu.Pintu kamar Icha.Haykal mendorongnya tanpa ragu. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang yang langsung membuat langkahnya tertahan. Kosong.Kamar itu bersih, rapi, terlalu rapi. Tidak ada aroma tubuh, tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan, tidak ada barang yang terlihat baru disentuh. Udara di dalamnya dingin dan sunyi, seperti kamar yang sudah lama ditinggalkan. Seolah tempat itu tak pernah menjadi saksi seseorang yang berjuang antara hidup dan mati.Sesak itu datang tiba-tiba, menekan dadanya hingga napasnya terhenti sesaat. Namun pikirannya tetap membantah, menolak k

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 9

    Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.Ia berbalik tanpa berkata apa-apa dan keluar dari kamar.Langkahnya cepat, hampir berlari. Tangannya gemetar ketika meraih ponsel dari dalam tas. Ia menekan nama Icha.Nada sambung terdengar.Satu kali.Terputus.Ia mencoba lagi.Dua kali.Tiga kali.Berkali-kali.Namun hasilnya sama. Tidak ada suara Icha. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang dingin dan tanpa perasaan, seolah menertawakan kecemasannya.Ibu Haykal menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa t

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 8

    Haykal tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar menyala redup, sementara bayangan tirai menari di dinding. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Tangisan Icha di rumah sakit kembali terputar di kepalanya, jelas, menusuk, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan memukul tulang rusuknya sendiri dari dalam. Untuk pertama kalinya, Haykal merasakan panik yang tidak bisa ia kendalikan. Ia bangkit duduk, menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.“Tenang,” gumamnya lirih. “Tidak ada apa-apa.”Namun kata-kata itu tidak bekerja.Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Haykal berdiri di depan rumah keluarga Hartono, tempat yang dulu bisa ia datangi tanpa perlu izin. Kini, gerbang besi itu tertutup rapat, dingin, kaku, dan tidak bersahabat. Satpam yang sama berdiri di baliknya, sikapnya formal, tanpa ekspresi.“Perintah Bapak Hartono masih sama, Tuan,” ucapnya singkat. “Kami tidak bisa membukakan gerbang.”R

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 7

    Rasa panik itu datang tanpa aba-aba, tanpa sebab yang bisa Haykal pahami. Dadanya terasa ditekan sesuatu yang tak terlihat, membuat napasnya pendek dan terputus-putus. Jari-jarinya mencengkeram setir terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memucat. Ada perasaan kehilangan yang menggantung, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya hilang.Tanpa tujuan jelas, Haykal memutar setir dan melajukan mobil menuju salah satu restoran ternama di Kota Melvin. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca depan, namun tak satu pun dari mereka mampu menenangkan pikirannya. Yang terlintas hanya satu nama.Icha.Begitu tiba, ia langsung masuk tanpa memperhatikan sekitar. Restoran itu ramai, suara tawa dan denting alat makan memenuhi ruangan. Haykal berdiri di depan etalase kue, matanya terpaku pada satu pilihan.“Black forest,” ucapnya singkat. “Satu.”Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. “Seperti biasa, Pak?”Haykal mengangguk tanpa sadar. Kata biasa itu menusuk dadanya. Ya, ini memang biasa. Ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 5

    Pov Orang ketigaIcha baru tersadar dua hari kemudian.Kesadarannya datang perlahan, seolah tubuhnya dipaksa naik dari dasar air yang dingin dan gelap. Kelopak matanya terasa berat, nyaris tak sanggup terbuka. Saat akhirnya ia berhasil mengangkatnya sedikit, cahaya putih dari lampu kamar menusuk ta

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 3

    Pov IchaSuasana ruangan langsung hening.Aila menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya, seolah mencoba melindungi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami. Bahunya sedikit bergetar, entah karena menahan tangis atau karena rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia keluhkan.I

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 1

    Pov IchaDua tahun pernikahanku dengan Haykal memang berjalan tenang, tapi semua berubah, saat kabar dari orang tuaku tiba. "Icha.. Alia hamil di luar negeri. Dan ayah dari anak itu… Haykal." Telingaku berdengung seketika. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah mendengar kabar itu. Ba

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 2

    Pov IchaPadahal, kami punya masa dua tahun yang begitu nyata. Aku masih ingat hari ketika aku terbaring tak berdaya setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.Haykal merawatku di rumah sakit selama sebulan penuh. Ia bahkan mendatangkan dokter-dokter terbaik dari negara Melvin. Hampir tak pernah ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status