แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ellow_dikata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-20 17:11:43

Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.

Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.

Ia berbali
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 12

    Pulau yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyian mendadak berubah ricuh. Deru baling-baling helikopter memecah udara, mengguncang pepohonan dan atap vila. Pasir beterbangan, dedaunan berhamburan, seolah alam ikut berteriak memberi peringatan. Haykal menengadah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Bukan satu helikopter, melainkan tiga, berputar rendah dan mengitari pulau itu, menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri. Panik menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. “Icha…” gumamnya lirih. Tanpa berpikir panjang, Haykal menggendong tubuh Icha dan berlari masuk ke dalam vila. Langkahnya tersandung-sandung, napasnya kacau. Pintu ditutupnya keras-keras, satu per satu, lalu dikunci dengan tangan gemetar. Jendela-jendela ia tutup rapat, seolah kayu dan besi bisa melindunginya dari dunia yang hendak merenggut segalanya. Setelah itu, ia kembali memeluk Icha. “Icha… jangan takut,” bisiknya dengan suara bergetar. “Aku nggak akan biarin mereka bawa kamu pergi.

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 11

    Ia melepas mantelnya, lalu melemparkannya sembarangan ke tanah yang dingin dan lembap. Napas Haykal terlihat jelas di udara malam yang menusuk tulang. Dadanya naik turun, berat, seolah paru-parunya menolak bekerja sama. Di tengah sunyi yang mencekam itu, Haykal mulai menggali makam Icha.Sekopnya menghantam tanah berkali-kali. Tanah basah terangkat sedikit demi sedikit, menumpuk di samping lubang. Tangannya mulai pegal, lengannya bergetar, tetapi ia tidak berhenti. Matanya kosong, pikirannya hanya dipenuhi satu keyakinan yang terus ia ulang dalam kepala.Icha tidak mungkin mati.Waktu berjalan tanpa terasa. Malam seakan membeku, menyaksikan kegilaan yang perlahan mengambil bentuk. Dua puluh menit berlalu tanpa satu suara pun selain bunyi sekop yang menghantam tanah dan napas Haykal yang semakin berat, terengah, bercampur emosi yang tak beraturan. Keringat mengalir di pelipisnya meski udara begitu dingin.Akhirnya, sekop itu terlempar ke samping. Haykal menatap peti mati yang kini ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 10

    Haykal berlari menyusuri lorong rumah itu tanpa arah yang jelas. Napasnya terengah-engah, langkahnya tersandung oleh harapan yang keras kepala dan menolak mati. Setiap pintu yang ia lewati terasa seperti kemungkinan terakhir, bahwa di balik salah satunya Icha akan muncul dan menatapnya dengan wajah letih. Dadanya naik turun, denyut di pelipisnya berdegup terlalu keras.Ia berhenti di depan sebuah pintu.Pintu kamar Icha.Haykal mendorongnya tanpa ragu. Daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang yang langsung membuat langkahnya tertahan. Kosong.Kamar itu bersih, rapi, terlalu rapi. Tidak ada aroma tubuh, tidak ada pakaian yang tergantung sembarangan, tidak ada barang yang terlihat baru disentuh. Udara di dalamnya dingin dan sunyi, seperti kamar yang sudah lama ditinggalkan. Seolah tempat itu tak pernah menjadi saksi seseorang yang berjuang antara hidup dan mati.Sesak itu datang tiba-tiba, menekan dadanya hingga napasnya terhenti sesaat. Namun pikirannya tetap membantah, menolak k

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 9

    Di rumah sakit, setelah mendengar permintaan Haykal yang penuh kerapuhan, suara yang tidak lagi terdengar seperti milik pria yang selama ini dikenal dingin dan menguasai segalanya, naluri keibuan ibu Haykal runtuh sepenuhnya.Ia berdiri terpaku di samping ranjang Alia selama beberapa detik. Dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata Haykal masih terngiang di telinganya, suara serak yang memohon, bukan memerintah. Permintaan sederhana, namun terdengar seperti jeritan orang tenggelam.Ia berbalik tanpa berkata apa-apa dan keluar dari kamar.Langkahnya cepat, hampir berlari. Tangannya gemetar ketika meraih ponsel dari dalam tas. Ia menekan nama Icha.Nada sambung terdengar.Satu kali.Terputus.Ia mencoba lagi.Dua kali.Tiga kali.Berkali-kali.Namun hasilnya sama. Tidak ada suara Icha. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang dingin dan tanpa perasaan, seolah menertawakan kecemasannya.Ibu Haykal menurunkan ponselnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa t

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 8

    Haykal tidak bisa tidur malam itu.Lampu kamar menyala redup, sementara bayangan tirai menari di dinding. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Tangisan Icha di rumah sakit kembali terputar di kepalanya, jelas, menusuk, seolah baru terjadi beberapa jam lalu.Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan memukul tulang rusuknya sendiri dari dalam. Untuk pertama kalinya, Haykal merasakan panik yang tidak bisa ia kendalikan. Ia bangkit duduk, menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.“Tenang,” gumamnya lirih. “Tidak ada apa-apa.”Namun kata-kata itu tidak bekerja.Pagi datang tanpa membawa ketenangan.Haykal berdiri di depan rumah keluarga Hartono, tempat yang dulu bisa ia datangi tanpa perlu izin. Kini, gerbang besi itu tertutup rapat, dingin, kaku, dan tidak bersahabat. Satpam yang sama berdiri di baliknya, sikapnya formal, tanpa ekspresi.“Perintah Bapak Hartono masih sama, Tuan,” ucapnya singkat. “Kami tidak bisa membukakan gerbang.”R

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 7

    Rasa panik itu datang tanpa aba-aba, tanpa sebab yang bisa Haykal pahami. Dadanya terasa ditekan sesuatu yang tak terlihat, membuat napasnya pendek dan terputus-putus. Jari-jarinya mencengkeram setir terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memucat. Ada perasaan kehilangan yang menggantung, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya hilang.Tanpa tujuan jelas, Haykal memutar setir dan melajukan mobil menuju salah satu restoran ternama di Kota Melvin. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca depan, namun tak satu pun dari mereka mampu menenangkan pikirannya. Yang terlintas hanya satu nama.Icha.Begitu tiba, ia langsung masuk tanpa memperhatikan sekitar. Restoran itu ramai, suara tawa dan denting alat makan memenuhi ruangan. Haykal berdiri di depan etalase kue, matanya terpaku pada satu pilihan.“Black forest,” ucapnya singkat. “Satu.”Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. “Seperti biasa, Pak?”Haykal mengangguk tanpa sadar. Kata biasa itu menusuk dadanya. Ya, ini memang biasa. Ter

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 1

    Pov IchaDua tahun pernikahanku dengan Haykal memang berjalan tenang, tapi semua berubah, saat kabar dari orang tuaku tiba. "Icha.. Alia hamil di luar negeri. Dan ayah dari anak itu… Haykal." Telingaku berdengung seketika. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas setelah mendengar kabar itu. Ba

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 5

    Pov Orang ketigaIcha baru tersadar dua hari kemudian.Kesadarannya datang perlahan, seolah tubuhnya dipaksa naik dari dasar air yang dingin dan gelap. Kelopak matanya terasa berat, nyaris tak sanggup terbuka. Saat akhirnya ia berhasil mengangkatnya sedikit, cahaya putih dari lampu kamar menusuk ta

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 4

    Pov Orang KetigaSaat terbangun di sore hari, aroma masakan sudah memenuhi rumah. Haykal telah menyiapkannya untuk Icha. Icha makan seperti biasa. Tanpa bertanya apa pun, ia menelan setiap suap dengan pikiran yang masih berkecamuk.Haykal, yang sedari tadi juga sibuk dengan pikirannya, akhirnya mem

  • Ketika Kamu Lebih Memilih Adikku   Bab 3

    Pov IchaSuasana ruangan langsung hening.Aila menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di depan perutnya, seolah mencoba melindungi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami. Bahunya sedikit bergetar, entah karena menahan tangis atau karena rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia keluhkan.I

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status