ログインDeng.. Deng.. Deng... Deng
Mengerjapkan mata, pria yang sejatinya pernah menduda satu kali itu menatap lamat istri keduanya. Disamping anak-anaknya, Keyla, sosok yang ia kenal jauh sebelum pernikahan mereka, tengah tertidur dengan sangat pulasnya.“Loh, kok nggak kayak yang mereka infoin di grup ya?”Setelah menutup sesi permintaan masukannya, pesan terus datang silih berganti, menginformasikan hal-hal berbau dewasa yang tak Fathan mintai.Katanya, para istri yang mendepak suaminya untuk tidur di halaman itu, akan menunggu suami mereka untuk melancarkan rayuan. Tapi mana?! Mana?! Jangankan menunggu, Keylanya saja malah asyik mendengkur, jauh berbeda dengan apa yang teman-temannya informasikan.Merasa telah diberi harapan palsu padahal jantungnya sudah berdebar-debar, Fathan pun menepuk pundak Keyla, berniat untuk membangunkan istri mudanya itu.“Key.. Keyla.” Tak ada tanggapan. Keyla hanya memutar posisi tidurnya, lalu memunggungi Fathan.“Ya Tuhan, kok begini sekali hidup saya.” Keluh Fathan, mendramatisir ke
“Yon,” Dion mengangguk ketika sang mami dengan kedikan kepalanya memberikan instruksi agar ia mendekat ke daddy-nya.“Daddy..” Panggil Dion sedikit keras demi untuk mengalihkan atensi Fathan dari layar laptop di meja kerjanya.“Ya, Bang, kenapa?” tanya Fathan. Pria itu sempat tersentak kala mendapati sebuah bantal, hinggap di dalam pelukan anak sulungnya.“Kok bawa bantal? Abang mau nemenin Daddy kerja sambil bobok-an?”“Ehem!!” Pertanyaan itu langsung disahuti Keyla dengan deheman kerasnya.Ibu sambung kedua anak Fathan itu, tanpa kata mendorong lemah punggung si bungsu. “Kul,” ia hanya menyebut nama, dan Nakula melangkah maju, kali ini menyerahkan sarung mini miliknya kepada sang daddy.“Oh, Kula juga mau nemenin Daddy ya? Nggak usah, Sayang. Daddy udah selesai kok kerjanya.”Keyla yang bersedekap dada berdecih. “Kebetulan Mas udah selesai, sekarang, cepet keluar.”“Iya, Key. Sebentar. Saya matikan dulu laptopnya.”Fathan kira keluar yang Keyla maksud itu, keluar dari ruang kerjanya.
“Beli pizza dulu kan?”Tak mendengar balasan, Fathan pun memalingkan muka.Alangkah terkejutnya pria itu kala mendapati posisi duduk sang istri yang tengah memunggungi dirinya. “Key..” Panggil Fathan sebelum melayangkan kalimat tanya, “kamu nggak lagi bisulan kan?” yang kemudian membuat Keyla menarik rambut di kepalanya. “Aaak, ampun Key. Kamu sih nungging-nungging gitu duduknya. Kan saya jadi negative thinking jadinya.”“Negatif thinking, negative thinking!” Beo Keyla sampai dua kali. “Sumpah ya, Mas. Negative thinking-nya kamu tuh nggak banget. Kalau aku sampe bisulan beneran, ku peperin bisulnya ke kamu.” Sungut Keyla, berapi-api. Padahal rencananya Keyla ingin bungkam seribu bahasa untuk membalaskan dendamnya. Namun usahanya gagal karena ia tak tahan dengan kelaknatan mulut Fathan. “Jangan dong. Meperin kok bisul. Bisa kali yang lain.”“Iiih!” Erang Keyla, gemas sampai ia berusaha keras menahan kedua tangannya agar tidak melayang, menghantam wajah kurang sesajen Fathan. Seben
“Mami, Kula nggak mau nasi uduk.”“Loh, kenapa?” tanya Keyla karena Nakula baru mengatakannya setelah ia melakukan pemesanan.“Nggak keren.”Deg!Ucapan bocil setengah kematian itu tentu saja membuat Keyla memalingkan wajah, takut-takut untuk melihat respon si ibu penjual.‘Mampus..’ Pekik Keyla dalam hati sebab ia bersiborok dengan pelototan maut yang penuh akan dendam kesumat.“Jadinya gimana? Jadi nggak?!”Kegalakkan wanita berdaster yang kini tengah memegang capit berisikan mie kuning itu sempat menyentak tubuh Keyla.“Ja-Jadi, Bu. Tolong maafin anak saya. Seleranya emang agak kebule-bulean.”Siapa sangka jika sahutan Keyla itu justru membuat si ibu penjual semakin sensi terhadapnya.“Udah tau kayak gitu masih dibeliin uduk. Neng, Neng. Kalau nggak siap jadi ibu, ya jangan bikin anak.”Fathan yang menjadi penonton pun hanya bisa ketar-ketir. Di dalam hati pria itu memanjatkan doa. Memohon agar sang istri diberikan tambahan stok kesabaran sehingga terhindar dari masalah.“Jagain ego
Hellooooo, Spadaaaa!Ehem..Kira-kira.. Kalau ceritanya dilanjut, masih ada yang mau baca nggak ya?
“Key, tolong dong.”Fathan mengulurkan jar selai ke arah Keyla sembari mengedikkan alisnya.“Tolong, Key..” Ulang pria itu karena Keyla hanya menatapnya dengan tatapan anehnya.Bermaksud menghindari keributan di pagi harinya yang seharusnya damai, Keyla pun meraih jar tersebut untuk ia buka tutupnya.“K..”“Apa lagi?! Apa?!” Sentak Keyla emosi sebelum Fathan dapat menyelesaikan kalimatnya.Padahal Keyla sudah sangat sabar dalam menghadapi ke-useless-an Fathan, tapi pria yang menjadi kepala keluarga di KK terbarunya itu seakan sengaja ingin membuatnya kesal.“Piso? Mau piso apa? Piso daging, apa sekalian aku ambilin gergaji aja buat ngambil selainya?”“Piso buat selai aja, Key.”Grrr!!Dengan gigi bergemeletuk di dalam mulut, Keyla yang tengah menahan kepalan tangannya, menarik napas dalam-dalam.“Mas Fathan.. Suami yang nggak aku pengenin.”Dalam sepersekian detik, bola mata Fathan membulat.“Mas yang udah gede ini bisa nggak, nggak usah manja? Inget umur! Malulah sama anak-anak. Merek
Usai mendapatkan panggilan dari pihak dimana kedua putranya bersekolah, Fathan pun meraih dompet serta kunci mobilnya. Pria itu bergegas keluar dari ruangannya, lalu menghampiri meja kerja yang seharusnya terdapat sosok sang istri disana.“Bu Keyla kemana?” tanya Fathan pada sekretarisnya. Perempuan
Setelah tibanya sang pemilik perusahaan yang tidak lain merupakan paman Fathan, beberapa pengunjuk rasa pun ditunjuk untuk menjadi dewan perwakilan. Mereka lantas diboyong ke dalam ruang rapat agar dapat segera menyelesaikan masalah yang ada. “Ck! Apa deh.. yang begini-begini tuh asyiknya dimana sih
“Nggak jelas banget si Agil.” Oceh Keyla. Kepergian sahabatnya itu lantas membuat Keyla memindahkan pantatnya, tepat dihadapan si bungsu Nakula.“Keyla, Nak!”Wanita itu mendudukkan dirinya di atas meja. Ketika sang bunda memekik hendak menghardik perilaku tak sopannya, ia pun berkata, “bentar, Bunda.
“Om gimana sih! Masa om kasih anaknya jadi istri kedua-nya Mas Fathan. Kayak nggak laku aja si Keylanya, Om!”Sebagai sahabat yang sedikit tidak baik, Agil jelas menyayangkan keputusan orang tua Keyla. Seharusnya mereka bersikeras menolak. Membantu anak mereka agar tidak merasakan keterpaksaan.“Mau







