共有

Bab 3

作者: Ellow_dikata
last update 公開日: 2025-11-16 22:13:58

Pov Icha

Suasana ruangan langsung hening.

Aila menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya, seolah mencoba melindungi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami. Bahunya sedikit bergetar, entah karena menahan tangis atau karena rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia keluhkan.

Ibu Haykal membeku. Wajahnya berada di antara marah dan tercengang, seakan baru menyadari bahwa situasi ini tidak sesederhana yang ia bayangkan. Tidak ada lagi kalimat yang bisa langsung ia lontarkan tanpa memicu masalah baru.

Ayah Haykal menghela napas panjang. Ia tidak ikut campur, tetapi ekspresi di wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang jelas. Ia memilih diam, namun diamnya justru terasa lebih berat dari teguran apa pun.

----

Sesampainya di rumah, aku langsung bergerak.

Tidak ada lagi yang ingin kutunda. Tidak ada alasan untuk menunggu waktu yang terasa “tepat”, karena sejak awal, waktu tidak pernah benar-benar berpihak padaku.

Aku mulai membersihkan seluruh jejak yang masih mengikatku dengan Haykal. Perhiasan, pakaian, hadiah-hadiah kecil yang dulu terasa manis, kini terasa menjijikkan saat disentuh. Setiap benda yang kuambil mengingatkanku pada kebohongan yang selama ini ia tutup rapat, pada kata-kata yang terdengar tulus tetapi ternyata kosong.

Rasa muak itu begitu kuat hingga jari-jariku bergetar. Beberapa kali aku harus berhenti, menarik napas dalam-dalam agar tidak muntah di tempat.

Namun semakin banyak barang yang kubuang, semakin hening hatiku. Ada rasa ringan yang perlahan muncul, seolah satu per satu beban lama terlepas tanpa perlu upacara perpisahan.

Dua jam penuh aku sibuk mengumpulkan semua barang itu ke dalam kardus. Ketika selesai, aku duduk di lantai ruang tengah, memandangi rumah yang kini terasa asing.

Ada ketenangan aneh yang merayap perlahan ke dadaku, ketenangan sebelum perpisahan, sebelum sesuatu benar-benar berakhir.

Aku membawa kardus-kardus itu ke halaman depan, menatanya rapi sambil menunggu petugas kebersihan lingkungan datang. Aku ingin semuanya dibuang jauh dari pandanganku. Jauh dari hidupku.

Saat aku menurunkan kardus terakhir, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu kediaman.

Haykal.

Ia turun dengan wajah lelah, seolah seluruh dunia sedang bertumpu di pundaknya. Aku pura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan, seakan keberadaannya tidak lagi penting untuk diperhitungkan.

Begitu masuk ke dalam rumah, Haykal langsung tertegun.

Rumah yang biasanya terasa hangat kini tampak kosong, dingin, dan asing. Beberapa sudut terlihat terlalu rapi, terlalu bersih, seolah ada sesuatu yang sengaja dihilangkan.

Sebuah firasat buruk menyambar jantungnya.

Ia buru-buru keluar lagi dan menghampiriku. Tanpa memberi waktu bagiku untuk bereaksi, ia langsung menarikku ke dalam pelukannya, erat, seakan aku akan menghilang jika dilepaskan sedikit saja.

“Icha… kenapa kamu membuang barang-barang kita?” suaranya bergetar, penuh kepanikan.

“Itu semua kenangan kita. Dari kita kecil sampai sekarang.”

Aku mencoba melepaskan diri, tetapi pelukannya terlalu kuat. Dadaku terasa sesak, bukan karena rindu, melainkan karena sadar bahwa kebohongan ini harus terus kulanjutkan sedikit lebih lama.

Aku tahu, jika Haykal mulai curiga sekarang, rencanaku bisa gagal.

Jadi aku memilih kebohongan yang terdengar cukup masuk akal.

“Itu cuma barang usang, Haykal,” kataku setenang mungkin.

“Aku sedang memesan yang baru. Kalau sudah bosan dengan yang lama, ya harus diganti. Kalau tidak… hanya akan menyakiti mata.”

Kalimat itu memiliki makna yang jauh lebih dalam, tetapi Haykal memilih mengabaikan keganjilan yang sempat muncul di wajahnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku tidak akan pergi, tidak setelah semua yang ia lakukan selama dua tahun ini.

Kesombongan seorang laki-laki yang merasa cintanya cukup untuk menutupi segalanya.

Ia tersenyum kecil, lalu merogoh dompetnya dan menyerahkan sebuah black card.

“Kalau begitu, aku tambah kartumu untuk belanja. Ambil saja. Belanjalah yang kamu mau.”

Aku menolak halus.

“Nggak perlu. Kamu sudah memberi aku banyak.”

Haykal menggeleng, suaranya lembut, penuh keyakinan yang salah arah.

“Tidak apa-apa. Ini rumah kita. Uangku ya uangmu juga. Kamu berhak memakainya sesuka hati.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku tidak lagi melihat suamiku. Yang kulihat hanyalah seseorang yang tidak kukenali, seseorang yang berdiri di depanku dengan wajah familiar, tetapi hati yang sepenuhnya asing.

Haykal membawaku masuk ke ruang makan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“Tunggu sebentar, ya. Aku buatkan makanan kesukaanmu. Maaf… kemarin aku pergi tiba-tiba.”

Aku hanya mengangguk.

Tanpa sepatah kata pun, aku memperhatikan punggungnya yang sibuk di dapur. Gerakannya sigap, terlatih, seolah berusaha menebus sesuatu yang bahkan tidak ia akui.

Sementara aku duduk diam, aku tidak berniat membuka kebohongan besar yang selama ini ia sembunyikan dariku.

Setengah jam berlalu.

Aroma masakan memenuhi ruangan. Haykal menata hidangan di meja dengan ekspresi hati-hati, seperti sedang menghadapi sesuatu yang rapuh.

Namun saat aku menyuapkan makanan itu ke mulutku, perutku langsung menegang.

Rasa mual menyerang tanpa peringatan.

Aku menutup mulut dan berlari ke kamar mandi.

Segala yang masuk ke tubuhku hari itu keluar kembali tanpa ampun.

Langkah Haykal terdengar menyusul.

“Icha… kamu”

Aku tahu apa yang sedang ia pikirkan. Aku tahu ke mana arah pikirannya melayang.

Sebelum ia sempat bertanya, aku memotongnya.

“Asam lambungku naik.”

Nada suaraku datar.

“Kamu nggak perlu khawatir. Setiap kali kita berhubungan, bukankah kamu selalu menyuapiku pil KB? Itu tidak mungkin terjadi. Tepat seperti yang kamu inginkan.”

Wajah Haykal menegang. Ada sesuatu di matanya, penyesalan, mungkin. Atau justru kemarahan pada dirinya sendiri.

Ia hendak bicara, tetapi ponselnya berdering.

Nama di layar sempat kulihat sekilas.

Alia.

Haykal menoleh ke arahku, seolah meminta izin. Aku hanya mengangguk pelan.

Tidak ada yang perlu dijelaskan.

Tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Setelah menutup telepon, ekspresi Haykal berubah drastis. Ia meraih jasnya dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Aku hanya memandangi pintu yang kembali tertutup.

Tubuhku terasa lelah. Rasa mual makin menjadi. Biasanya Haykal yang menyiapkan obat, yang memastikan aku baik-baik saja.

Kali ini, aku sendirian.

Aku menghubungi dokter pribadiku.

Tak lama, dokter Yire datang. Wajahnya berubah serius saat memeriksa nadiku.

“Nyonya… ini bukan asam lambung.”

"Apa maksudmu?" Tanyaku dengan ekspresi bingung.

"Nyonya, anda sedang hamil" jawabnya sambil menatap wajahku.

"Sudah 2 bulan" tambah dokter Yire.

“Hamil? Kau yakin?”

Dokter Yire mengangguk dengan ekspresi penuh keyakinan.

Malam itu Haykal tidak kembali ke rumah.

Baru keesokan harinya ia muncul dengan wajah lelah, seolah semalaman tidak tidur.

Aku ingin segera memberitahunya.

Tentang bayi ini.

Tentang sesuatu yang bahkan belum sempat ia ketahui.

Namun saat melihat ekspresinya, niat itu kutelan kembali.

“Nanti malam akan kuberitahu,” pikirku.

Ia memelukku, lengannya mengurung tubuhku dengan kebiasaan yang dulu terasa aman.

“Maaf, kemarin aku pergi tergesa,” bisiknya.

“Biarkan aku tidur sambil memelukmu siang ini.”

Aku hanya diam. Tak menjawab. Membiarkan dirinya memelukku hingga aku terlelap.

sementara di dalam tubuhku,

tumbuh rahasia yang mungkin bisa menghancurkan segala rencana yang telah aku susun dengan rapi dua hari ini.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 12

    Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh. Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan. Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri. Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. “Icha…” gumamnya lirih. Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar. Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya. Setelah itu, ia kembali memeluk Icha. “Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi.

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 11

    Ia melepas mantelnya, lalu melemparkannya sembarangan ke tanah yang dingin dan lembap. Napas Haykal terlihat jelas di udara malam yang menusuk tulang. Dadanya naik turun, berat, seolah paru-parunya menolak bekerja sama. Di tengah sunyi yang mencekam itu, Haykal mulai menggali makam Icha.Sekopnya menghantam tanah berkali-kali. Tanah basah terangkat sedikit demi sedikit, menumpuk di samping lubang. Tangannya mulai pegal, lengannya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Matanya kosong, pikirannya hanya dipenuhi satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala.Icha tidak mungkin mati.Waktu berjalan tanpa terasa. Malam seakan membeku, menyaksikan kegilaan yang perlahan mengambil bentuk. Dua puluh menit berlalu tanpa satu suara pun selain bunyi sekop yang menghantam tanah dan napas Haykal yang semakin berat, terengah, bercampur emosi yang tak beraturan. Keringat mengalir di pelipisnya meski udara begitu dingin.Akhirnya, sekop itu terlempar ke samping. Haykal menatap peti mati yang kini ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 10

    Haykal berlari menyusuri lorong rumah itu tanpa arah yang jelas. Napasnya terengah-engah, langkahnya tersandung oleh harapan yang keras kepala dan menolak mati. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti kemungkinan terakhir, bahwa di balik salah satunya Icha akan muncul dan menatapnya dengan wajah letih. Dadanya naik turun, denyut di pelipisnya berdegup terlalu keras.Ia berhenti di depan sebuah pintu.Pintu kamar Icha.Haykal mendorongnya tanpa ragu. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang yang langsung membuat langkahnya tertahan. Kosong.Kamar itu bersih, rapi, terlalu rapi. Tidak ada aroma tubuh, tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan, tidak ada barang yang terlihat baru disentuh. Udara di dalamnya dingin dan sunyi, seperti kamar yang sudah lama ditinggalkan. Seolah tempat itu tak pernah menjadi saksi seseorang yang berjuang antara hidup dan mati.Sesak itu datang tiba-tiba, menekan dadanya hingga napasnya terhenti sesaat. Namun pikirannya tetap membantah, menolak k

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 9

    Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.Ia berbalik tanpa berkata apa-apa dan keluar dari kamar.Langkahnya cepat, hampir berlari. Tangannya gemetar ketika meraih ponsel dari dalam tas. Ia menekan nama Icha.Nada sambung terdengar.Satu kali.Terputus.Ia mencoba lagi.Dua kali.Tiga kali.Berkali-kali.Namun hasilnya sama. Tidak ada suara Icha. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang dingin dan tanpa perasaan, seolah menertawakan kecemasannya.Ibu Haykal menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa t

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 8

    Haykal tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar menyala redup, sementara bayangan tirai menari di dinding. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Tangisan Icha di rumah sakit kembali terputar di kepalanya, jelas, menusuk, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan memukul tulang rusuknya sendiri dari dalam. Untuk pertama kalinya, Haykal merasakan panik yang tidak bisa ia kendalikan. Ia bangkit duduk, menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.“Tenang,” gumamnya lirih. “Tidak ada apa-apa.”Namun kata-kata itu tidak bekerja.Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Haykal berdiri di depan rumah keluarga Hartono, tempat yang dulu bisa ia datangi tanpa perlu izin. Kini, gerbang besi itu tertutup rapat, dingin, kaku, dan tidak bersahabat. Satpam yang sama berdiri di baliknya, sikapnya formal, tanpa ekspresi.“Perintah Bapak Hartono masih sama, Tuan,” ucapnya singkat. “Kami tidak bisa membukakan gerbang.”R

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 7

    Rasa panik itu datang tanpa aba-aba, tanpa sebab yang bisa Haykal pahami. Dadanya terasa ditekan sesuatu yang tak terlihat, membuat napasnya pendek dan terputus-putus. Jari-jarinya mencengkeram setir terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memucat. Ada perasaan kehilangan yang menggantung, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya hilang.Tanpa tujuan jelas, Haykal memutar setir dan melajukan mobil menuju salah satu restoran ternama di Kota Melvin. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca depan, namun tak satu pun dari mereka mampu menenangkan pikirannya. Yang terlintas hanya satu nama.Icha.Begitu tiba, ia langsung masuk tanpa memperhatikan sekitar. Restoran itu ramai, suara tawa dan denting alat makan memenuhi ruangan. Haykal berdiri di depan etalase kue, matanya terpaku pada satu pilihan.“Black forest,” ucapnya singkat. “Satu.”Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. “Seperti biasa, Pak?”Haykal mengangguk tanpa sadar. Kata biasa itu menusuk dadanya. Ya, ini memang biasa. Ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 5

    Pov Orang ketigaIcha baru tersadar dua hari kemudian.Kesadarannya datang perlahan, seolah tubuhnya dipaksa naik dari dasar air yang dingin dan gelap. Kelopak matanya terasa berat, nyaris tak sanggup terbuka. Saat akhirnya ia berhasil mengangkatnya sedikit, cahaya putih dari lampu kamar menusuk ta

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 4

    Pov Orang KetigaSaat terbangun di sore hari, aroma masakan sudah memenuhi rumah. Haykal telah menyiapkannya untuk Icha. Icha makan seperti biasa. Tanpa bertanya apa pun, ia menelan setiap suap dengan pikiran yang masih berkecamuk.Haykal, yang sedari tadi juga sibuk dengan pikirannya, akhirnya mem

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 2

    Pov IchaPadahal, kami punya masa dua tahun yang begitu nyata. Aku masih ingat hari ketika aku terbaring tak berdaya setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.Haykal merawatku di rumah sakit selama sebulan penuh. Ia bahkan mendatangkan dokter-dokter terbaik dari negara Melvin. Hampir tak pernah ia

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 1

    Pov IchaDua tahun pernikahanku dengan Haykal memang berjalan tenang, tapi semua berubah, saat kabar dari orang tuaku tiba. "Icha.. Alia hamil di luar negeri. Dan ayah dari anak itu… Haykal." Telingaku berdengung seketika. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah mendengar kabar itu. Ba

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status